gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 6
Saat Nafisa sadar. Ia mendengar suara ramai di rumahnya. Sambil mengingat-ingat apa yang sedang terjadi. gadis remaja itu lompat dari tempat tidur dan berlari ke luar kamar. Dilihatnya di ruang tamu sudah ramai para tetangga. Mata Nafisa mengarah ke arah 2 jenazah yang sudah terbaring kaku. Jenazah yang sudah di bungkus kain kafan putih dan tampak darah segar membasahi kain kafan tersebut.
Nafisa menjerit histeris. Serasa semua seperti mimpi. Seorang wanita paruh baya yang tinggal didekat rumah Nafisa langsung memeluk Nafisa dengan air mata di pipinya. Ia tidak sanggup melihat kesedihan gadis remaja tersebut. Hampir semua tentangga yang melihatnya meneteskan air mata.
Nafisa berjalan mendekati jenazah kedua orang tuanya yang dibaringkan bersebelahan.
“Ayah, bunda. Kenapa kalian bohongi Fisa. Kalian bilang cuma ke pasarkan? Kalian gak sayang sama Fisa. Kenapa ninggalin Fisa sendiri di sini. Fisa gak punya siapa-siapa. Bagaimana Fisa hidup tanpa ayah dan bunda.” Dengan tangis dan isakan yang begitu memilukan. “Kalau Fisa tau kalian mau pergi. Fisa mau ikut.” Ia memeluk jenazah yang penuh dengan darah tersebut.
“Om, Fisa mau lihat wajah ayah dan bunda.” Kata Nafisa kepada seorang lelaki paruh baya yang ada disampingnya.
“Fisa, ayah dan bunda kamu sudah dimandikan di rumah sakit. Dokter sudah berpesan, agar kain kafannya tidak di buka. Kondisi mayat sangat hancur.” Jelas lelaki tersebut.
Nafisa kembali menagis dengan histerisnya. Tubuhnya serasa lemas. Membayangkan apa peristiwa yang terjadi terhadap kedua orang tuanya.
Pak RT mengurus semuanya, termasuk orang pengali kubur. Setelah pengali kubur selesai, Pak RT serta pengurus mesjid melaksanakan sholat jenazah. Kedua mayat tersebut, di angkat pakai keranda mayat. Dua ambulans sudah menunggu.
Nafisa duduk di dalam ambulans. Disamping jenazah bundanya. Nafisa masih berharap bahwa ini hanya mimpi. Ia memeluk jenazah tersebut. Seakan ia tak rela bila jenazah tersebut di kuburkan.
Sesampainya di pemakaman para pelayat menurunkan jenazah dari ambulans. Satu persatu di masukkan keliang lahat. Nafisa hanya diam melihat saat tanah-tanah terus mulai menimbun ayah dan bundanya. Setelah selesai pemakaman, pelayat mulai meninggalkan tempat tersebut. Nafisa masih menagis di atas kuburan kedua orang tuanya yang bersebelahan.
“Ayah, bunda jangan sedih ya. Fisa bakalan di sini. Jagain ayah dan juga bunda. Fisa gak bakalan ninggalin kalian.” ucapnya yang masih terus menagis
“Nak, ayo kita pulang.” ucap tetangga Nafisa, ibu Surti dan Abdul, masih duduk di samping Nafisa.
“Om, tante. Fisa mau nemani ayah dan bunda.” ucapnya.
“Sayang, kalau kamu seperti ini. Kasihan ayah dan bunda kamu. Mereka sedih melihat kamu. Apa Fisa gak sayang dengan ayah dan bunda?” ucap surti yang berusaha untuk menguatkan gadis remaja tersebut.
“Sayang tante.” ucapnya
“Kalau sayang, ikhlaskan ya nak.” Terdengar isak tangis Surti. “Kita pulang, terus Fisa do’akan ayah dan bunda. Agar lepas dari siksa kubur. Diampuni segala dosanya dan ditempatkan di surganya Allah.” ucap surti yang sudah tidak mampu menahan Isak tangisnya. Ia begitu mengenali sosok tetangganya itu.
“Iya tante.” ucap nya.
Surti menggandeng tangan Fisa dan membawanya ke mobil miliknya, yang dikemudi pak abdul.
*********
Setelah kepergian ke dua orang tuanya. Nafisa bekerja sepulang sekolah. Ia bekerja di kafe. Ia pulang sekolah jam 4 sore, mandi dan langsung ke kafe. Jam kerjanya mulai jam 5 dan pulang jam 11 malam.
Lebih dari 1 tahun Nafisa memakan beras yang di bawa oleh para tetangga yang melayat. Warga juga ada yang membawa gula, teh telur, dan sarden. Itu lah yang Nafisa makan setiap hari. Ia selalu menjadi siswa yang berprestasi. Ia memiliki IQ yang tinggi dan daya ingat yang kuat. Walaupun tidak belajar, namun Nafisa bisa mengingat dengan jelas setiap apa yang dijelaskan oleh gurunya. Dia juga mengingatkan secara detail apa yang dijelaskan gurunya.
Nafisa masuk perguruan tinggi negeri Jakarta melalui jalur PBUD. Ia menjual seluruh isi rumahnya. Motor yang di kendarai oleh ayahnya, tidak di ambil di kantor polisi Karena kondisi motor yang sudah hancur dan banyak prosedur.
Di dalam rumahnya, tidak ada barang-barang mahal, sehingga uang yang didapatnya tidak seberapa. Ia dapat UKT golongan 1 karena yatim piatu. Uang dari menjual semua barang-barang di rumahnya, bisa untuk membayar uang UKT. Ia mencari kos-kosan dan membeli beberapa barang yang sangat ia butuhkan. Nafisa sangat menghemat uang tersebut.
*********
Saat awal kuliah, Aldi duduk di sampingnya. Pria yang berkulit putih, memiliki tubuh yang ideal dan wajah sangat ganteng. Pria tersebut tersenyum ke arah Nafisa. Dengan wajah yang cerah. Ia memamerkan senyumnya yang sangat manis, sehingga melihat gigi putihnya yang sangat rapi.
“Hai....” Sapa Aldi.
“Hai juga,” balas Nafisa
“Boleh kenalan?” tanya nya.
“Boleh. jawab Nafisa.”
“Aldi.” ucapnya.
Sejak saat itu. Mereka menjalani hubungan yang sangat baik.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya.
dan dia pura2 tidak mengenali
dan dia pura2 tidak mengenali