Kirana Ardhita, 17 tahun gadis cantik yang sangat mandiri yang memiliki sifat yang sedikit arogan, Bahkan tak jarang ia sering berantam dengan laki-laki yang awalnya menyukai dirinya, Kirana masih duduk di kelas 3 SMA dia juga terkenal pintar, makanya banyak yang menyukainya. Namun sedikit nakal membuat sang ibu berkali-kali di panggil oleh pihak sekolah, ia juga dikenal si gadis tomboi bahkan para teman-teman lebih sering memanggilnya si Tomboi atau Boi itu karena memang polah lakunya yang seperti laki-laki.
Kana itulah panggilan untuk dirinya sendiri bila bersama keluarganya. Kana adalah seorang anak yatim dan Ia hidup hanya tinggal berdua saja bersama ibunya, sang Ayah, telah tiada semenjak ia duduk di bangku SMP, sedangkan sang Ibu hanya seorang buruh cuci, maka dari itu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, Kana bekerja setiap ia pulang sekolah.
Suatu hari sang Ibu mengalami kecelakaan akibat ia menolong seorang wanita, yang ternyata wanita itu adalah teman karibnya sewaktu mereka muda, tapi pertemuan itu tak berlangsung lama karena sang ibu keburu sekarat dan sang ibu meminta Kana untuk menikah dengan anak temannya itu, yang ternyata dia adalah gurunya sendiri yang amat ia benci.
Akankah Kana menemui cinta pada sang gurunya itu?.
Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya ya, LIKE, VOTE, HADIAH, DAN FAVORITkan oke😉🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERUT KARET.
Semenjak hari itu, Adnan tak pernah melihat Kirana lagi padahal Adnan selalu datang kerumahnya Kirana. Namun ia juga selalu di usir oleh Kirana. Dan sudah dua Minggu Kirana tidak pergi kesekolah. Membuat Adnan resah, karena ia takut Kirana melakukan hal yang tidak diinginkan.Karena semakin sulitnya Ia menemui istri kecilnya itu. Membuat ia jadi semakin penasaran.
Bahkan ia sampai menyewa bodyguard untuk menjaga Kirana dari kejauhan. Makanya ia menjadi tahu kalau apa saja kegiatan Kirana. Adnan selalu mendapatkan info darinya. Seperti saat ini ia mendapatkan Info kalau Kirana selalu pergi ke kuburan ibunya dan bahkan hingga ia pernah tertidur disana membuat Adnan begitu cemas dengan istri kecilnya itu.
Setelah mendapatkan info, Adnan langsung bergegas, ke mobilnya dan langsung melajukan mobilnya tersebut menuju ke pemakaman. Tidak membutuhkan waktu yang lama, karena memang Adnan melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, jadi ia hanya membutuhkan waktu 30 menit, mobil pun terpakir dengan sempurna di depan gerbang pemakaman.
Setelah Adnan turun dari mobil, ia langsung bergegas memasuki area pemakaman. Adnan juga langsung menuju ke pemakaman Ibundanya Kirana. Dan di saat ia mulai mendekati, dari kejauhan ia melihat seorang wanita tertidur dengan memeluk batu nisan. Betapa terkejutnya ia melihat itu, dan ia pun langsung berlari mendekati wanita itu.
"Astaghfirullah.. Dhita!" sentak Adnan dan ia bermaksud membangunkan Kirana. Namun saat ia memegang tangan Kirana, sekali lagi Adnan tersentak setelah tangannya menyentuh tangan Kirana. "Astaga panas sekali tangannya!" sentaknya lagi, lalu ia pun langsung menyentuh dahi Kirana.
"Kamu demam Dhita! Sebaiknya aku bawa saja kerumah sakit!" gumamnya cemas, lalu ia langsung menggendong tubuh Kirana, lalu dengan langkah cepat ia pun meninggalkan pemakaman Ibundanya Kirana. Dan Adnan langsung membawanya ke mobil. Setelah sampai ia langsung meletakkan tubuh Kirana di kursi belakang mobil. Setelah itu ia langsung bergegas duduk di belakang kemudinya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Adnan langsung membawa Kirana keruangan UGD untuk melakukan pemeriksaan. Sedangkan Adnan menunggu di depan ruangan tersebut. Dan 15 menit kemudian Dokter yang melakukan pemeriksaan pada Kirana pun keluar dari ruangan tersebut. Melihat sang dokter keluar Adnan langsung menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Adnan terlihat cemas.
"Sepertinya istri Bapak mengalami Syok. Dan sepertinya ia juga tak makan berhari-hari makanya kondisinya melemah. Maaf kalau boleh tahu, apakah istri Anda habis mengalami hal yang membuatnya tertekan Pak?" tanya sang Dokter.
"Iya Dok, Ibunya belum lama ini meninggal Dok." jelas Adnan.
"Ooh pantas, nah demamnya istri Anda, karena di sebabkan ada terkanan. Selain itu tidak ada yang perlu di khawatirkan Pak. Setelah beliau istirahat yang cukup mudah-mudahan ia akan kembali pulih. Yang penting obatnya harus rutin di minum ya pak" ujar sang Dokter.
"Baiklah Dok, oh iya apakah saya sudah boleh menjenguknya?"
"Silahkan Pak, kalau begitu saya permisi juga pak."
"Iya Dok, terimakasih sebelumnya"
"Sama-sama. Ya saya permisi pak" pamit Sang Dokter yang kemudian ia pun berlalu meninggalkan Adnan, sedangkan Adnan langsung bergegas menuju ke ruang rawat Kirana.
