NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Lampu-lampu dermaga Benoa perlahan mengecil saat yacht putih mewah itu membelah ombak laut Bali yang tenang.

Di atas geladak yang telah disulap menjadi area makan malam privat, cahaya lilin menari-nari tertiup angin laut yang sejuk.

Meja telah ditata sempurna dengan bunga sedap malam yang menebarkan aroma surgawi.

Relia tampak anggun dengan gaun satin berwarna biru navy yang senada dengan warna samudra malam itu.

Ariel duduk di hadapannya, menatap istrinya dengan binar bangga yang tak padam.

"Relia," suara Ariel terdengar dalam, bersaing dengan suara deburan ombak di lambung kapal.

"Malam ini bukan hanya tentang merayakan kesembuhan tanganku. Tapi tentang merayakan keberanianmu untuk memulai hidup baru bersamaku."

Ariel merogoh saku jasnya dengan tangan kiri, lalu meletakkan sebuah kotak beludru hitam kecil di atas meja.

Dengan gerakan perlahan, ia membukanya menggunakan tangan kanan yang masih terbalut perban tipis—sebuah usaha keras untuk menunjukkan bahwa ia ingin memberikan hadiah ini dengan tangannya sendiri.

Di dalamnya, sebuah kalung berlian berbentuk tetesan air mata yang jernih berkilau tertimpa cahaya bulan.

"Berlian ini kuat, seperti kamu," ucap Ariel lembut.

"Ia dibentuk oleh tekanan yang luar biasa, tapi hasilnya adalah keindahan yang abadi. Aku ingin kalung ini menjadi simbol ikatan kita yang takkan pernah putus oleh apa pun—baik oleh masa lalu, maupun oleh ancaman siapa pun di luar sana."

Ariel berdiri, melangkah mendekat ke belakang kursi Relia.

Dengan hati-hati, ia melingkarkan kalung itu di leher jenjang istrinya.

Sentuhan jemari Ariel yang sedikit dingin membuat Relia merinding, namun rasa hangat segera menjalar ke seluruh dadanya.

Relia menyentuh liontin berlian yang kini menggantung manis di dadanya.

Ia menatap pantulan dirinya di jendela kaca yacht, ia melihat seorang wanita yang kuat, dicintai, dan benar-benar merdeka.

"Terima kasih, Mas," bisik Relia haru.

Ia menarik tangan Ariel yang terluka dan mengecup punggung tangan itu lama.

"Kalung ini indah, tapi tidak seindah cara Mas mencintaiku." ucap Relia.

Ariel membawa Relia ke dalam pelukannya di bawah siraman cahaya bulan sabit.

Di tengah samudra yang luas, Relia merasa telah menemukan pelabuhan terakhirnya.

"Malam ini milik kita, Relia. Hanya kita," bisik Ariel sembari mengecup pelipis istrinya.

Suara biola yang syahdu mengalun dari pengeras suara tersembunyi, menyatu dengan irama ombak yang tenang.

Ariel mengulurkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang berbalut perban diletakkan dengan hati-hati di pinggang Relia.

Di bawah siraman cahaya bulan dan lampu temaram yacht, mereka mulai bergerak perlahan, mengikuti langkah dansa yang lembut.

Relia menyandarkan kepalanya di bahu Ariel, menghirup aroma parfum suaminya yang bercampur dengan wangi laut.

Ia memejamkan mata sejenak, merasakan dunia seolah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.

"Mas... ini seperti mimpi," bisik Relia lirih, suaranya hampir tertelan desau angin.

"Aku masih tidak percaya kalau aku ada di sini. Di atas kapal, memakai kalung indah, dan berdansa dengan pria yang sangat mencintaiku. Dulu, mimpiku hanyalah ingin melihat matahari tanpa rasa takut. Tapi sekarang, aku memiliki seluruh semesta di pelukanku."

Ariel mempererat pelukannya, memberikan kecupan hangat di puncak kepala Relia.

"Ini bukan mimpi, Sayang. Ini adalah kenyataan yang kamu bangun sendiri dengan keberanianmu. Aku hanya pria beruntung yang kamu izinkan untuk menemani perjalananmu."

