NovelToon NovelToon
Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Duda / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:98.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Gemintang Dahayu mampu bertahan menghadapi gosip. Ia mampu bertahan menghadapi kematian suaminya, Guntur Rimba Buana, orang paling kaya di daerahnya yang Tiga Puluh tahun lebih tua darinya. Tapi ia takut dan tidak akan sanggup menghadapi Raden Matahari Terbit Buana, putra suaminya.

Bertahun-tahun sebelum ia menikah, ketika ia dan Raden masih remaja dalam derai hujan pria itu memperkenalkan Gemintang pada cinta pertama yang menggetarkan. Lalu pria itu pergi, membuat hatinya hancur.

Tapi sekarang Raden kembali…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Raden melangkah ke arah kursi goyang yang berada di pojok kamar dan merebahkan diri di kursi itu. Tetapi rupanya kursi tersebut dirancang untuk tubuh perempuan, bukan Raden sebab ujung sepatu botnya menggantung.

Dengan satu tangan memegang botol minuman keras yang diletakkannya di perut, sementara tangannya yang satu lagi diletakkan di bawah kepala, sambil matanya tetap memandangi Gemintang bak burung rajawali yang mengincar mangsa. Gemintang berdiri resah di tempat yang sama dengan ketika Raden memasuki kamar.

“Mommy dan Daddy tidak pernah tidur bersama di kamar ini,” ucap Raden dengan mudahnya. “Masih segar dalam ingatanku, ketika Daddy meminta Mommy tidak mempermaslahkan keinginannya pindah ke kamar tidurnya sendiri setelah Laura lahir. Berjam-jam lamanya mommy menangis karena sejak itu Daddy tidak pernah tidur bersama mommy lagi.” Raden kembali meneguk wiskinya dan tertawa keras. “Kurasa Daddy tak pernah memaafkannya gara-gara Laura.”

“Daddymu menyayangi Laura,” protes Gemintang. “Dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Laura.”

Raden kembali tertawa meledak, tapi kali ini lebih keras lagi. “Oh ya? Ia memang pandai berpura-pura."

Gemintang memaksa dirinya bergerak. Ia melangkah ke arah ranjang lalu duduk di pinggirnya, mengencangkan tali pinggang baju tidurnya. “Jadi masalah ini yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Tentang suami-istri yang tidak tidur seranjang?’ tanya Raden, sambil menaikkan salah satu alis matanya. “Atau tentang Laura?”

Jelas kini Raden tengah mencari gara-gara dengannya. Di mana kelembutan laki‐laki ini? Kelembutan yang pernah ditunjukkan pria itu kepadanya ketika mereka berjumpa sembunyi-sembunyi atau ketika mereka saling mencurahkan isi hati? Sekarang Raden seperti orang asing baginya, padahal dulu ia begitu akrab dengannya.

Kemeja Raden tidak dikancing, terbuka. Dadanya kelihatan bergerak naik-turun tiap kali ia menarik napas. Gemintang masih ingat penampilan Raden ketika ia pertama kali melihatnya, air sungai menitik turun di dadanya yang bidang dan rambut hitamnya yang kusut. Perutnya masih keras dan rata sekarang, tetap berotot. Sebaris rambut hitam membelah tubuh itu menjadi dua bagian yang sempurna, sebelum akhirnya tertutup garis pinggang celana jinsnya. Di balik celana jins yang ketat itu membayang kejantanannya.

Dengan gugup Gemintang cepat-cepat membuang pandangan dari tubuh Raden. “Mengapa kau ingin membicarakan masalah itu denganku? Aku tidak ingin terlibat dalam pertengkaran antara kau dan ayahmu.”

Raden tertawa geli beberapa saat, sambil tetap dengan asyik menghabiskan wiski. Kemudian ia bangkit dari kursi goyangnya dan berjalan menghampiri Gemintang. Ia terlihat menakutkan, berbahaya, dan memikat. Namun Gemintang berusaha tidak menunjukkan perasaan takutnya terhadap Raden.

