Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Terpaksa Damai
"Maaf Jeng, kenapa sampai pihak sekolah dibawa-bawa?" sela Riana menutupi rasa takutnya.
"Saya hanya ingin membuktikan apakah benar terjadi sogok sehingga anak saya juara umum terus, dan kesannya bagi sebagian murid termasuk Risa anak kalian, pihak sekolah memihak Silva anak saya. Kita buktikan saja siapa yang salah dan benar di sini, biar clear semua. Sebab saya merasa tidak enak kalau anak saya jadi bahan bullyan mentang-mentang dia anak adopsi saya." Mama Verli masih bersungut.
Riana diam menunduk, dia tidak lagi mengangkat wajahnya di hadapan Mama Verli dan keluarganya yang saat ini masih emosi.
"Sekali lagi, Pak Vero dan Bu Vero, saya mohon maaf apabila istri saya telah menyakiti hati kalian. Mungkin istri saya khilaf," ucap Pak Riwa sangat menyesal dengan perbuatan istrinya.
"Sama-sama Pak Riwa, sayapun sebagai suami dari istri saya, mohon maaf apabila kedatangan istri saya membuat kericuhan di sini," balas Papa Vero mewakili Mama Verli.
"Sebentar Pak Riwa, sebenarnya saya juga tidak ingin masalah ini menjadi ribut. Hanya saja, saya merasa tidak enak mendengar anak saya di luaran diolok-olok. Kalau hal ini terjadi pada keluarga Pak Riwa, saya yakin Pak Riwa tidak akan terima, bukan, jika salah satu anggota keluarganya ada yang diolok-olok?"
"Tentu saja Bu Vero. Sekali lagi kami minta maaf atas kesalahan istri saya. Saya merasa malu sama kalian, sekali lagi kami minta maaf." Pak Riwa meminta maaf sambil mengangkat tangannya ke atas.
"Saya maafkan Pak, kalau permintaan kalian tulus. Sudah saya katakan diawal, saya juga tidak ingin masalah ini menjadi besar atau rumit lalu kita jadi musuhan. Saya tidak ingin hubungan baik antara saya dan Jeng Riana menjadi keruh gara-gara masalah ini. Selama ini saya selalu menjalin hubungan baik dengan siapapun, dan selalu menghindarkan konflik. Jadi, untuk itu, jika kali ini saya berani mendatangi kalian, itu karena ada yang mengusik harga diri kami," tutur Mama Verli menjelaskan agar Pak Riwa tidak salah paham.
"Tentu saja Bu Vero, Pak Vero, kami pun sama, kami ingin selalu berhubungan baik dengan siapapun. Dan mengenai masalah istri saya, sekali lagi saya mohon maaf. Dan saya harap tidak diperpanjang. Saya jamin istri saya maupun anak saya tidak akan berbicara seperti itu di luaran, atau mencampuri privasi orang lain di luaran," ucap Pak Riwa terdengar serius.
"Baiklah Pak, saya catat ucapan Anda. Saya juga tidak akan memperpanjang masalah ini, apabila Jeng Riana dan Risa tidak mengulang lagi hal yang sama," balas Mama Verli memberi peringatan.
"Kalau begitu, sepertinya masalah ini clear dan kita sudahi saja perselisihan ini." Papa Vero bersuara.
"Baik, terimakasih atas pengertiannya Bu Vero dan Pak Vero. Semoga ke depannya, kita selalu baik-baik saja." Pak Riwa membungkukkan badan menandakan ucapannya begitu tulus. Sedangkan Riana, hanya diam saja, berdiri untuk mengantar orang pamit saja seperti enggan.
Setelah masalah dianggap clear, Mama Verli, Papa Vero dan Davis berpamitan, meskipun sebetulnya hati Mama Verli masih menyimpan ketidakpuasan.
Setelah kepergian keluarga Silvana, Pak Riwa menatap Riana dalam, wajahnya merah dan murka.
"Kenapa, Ma, kamu melakukan itu? Papa jadi malu sama mereka. Mereka selama kenal kita belum pernah punya masalah dengan kita, tapi gara-gara Mama menyebarkan privasi keluarga mereka, hubungan kita dengan keluarga itu menjadi keruh."
