"Kau harus menikah denganku.!"
"Apa?!! Kenapa tuan? Kenapa saya harus menikah dengan tuan?."
"Karena, dengan cara inilah Kamu bisa melunasi segala kerugian yang Ayahmu perbuat."
"T-tapi kenapa harus menikah tuan? Saya bisa menjadi pelayan dirumah ini saja. Tidak usah digaji, saya akan bekerja keras."
"Cih, kau fikir aku kekurangan pelayan disini ha? Berani sekali kau menolak ucapanku."
"M-maaf tuan, saya tidak menolak ucapan tuan. Baiklah, jika itu yang tuan inginkan."
"Baik, besok kita akan menikah. Dan, Ayahmu juga akan datang."
"Apa? Tapi, kenapa begitu cepat tuan?."
"Diam! Dan jangan banyak tanya. Sekarang, pergilah ke kamarmu.!"
Haduh, penasaran g sih sama ceritanya?
Jangan lupa tinggalin jejak :')
Selamat Membaca, semoga Readers syuka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adisa yunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal
"Papa, tolong Gladis. Jangan biarkan macan jantan itu mencabik - cabik tubuh putrimu." jerit Gladis, didalam hati.
Tak butuh waktu lama, Kenny sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia, keluar hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggang saja. Gladis, yang melihat tubuh suaminya menelan salivanya dengan kasar. Debaran jantungnya, sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Hey.. Cepat kau mandi.! Dan, pakai wewangian." titah Kenny, yang melihat Gladis hanya diam terpaku.
"Wewangian? Kau pikir aku akan mati?." gerutu Gladis kesal. Ia, buru - buru masuk kedalam kamar mandi. Takut, akan kena semprotan dari macan ini.
"Jangan lama, aku tidak suka menunggu." tutur Kenny, dibalik pintu.
"Tuan, mungkin aku akan lama disini. Kalau tuan, sudah mengantuk tidur saja duluan." jawab Gladis.
"Diam, dan cepat mandi. Jika kau, tidak ingin aku mendobrak pintu ini." ancam Kenny. Ia, duduk selonjoran dikasur. Hanya, dengan mengenakan celana pendek saja. Ia, tidak sabar ingin memulai malam pertama mereka.
"Aduh.. Bagaimana ini, tolong aku tuhan. Kali ini saja, kumohon selamatkan aku." gumam Gladis, ia bingung dengan situasi ini.
Sudah Lima belas menit lama nya, Gladis belum juga ada tanda - tanda keluar dari dalam kamar mandi. Hal, itu membuat Kenny kesal. Ia, beranjak dari tempat tidur. Kemudian, berjalan kearah pintu kamar mandi.
"Hey.. Apa kau masih lama? Jika ia, buka pintunya. Kita, akan bermain disana." teriak Kenny.
"Iya tuan, sebentar lagi." sahut Gladis. Ia, bingung harus keluar hanya dengan memakai lingerie tipis saja.
"Buka, atau aku dobrak. Aku, hitung sampai tiga. Jika, belum kau buka. Maka---." ucapan Kenny, terhenti. Karena, Gladis sudah membuka pintu.
"Apa kau berniat menggodaku sayang? Makanya, kau berpakaian seperti itu hm?." tanya Kenny, ia menepiskan senyum nakalnya.
"Apa - apaan dia ini, dia yang menyuruhku untuk memakai pakaian seperti. Malah, dia yang berkata apa kau sedang menggodaku sayang? Cih.. Memalukan." gerutu Gladis, didalam hati. Ia, menatap Kenny dengan tatapan jijik.
"Ini atas perintahmu tuan, aku memakai seperti ini. Baiklah, aku akan mengganti pakaianku." tutur Gladis, ia ingin kembali masuk kedalam kamar mandi. Namun, tangannya sudah dulu dicekal oleh Kenny.
"Aku hanya bercanda sayang, ayo kita mulai." kata Kenny, ia langsung menggendong tubuh mungil istrinya.
"T-tidak, jangan sekarang tuan. Aku, belum siap. Aku, takut. Kumohon.." pinta Gladis, dengan terisak.
"Diam!! Kau suka sekali menangis didepanku. Sudah, kukatakan berapa kali. Jangan, menangis dihadapanku." kesal Kenny, ia melempar tubuh Gladis ke kasur. Hingga, memperlihatkan paha putih mulus Gladis.
Kenny, menarik nafas dalam. Ia, tidak mungkin memaksa kehendaknya. Padahal, juniornya sudah bangun. Sejak, melihat Gladis hanya memakai lingerie saja.
"Baiklah, jika kau takut. Aku, tidak akan melakukannya sekarang. Tidur lah, aku tau kau sangat lelah." ucap Kenny, ia berlalu meninggalkan Gladis. Menuju, balkon. Ia, menghidupkan rokoknya.
"Tuan, maaf." lirih Gladis. Namun, Kenny tidak menjawabnya.
"Hiks.. Hiks.. Ibu, bantu aku. Aku, nggak kuat harus hidup dengan pria seperti dia." gumam Gladis, ia membaringkan badannya. Dengan, posisi membelakangi tempat tidur Kenny.
Kenny, kembali masuk kedalam kamar. Dilihatnya, Gladis sudah terlelap dibawah selimut. Ia, menjadi merasa bersalah. Karena, sering membentak Gladis.
Kenny, naik keatas kasur. Ia, merebahkan dirinya disamping Gladis. Ia, membalikkan tubuh Gladis. Dan, mengecup keningnya. Kemudian, memeluk tubuh mungil itu. Gladis, juga membalas pelukannya. Dan, membenamkan wajahnya didada bidang orang yang berada disampingnya.
.
.
.
Bersambung.
nunggu gladis lahiran