“Aku butuh mobil besok pagi. Aku menemuimu untuk meminjam mobil.”

“Oh, tentu saja boleh,” sahut Gemintang sambil menarik napas lega. “Kuambilkan dulu kuncinya.” Gemintang bangkit dari ranjang, berusaha sebisa mungkin tidak bersinggungan dengan tubuh Raden ketika bangkit. Namun ketika ia melewati Raden, sesaat pahanya menyentuh paha Raden dan ia merasakan ototnya berkontraksi. Gemintang cepat‐cepat bergerak menjauh menuju lemari tempat ia menyimpan tas. Dengan jari‐jari gemetar, Gemintang mencari-cari kunci mobilnya, yang akhirnya ditemukannya dan langsung memberikannya kepada Raden. “Mau ke mana kau pagi-pagi?”

“Aku ingin menemui dokternya sebelum bertemu Daddy. Aku akan kembali menjelang siang untuk mengantarmu dan Laura ke rumah sakit, jika kau bersedia.”

“Ya, boleh. Tetapi pagii-pagi ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu.”

“Urusan di pemintalan perkebunan?”

“Ya, aku harus memeriksa pembukuannya.”

“Ya, kudengar soal itu dari Randy. Katanya, kau banyak membantu pekerjaan Daddy sebelum menikah dengannya.” Raden maju selangkah lebih dekat. Napasnya yang hangat dan berbau alkohol menerpa wajah Gemintang.

“Randy berlebihan.” Gemintang berusaha memiringkan tubuh untuk menghindari Raden, tetapi dengan sengaja Raden juga memiringkan tubuh hingga malah membuat tubuh mereka lebih rapat.

"Aku berani bertaruh kau sangat di butuhkan Daddy dalam banyak hal, bukan?”

Mata Gemintang berkilat marah ketika melirik Raden. “Mengapa kau menyindirku terus-menerus, Raden?”

“Karena aku selalu tergelitik untuk melihat reaksimu dengan mengganggumu, itulah alasannya. Gemintang, yang begitu muda, begitu manis, begitu sederhana, begitu… polos.” Kata-kata itu meluncur deras dari bibir Raden bak air yang mengucur dari keran yang terbuka.

Gemintang mengangkat tangan, tetapi Raden menangkap tangan itu dan memelintirnya ke belakangnya, menarik tubuh Gemintang mendekat ke tubuhnya. Dada Gemintang menempel di dada Raden yang bidang. Ibu jari kaki Gemintang bersinggungan dengan ujung sepatu bot Raden. Wajah Raden hanya beberapa inci dari wajahnya. Ketika ia berbicara, setiap kata yang meluncur dari bibirnya diucapkan dengan penuh amarah.

“Pernah kubiarkan kau menamparku, tetapi bila kau berani menamparku lagi, kau akan menyesali perbuatanmu.”

“Apa yang akan kaulakukan? Balas menamparku?”

Raden tersenyum mengejek. “Oh, tidak akan. Bukan begitu caraku membalasnya. Aku akan melakukan sesuatu yang sangat tidak kau sukai.” Raden merapatkan tubuh Gemintang ke tubuhnya yang bereaksi, membuat Gemintang seketika mengerti maksud ucapan Raden. Raden menundukkan kepalanya lebih dekat. “Atau kau menyukainya, Gemintang? Hmm?” Gesper ikat pinggang Raden menyentuh pakaian tidur Gemintang, menggores perutnya. “Di mata setiap orang kau memang Nyonya Buana. Tetapi bagiku kau tetap Gemintang Dahayu. Gadis muda yang melintas hutan untuk bekerja… dan perlahan-lahan membuatku gila.”

Gemintang menatap Raden. Sorot matanya menantang. Penuh amarah, bak awan badai yang berembus membawa hujan, angin, dan petir. Rambut Gemintang yang tadi dipuji Raden tergerai dari wajahnya ke punggung. “Jadi kau masih ingat, Raden. Jika kau masih punya kenangan akan hal itu.”

