⚠️Dilarang Boom Like
Dari Cinta menjadi Benci, itu lah yang Ry rasakan terhadap kekasihnya. Ry begitu mencintai kekasihnya bahkan tidak pernah mendengarkan perkataan orang lain bahwa kekasihnya selingkuh. Ry terlalu mempercayai kekasih hingga akhirnya kekasih nya memilih menikahi perempuan selingkuhnya.
Sejak saat itu Ry benar membenci kekasihnya yang sudah berstatus mantan kekasih.
Saat perayaan kelulusan nasib sial menimpa Ry dia terkena razia oleh seorang pak polisi, karena Ry belum memiliki SIM dan tidak memakai helem sehingga menyebabkan motor kesayangan di tahan oleh pak polisi. Dari situlah Ry membenci pak polisi tersebut.
Apakah Ry tahu arti kata Benci itu ialah Benar Cinta? Apakah perasaan Benci Ry akan berubah menjadi cinta terhadap Pakpol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rezeki Anak Sholeh
"Kamu sibuk ngomongin Ry di belakang, Ry sibuk nulis buat berkarya,berarti kita emang beda kelas."
Tiga Hari Kemudian.........
Lia yang sedang mengendong Eria berdiri di teras rumahnya.
"Ry pulang dulu ya mbak." Ry menyalim punggung tangan Lia.
"Langsung pulang jangan kelayapan atau membuat masalah lagi adek." Lia mengingatkan Ry untuk tidak membuat masalah lagi, karena kalau Ry membuat masalah lagi yang repot itu semua anggota keluarga.
"Insyaallah Ry gak buat masalah, nte Ry pulang dulu ya Ria." Ry mencium pipi Eria, keponakannya yang masih balita.
"Da da da te Ry." Eria melambaikan tangan ke arah Ry.
Ry berjalan ke arah motornya yang terpakir di halaman rumah Lia. Ry sudah berada di atas motornya lalu dia menyalahkan kan motornya tetapi tidak bisa.
"Kenapa motornya adek?" tanya Lia.
"Gak tahu mbak." Ry mencoba menghidupkan motornya lagi tapi tetap saja tidak bisa hidup.
"Apa bensinya habis adek?" Lia berjalan ke arah Ry sambil mengendong Eria.
"Bensin masih full mbak, ah benar nih motor minta di kilo kan aja ke tukang besi tua." Ry yang mengerutu karena motornya tidak bisa menyala.
"Jangan ngomong gitu nih motor antik." Lia yang sudah berdiri di samping motor Ry.
"Bukan antik tapi udah motor buntut nih," kata Ry.
"Gak buntut masih bagus nih motor bahkan udah pernah nabrak angkot waktu adek lagi patah hati." Lia menginginkan tentang kecelakaan Ry yang nabrak angkot karena waktu itu kondisi Ry sedang patah hati, di tinggal nikah ama pacarnya.
"Terus, ini Ry pulang gimana mbak?" Ry mengalihkan topik pembicaraan.
"Naik angkot aja, kan dulu adek pengen naik angkot sampai nagis-nagis gak di bolehin mama." Lia menginginkan tentang Ry waktu SMP pengen naik angkot ama teman-temannya tapi di larang ama mama.
"Aduh mana panas lagi, lumayan jauh kalau Ry harus jalan kaki ke simpang buat nyari angkot,"kata Ry.
" Hitung-hitung olahraga, udah sana kalau mau pulang." Lia yang seakan-akan mengusir Ry untuk pulang.
Pulang, enggak, pulang, enggak, pulang, enggak
Ry yang masih ragu mau pulang atau enggak, Ry gak masalah pulang naik angkot tapi dia mikir jalan kaki dari rumah Lia ke simpang cukup lumayan jauh. Belum lagi natik Ry turun di persimpangan komplek perumahan nya harus jalan kaki untuk bisa ke komplek perumahan nya.
Di Pos Polisi
Kevin masih berdiri di pinggir jalan raya untuk mengatur lalu lintas, ini siang hari bertepatan anak-anak pulang sekolah dan juga waktu makan siang para karyawan sehingga jalan raya tersebut macet. Kevin mulai mengantuk lalu lintas di jalan raya tersebut agar tidak terjadi kemacetan.
Kevin mengatur lalu lintas dengan cara memberikan aba-aba kepada pengendara kendaraan yang melintas di jalan raya tersebut. Dia juga meniup peluit ketika menyuruh pengendara kendaraan untuk berhenti. Ketika ada orang yang mau melewati jalan raya tersebut.
