Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noah dan Fer saling terhubung
Kaila tampak mondar mandir tidak jelas di ruang tokonya. Wajahnya sangat cemas memikirkan tiga anak kembarnya, pasalnya sudah menjelang sore dan mereka belum juga kembali. Sudah seminggu lebih mereka seperti itu. Kenapa mereka selalu saja pulang terlambat. Jika itu berkaitan dengan kursus, mereka kursus setiap hari jum'at saja. Apa jangan-jangan mereka bekerja, seperti yang dikatakan oleh beberapa orang tetangganya. Astaga, Kaila benar-benar tidak habis pikir dengan mereka yang sangat ingin sekali membantunya mencari uang, padahal sudah berulang kali Kaila mencegah mereka dan meyakinkan mereka jika dia mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka, meskipun sangat terbatas.
Terkadang orang tua tunggal itu merasa bersalah dengan ketidakmampuannya untuk memenuhi setiap rencana dan keinginan anak-anaknya di masa depan. Usaha kuenya memang sudah berjalan cukup lama, namun penghasilannya tak menentu setiap harinya. Jadi dia hanya mampu menabung sedikit demi sedikit untuk biaya hidup dan masa depan anak-anaknya.
Wanita itu sering mendengar berbagai macam rencana masa depan mereka ketika mereka berdiskusi bersama. Farika sangat ingin menjadi dokter, alasannya dia ingin merawat dan menyembuhkan orang yang sakit terutama bundanya. Namun dia juga sangat tertarik dalam bidang seni. Begitu pula dengan Faustine, dia sangat menyukai seni desain dan olahraga, sementara Ferdinan, anak itu sangat menyukai bidang teknologi.
Kaila terduduk lemas di kursi yang terletak di sudut tokonya, bersandar dan menekan pelan kepalanya. Dia merasa sangat gagal menjadi seorang ibu, dia tidak bisa membahagiakan ketiga anak kembarnya seperti orang tua yang lain.
"Apa terjadi sesuatu, Bu?"
Widia bertanya penasaran, saat dia baru saja tiba dari mengantar pesanan dan dia melihat bosnya termenung dengan wajah yang sangat cemas.
"Si kembar belum juga kembali."
Widia berkerut heran, "tadi siang saya melihat Ferdinan masuk kesini, menyimpan uang di dalam laci lalu kembali lagi ke dalam rumah."
Kaila mengarahkan pandangannya pada Widia yang sedang berdiri di depan laci penyimpanan uang. Dia menatap bingung karyawannya itu. "Uang? Uang apa?"
"Hasil penjualan roti...."
Kaila semakin heran.
"Ibu tidak tahu? Setiap hari mereka membawa tiga puluh bungkus roti ke sekolah dan menjajakkannya disana."
Kaila menghela napas jengah. Anak-anaknya itu benar-benar keras kepala. Tapi disisi lain, dia juga bersyukur, karena penghasilan rotinya bisa meningkat.
"Jadi mereka sudah kembali?"
Widia mengedikkan bahu, "nggak tau juga Bu... Saya hanya melihat Ferdinan. Sementara Faustine dan Farika saya belum melihatnya sejak tadi."
"Mungkin mereka sedang berada di dalam kamar."
"Mungkin saja bu."
"Ya sudah saya kembali ke dalam dulu." Kaila pun beranjak masuk ke dalam rumahnya. Langkah kakinya langsung tertuju pada kamar tepat di depan kamarnya.
"Fau, Fer, Far. Kalian di dalam?" Seru Kaila saat berdiri di depan pintu. Tidak ada jawaban. Wanita itu pun meraih gagang pintu dan mendorong daun pintu itu. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana, tapi Kaila bisa melihat satu pasang seragam merah putih tergantung rapi. Itu artinya baru seorang yang baru kembali ke rumah. Lalu kemana yang dua lagi?
"Fer!" Kaila menutup pintu itu, lalu kembali mencari anak laki-lakinya ke berbagai sudut ruangan. Namun tetap saja, Kaila tidak menemukan jejaknya sama sekali. Kemana dia?
Sementara di sudut ruangan yang tertutup dan terletak di dalam rumah itu. Sosok tampan Ferdinan sedang duduk di sebuah kursi, di depan meja yang di atasnya terdapat dua buah unit komputer dan satu buah laptop di depannya.
Di dalam ruangan yang gelap dan sempit itu, terdiri dari beberapa perangkat teknologi yang menempel tersusun rapi di dinding. Perangkat itu terdiri dari virtual private network layanan jaringan pribadi yang memungkinkan Fer untuk berselancar di internet secara aman dan anonim untuk menyembunyikan identitasnya serta mengamankan lalu lintas jaringannya.
