NovelToon NovelToon
PEWARIS TERHEBAT 7

PEWARIS TERHEBAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sci-Fi / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.

Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Keempat anggota Galata semakin mendekati pulau. Mereka bergerak semakin cepat, melewati deretan pepohonan yang menjulang tinggi ke langit. Di waktu yang sama, hujan mengguyur semakin deras, disusul petir yang menggelegar.

Keempat pria itu memasuki kawasan penduduk, mendarat di balik sebuah pohon berukuran besar. Alat-alat mereka memindai sekeliling.

"Orang-orang yang berada di tempat ini hanya berjumlah kurang dari enam puluh orang. Mereka berada di rumah mereka masing-masing untuk berlindung dari hujan. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari alat pemindai, mereka tidak memiliki alat-alat canggih seperti kita," ujar seorang anggota.

Anggota lain menyahut, "Sinyal orang-orang yang memiliki kemampuan mendadak menghilang sekarang, padahal sinyal itu sempat terdeteksi di alat kita."

"Dapatkan informasi secepatnya. Jangan sampai pergerakan kita ke tempat ini sia-sia. Menyebar sekarang," perintah si pemimpin kelompok.

Keempat anggota Galata itu segera menyebar ke sekeliling, bergerak dengan mode kamuflase, memasuki sebuah rumah secara acak. Mereka membuat orang-orang di pulau tidak sadarkan diri secara tiba-tiba untuk mendapatkan informasi.

Keempat anggota Galata itu bergegas keluar dari rumah saat orang-orang kembali sadar. Mereka berkumpul di tempat semula untuk berbagi informasi.

"Aku sudah memeriksa orang-orang di sebuah rumah. Mereka mengaku tidak tahu menahu soal kemampuan khusus."

"Aku juga mendapatkan informasi yang sama. Aku bahkan mengecek hingga tiga kali untuk memastikan jika aku tidak salah mendengar."

"Aku bahkan memeriksa orang-orang di rumah lain untuk memastikan kebenaran informasi yang aku dapatkan. Hasilnya juga sama. Mereka tidak tahu menahu soal orang-orang dengan kemampuan khusus."

Si pemimpin kelompok tercenung selama beberapa waktu, menoleh pada hujan yang terus mengguyur deras. "Ini aneh. Kita mendapatkan sinyal soal orang-orang berkemampuan khusus. Akan tetapi, saat kita tiba di pulau, sinyal itu justru menghilang. Kita juga tidak mendapatkan informasi dari penduduk pulau.”

"Ada tiga kemungkinan yang bisa saja terjadi. Pertama, kita salah menilai sinyal yang muncul. Kedua, alat itu keliru memahami sinyal yang muncul. Ketiga, penduduk pulau ini sudah tahu kemunculan kita dan melakukan upaya untuk menutup informasi mengenai kemampuan mereka."

Si pemimpin kelompok mengamati rumah-rumah penduduk di balik rimbunnya daun. Ia menoleh saat sebuah informasi muncul di layar hologram.

"Ketua meminta kita untuk pergi ke markas sekarang juga. Sepertinya masa dari orang-orang berkemampuan itu sudah tiba. Akan tetapi, kita tidak boleh salah mengambil langkah terkait orang-orang di pulau ini. Kita akan menempatkan beberapa robot untuk mengawasi mereka selama kita pergi. Kita bisa kembali ke pulau ini dengan bantuan orang-orang berkemampuan khusus."

Dua anggota Galata mengirimkan sekelompok robot kecil yang kemudian menyebar ke sekeliling pulau. Di tengah hujan yang semakin mengguyur, keempat anggota Galata bergegas meninggalkan pulau.

Hujan terus mengguyur deras setelah kepergian anggota Galata. Orang-orang di pulau masih berada di rumah, beraktivitas seperti biasa seolah tidak ada hal berbahaya yang terjadi pada mereka.

Di waktu yang sama, Luc masih berada di ruangannya, mengetik cepat bersamaan dengan layar yang terus menampilkan kode-kode.

Luc menekan tombol, mengembus napas panjang. Layar seketika menunjukkan keadaan rumah penduduk pulau. "Sistem keamanan Galata sangat hebat sehingga aku kesulitan untuk bisa meretas salah satu robot mereka."

Luc mengamati layar yang menunjukkan bekas keberadaan keempat Galata dan robot-robot kecil yang berkeliaran di hutan. "Aku berhasil meretas dan mengendalikan sebuah robot milik Galata. Dengan ini, aku bisa masuk ke sistem mereka untuk mendapatkan informasi."