Saat Kevin sedang bertugas mengatur lalu lintas banyak kaum hawa yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang kagum. Mereka memberikan julukan Kevin pakPol Tampan. Mereka rela di tilang ama pakPol Tampan asalkan bisa di ajak ngobrol. Sehingga banyak pengendara kendaraan yang sengaja melanggar aturan agar di tilang oleh pakPol Tampan.
Setelah lalu lintas di jalan raya sudah normal Kevin kembali lagi ke pos polisi. Kevin berdiri di depan kantor pos sambil meneguk air yang berada di dalam botol tersebut.
"Vin." Arlan yang berdiri di hadapan Kevin.
"Apa Lan?" Air dalam botol hanya tersisa setengah saja, setelah itu Kevin kembali menutup botol tersebut.
"Kamu udah makan?" tanya Arlan.
"Belum, kenapa emangnya?" tanya Kevin.
"Sama dong aku belum makan juga," jawab Arlan.
"Apa kamu mau ngajak aku makan bareng?" tanya Kevin.
"Gak." Arlan menggelengkan kepalanya.
"Terus, apa?" Kevin yang keningnya berkerut.
"Aku mau makan dulu," jawab Arlan.
"Aku juga lapar, mendingan kita makan bareng aja." Kevin yang juga merasa lapar berkeinginan makan bersama Arlan.
"Jangan dong, siapa yang jaga pos kita?" tanya Arlan.
"Gak usah di jaga, lagian di pos juga gak ada barang berharga," jawab Kevin.
"Tapi masalahnya kita masih jam kerja nih, kalau kita meninggalkan pos saat komandan ke sini yang ada kita berdua kena hukuman, apa kamu mau mendapatkan hukuman?" tanya Arlan.
"Ya aku gak maulah Lan," jawab Kevin.
"Kamu mau makan apa?" tanya Arlan.
"Nasi padang lauknya dendeng balado," jawab Kevin.
"Ya udah kalau gitu aku pergi dulu." Arlan pergi meninggalkan pos polisi.
Setelah satu jam Arlan pergi, dia juga belum kembali ke pos polisi Kevin sudah merasakan lapar. Bahkan Kevin sudah menelpon nomor Arlan beberapa kali tetap tidak diangkat oleh Arlan.
Si Arlan beli nasi padang atau pergi ke padang sih kok udah satu jam belum juga kembali. Apa dia gak mikir kalau aku lapar guman Kevin.
Sebuah mobil rangers berwarna silver berhenti di depan pos polisi. Seorang pria paruh baya yang usia di atas almarhum papa Kevin tersebut turun dari mobil sambil membawa sebuah kantong plastik.
"Selamat siang Pak Polisi." Sapaan si pria paruh baya tersebut kepada pak Polisi.
"Selamat siang juga, ada yang bisa saya bantu pak? Kevin berjalan mendekat ke arah si pria tersebut.
"Apa pak polisi sudah makan?" tanya si pria paruh baya tersebut.
"Belum, saya masih berjaga di pos pak," jawab Kevin.
"Ini buat pak polisi." Si pria paru baya tersebut memberikan sebuah kantong plastik kepada Kevin.
"Ini apa pak?" Kevin yang tidak berani mengambil pemberian si pria tersebut, karena Kevin belum mengenal si pria tersebut.
"Nasi padang, tolong di ambil pak polisi," jawab si pria paruh baya tersebut.
"Maaf Pak saya tidak bisa menerimanya." Kevin yang merasa tidak enak sehingga dia menolak pemberian pria paruh baya tersebut.
"Pak polisi kan belum makan sebaiknya terimalah makanan dari saya, pak polisi tenang saja makanan ini tidak ada racun nya aman." Si pria paruh baya tersebut membujuk Kevin untuk menerima nasi padang yang telah dia belikan.
"Terima kasih pak." Akhirnya Kevin menerima sebuah kantong plastik dari tangan si pria paruh baya tersebut.
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu pak polisi." Si pria paruh baya tersebut senang melihat Kevin mengambil kantong plastik dari tangannya.
"Hati-hati berkendara ya pak, semoga selamat sampai tujuan pak." Kevin tersenyum melihat ke arah si pria paruh baya yang sudah berada di samping mobil rangers berwarna silver.
Si pria paruh baya tersebut membuka pintu mobil lalu dia masuk ke dalam mobil. Dia duduk di bangku pengendara mobil tersebut, dia menutup pintu mobil tersebut. Dia melajukan mobil tersebut ke arah jalan raya.
...~ Bersambung ~...