Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sesampainya di bandara, Baskara membopong tubuh Swari yang masih belum sadarkan diri.
Ia membawanya masuk kedalam jet pribadinya yang telah siap menuju ke Kanada.
Ia menaruhnya di kursi panjang, setelah itu ia menyelimuti tubuh Swari.
Mesin jet pribadi itu menderu halus, membelah keheningan langit malam yang pekat.
Di dalam kabin yang mewah, cahaya lampu temaram menyinari wajah Swari yang masih terlelap dalam pingsannya.
Sesekali tubuhnya tersentak kecil, sisa-sisa trauma yang terekam dalam alam bawah sadarnya.
Baskara duduk di kursi seberang, menatap wanita itu dengan perasaan yang berkecamuk.
Ia mengambil sebuah tablet, jemarinya bergerak lincah memeriksa data manifes penerbangan darurat yang baru saja ia buat. Namun, pikirannya tidak pada pekerjaan.
"M-mas Pradutha..."
Baskara menoleh ke arah Swari saat sedang mengigau memanggil nama suaminya.
"Suara rintihan itu..." gumam Baskara rendah.
Ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu dimana sebuah pertemuan bisnis di sebuah hotel mewah yang berubah menjadi jebakan.
Kliennya, seorang kompetitor licik, telah mencampurkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam minumannya.
Baskara masih ingat bagaimana ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Dalam keadaan setengah sadar dan terbakar gairah yang tidak wajar, ia melarikan diri dari hotel, mencari udara segar, hingga ia berakhir di sebuah rumah yang sepi karena ditinggal penghuninya ke masjid.
Ia ingat telah menyerang seorang wanita dalam kegelapan.
Ia ingat aroma melati yang kuat dan isak tangis yang tertahan. Namun, ia tidak pernah melihat wajah korbannya karena lampu yang padam dan ia sendiri sedang dalam pengaruh obat yang mengaburkan penglihatan.
Suasana di dalam jet pribadi itu sangat sunyi, hanya deru mesin yang terdengar konstan.
Baskara masih menatap Swari dengan tatapan yang sulit diartikan antara rasa bersalah yang menghujam dan naluri protektif yang muncul tiba-tiba.
Gandi, pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaan Baskara, mendekat dengan langkah pelan.
Ia menyodorkan segelas air dan sebuah pil penetralisir efek obat yang masih tersisa di sistem tubuh Baskara.
"Tuan, minumlah ini. Anda harus istirahat. Perjalanan ke Kanada masih panjang," ucap Gandi dengan suara rendah, matanya sempat melirik ke arah wanita yang terbaring lemah di kursi panjang itu.
Baskara menerima obat itu, namun tangannya sedikit gemetar.
"Gandi..."
"Iya, Tuan?"
"Cari tahu siapa dia. Dan satu hal lagi, Gandi." Baskara menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat.
"Cari tahu informasi tentang penghuni rumah di kawasan perumahan yang tadi aku singgahi tadi. Masalahnya, aku tidak ingat persis rumah yang mana. Pandanganku kabur karena obat itu, tapi aku ingat aroma melati yang menyengat dan bendera putih di depan gerbangnya."
"Saya akan segera berkoordinasi dengan tim di Jakarta. Bendera putih akan mempersempit pencarian. Tampaknya ada duka di rumah itu sebelum kejadian."
Baskara kembali memejamkan matanya saat obat penenang mulai bereaksi ke tubuhnya.
Sementara itu di tempat lain dimana Ratri membuka pintu kamar dan ingin melihat keadaan adiknya yang baru saja kehilangan suaminya.
"Swari...,"
Ratri melihat tempat tidur yang kosong dan tidak ada keberadaan adiknya.
Ia langsung masuk ke kamar tamu dan membangunkan suaminya.
"Mas Navy, Swari menghilang, Mas!"
Navy yang mendengarnya langsung membuka matanya.
Navy terperanjat dari tempat tidurnya, nyawanya seolah ditarik paksa.
Ia berlari menuju kamar Swari, melihat sprei baru yang dipasang Ratri masih rapi, namun sosok adiknya tak ada di sana.
Pintu depan rumah yang tadinya terkunci kini menganga lebar, membiarkan angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang.
"Cek kamar mandi! Cek halaman belakang!" teriak Navy dengan suara serak.
Ratri menangis histeris sembari menggeledah setiap sudut rumah, namun nihil.