Luc bersandar di kursi, memijat kursi. "Syukurlah, rencanaku berjalan dengan lancar sehingga keempat anggota Galata itu tidak mendapatkan informasi mengenai orang-orang di pulau. Aku harus berterima kasih pada Baba yang sudah menghipnotis semua penduduk pulau. Kemampuannya sudah bertambah kuat dari hari ke hari."

"Sayangnya, ini masih permulaan. Aku harus sangat berhati-hati untuk bisa menyusup ke sistem Galata. Jika tidak, aku dan yang lain akan berada dalam bahaya." Luc termenung saat melihat sebuah tulisan di layar.

"Keempat anggota Galata itu pergi ke markas setelah mendapatkan pesan. Dari rekaman suara yang tersimpan, mereka menyebut soal orang-orang berkemampuan khusus."

Luc menoleh pada beberapa serum di sebuah lemari kaca. "Ini berbahaya."

Luc segera mengirimkan pesan pada Graham.

Sementara itu, sebuah perahu tengah bergerak di tengah badai yang berkecamuk di laut. Banyak barang yang terombang-ambing ke kanan dan kiri. Orang-orang yang berada di kapal berusaha untuk tetap tenang di tengah perahu yang oleng.

"Sial!" gumam Simon seraya berpegangan pada besi di saat barang-barang terus bergerak ke kiri dan kanan. "Aku sudah menduga hal ini terjadi, tetapi aku tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan jalur laut. Galata terus menambah jumlah anggota untuk mencari anggota yang masih berkeliaran."

Pintu ruangan mendadak terbuka bersamaan dengan Taro dan beberapa kotak kayu yang terdorong ke arah Simon. Simon harus melompat untuk menghindar, berpegangan semakin kuat ketika perahu bergerak.

"Dasar brengsek!" Taro mendengkus kesal, berpegangan pada dinding besi. "Sampai kapan kita harus bertahan dari badai sialan ini? Keadaan di luar sangat kacau!"

"Kita sudah melewati situasi seperti ini saat berlatih dahulu. Kenapa kau jadi seperti pengecut, Taro?" Simon mengembus napas lega saat keadaan mulai membaik.

"Jangan membuatku semakin jengkel, Simon!" ketus Taro sembari mendekat.

"Perhatikan nada dan gaya bicaramu pada kakakmu sendiri, sialan! Kita tidak memiliki pilihan selain melarikan diri melalui laut karena Galata sudah menguasai jalur langit dan darat."

Taro duduk di sebuah kotak kayu, meremas rambutnya, mengamati air yang memasuki ruangan. Ketika mengamati Simon, ia seketika teringat dengan kenangan masa kecil mereka.

"Bagaimana dengan anggota lain?" tanya Simon sembari mengamati keadaan luar. Ia hanya melihat kegelapan dan cahaya putih sesekali.

"Meski kita sudah membentuk sebuah kelompok baru, tetapi mereka tetap saja lebih condong bersama dengan sesama anggota mereka dahulu," jawab Taro.

"Itu adalah hal yang sangat wajah. Kita semua sudah tersekat dalam kelompok berbeda dan saling bermusuhan dalam waktu yang sama. Tidak mudah untuk saling percaya. Sebuah keajaiban saat kita sepakat untuk bekerja sama."

"Kau benar." Taro mengembus napas panjang.

Suara alarm mendadak berbunyi. Seseorang berkata melalui sambungan alat komunikasi, "Aku melihat pergerakan yang sangat cepat di belakang. Kemungkinan mereka adalah Galata."

Simon dan Taro bergegas bersiap, mengambil senjata masing-masing, berlari ke luar. Anggota-anggota lain juga sudah berada dalam posisi masing-masing. Mereka cukup terbantu dengan keadaan yang lebih aman dibandingkan beberapa menit lalu.

Di lain tempat, Lorcan, Talon, dan dua anggota bergegas mundur saat berpapasan dengan dua sosok bertopeng hitam. Mereka seketika berada dalam kondisi siaga, saling mengarahkan senjata masing-masing.

1
Nathan Grdn
tarik nafas
Nathan Grdn
masa kalah terus jagoan nya,persis di konoha penjagat selalu di depan
MELBOURNE
saksikan terus
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍
aim pacina
Miguel Mikael dan govin berikan kekuatan khusus thor biar seru karna fisik mereka kuat
Glastor Roy
update ya torrr ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!