NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Si Bocah

Terjebak Cinta Si Bocah

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:411.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rafasya Alfindra

Chairil Rafqi Alfarezel terjebak di antara dua pilihan. Rezel yang sudah memiliki seorang kekasih, terjebak dengan pesona adik angkatnya yaitu Carissa Xavira Ranjana.

Namun atas permintaan orang tua kekasihnya yang menginginkan Rezel untuk segera menikahi anaknya, Rezel akhirnya menyetujui dan segera melamar Mella untuk menjadi istrinya.

Namun lagi - lagi Rezel menelan kenyataan pahit, bahwa saat hari bahagianya bersama dengan Mella justru merupakan duka yang mendalam baginya. Mella meninggal dunia, seminggu sebelum pernikahannya dengan Rezel.

"Rezel .... ! Papa mau, kamu tetap menikah besok!" ujar Vano mengambil kesempatan untuk menjodohkan Rezel dengan Vira. "Karena undangan sudah tersebar. Apa kata orang - orang nantinya, kalau pernikahan mesti di batalkan," sambung Vano mengambil keputusan.

"Pa! Jangan egois dong, baru tadi pagi calon istriku di kubur Pa," jawab Rezel yang menolak keinginan Papanya.

"Papa tidak menerima penolakan dari kamu, pokoknya kamu tetap bakal menikah dengan Vira besok!" ucap Vano dengan tetap memaksa Rezel.

"Pa, Vira itu sudah aku anggap sebagai adek aku sendiri Pa. Mana mungkin, aku harus menikahi seorang bocah seperti dia! Papa jangan egois dong!" ucap Rezel beralasan.

Bagaimanakah kelanjutan kisahnya, apakah Rezel nantinya bersedia menikahi Vira atas permintaan Papanya? Yuk kepoin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafasya Alfindra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vira & Rezel

Aku pun membuka pintu kamarku dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mencuci muka setelah bangun tidur. Saat akan mencuci muka, aku terkejut dengan wajahku yang sudah di penuhi dengan make up dan bibir yang sedikit merah, yang belepotan kemana - mana.

"A .... aaaa," teriakku saat melihat wajahku di pantulan cermin di depanku.

"Vira ....," teriak ku memanggil nama bocah yang sudah membuat wajahku seperti badut.

Aku pun berlari ke bawah, namun sebelumnya aku sudah mencuci wajahku terlebih dahulu. Aku sedikit kesal dengan Vira saat ini, padahal aku sudah berbaik hati menemaninya bermain. Malah si bocah tersebut merusak wajahku dengan coretan - coretannya yang membuat wajahku seperti badut.

"Vira," teriakku mencari keberadaan si bocah, namun sudah ku cari kemana - kemana tidak juga ketemu.

"Astaga Rezel, kenapa kamu teriak - teriak. Bikin budeg telinga dengar teriakan kamu," hardik Tante Mira kepadaku.

Terdengar suara bantingan barang terjatuh tidak jauh dari aku berdiri. Aku pun beranjak dari hadapan tante Mira tanpa menjawab sama sekali celotehannya yang seperti bedug pecah menurut aku.

"Vira, jangan di lempar nanti kakinya kena pecahan beling kalau di lempar lagi," ucapku menahan si bocah Vira agar tidak membanting gelas yang tidak tahu entah dimana dia mendapatkannya.

Si bocah pun mendengarkan teriakan ku, ia sedikit paham dengan apa yang aku ucapkan.

"Abang, Vira mau ain," ucapnya yang ingin berlari menghampiriku dengan masih menggenggam gelas yang ada di tangannya saat ini.

"Vira, stop! jangan lari. Biar abang yang menghampiri kamu kesana, kamu tolong jangan beranjak ya dek!" ucapku membujuk Vira agar ia tidak mengejarku.

"Ain Bang," celotehnya lagi dengan suara khas anak kecilnya.

Aku pun menghampiri Vira yang berdiri tidak jauh dari tempatku berada. Namun terlebih dahulu, aku mengangkat bocah tersebut agar ia tidak terkena pecahan belling yang berceceran di lantai karena ulah si bocah yang sempat melempar gelas sebelum aku datang tadi.

"Kamu nakal ya!" ucapku sedikit lembut sambil menyentil telinganya.