"Tapi Mas terluka karena aku," suara Relia sedikit bergetar, teringat kejadian di pengadilan.

Ariel menghentikan langkah dansanya sejenak. Ia menarik wajah Relia agar menatapnya.

Di bawah cahaya rembulan, mata Ariel berkilat penuh keyakinan.

"Luka ini akan sembuh, Relia. Tapi cinta yang kita rayakan malam ini akan bertahan selamanya. Jangan pernah merasa berhutang pada cinta, karena cinta melakukan segalanya dengan sukarela."

Relia tersenyum, air mata haru menggenang di sudut matanya namun tidak jatuh.

Ia merasa sangat utuh. Ia mengambil iPad-nya yang tergeletak di meja kayu tak jauh dari sana, lalu mengetik satu baris kalimat pendek di bawah sinar bulan:

“Malam ini, laut menjadi saksi bahwa luka tidak menentukan akhir cerita. Kita adalah penulisnya, dan malam ini, aku menuliskan kata 'Bahagia' di setiap hembusan napas kami.”

Mereka kembali berdansa, berputar pelan di atas geladak yang luas, seolah-olah tidak ada lagi bahaya Tino, dendam Markus, atau kegelapan masa lalu.

Malam itu, di tengah laut Bali, Relia benar-benar menemukan kebebasannya.

Di bawah gantung lampu hias yacht yang bergoyang pelan mengikuti ritme ombak, Relia meraih iPad barunya.

Cahaya layar itu memantul di matanya yang berbinar.

Ariel duduk di depannya, menyesap wine merahnya perlahan sembari menatap istrinya dengan penuh perhatian, seolah setiap kata yang akan keluar dari bibir Relia adalah melodi yang paling ia tunggu.

Dengan suara yang awalnya bergetar namun perlahan menguat oleh keyakinan, Relia mulai membacakan baris demi baris yang baru saja ia tulis.

"Perjamuan di Atas Samudra," Relia memulai.

"Dulu, satu-satunya perjalanan yang aku tahu adalah lorong gelap antara kamar dan ruang bawah tanah. Batas duniaku hanyalah tembok beton yang dingin. Namun hari ini, pria ini membawaku ke batas yang tak terhingga—pertemuan antara laut dan langit."

Relia melirik Ariel sebentar. Suaminya tersenyum, genggaman tangannya di meja semakin erat.

"Dia merayakan kesembuhannya dengan memberiku dunia yang lebih luas. Dia ingin aku tahu bahwa cinta kami setinggi langit yang kami terbangi kemarin, dan sedalam samudra yang akan kami arungi malam ini."

Suara Relia semakin dalam, penuh emosi yang tertahan.

"Tangan yang dulu terluka karena melindungiku, kini sedang menuntunku menuju dermaga baru. Di atas kapal ini, aku tidak hanya menikmati hidangan mewah, tapi aku meminum setiap detik kebebasan yang telah ia perjuangkan untukku. Terima kasih, Mas Ariel. Di atas yacht ini, aku menuliskan nama kita di atas air, agar laut pun tahu bahwa cinta kita telah menang."

Setelah kalimat terakhir selesai dibacakan, suasana menjadi sangat hening. Hanya ada suara mesin yacht yang halus dan deru angin malam.

Ariel tidak langsung bicara. Ia berdiri, melangkah mendekat, dan berlutut di samping kursi Relia.

Ia mengambil tangan istrinya, mencium punggung tangan itu dengan khidmat.

"Kalimatmu lebih indah dari pemandangan laut ini, Relia," bisik Ariel serak.

"Aku bangga padamu. Bukan hanya karena tulisanmu, tapi karena kamu berani membiarkan dunia tahu bahwa kamu sudah menang."

Relia meletakkan iPad-nya, lalu memeluk leher Ariel erat.

Di tengah laut Bali yang luas, ia menyadari bahwa bab tentang penderitaannya telah benar-benar ditutup, digantikan oleh lembaran-lembaran baru yang ditulis dengan tinta cinta.

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!