"Papa tidak bisa dibohongi sekalipun tadi Mama terus menyangkal. Untung saja Bu Vero, masih bisa dikendalikan emosinya. Kalau tidak, bisa jadi dia malah nekad memanggil Ardo atau pihak sekolah untuk membuktikan siapa sebetulnya yang salah."
Riana diam saja, dia merasa takut dengan kemarahan suaminya.
"Mulai detik ini, tidak perlu ikut campur masalah privasi orang lain, apalagi dengan maksud memperoloknya. Papa tidak mau kejadian ini terulang. Dan perlu Mama ingat, jangan sekali-kali ajarkan lagi iri dengki pada anak kita, karena kalau masih Mama ulang, maka papa tidak segan menghukum Mama atau Risa sekalipun," tegas Pak Riwa sembari berlalu dengan penuh rasa kecewa.
***
Setelah mereka bertiga berpamitan dari kediaman Pak Riwa, sepanjang jalan Mama Verli masih saja mendumel. Rasanya belum puas memberi pelajaran pada Riana. Baginya kedatangannya tadi masih sebuah peringatan yang super biasa, tapi kalau Riana mengulang lagi perbuatannya, maka Mama Verli akan bertindak lebih dari yang tadi.
"Huh, si Riana itu hanya bisanya nyangkal dan diam. Mama sebetulnya belum puas dengan sikap dia, harusnya dia minta maaf sama mama. Sibuk suaminya yang minta maaf atas perbuatan dia. Kalau saja tidak ada Pak Riwa, mama tadi sudah jambak dan bejek-bejek muka si Riana kayak tahu bejek, biar nyaho dia," dumel Mama Verli masih emosi.
"Sudah, biarkan kedatangan kita tadi jadi pelajaran buat istrinya Pak Riwa. Sepertinya Bu Riana itu terlanjur malu dengan kita dan takut sama suaminya, makanya dia tidak berani mendongak dan minta maaf."
"Itulah, dia itu memang pengecut. Untung saja mama masih diberi kesabaran, kalau tidak jurus-jurus karate mama saat sekolah dan kuliah dulu, mama praktekan ke tubuh si Riana, si mulut ember. Harusnya makin tua makin baik dan bijaksana, ini malah ikut campur masalah orang, dasar wong edan," dumelnya lagi masih belum berhenti.
"Sudah dong, Ma. Malu didengar orang kalau Mama ngomel melulu." Papa Vero mencoba menghentikan emosi istrinya yang masih membludak.
"Dav, Davis, belok dulu ke swalayan. Kita beli sesuatu untuk Silva. Mama mau kasih hadiah buat dia atas prestasinya." Mama Verli tidak membalas ucapan Papa Vero, ia justru memanggil Davis supaya belok ke swalayan.
Davis menghentikan motornya. "Mama mau kasih hadiah apa untuk Silva? Aku sudah kasih Silva bunga dan coklat tadi, Ma," ungkap Davis.
"Kamu ikut juga ke swalayan, kalau bisa pilihkan hadiah buat adikmu, supaya dia tambah semangat dan senang," ujar Mama Verli mengajak Davis ikut ke swalayan. Davis tidak menolak, ia pun sepertinya kepikiran ingin memberikan hadiah yang sedikit berharga untuk adik tercintanya itu.
Senyum di wajah Davis merekah, setelah dalam otaknya ada gambaran hadiah apa yang akan dia kasih untuk Silva.
Saat di swalayan, Davis sengaja menjauh dari mama dan papanya. Davis justru melipir ke toko emas. Entah apa yang dia lakukan di depan toko emas itu.
"Bisa nggak Mbak, saya pesan sebuah cincin tapi di dalamnya ada inisial DS?" tanya Davis pada seorang pelayan toko emas.
"Oh, bisa banget, Mas. Tapi selesainya paling besok. Kalau Mas nya setuju, kami ada pilihan gram, ada yang satu setengah gram dengan harga segini xxx, ada juga dua gram pas dengan harga segini xxx," jelas pelayan itu sembari memperlihatkan sampel cincin dan gramnya.
"Baik, saya pilih yang dua gram saja," pilihnya mantap sembari menunjuk cincin seberat dua gram pas.
gak suka banget aku liatnya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...
Bika Ambon dan lapis legit 👍👍👍👍
kk adek kandung mana ada begituan klo udah besar...aku aja dilarang masuk kamar Abg ku 😅😅😅