follow ig author: @bungadaisy206
Ana tidak jelek. Dia adalah gadis yang sangat cantik. Tapi kenapa Ana tak kunjung menikah? Kata orang, Ana digantung waris oleh mantan pacarnya. Sebagai penangkal mitos itu, Ana harus rela dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya. Ana yang tidak punya pilihan, dia pun menerima pernikahan itu. Pernikahan yang diatur oleh keluarganya dan keluarga calon suaminya.
Yuks ikuti kisah cinta dan kehidupan rumah tangga 2A (Ana dan Arnold) dalam novel Istri Baru Tuan Arnold karya Syehalea.
IG : @bungadaisy206
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syehalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Level Suami
Seminggu kemudian ~
Tidak terasa seminggu sudah berlalu dengan damai. Ana mulai menerima setatusnya sebagai nyonya Arnold. Walaupun ia belum bisa menerima Arnold di hatinya, setidaknya Ana sudah menerima pernikahannya. Anggaplah ini sebuah kompromi yang menguntungkan. Sebuah kompromi yang merubah gelarnya sebagai perawan tua menjadi nyonya muda tuan Arnold.
Dan keuntungan lainnya, Arnold memiliki wajah yang sangat tampan, kaya dan lebih berpengalaman dalam berumah tangga. Arnold adalah duda yang tidak terlalu buruk baginya.
"Hanya saja, sangat mesum dan tidak tau malu." gumamnya.
Sejak menikah, Ana lebih banyak melamun. Baginya, pernikahan ini rumit dan menguras isi otaknya. Ada rasa takut, cemas yang menggantung dalam benaknya. Ia takut gagal menjalani pernikahannya bersama Arnold yang tidak dilandasi perasaan cinta.
Seminggu menjalani pernikahan, Ana belum memberikan apapun untuk suaminya itu. Ana belum siap menyerahkan dirinya untuk Arnold. Ana bersyukur, Arnold yang terkadang gila dan menyebalkan itu ternyata sangat pengertian. Arnold tidak pernah memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri. Ia memberikannya waktu untuk percampuran tubuh hingga Ana sudah siap.
tanpa sadar, Ana tersenyum dalam lamunannya.
"Ehem!"
Suara itu menyadarkannya. Ana mengalihkan pandangannya ke arah suara itu. Sosok tampan bersandar di samping pintu dengan kaki yang menyilang. Ana tidak menyadari kehadiran Arnold yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kamu ... sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Ana mempertahankan sikap sok judesnya. Menatap si tampan dengan sinis.
"Oh, sungguh sayang bersikap judes dengan pria setampan ini." pikirnya menyayangkan sikapnya sendiri.
"Sejak tadi. Taukah kamu, sayang? menikahi kamu sangat tidak menguntungkan," keluh Arnold dengan tatapan murung.
"Kamu itu menikah bukan berjualan, haruskah ada untung rugi di dalamnya,"
"Kamu tidak mengerti level suami." ucap Arnold dengan tatapan dalam mengamati gerak-gerik Ana.
"Level suami apa? aku tidak mengerti dengan ucapanmu itu, tidak masuk akal." kata Ana dengan terheran.
"Level pria itu di ukur dengan kesuksesan dan wanita sedangkan level suami itu di ukur dengan--
"Dengan apa?" Ana memotong ucapan suaminya.
"Kamu sangat tidak sopan! beraninya memotong perkataan suamimu," protes Arnold.
"Maaf, tapi apa maksud yang tadi?" Ana mulai tidak sabar.
"Aku sudah lupa," balas Arnold.
"Kamu sangat pendendam," gumam Ana.
"Level suami itu di ukur dengan sudah atau belumnya melakukan percampuran keringat," tandasnya.
"Percampuran keringat? memangnya suami istri harus olah raga bersama, ya?" Ana kebingungan.
"Iya, olah raga di atas ranjang. Kamu itu tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti, hah? apa perlu aku praktekan sekarang." jawab Arnold dengan raut kesal.
"Aku memang tidak mengerti maksudmu, haruskah kamu mengomel seperti nenek-nenek."
"Aku tidak mengomel," kata Arnold melangkah maju.
"Kamu mengomel," balas Ana berjalan mundur.
"Tidak." kata Arnold dengan terus melangkah ke arah Ana.
"Mengomel." jawab Ana dengan terus mundur menghindari Arnold.
Mereka beradu mulut tidak ada yang mau mengalah, dengan posisi Ana yang terus mundur dan Arnold yang terus melangkah maju ke arah Ana, hingga akhirnya Ana terjatuh ke atas tempat tidur.
"Buuggg!"
Ana jatuh terlentang di atas ranjang yang tidak begitu luas. Arnold menatapnya dengan pandangan rumit. Membiarkan matanya menjelajah nakal diantara bagian-bagian tubuh istrinya. Ana melihat perubahan tatapan mata Arnold.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Ana dengan waspada.
"Tubuhmu." jawab Arnold berterus terang.
