Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.
Aiza dan Akhmar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Berpisah
Mereka keluar dari semak belukar dan kini sampai di jalan aspal. Entah terhubung ke jalan aspal mana, Aiza pun bingung. Tempat itu asing.
“Di sini kamu nggak akan menemukan taksi atau pun kendaraan umum. Kita ke persimpangan jalan di depan sana supaya dapet ojek atau apalah,” ucap si pria sambil menunjuk persimpangan jalan yang agak jauh di depan sana.
Aiza tidak menanggapi, pasrah saja. Si pria sudah terlihat letih berjalan sambil menggendong beban tubuh Aiza, yang meski langsing tapi bobotnya lumayan.
Tak lama mereka sudah sampai di persimpangan jalan. Sebuah ojek berhenti sesaat setelah pria itu melambaikan tangan.
Aiza sempat menolak saat disuruh naik ke ojek itu. Ia trauma, takut si ojek malah berbuat yang tidak- tidak terhadapnya. Aiza mundur dan tak mau naik motor.
“Percayalah, kamu akan aman. Aku kenal sama Mas ojek ini. Dia baik.” Pria itu meyakinkan.
Seperti diremot, akhirnya Aiza menuruti perkataan si pria. Ia membonceng.
“Eh, jaketnya!” teriak Aiza saat motor sudah melesat.
Pria itu diam saja, balik badan, berjalan gontai berlawanan arah.
***
"Ya Allah, Aiza! Kenapa ini?" Qanita, uminya Aiza tergopoh menyambut kedatangan Aiza yang terlihat kacau sekali saat turun dari ojek. Di samping tubuh hadis itu basah, juga wajah pucat, kakinya pun sakit dan tak bisa berjalan. Baju gadis itu pun kotor oleh tanah.
Qanita membayar ojek dan memapah tubuh Aiza masuk ke rumah. Menuntun ke kamarnya yang luas dan mendudukkan gadis itu ke sisi kasur.
"Astaghfirullah... Kenapa dek?" Zahra muncul dan terkejut melihat kondisi Aiza. Dia adalah kakaknya Aiza, gadis lembut yang tak pernah melepas hijabnya, sama seperti Qanita.
"Sini, biar kakak gantiin bajunya." Zahra mencari gamis dan jilbab sorong di lemari milik Aiza. Tak luput pakaian dalam juga turut serta dia ambilkan. Zahra dengan telaten, membantu Aiza mengganti pakaian.
Qanita keluar dan kembali membawa air hangat.
"Ini diminum dulu." Qanita menyerahkan air mineral tersebut.
Aiza meneguk hingga habis. Haus sekali.
"Apa yang terjadi, Dek?" tanya Zahra setelah Aiza tampak sedikit tenang. Ia duduk di sisi adiknya sambil mengusap- usapkan minyak kayu putih di telapak kaki Aiza supaya adiknya itu merasa sedikit lebih hangat.
Qanita dan Zahra tampak sangat cemas, Bagaimana tidak? Ha pe Aiza tertinggal di rumah sehingga tidak bisa dihubungi, lalu ia pulang larut malam dalam keadaan basah kuyup dan kaki terkilir
"Jatoh dari motor," jawab Aiza tanpa ingin memberi tahu pengalaman mencekam yang dia alami tadi. Tentang nyawa yang berada di ambang mau akibat dikejar warga ngamuk, tentang dua preman yang mencegatnya, juga tentang si pria aneh yang menyeretnya ke dalam masalah serius itu.
Hanya itu penjelasan Aiza untuk membuat umi dan kakaknya tidak lagi mencemaskannya. Andai saja ia menceritakan seluruh peristiwa yang terjadi, tentu ibunya akan melarangnya ikut les bahasa Arab lagi.
Jadi, untuk cari aman, lebih baik ia mengatakan apa saja yang perlu dikatakan, dan menyembunyikan apa yang tidak perlu disampaikan.
Terkadang ada hal yang lebih baik diceritakan, dan ada pula yang baik bila disembunyikan. Yang penting Aiza tidak berbohong, dia beneran jatuh dari motor.
"Trus motormu dimana sekarang?" tanya Zahra.
"Di bengkel."
"Ya ampun, Za. Kenapa nggak telepon kakak sih? Kan kakak bisa jemput kamu. Nggak harus semenderita ini kali, dek." Zahra prihatin.
"Kamu kan ada hape. Kabarin umi dan kakakmu kalau ada apa- apa. Jangan sampai seperti ini. Lihat kondisimu sampai seperti ini. Menggigil kedinginan begini, berjalan oun nggak bisa," komentar Qanita yang jauh lebih cemas.
Aiza tersenyum. "Ha pe Aiza ketinggalan di rumah makanya nggak bisa kasih kabar. Mungkin lowbet nggak dicas sejak dua hari kemarin. Nggak usah pada baper. Aiza kan nggak apa- apa."
Bersambung