"Bang atit telinga Vira," ucapnya yang sepertinya sedikit ingin menangis.

Aku sedikit heran, kenapa juga nih bocah bilang telinganya sakit. Padahal aku hanya sedikit menyentil telinganya, dasar nih bocah memang sedikit manja. Akan tetapi ulahnya membuatku sedikit senang dan sedikit menggemaskan di depanku.

"Cup cup cup, mana yang sakit dek coba abang tengok," ucapku yang ingin melihat apa benar ia sakit karena ku sentil tadi.

"Maafin abang ya dek," ucapku dengan membujuknya.

"Bang ain," ucapnya lagi yang ingin main bersamaku.

"Nanti ya! Abang mau bersihin ini dulu," ucap ku beranjak dari hadapan Vira untuk membersihkan pecahan yang berserakan di lantai.

"Abang itut," ucapnya yang sepertinya tidak mau melepaskan ku.

Aku pun mensejajarkan badan ku menghadap Vira yang saat ini berada di hadapanku. Aku menatap wajahnya yang saat ini sepertinya tidak mau jauh dariku dan ku beranikan membelai rambutnya yang di kepang dua seperti tanduk kuda untuk menenangkannya, agar ia mau mendengarkan ucapanku.

"Vira sayang, abang mau bersihin itu dulu ya. Nanti kita main lagi!" ucapku membujuk Vira sambil menunjuk ke arah lantai agar ia paham apa yang aku sampaikan.

Vira sepertinya mulai mengerti ucapanku dan ia mulai melepaskan rangkulan tangannya yang tadi sempat bergelayut manja di pundakku.

"Abang ati ain ya Bang," ucapnya berulang - ulang yang membuatku sedikit bosan mendengarnya. Namun itu membuatku sedikit terhibur karena kehadirannya. Aku yang dulu sempat membencinya seolah hatiku mencair karena kehadirannya.

"Iya nanti mainnya ya!" ucapku sambil beranjak dari hadapannya.

****

Saat ini, aku dan Vira sedang berada di ruangan yang telah di sediakan Mama untuk tempat bermain oleh Vira. Aku sedari tadi hanya memperhatikan Vira yang sedang asik bermain.

Aku yang sudah mulai sedikit bosan memperhatikan Vira bermain, mengambil sebuah buku yang tidak jauh dari tempat itu berada. Aku yang sedikit mempunyai hobi menggambar, memulai aksi ku dengan sedikit coretan yang ada di kertas untuk membuat sebuah gambar semenarik mungkin.

Vira yang sedari tadi asik bermain sendiri, datang menghampiriku. Ia duduk di kursi yang ada di hadapanku dengan pembatas meja di antara kami. Ia seperti memperhatikan ku yang sedari tadi asik menggambar.

"Abang bikin apa," ucapnya yang ingin tahu apa yang aku kerjakan saat ini. "Ra mau gambar juga," ucapnya lagi yang sepertinya juga ingin menulis.

"Boleh, tapi Vira disini dulu. Jangan di coret gambar abang ya, abang mau ambil buku sama pena buat Vira dulu," jawab Rezel.

"Mau itu," ucapnya menunjuk buku gambar yang ada di depan ku saat ini.

Aku pun hanya menghela napas kasar, udah capek bikin sebuah gambar malah si bocah menginginkan buku gambar yang sudah aku bikin sedari tadi.

Aku pun menatap wajah Vira yang sedikit lesu, karena aku mendiamkannya. Sebenarnya aku sedikit tidak tega melihat ia sedikit menekuk wajahnya dan sepertinya ingin menangis.

Hufft .... Apakah harus seperti ini kah menjadi bocah, yang mesti di turutin apa pun maunya, eits aku juga masih bocah sih, hanya saja saat ini umur aku yang lebih besar darinya.

Tidak tega, itu lah yang terpikir oleh ku. Aku pun sedikit berbesar hati memberikan buku yang ada di pegangan tangan ku saat ini.

"Ya sudah, tapi jangan di coret gambarnya abang ya dek!" ucapku memberikan pengertian kepadanya agar ia mengerti ucapanku.

"Ye ye ye," ucapnya senang menerima buku yang aku berikan kepadanya.

