Finn kembali untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya. Dengan bantuan ayah angkatnya, Finn meminta dijodohkan dengan putri dari pembunuh kedua orang tuanya, yaitu Selena.
Ditengah rencana perjodohan, seorang gadis bernama Giselle muncul dan mulai mengganggu hidup Finn.
"Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin terlahir menjadi keturunan keluarga Milano. Aku ingin melihat dunia luar, Finn... Merasakan hidup layaknya manusia pada umumnya," ~ Giselle.
"Aku akan membawamu keluar dan melihat dunia. Jika aku memintamu untuk menikah denganku, apa kamu mau?" ~ Finn.
Cinta yang mulai tumbuh diantara keduanya akankah mampu meluluhkan dendam yang sudah mendarah daging?
100% fiksi, bagi yang tidak suka boleh langsung skip tanpa meninggalkan rating atau komentar jelek. Selamat membaca dan salam dunia perhaluan, Terimakasih 🙏 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar Riyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : TDCDD
Di perjalanan pulang, tidak ada obrolan yang terjadi. Beberapa kali Selena mencuri-curi pandang pada Finn yang tengah fokus menyetir. Selena menjadi tidak sabar untuk segera bertunangan dengan Finn dan ingin segera menikah dengannya, dia sudah langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Finn... Kenapa kamu menerima perjodohan ini? Apa selama tinggal di Perancis kamu tidak memiliki pacar?" tanya Selena, tiba-tiba dia ingin mengetahui lebih banyak tentang calon tunangannya ini.
Finn menarik ujung bibirnya, dia menatap Selena sebentar. Selena tidak tahu saja jika memang Finn yang menginginkan perjodohan ini agar bisa membalas dendam pada papanya. "Tidak ada, aku tidak ada waktu untuk mengencani wanita. Kamu adalah yang pertama,"
Selena tersipu malu, rasanya dia tidak percaya jika dirinya adalah wanita pertama yang dekat dengan Finn. Finn sangat tampan dan gagah, rasanya sulit dipercaya jika lelaki sepertinya tidak pernah berkencan dengan seorang wanitapun.
"Benarkah?"
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya?"
Selena langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, "Tidak, tidak... Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja sulit dipercaya jika pria setampan kamu tidak pernah dekat atau menjalin hubungan dengan seorang wanita. Rasanya aneh..."
Finn menanggapi ucapan Selena dengan senyuman tipis, sepertinya gadis disampingnya ini sudah mulai tertarik padanya. Ini akan semakin mudah untuk menjalankan rencananya, Finn ingin menghancurkan bisnis gelap tuan Andreas dan menghancurkan hidup putrinya sebelum membunuh pria badjingan itu.
Sangat mudah bagi Finn untuk membunuh seorang Andreas Milano hanya dengan sekali tembakan dikepala. Namun Finn ingin melihat tuan Andreas tersiksa dan menderita lebih dulu sebelum ajal menjemputnya. Supaya tuan Andreas merasakan apa yang Finn rasakan selama ini, dua puluh satu tahun hidup dalam kesepian dan bayang-bayang masa lalu yang menakutkan.
"Finn kamu tidak mau masuk dulu," tanya Selena setelah mobil yang mereka naiki berhenti di halaman kediaman utama keluarga Milano.
"Lain kali saja, aku masih ada urusan lain," tolak Finn.
Finn turun dari mobil lebih dulu, lalu dia membukakan pintu mobil untuk Selena.
"Sebenarnya aku masih ingin ngobrol-ngobrol banyak dengan kamu, tapi sekarang sudah malam, jadi sebaiknya kamu istirahat, takutnya kamu kecapean. Masih ada hari esok untuk kita bertemu dan ngobrol-ngobrol lagi," ucap Finn.
Hati Selena berbunga-bunga, selain tampan, ternyata Finn juga penuh dengan perhatian.
"Ya sudah aku masuk dulu ya? Kamu hati-hati dijalan, Finn."
Seorang pelayan sudah membukakan pintu rumah untuk Selena. Selena tidak langsung masuk ke dalam rumah, dia menunggui didepan pintu sampai mobil Finn keluar dari gerbang rumahnya.