Perangkat-perangkat tersebut sedang beroperasi dengan baik. Layar komputer dan layar laptop itu berlatar hitam dengan ribuan tulisan kecil berwarna hijau.
tak... tak... tak...
Suara ketikan keyboard terdengar sangat cepat, berkat pergerakan jari-jari kecil Fer yang sangat lincah. Menekan keyboard komputer satu dengan komputer lainnya.
Anak laki-laki itu sedang bekerja, meretas sistem keamanan jaringan perusahaan terbesar yang ada di Amerika serikat.
Tiga hari yang lalu, Ferdinan mendapat email dari seorang klien yang memintanya untuk mencari bukti kebakaran tambang minyak terbesar yang ada di Melbourne.
Semenjak hari itu, Ferdinan hanya menghabiskan waktunya di depan komputer. Pada awalnya anak laki-laki itu kesulitan meretas sistem keamanan yang sangat kuat itu, namun setelah mempelajari dan mencari kelemahannya secara lebih detail. Sekarang dia berhasil masuk ke dalam sistem itu dan saat ini dia sedang melakukan eksfiltrasi yaitu pengambilan data-data penting yang berhasil ditemukannya, kemudian dia kirim ke luar jaringannya. Ferdinan tersenyum bangga setelah proses pemindahan data tersebut sudah berhasil seratus persen.
Ferdinan adalah anak yang paling jenius, saat dia berusia lima tahun, dia sudah mengerti berbagai macam bahasa pemprograman. Hingga berakhirlah anak itu sangat menyukai bidang game dan hacker. Dia adalah Blue Hat Hacker, peretas etis yang merupakan pakar keamanan siber yang membantu organisasi tertentu yang meminta jasanya.
Anak jenius itu membuat algoritmanya sendiri untuk memecah jaringan internet sehingga dapat memecahkan celah di dalam jaringannya.
Fer adalah hacker rahasia dan misterius yang sangat handal. Dia tidak pernah menunjukkan identitas aslinya dan dia bekerja seorang diri. Meskipun dia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam membobol sistem jaringan, namun dia tidak pernah menyalahgunakan kemampuannya itu untuk hal-hal yang buruk, yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Dia hanya bekerja saat orang lain meminta bantuannya, seperti yang baru saja dia lakukan.
Setelah selesai dengan pekerjaannya. Ferdinan pun mengirim dokumen itu pada kliennya melalui emailnya. Setelah beberapa menit, Anak itu menerima sebuah notifikasi berupa transferan uang senilai puluhan juta.
Ferdinan menghela napas senang, dia lalu beranjak dari duduknya, menegangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku lalu meninggalkan ruang rahasia itu yang terhubung langsung ke kamarnya.
Setelah berhasil merangkak keluar melalui pintu kecil dari dalam lemari pakaiannya, Fer kemudian merapikan gantungan pakaiannya lalu menutup pintu lemarinya lagi dan berjalan keluar meninggalkan kamar menuju dapur. Dia merasa sangat lapar sekarang, setelah berjam-jam berperang di dunia maya.
ʕ•ﻌ•ʔ
"**!*!!!"
Noah mengumpat dengan raut wajah yang sangat marah, setelah memeriksa semua dokumen yang sudah dicetak oleh Ben. Dokumen itu adalah bukti dari kebakaran tambang minyak milik ayahnya yang terbakar tujuh tahun yang lalu di kota Melbourne, Australia.
Tujuh tahun yang lalu, daddy Noah yang merupakan salah satu billioner terkaya di Amerika, memberi kabar kepada Noah tentang kebakaran itu dan meminta dia untuk menyelidiki kasus itu. Awalnya Noah sangat menolak kasus itu, dia memiliki pekerjaan yang lebih penting. Perusahaan dan proyek yang sudah dia rencanakan secara matang-matang akan terbengkalai, jika dia membuang waktu untuk hal yang tidak penting itu.
Lagipula permintaan pria tua itu tidaklah masuk akal. Kenapa daddynya memintanya untuk mengusut kasus itu? Padahal Abraham Alexander Rayan bisa saja meminta orang lain. Namun pria itu sangat keras kepala, memaksa Noah untuk melakukannya dan jika Noah berhasil mengusut kasus tersebut dan menemukan pelaku pembakaran, maka tambang minyak itu akan menjadi miliknya. Tentu saja Noah tertarik dengan tawaran itu. Tambang minyak terbesar ke tiga di dunia, siapa yang tidak ingin?