Aku pun beranjak dari tempat duduk yang sedari tadi ku tempati, sebelum aku beranjak dari sana terlebih dahulu aku memperhatikan Vira yang sedang asik menatap gambar yang ada di tangannya.

"Bang kemana," tanyanya lagi kepadaku.

"Abang mau ke toilet sebentar, mau pipis," ucapku sambil memegang perutku yang melilit karena sedari tadi menahan kencing.

Aku pun berjalan menjauhi Vira dan melangkahkan kaki ku ke toilet yang tidak jauh dari tempat Vira berada. Setelah selesai dengan acara buang air yang tadi ku lakukan, aku menghampiri Vira lagi yang sudah mulai mencoret - coret gambarku tadi dengan memberikan warna yang berbeda - beda dengan menggunakan pensil warna.

Aku hanya memperhatikannya tanpa ingin menegurnya sama sekali, karena aku tidak ingin nanti dia sedih apabila aku membentaknya.

"Rezel," teriak seseorang yang berada tidak jauh dari aku berdiri saat ini.

"Tante bisa tidak! jangan teriak - teriak disini, suara tante seperti petir yang menyambar yang memekakkan telinga," ucapku sedikit emosi karena ulah tante yang seperti bocah kesurupan.

"Hahaha emang enak?" ucapnya berjalan santai dan meninggalkan aku dan Vira yang berada disana.

"Emang dasar tante aneh," ucapku dengan kesal.

.............

Jangan lupa like dan komennya dan semoga ada yang suka dengan novel "Terjebak Cinta Si Bocah". Trims all supportnya🙏🙏

1
Safa Almira
gantung
𝓓𝓮𝓪
nikah lah biar gk sepi
𝓓𝓮𝓪
sedang apa dia tuh
𝓓𝓮𝓪
paling suka kalau novel visualnya dilraba
Andri Selvyblesickha
seru👍
Beast Writer
🌹
⏤͟͟͞͞Rˢʸᵃᵐѕ⍣⃝✰♀️
itu mungkin bukan cinta aldi tp rindu pada saudara kembar mu tp karena kalian blm mengetahui kebenarannya aja
⏤͟͟͞͞Rˢʸᵃᵐѕ⍣⃝✰♀️
ya salam kelakuan Reska emang luar biasa sebegitunya dia ga peduli ma putrinya
⏤͟͟͞͞Rˢʸᵃᵐѕ⍣⃝✰♀️
wehhhh PD sekali anda dokter irfan ngaku" jd kekasih vira tp ada bagusnya jg sih biar tambah kelabakan tu si rezel
⏤͟͟͞͞Rˢʸᵃᵐѕ⍣⃝✰♀️
semoga irfan mau menerima bekel yg kamu bawain mir tp klo di tolak jangan sedih ya bagaimanapun juga hati irfan saat ini hanya untuk vira
⏤͟͟͞͞Rˢʸᵃᵐѕ⍣⃝✰♀️
mangkanya badai klo ngomong tu ati" seenaknya sih lu ngomong begituan ma cwe ya pasti tersinggung lahh😏😏😏
💋👏
makanya cari tau dulu siapa Aldi, jgn dikit2 bawa emosi. yg ada kasihan Vira
💋👏
hayooo mau ngapain tuh si Angga.
Mira, mendingan Lo sama Angga aja deh, udah ganteng, baik, perhatian lagi .paket komplit
𝐀𝐧𝐧𝐚.R⃟ᵇᵃˢᵉ
suster aja terpesona
𝐀𝐧𝐧𝐚.R⃟ᵇᵃˢᵉ
susah kalau hubungan yg diawali dgn kebohongan
𝐀𝐧𝐧𝐚.R⃟ᵇᵃˢᵉ
kalau ga cinta susah
𝐀𝐧𝐧𝐚.R⃟ᵇᵃˢᵉ
diperbolehkan menikung sebelum janur kuning melengkung 🤭🤭🤭🤣
𝐀𝐧𝐧𝐚.R⃟ᵇᵃˢᵉ
langsung lamar aja 🤭
💋👏
dih mending kamu sama Angga aja deh mir
💋👏
ya ketauan si Mira 🤭.
ya pasti betahlah, kan ada dokter Irfan 🤭🙈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!