Sesampainya di dalam Adnan langsung menghampiri pembaringan Kirana yang terlihat ia masih memejamkan mata, dengan wajah yang terlihat pucat, matanya juga terlihat sebab.
"Apakah dia tidak pernah berhenti menangis? Sehingga matanya terlihat membengkak seperti itu." gumam Adnan yang masih menatap wajah istri kecilnya itu.
Kemudian Adnan duduk di kursi sebelah tempat tidurnya Kirana. Lama ia memandangi wajah istrinya yang tak kunjung sadar. Sehingga mata terasa begitu berat dan akhirnya ia meletakkan tangannya di sisi pembaringan dan kemudian ia meletakkan kepalanya di atas lengannya. Dan tak berapa lama, akhirnya ia pun tertidur dengan posisi duduk dengan kepala yang berada di tempat tidur.
Baru beberapa menit Adnan tertidur, Kirana membuka matanya. Pada awalnya ia terlihat bingung, saat melihat sekeliling ruangan tersebut.
"Eh..Ini dimana?" gumam Kirana lirih, dengan mata masih melihat sekitarnya dan di saat ia hendak mengangkat tangan kanannya tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu dan saat ia melihat apa yang di setuh Kirana langsung tersentak karena ternyata tangannya menyentuh rambutnya Adnan.
"Eh..Pak guru!" gumamnya saat ia juga melihat wajah Adnan."Mengapa Pak guru bisa tidur di sini?" gumamnya lagi dengan lirih.
Sedangkan Adnan yang kepalanya tersentuh oleh Kirana. Membuat ia tersentak dan akhirnya ia pun membuka matanya dan langsung menegakkan kepalanya.
"Kamu sudah bangun? Apakah ada yang sakit?" tanya Adnan dengan lembut. Namun Kirana hanya membalasnya dengan gelengan kepalanya saja. Dan saat bersamaan terdengar suara kruyuk dari perut Kirana membuat Adnan tersenyum tipis saat mendengar. Sedangkan Kirana yang terlihat malu langsung menundukkan wajahnya.
"Kamu lapar?" tanya Adnan dan kembali Kirana membalas dengan isyarat yang kali ini ia mengangguk singkat.
"Ya sudah kamu tunggu di sini sebentar ya? Saya akan membelikan makanan untukmu." ujar Adnan. Kembali lagi Kirana menganggukan kepalanya dengan sekali saja.
Setelah mendapatkan balasan dari Kirana, Adnan langsung beranjak dari duduknya dan langsung melangkah menuju pintu keluar dan menghilang di balik pintu.
"Aiis.. Bikin malu saja nih perut! Kenapa berbunyi di saat seperti ini sih?!" gerutu Kirana kesal. "Eh mumpung Pak guru pergi, apa sebaiknya aku pergi juga ya? Tapi badanku terasa lemas, mungkin karena aku belum makan sejak kemarin" gumam Kirana, yang terlihat sedikit meringis sambil memegang perutnya yang terasa perih dan lapar.
"Ya sudahlah aku makan dulu, nanti saat Pak guru pergi lagi, baru aku pergi" gumam Kirana lagi, sambil ia kembali memejamkan matanya yang masih terlihat bekak.
Lima belas menit kemudian, pintu ruangannya kembali terbuka. Dengan spontan Kirana juga membuka matanya. Dan ia pun melihat Adnan datang dengan membawa sebuah kantongan plastik yang berisikan kotak makanan.
"Nih Kamu makanlah," kata Adnan sembari ia menyerahkan kantongan plastik tersebut. "Maaf karena saya tidak tahu selera kamu jadi aku beli beberapa makanan. Kamu pilihlah mana yang kamu suka" lanjut Adnan sambil ia mengeluarkan isi kantongan yang berisi makanan tersebut di Overbed table atau meja makan pasien
Melihat Adnan mengeluarkan isi kantongan, Kirana tercengang melihat makanan yang terpampang di hadapannya begitu banyak.
"Eh, tapi ini banyak banget Pak guru, saya tidak mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini" balas Kirana dengan mata yang masih tertuju di meja makan.
"Makan saja semampunya kamu, lagi pula kamu pasti lapar bangetkan? Karena berhari-hari tidak makan?" kata Adnan sambil menatap datar wajah Kirana.
"Eh..dari mana bapak tahu?"
"Itu tidak penting sekarang makanlah" titah Adnan. sembari ia berjalan menuju sofa karena ia tahu pasti Kirana tidak suka di lihat olehnya saat ia makan.
Melihat Adnan menjauh, Kirana pun mulai melahap makanannya, terlihat sekali kalau ia benar-benar sedang lapar. Sehingga makanan yang begitu banyak di hadapannya langsung ludes.
"Pak guru saya sudah selesai makannya." kata Kirana, yang tak berani menatap wajah Adnan. Mendengar perkataan Kirana Adnan Kembali mendekati tempat tidur Kirana. Saat ia mau menarik Overbed table dari hadapan Kirana Adnan tersenyum tipis melihat makanan di atas meja tersebut ludes, tak bersisa.
"Heh.. Ternyata kamu memiliki perut karet ya?" ejek Adnan, membuat mata Kirana membulat setelah mendengar ejekannya.
"Eh apaan sih..?"
__________
Maaf Author nggak semangat ingin melanjutkan novel ini, habis sepi..😔 kayak di kuburan jadi Atut mau melanjutkannya ☹️