SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. KHAWATIR
Ruangan rumah sakit kembali sunyi setelah pintu tertutup perlahan di belakang Elena.
Hanya ada bunyi tetesan air infus yang berdetak pelan, teratur, seolah menjaga ritme kehidupan yang rapuh di atas ranjang itu. Seolah membelah keheningan di antara dua orang yang terdiam canggung.
Theo berdiri di samping tempat tidur Celina. Ia belum duduk.
Seolah jika Theo bergerak terlalu cepat, jika ia bernapas terlalu keras, gadis di hadapannya bisa menghilang begitu saja.
Celina menyadari tatapannya. "Ada apa?" tanyanya pelan.
Theo menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya sebelum akhirnya ia duduk di kursi dekat ranjang, mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Aku ...." Theo berhenti sejenak.
Suara yang keluar berikutnya tidak lagi terdengar seperti Theo yang biasanya, dingin, terkontrol, penuh kalkulasi.
"Aku benar-benar takut," ujar Theo dengan nada pelan dan tertunduk menatap tangan gadis itu.
Celina terdiam.
Theo mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena emosi yang ditahan terlalu lama.
"Aku tidak pernah merasa sepanik itu seumur hidupku," kata Theo jujur. "Bahkan saat perusahaan hampir runtuh, bahkan saat kami diserang media, bahkan saat semua orang menunggu aku gagal, aku tidak pernah takut seperti kemarin."
Celina menatapnya, napasnya tertahan.
"Ketika kita jatuh di tangga darurat itu," lanjut Theo, suaranya bergetar, "dan kau tidak bergerak, ketika darah ada di mana-mana ... aku pikir-"
Theo berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang ia rasa. Rahangnya mengeras.
"Aku pikir kau tidak akan membuka matamu lagi. Entah kenapa rasanya itu sangat menakutkan," lanjut Theo.
Kata-kata itu jatuh berat di udara.
Celina membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
Theo mengusap wajahnya kasar. "Aku menggendongmu keluar dari sana," katanya. "Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa. Aku tidak pernah merasa selemah dan setidak berdaya itu."
Celina menunduk.
"Aku tidak ingin merasakan itu lagi," lanjut Theo pelan namun tegas. "Aku tidak ingin melihatmu seperti itu lagi."
Theo menatap Celina lurus-lurus. Ia serius dengan ucapannya barusan, tidak ada satu pun dari kata yang dia lontarkan itu gurauan semata.
"Berjanjilah padaku. Jangan melakukan hal berbahaya lagi demi orang lain bahkan demi aku," pinta Theo.
Celina menggeleng pelan.
Theo membeku.
"Aku tidak bisa," jawab Celina jujur. "Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak berada dalam bahaya. Hidup tidak bekerja seperti itu, Theo. Dan aku tidak bisa menjanjikan hal yang bisa saja kuingkari tanpa aku mau."
Theo menghela napas, menutup mata sejenak. Ia tahu Celina benar, tapi bukan itu yang ingin Theo dengar. Ia hanya ingin mendengar kalau Celina berusaha untuk menjauh dari bahaya. Bahwa Celina tetap aman.
"Kalau begitu," kata Theo akhirnya, membuka mata kembali, "setidaknya berjanjilah satu hal."
Celina menatapnya. "Apa?"
"Berjanjilah untuk menghindari bahaya sebisa mungkin," lanjut Theo. "Berjanjilah jangan sampai terluka parah lagi. Berjanjilah jangan sampai terluka seperti ini."
Theo menggenggam tangan Celina erat-erat, seolah takut jika ia melepasnya, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Celina melihat wajah Theo.
Melihat ketakutan yang tidak disembunyikan oleh pria itu. Melihat kepanikan yang tidak dipoles menjadi kesombongan. Melihat seorang pria yang benar-benar takut kehilangan.
Dan untuk pertama kalinya, Celina ragu pada prinsipnya sendiri.
"Baik," kata Celina akhirnya. "Aku janji."
Theo menghembuskan napas panjang, seolah baru saja diberi izin untuk bernapas kembali.
"Terima kasih," ujar Theo tulus.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu Theo berkata, "Setelah keluar dari rumah sakit, kau akan tinggal bersama keluarga Morelli."
Celina terbelalak, terkejut dengan ucapan Theo kali ini. "Apa? Kenapa?!"
Theo mendengus kecil dan tersenyum remeh.
"Pertama," katanya sambil mengangkat satu jari, "apa kau pikir aku akan membiarkan seseorang yang menyelamatkanku sampai terluka parah seperti ini tinggal sendirian di apartemen kecil seperti hamster? Tentu tidak, Sweetheart."