Sejak dulu Noah memang sangat menginginkan tambang minyak itu jatuh ke tangannya, namun ayahnya tidak memberi kesempatan padanya untuk memimpin perusahaan besar itu. Noah sangat marah dan kecewa, hingga akhirnya dia kabur ke negara maminya di Indonesia lalu mendirikan perusahannya sendiri. Yah, Noah adalah pria keturunan Amerika Indonesia. Orang tua mereka tidak bercerai, hanya saja mereka pisah rumah, dengan alasan mereka tidak cocok serumah. Sangat aneh memang.
Saat Noah menerima tawaran daddynya itu, tanpa pikir panjang dia langsung terbang ke Amerika untuk bertemu dan meninggalkan pekerjaannya. Setelah menyelesaikan perjanjian dengan Abraham, pria itu langsung terbang menuju Australia. Tanpa mengetahui maksud terselubung dari daddy nya.
Abraham pernah mengatakan pada putra sulungnya untuk tidak terlalu meremehkan kasus ini, karena ini bukanlah hal yang mudah dan pria tua itu memberi Noah jangka waktu untuk menyelesaikan kasus itu selama tujuh tahun dan jika dia tidak berhasil maka dia harus menuruti semua perkataan daddy nya. Itulah maksud terselubung dari Abraham.
Namun Noah adalah pria yang serakah dan ambisius, dia tidak akan menyerah begitu saja, dia juga beranggapan jika kasus seperti itu hanyalah seujung kuku dan akan terselesaikan dengan cepat.
Namun ternyata ekspektasinya tidaklah sama dengan realita yang terjadi, sudah tujuh tahun kasus itu belum terungkap juga. Noah merasa ganjil dengan penyelidikan tak terarah, dia juga merasa semua bukti di manipulasi oleh Abraham, karena dia bekerja bersama orang-orang daddy nya. Sial! Setelah hampir tujuh tahun lamanya dia bekerja seperti orang bodoh, dia baru menyadari kejanggalan itu.
Noah belum menyerah, meskipun waktunya sisa dua jam lagi sebelum akhirnya dia melakukan pertunangan dengan wanita pilihan daddy nya.
Ternyata usahanya tidak si-sia. Noah dan Ben bekerja keras di detik-detik terakhir untuk mencari bukti tanpa sepengetahuan daddy dan orang-orang daddy nya.
Setelah tiga hari mereka melakukan kerja sama dengan seorang hacker misterius akhirnya Noah menemukan titik terang.
Hasil dari kerja kerasnya itu sangatlah membuat Noah murka, ternyata dalang dari semua kekacauan ini, tidak lain dan tidak bukN adalah daddy nya sendiri. Pantas saja Noah sangat kesulitan menyelesaikan kasus itu, semuanya sudah diatur oleh pria itu. Sangat gila memang! Pria tua itu rela membakar asetnya sendiri agar Noah kembali dan tunduk kepadanya.
Pria tua itu memang terkenal sangat licik, dan sekarang Noah menjadi korban kelicikannya, menjebaknya dengan sesuatu yang sangat diinginkan Noah demi sebuah kekuasaan.
Noah muak! Benar-benar muak. Dia sangat tidak suka dengan daddynya yang selalu memperlakukan dia seperti bonekanya.
Pantas saja, saat pertama kali dia datang ke Amerika, daddy nya mengenalkannya pada wanita yang sangat cantik dan muda. Tapi Noah sama sekali tidak tertarik dan peduli, karena wanita itu tidak mampu membuat miliknya bergerak sama sekali. Lagipula Noah tidak ingin terikat dengan satu wanita. Jangan lupakan bahwa Noah adalah tipe pria yang bebas.
Noah meremas kuat dokumen tak berdosa itu, tatapan nanarnya lurus ke depan, detik berikutnya pria itu menyeringai. Pertunangan yang sangat diinginkan pria tua itu tidak akan pernah terjadi. Jika saat itu dia berhasil memakan umpan yang diberikan oleh daddynya saat ini umpan itu harus dia muntahkan ke wajah pria tua bangka sialan itu.
"Ben!!"
Noah berseru memanggil asistennya yang sedang berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Ada apa Tuan?" Ben bertanya saat dia sudah berdiri di samping Noah yang sedang duduk di kursi meja rias di dalam kamar hotel milik daddynya.
"Siapkan pesawat! Kita akan kembali ke Indonesia sekarang juga!"
"Bagaimana dengan acara pertunangannya, Tuan?"
"Persetan, dengan hal bodoh itu." Noah bangkit dari duduknya lalu beranjak keluar dari ruangan itu, Ben mengikuti bosnya dari belakang.