💛
💛
💛
Setelah mengantarkan Selena pulang, Finn langsung kembali ke apartemennya. Finn melihat sepatu milik Giselle yang masih ada di rak sepatu miliknya. Ini sudah jam sebelas malam, tidak mungkinkan gadis itu masih menunggunya di halte cuma gara-gara sepatu?
Finn tidak ingin memikirkan gadis aneh itu. Finn memilih masuk ke kamarnya, membuka seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Dalam guyuran shower, Finn menyegarkan tubuhnya.
Finn memejamkan matanya, mencoba membayangkan wajah Selena, namun sialnya yang muncul malah wajah gadis aneh yang sudah dia temui dua kali.
"Shiitt..." Finn mengumpat kesal, matanya kembali terbuka lebar. Bisa-bisanya dia malah memikirkan gadis aneh yang meminta sepatunya dikembalikan.
"Bagaimana jika dia masih ada di halte?"
Firasat Finn tidak enak, sangat berbahaya jika seorang gadis sendirian diluar tengah malam begini. Buru-buru Finn menyudahi mandinya dan memakai pakaian yang dia ambil dari dalam lemari. Finn tidak ingin dihantui rasa bersalah jika besok ada kabar seorang gadis tewas di halte karena menjadi korban pembunuhan atau semacamnya.
💛
💛
💛
Ketakutan Finn benar, saat ini Giselle masih duduk di bangku besi disebuah halte. Bibirnya yang tadi dipoles lipstik tebal sudah sedikit memucat, beberapa kali Giselle mengusap-usap lengannya dengan telapak tangan untuk menghangatkan tubuh.
Perut Giselle sudah sangat keroncongan dan perih, sebelum pergi meninggalkan rumah dia memang tidak sempat untuk makan karena begitu bersemangat untuk bertemu dengan Finn. Tapi sepertinya Finn mengabaikan pesannya dan tidak akan datang.
Giselle membuka tas selempangnya dan mengeluarkan ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Di jam segini, dia harus mencari taksi kemana untuk pulang? Jalan raya yang tadi padat juga sudah mulai sepi.
Giselle hendak berdiri, tapi dia sedikit kesulitan karena kakinya kram, mungkin karena dia kelamaan duduk, ditambah lagi dia hanya mengenakan dress pendek sehingga angin lebih gampang menyapa kulitnya.
"Aduh... Bagaimana ini? Apes sekali nasibku malam ini, sudah bela-belain melompat pagar, tidak makan sejak siang, dan sekarang aku sudah mirip dengan kupu-kupu malam yang sedang menjajakan dirinya dipinggiran jalan!" Giselle terus menggerutu, satu tangannya memijat-mijat lembut kakinya.
Suasana semakin sunyi dan mencekam, meskipun masih ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang di depannya, tetap saja Giselle merasa tidak aman karena masih ada diluar rumah tengah malam begini. Bagaimana jika anak buah papanya ada yang memergokinya disana? Atau mungkin ada orang jahat yang ingin memperko-sanya?
Sekali lagi Giselle mencoba untuk berdiri. Dengan tertatih-tatih, Giselle melangkahkan kakinya pergi meninggalkan halte. Namun, langkahnya terhenti kala sebuah mobil sport berwarna merah berhenti tidak jauh di hadapannya. Finn turun dari dalam mobil dengan menenteng sepatu milik Giselle ditangan kanannya.
"Semiskin itukah dirimu sampai hanya gara-gara sepatu kamu rela menungguku sampai jam segini?" Finn bertanya, tatapannya begitu dingin.
Giselle tidak menghiraukan sindiran Finn, dia masih tidak percaya jika Finn benar-benar datang menemuinya dan sekarang sedang berdiri di hadapannya.
Finn menyodorkan sepatu ditangannya, "Ambil dan pulanglah, aku tidak ada waktu untuk mengurusi orang sepertimu."
Giselle menatap sepatu hak tinggi miliknya yang ada di tangan Finn, kali ini dia tidak boleh kehilangan momen berharga ini. Dengan gerakan cepat, Giselle merapatkan tubuhnya ke arah Finn, menarik sisi jaket yang dipakai lelaki itu dan saling menempelkan bibir mereka.
Cup...
...✨✨✨...
✨ Finn Edison
✨ Giselle Milano