"Kamu itu benar-benar seorang duda mesum," gerutu Ana dengan tetap waspada.
"Duda?"
"Iya, duda. Kamu itu duda yang kurang ajar dan mesum, beraninya menatapku dengan tatapan seperti itu," jawab Ana menegaskan.
"Kamu itu istriku, itu artinya aku adalah suamimu. Jadi, duda mana yang kamu cemooh,"
Arnold tersenyum geli mengamati Ana yang kebingungan mencerna ucapannya. Ia dengan jahil mendekatkan tubuhnya berbaring di sisi Ana. menangkup Ana dengan meletakan tangannya di bagian dada.
"Singkirkan tanganmu! aku sedang malas bergulat denganmu," pinta Ana dengan angkuh.
"Apa salahnya dengan tanganku. Lagipula, aku menyentuhnya dalam keadaan terbungkus pakaian. Aku heran, selain umurmu yang tua ternyata kamu juga piktor." ucap Arnold dengan terkekeh.
Ana terbengong, mengerutkan dahinya. Ia tidak percay Arnold mengatainya piktor ( pikiran kotor ).
Saat Ana terbengong, Arnold menggunakan kesempatan itu untuk menyentuhnya. Arnold menjulurkan jemarinya menelusuri leher jenjang Ana sampai daun telinganya. Ana menggeliat merasakan geli di sekujur tubuhnya. Geliat tubuh Ana memancing hasratnya. Pria itu terus menjelajah mengelus leher seputih salju, jemarinya terus turun melepas kancing baju Ana. Wanita itu terpejam, menggigit bibirnya sendiri.
Arnold menghentikan gerakannya. Mengarahkan bibirnya mencium Ana. Karena tidak hati-hati, Ana tergigit.
"Aaawww!" teriaknya repleks menyingkirkan kepala Arnold.
Seketika Ana tersadar dan mendorong tubuh Arnold yang berada di atasnya. Ana meringis kesakitan.
"Jangan gigit bibirku!" protes Ana.
"Aku tidak sengaja." jawab Arnold datar.
"Aku yang tergigit, kenapa wajahmu yang terlihat kesal?" tanya Ana mengamati raut kesal suaminya.
"Aku kesal karena tidak pernah tuntas melakukan itu denganmu, nanggung itu rasanya tidak enak, Ana." jawab Arnold dengan wajah kesalnya.
"Itu akibat melanggar janji, bukankah kita sudah sepakat melakukannya setelah 3 bulan pernikahan."
"Iya, aku mengingatnya. Oh, ya, besok kita pindah ke rumahku." ucap Arnold dengan serius.
"Pindah ke rumah di Surabaya?"
"Iya, aku tidak bisa tinggal di sini karena perusahaan dan semua asetku ada di Surabaya. Kamu sebagai istri harus ikut suami." tandasnya ( sembari membelai rambut Ana dengan lembut ).
Ana menghela nafasnya pelan kemudian menganggukan kepalanya tanda setuju. Sebenarnya, Ana sedih jika harus meninggalkan rumah orang tuanya terlebih kamarnya, kamar dengan sejuta kenangan dan rahasia di dalamnya. Tetapi, sebagai seorang istri yang baik, Ana harus mengikuti suaminya.
***
Di Meja Makan
Tiba-tiba udara terasa panas dan lembab. Paparan dari AC tidak membuat kulit Ana merasa dingin. Sepanjang duduknya, Ana terus kegerahan dengan tatapan Arnold. Pria itu sangat tampan, sungguh Ana tidak tahan menolak pesonanya itu. Tetapi rasa kecewanya terhadap Agus mantan pacarnya yang dulu, membuat Ana enggan membuka hati. Ana tidak siap jika harus tersakiti untuk kedua kalinya.
Di meja makan itu, ada pak Julian , ibu Fina, Naya dan juga mereka berdua ( Ana dan Arnold ). Arnold membuka pembicaraan.
"Pah, 'mah, Arnold dan Ana mau meminta izin." ucap Arnold dengan sopan.
"Izin kemana, 'nak Arnold?" tanya pak Julian.
"Rencananya Arnold dan juga Ana akan pindah ke Surabaya." jawab Arnold.
Pak Julian menghela nafas panjang kemudian berkata:
"Baiklah, papah dan juga mamah hanya bisa mendukung dan mendo,akan kalian berdua. Ana sudah menjadi istrimu, sudah kewajibannya mengikuti 'nak Arnold," kata pak Julian dengan bijak.
"Terimakasih 'pah, 'mah."
Pak Julian mengangguk kemudian menatap Ana dengan sedih. Ana adalah putri pertamanya, ada rasa tidak rela melepaskan putrinya itu tetapi Ana sudah bersuami, selayaknya pak Julian harus melepaskan Ana hidup mandiri bersama suaminya. Sedangkan mama Fina dan Naya, hanya dengan sedih menatap Ana.
***
Like, Like, Like ....
Coment, Coment, Coment ...
Rate bintang 5
😁😁 jangan lupa ya Readers