Sesaat mata Raden membelalak, kemudian menyipit. Ia menatap wajah Gemintang dengan panas, lama berhenti di bibirnya, kemudian turun dari leher ke buah dadanya, yang kini agak menyembul dari balik baju tidurnya, lalu kembali ke atas lagi. Sorot matanya memancarkan pergolakan, pertanda terjadi pergulatan di dalam diri Raden.

“Ya,” jawab Raden kasar. “ Aku masih mengingatnya.”

Gemintang di lepaskan begitu saja sehingga ia terhuyung dan bersandar di meja riasnya. Ketika keseimbangan tubuhnya kembali, Raden melangkah keluar dari kamar dengan sikap murka.

SIALAN! Raden berharap ia tidak ingat semua kenangan manis itu.

Di kamarnya, Raden membuka kemeja, mengisi gelas dengan minuman keras dari botol yang dicurinya di lemari minuman keras daddynya, lalu merebahkan diri di kursi goyang yang selalu diletakkan di dekat jendela. Diteguknya wiski itu, tetapi karena minuman itu sudah kehilangan rasa, diletakkannya gelas tersebut dengan jengkel. Ia membungkuk, membuka sepatu bot, lalu melemparnya ke permadani sehingga menimbulkan suara gedebuk perlahan.

Sambil bersandar, kepalanya di bantalan kursi yang empuk, dibiarkannya pikirannya menerawang ke masa lalu, ketika ia berusaha kabur dari perkebunan, pengawasan daddynya, dan panas matahari yang menyengat. Ia pergi ke tepi sungai, tanpa pakaian selembar pun terjun ke sungai yang airnya dingin. Ketika ia naik ke darat kembali, sewaktu sedang mengeringkan tubuh dan memakai celana jins, ia melihat perempuan itu…

1
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
Kok Guntur bgitu yaa..
kalea rizuky
guntur emang gendeng anak gk di bagi warisan hadehh bapak setan
kalea rizuky
ne aki aki uda mati masih aja nyusain
kalea rizuky
ini aku aki g mau ngalah sama anak pdhl. uda mau modarrr
Ersa
jackpot
Ersa
Luar biasa
Ersa
jgn2 Guntur tidak pernah menikahi Gemintang & juga tdk pernah menyentuh Gemintang 🤔
Ersa
mungkinkah Guntur menikahi Gemintang untuk melindungu raden atau Gemintang sendiri?🤔
Evelyne
ini yang selalu gw suka dari Irma... selalu keren kalo bikin cerita dengan alur cerita yang jelas...walau kadang ada alur balik nya...tapi itu tetap jelas agar terbuka latar belakang cerita ini... konflik nya gak di bikin ribet tapi tetap bikin penasaran...ok gw makin suka...👍
Irma: Terima kasih, aku rekomendasiin untuk baca yang Enough sampai selesai karena menurutku ceritanya lebih bagus.😊
total 1 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh Rendy juga ternyata menaruh hati pada Gemintang😊
Onie Lestary
happy ending ❤
bunda DF 💞
bagus
༄⃞⃟⚡𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤☪️
lakukanlah raden karena raden junior ada disana
༄⃞⃟⚡𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤☪️
bener gemintang hamil nih
༄⃞⃟⚡𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤☪️
mungkinkah akan tumbuh raden junior
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
akhir yang manis untuk Ragem so sweet dah kalian😘😘😘😘
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
uwuuuu manisss sekali semoga bahagia selalu ya 😘😘
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
yuhuuu bener kan akhirnya ragem junior hadir anaknya kira2 dikasih nama siapa ya😄RAGEM aja kali ya 🏃🏃🏃
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶: nah pas kan
kan buat nya bersama2😄
total 2 replies
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
nahloh gemi hamil nih kayaknya kok elus2 perut🙊
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Raden pergi tanpa menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!