Tahap revisi.
⚠️ JANGAN COPY PASTE WOI !! KREATIF DIKIT YEEE! – Mengandung kata-kata kasar.
________________________
"Hai guys, gue Zia Amanda."
"Gue Brivant Alexand."
"Kalau gue manusia paling ganteng, Aska Radiansyah."
"Kami bertiga akan menghibur kalian di cerita iniiii" - Ivan.
"Jangan sampe ketinggalan yaa!" - Zia.
"Jangan lupa like," - Ivan.
"Jangan lupa coment," - Zia.
"Dan jangan lupa subscribe," - Aska.
"Subscribe ndasmuu!" - Ivan, Zia.
"Hehe, ye maapp." - Aska.
"Jangan lupa vote ya guys!" - Ivan, Zia, Aska.
"Ikuti terus cerita gue sama temen-temen guee." - Zia.
"Oiyaa, bakal ada kejutan nantinya untuk kalian di setiap episodenya." - Ivan.
"Jangan sampe ketinggalan yaa!" - Aska.
"Kalau gitu sampai jumpaaaa di setiap chapter! Bye~" - Ivan, Zia, Aska.
~ Adapun kesalahan atau kesamaan dalam cerita ini saya minta maaf, karena saya buatnya murni dari pikiran dan hasil kegabutan saya 🙏🏻
Fyi, nama Hitler diubah menjadi Adler setelah revisi.
Selamat membacaaa <33
📍200308 - 201106
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Aulia Agustin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prenn
16:30, kediaman Alexand.
"Maaa, Ivan tempat Aska yaa," teriak Ivan saat menuruni tangga rumahnya. "Iya, Vann. Jangan pulang lama-lama, Nakk!!" balas mamanya dari dapur.
Ivan berdehem lalu pergi ke tempat Aska, temannya. Rumah Aska tidak jauh, hanya selang beberapa rumah dari rumah Ivan. Biar sehat, Ivan memilih jalan kaki ke rumah Aska.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Masuk, Van!" Mendengar suara teriakan mama Aska, Ivan pun masuk dan menyalami tangannya.
Fyi, Aska Radiansyah Kusuma merupakan putra tunggal keluarga Kusuma. Aska adalah sahabat kembar Alexand, tapi Aska lebih dekat dengan Ivan daripada dengan Samuel.
Mereka berdua punya tingkat populer yang sama, dan di bidang yang sama. Yaitu sama-sama bad boy ganteng idaman kaum hawa. Bedanya, Aska anti dengan wanita dan sangat jarang berinteraksi dengan wanita.
"Aska ada, tantee?"
"Ada, Van. Lagi mendem di kamar tuh, susul ajaa."
"Kalau begitcuu Ivan ke kamar Aska dulu ya, tann," Ivan menuju ke kamar Aska setelah persetujuan mamanya Aska.
Oiya, papa Ivan bersahabat dengan dengan papanya Aska. Oleh sebab itu, Aska, Samuel dan Ivan sudah sangat akrab layaknya satu keluarga.
"Haiiiii! Assalamu'alaikum, mass Askaa," sapa Ivan sambil masuk ke kamar Aska. "Wa'alaikumsalam. Geli bangett cokk dengerrnyaaa!" protes Aska menyentil jidat Ivan.
"Sakit begooo! Tulull!" Ivan ngegasss. Aska diam tidak merespon, dirinya sibuk bermain sosial media. "Ka, gue gabut. Mabarr ayok?"
"Gas login," ajak Aska semangat.
"Gak jadi deh, males gue."
"Ngajak baku hantam ya luu setan!" Aska menatap Ivan sinis, yang ditatap malah cengengesan. "Lu ngapa tadi kagak sekolah? Ada siswi baru, cantiiikk bangett!"
"Kesiangan gue. Lu kan tau, gue kalau kesiangan udah males banget mau sekolah. Btw, di mata lu, semua siswi cantikk. Bu Sasa yg galak aja lu bilang cantik!" kata Aska meledek.
"Yaa kan memang cantikk! Mata lu aja yang bermasalah bilang bu Sasa gak cantik. Ini jujur, gue heran sih sebenarnya, lu kok bisa naik kelas padahal sering bolos."
"Lahhh, lu juga kok bisa naik kelas?" tanya Aska meledek sambil mengambil stik play station. "Eh iyaa juga si. Back to cecan, cewek satu ini tipe lu banget."
"Halah, udah ahh. Gue gak mood banget bahas cewek! Mabar ayok kalau beranii!!" tantang Aska menyodorkan stik PS. "Nantang kamo yahh, kamo belom tau siapa akohh?!"
"Alayyy bangett lu jamettt! Kenapaa gue mau temenan sama lu yaa?" kata Aska yang juga tertawa. Mereka berdua tertawa kecil lalu mulai main.
Di sisi lain. Tidak lama setelah Ivan pergi ke rumah Aska, Jimmy dateng ke rumah Samuel. Niatnya mau main. Setelah menyalami mama Samuel, Jimmy pun naik tangga untuk pergi ke kamarnya Sam.
"Heo whatsup guys!" kata Jimmy mengejutkan Sam. "Tuman! Gak usah ngagetin bisaaa? Untung kagak punya serangan jantung gue," dumel Samuel.
Jimmy malah tertawa. "Iya maap dah gue sengaja. Lagian lu mikirin apa nih? Siapa? Anak baru atau gebetan lama?" tanya Jimmy kepo. "Ngapain gue mikirin anak baru, namanya juga gak ingat gue."
"Lahh lu goblookk sii. Bukannya masuk kelas, malah di luar mulu kerjaan."
"Gue latihan basket oon, kann bentar lagi bakalan ada kompetisi olahraga."
"Oiyaa gue lupaa, tapi bodoamat dah. Btw lu tau ga sihh, Zia tu cantikk bangetttt. Matanya beneran cakep banget gitu," kata Jimmy membayangkan mata Zia, padahal Zia tidak pernah menatap Jimmy. "Berisikk, Jim. Cewek mulu otak lu."
"Yaa gue mah normal ya, masih mikirin cewek."
"Terus menurut lu gue gak normal?!"
"Bukan gue yang bilang~ Lu kenapa belum nembak Qiara? Di rebut orang nangis darah sampe sebaskom!!" ledek Jimmy.
"Gue gak sealay lu, Jimmy. Gue gak nembak takut dia mati aja ntarr," jawab Samuel santai. "Jangan sampe gue lepas kepala lu dari tempatnya yee."
Samuel cengengesan. "Ntar di tolakk sakitt, jadinya canggung. Belum lagi kalau putus. Temenan aja dah gak mau nembak," ujar Samuel sedikit serius.
"Otak lu sempit banget kek lubang kunci. Belum juga nyoba udah nethink, kan bisa aja dia juga suka sama lu dari dulu. Lagian lu tu ganteng, pinter, jago basket, apalagi yang kurang? Gue yakin sih, lu bakal diterima."
"Cocoteee. Teruss lu sendiri gimana sama Alya? Lu suka kan sama dia? Hobinya gangguin mulu, kalau naksir bilang dekk."
"Kentutt. Tapi gue rasa dia suka sama ketos SMA kita, si Aska," kata Jimmy dengan suara yang mellow. "Sama aja lu begokkk! Lu juga takut sakit hati. Sok-sokan nyeramahin gue dari tadi padahal lu juga sama," ledek Samuel.
"Hah? Apaa? Gue gak dengerrr?"
"Aamiin."
"Samuel baj— astaghfirullah. Sabar Jimmy, sabar."
"Hahaha."
^^^Revisi, 2021.^^^