"Tuan! Riasan Anda belum selesai." Teriak salah seorang MUA yang bertugas merias Noah.
"Bagaimana dengan proyek kita yang ada di Bali?" Noah bertanya sambil terus berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju ballroom.
Ben menekan tombol lift lalu mereka pun masuk.
"Terjadi masalah kecil mengenai sketsa bangunan yang tidak sesuai dengan perencanaan. Namun sekarang masalah itu sudah berhasil di atasi oleh arsitek kita."
"Sial!" Noah mengumpat kesal. Rahangnya mengeras karena sangat marah. Semua ini karena ulah daddynya. Pria tua bangka itu hampir saja membuatnya rugi ratusan milliyar rupiah.
Ting!
Pintu lift terbuka. Dengan gagah, Noah melangkahkan kakinya menuju ballroom seluas lapangan sepak bola yang sudah dipenuhi ribuan manusia.
Noah mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapi, melepaskan jas hitam yang membungkus tubuh atletisnya. Noah juga melonggarkan dasi yang mencekik lehernya dan melepaskan dua kancing bagian atas kemeja putihnya, hingga bulu halus bagian dadanya mengintip dari dalam.
Ben yang masih berjalan di samping bosnya itu hanya melirik dengan ujung matanya. Pria itu sudah tahu apa yang akan terjadi jika Noah sudah seperti itu. Noah akan memberontak.
Saat ini Noah sudah berdiri di ambang pintu ballroom. Ribuan pasang mata dan kamera sudah tertuju padanya.
Seluruh awak media yang hadir diacara akbar itu pun tercengang saat mengambil gambar seorang seorang Noah Rayan yang penampilannya sangat berantakan.
Pria itu terus berjalan ke arah daddy nya yang sedang tercengang menatapnya dengan menenteng jas di tangan kirinya dan sebuah dokumen di tangan kanannya. Noah melepaskan jasnya, membiarkan benda itu terjatuh di atas karpet merah, lalu dia pun meraih gelas yang berisi bir dari pelayan yang dilewatinya. Sementara Ben sudah berhenti dan duduk diantara tamu yang hadir, dia sudah bersiap menyaksikan pemberontakan yang akan dilakukan oleh pria itu.
Noah menenggak minuman itu dalam sekali teguk tepat di depan daddy nya.
"Bersorak untuk kekalahan daddy." Noah mengangkat gelas tepat di depan wajah pria tua itu lalu melepaskannya, membiarkan gelas itu terjun bebas dan pecah di antara kaki Abraham.
"Aku menang dad... Lihatlah!" Noah mengangkat dokumen itu tepat di depan daddynya.
Dengan bola mata yang berkobar api, Abraham hanya melirik sekilas berkas berbahasa inggris itu, disana terpampang jelas nama perusahaannya.
"Apa itu?"
"Bukti kelicikan daddy..." Noah menyodorkan dokumen itu ke dada bidang Abraham.
"Tidak ada pertunangan Dad. Yang ada hanya pertukaran pemilik nama perusahaan. Jangan lupakan janji daddy tujuh tahun yang lalu." Noah menyeringai lalu berbalik.
"Sepertinya, semua manusia bodoh yang hadir di tempat ini, hanya menyaksikan dan bersorak atas kekalahan daddy dengan makan gratis." cerca Noah, sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya dengan lebar keluar dari ruangan yang sudah di desain sangat mewah itu.
Ben yang menyaksikan terlihat kecewa. Pria itu mengharapkan adegan yang lebih, seperti pukul memukul, tapi ternyata hanya seperti itu perlawanannya. Dia pun beranjak dari duduknya menunggu Noah yang semakin mendekat ke arahnya, lalu diapun berjalan di belakang atasannya itu.
"Bagaimana pesawatnya?" Tanya Noah.
"Sudah siap."
"Bagus."
Kedua manusia itu semakin mempercepat langkahnya keluar dari hotel besar itu. Ben mengarahkan Noah menuju jalan keluar rahasia yang disana mobil sudah tersedia untuk mengantar Noah ke Bandara dan menaiki pesawat pribadinya.
Ben sengaja mengarahkan Noah ke jalan lain, karena kondisi di luar gedung sangat dipenuhi ribuan awak media yang sangat penasaran dengan pertunangan orang terkaya sepanjang sejarah di kota New York, terlebih lagi itu adalah pertunangan dari keturunan klan Rayan.
...Happy Reading ❤...
Jangan lupa untuk tinggalkan dukungan kalian yah. Karya author sedang ikut lomba. Jadi auhtor harap kemurahan hati kalian untuk mendukung author. terima kasih.
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