Celina membuka mulut, seolah ia baru saja melihat kepribadian Theo yang lain dalam saru waktu.
"Kedua, ayah dan ibuku akan memukuliku jika sampai tidak merawatmu setelah apa yang tejadi," lanjut Theo tanpa memberi kesempatan, "bahkan jika kau menolak, aku akan menyeretmu ke rumahku.”
"HEY-"
"Dan ketiga," Theo mengangkat jari ketiga, suaranya mengeras, "penyusup yang kabur itu sudah melihat wajahmu. Ada kemungkinan mereka akan mengincarmu. Tempat paling aman untukmu saat ini adalah kediaman Morelli."
Celina terdiam.
"Tidak perlu sejauh itu," protes Celina akhirnya. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Theo mengangkat tangan lalu menyentil dahi Celina. "Keras kepala," kata Theo.
"Aduh!" Celina meringis. "Hei!"
Theo tertawa kecil, suara tawanya singkat namun nyata.
"Dengarkan aku," kata Theo kemudian, berubah serius. "Ayahmu akan datang."
Celina membeku.
"Ayahku? Dad, akan datang?!" seru Celina terkejut sekali.
Theo mengangguk. "Secepat mungkin," katanya. "Dia sudah mendengar apa yang terjadi padamu."
"Bagaimana bisa?!" Celina hampir duduk.
"Jangan bergerak sembarangan, astaga kau ini," omel Theo seraya menahan tubuh Celina agar tidak bergerak dadakan.
"Bagaimana Dad tahu aku di sini?!" seru Celina, menuntut jawaban.
Theo tersenyum tipis. "Karena ternyata ayahku dan ayahmu adalah teman baik. Begitu orang tuaku melihatmu, mereka langsung mengenalimu dan menelepon ayahmu. Kau dalam masalah, Princess."
Celina menutup wajahnya dengan tangan. "Oh tidak. Dad pasti marah," gumamnya.
Theo memiringkan kepala. "Kenapa?" tanyanya.
Celina melirik Theo dan berkata, "Aku tidak bilang kalau ke Los Angeles. Apalagi ke Morelli. Apalagi ... menjadi office girl dan .... terluka seperti ini."
Theo tertegun. "Jangan bilang ... kau benar-benar kabur dari rumah seperti yang kau ceritakan ke si kembar?"
Celina menggeleng cepat. "Bukan kabur," sanggahnya. "Aku bilang ingin liburan bersama teman."
Theo mengusap wajahnya. Lalu menyentil dahi Celina lagi.
"Kau ini benar-benar selalu tahu cara masuk ke dalam masalah," kata Theo putus asa.
"Berhenti menyentilku!" Celina protes. "Itu sakit!"
Theo tersenyum remeh. "Nah, itu berarti kau tahu rasanya sakit. Jadi berhentilah masuk ke dalam masalah."
Celina merengut. "Ayahku sungguh akan datang?" tanyanya lirih.
Theo mengangguk. "Ya. Secepat mungkin dari yang kudengar di telepon."
Celina mengerang pelan.
Theo menyeringai jahil. "Akan aku adukan semua yang kau lakukan di perusahaanku."
Celina menatapnya tajam. "Sejak kapan kau jadi tukang adu?!"
Theo mengangkat bahu. "Sejak kau hobi terlibat masalah. Mulai dari menumpahkan kopi ke pakaian pemimpin perusahaan."
"Kau menyebalkan," oceh Celina.
"Syukurlah kalau kau tahu," ujar Theo dengan senyum santai.
Percakapan mereka berlanjut, ringan, penuh protes kecil, adu mulut yang justru terasa hangat.
Sampai suara Celina semakin pelan.
Sampai matanya perlahan terpejam.
Theo menyadari itu.
Ia berhenti bicara.
Tangannya masih menggenggam tangan Celina. Ia tidak melepaskannya. Entah kenapa tidak mau.
Theo mengelus punggung tangan itu pelan, seolah memastikan Celina benar-benar ada.
Benar-benar bernapas.
Benar-benar hidup.
Theo menatap wajah Celina yang tertidur, damai, rapuh, dan terlalu berharga.
Dengan suara hampir tak terdengar, ia berbisik, Kumohon, jangan terluka lagi."
Theo mengecup lembut punggung tangan Celina, seolah itu bisa meredakan rasa takut dan khawatir yang masih menderu di dada Theo.
Tidak tahu sejak kapan Celina menjadi kelemahan pria yang selalu sempurna ini.
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️