Di atas meja rias, Navy menemukan mukena Swari yang tergeletak di lantai.
"Dia tidak akan sanggup menanggung ini sendirian, Ratri. Kita harus ke jembatan!"
Navy menyambar kunci mobil, melaju membelah malam dengan kecepatan gila. Namun, sesampainya di jembatan layang, yang ia temukan hanyalah keheningan.
Tidak ada Swari disana, hanya sebuah sandal jepit milik Swari yang tertinggal di pinggir trotoar.
"SWARIII!!!" Navy meraung di tengah sepinya malam, sementara di bawah jembatan, aliran sungai mengalir deras tanpa jawaban.
Navy masuk ke dalam mobil dan kembali menuju ke rumah Dimas.
Malam itu pintu gerbang kediaman Dimas hancur ditabrak mobil Navy yang datang bagai banteng terluka.
Navy keluar dengan napas memburu, langsung menerjang pintu utama.
"DIMAS! KELUAR KAMU, KEPARAT! DI MANA SWARI?!" suara Navy menggelegar sampai membangunkan beberapa tetangga di sekitar sana.
Dimas keluar dengan wajah yang masih lebam akibat pukulan Navy sebelumnya.
Ia tampak terkejut, namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi seringai dingin yang manipulatif.
"Di mana Swari? Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu, Kakak Ipar?" sahut Dimas sambil mengusap sudut bibirnya.
"Kenapa? Apa kamu lalai menjaganya sampai dia kabur?"
"Jangan main-main, Dimas! Swari hilang dari rumah. Kamu satu-satunya orang yang punya niat busuk padanya. Serahkan dia sekarang atau aku pastikan malam ini jadi malam terakhirmu menghirup udara!" Navy mencengkeram kerah kemeja Dimas, mengangkatnya hingga kaki pria itu berjinjit.
Dimas tertawa, tawa yang terdengar sangat hambar.
"Lihat aku, Navy! Aku bahkan tidak keluar rumah sejak kamu pergi tadi. CCTV rumahku menyala 24 jam. Kalau Swari hilang, mungkin dia memang sudah tidak tahan tinggal di rumah yang penuh kenangan pahit itu. Atau jangan-jangan dia lebih memilih mengakhiri hidupnya karena merasa kotor?"
BUGH!
Satu pukulan telak kembali mendarat di rahang Dimas.
Navy sudah tidak bisa berpikir jernih. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan serangannya, beberapa petugas keamanan perumahan datang melerai.
"Aku tidak menculiknya, Navy. Tapi dengar baik-baik, Navy. Kalau Swari mati, itu adalah kesalahanmu karena gagal melindunginya. Dan kalau dia hidup, suatu saat dia akan datang sendiri padaku karena hanya aku yang mau menerima sampah sepertinya."
Navy ditarik menjauh, ia jatuh terduduk di aspal dengan air mata yang mulai menetes.
Rasa gagal sebagai seorang kakak menghimpit dadanya.
Ia tidak tahu bahwa saat itu, Swari sedang berada ribuan kaki di atas permukaan laut, menuju sebuah negeri yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Disisi lain dimana Suasana di dalam kabin jet pribadi itu terasa kedap suara, menyisakan keheningan yang menyesakkan.
Swari mengerjapkan matanya berulang kali. Kepalanya terasa sangat berat, seperti dihantam godam dan tenggorokannya kering hingga terasa perih saat ia mencoba menelan ludah.
Pandangannya perlahan mulai jelas. Ia melihat interior mewah dengan kursi kulit berwarna krem dan lampu temaram.
Di depannya, duduk seorang pria dengan aura yang sangat tampan namun memiliki sorot mata yang tajam dan dingin.
"A-aku di mana? Kamu siapa?" suara Swari terdengar parau, hampir hilang.
Ia mencoba bangkit secara refleks, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat kejadian beberapa jam lalu membuatnya meringis.
Kemudian matanya turun melihat pakaiannya yang sudah diganti dengan bathrobe sutra putih yang bersih dan tubuhnya diselimuti kain kasmir mahal.
"Jangan banyak bergerak," suara Baskara terdengar berat dan tenang, namun mengandung perintah yang tak terbantahkan.
"Kamu aman di sini. Nama saya Baskara."
"Aman?" Swari tertawa miris dengan air mata yang kembali menggenang.
Ingatannya kembali pada kejadian mengerikan di atas ranjangnya, tepat di hari pemakaman Pradutha.
"Tidak ada tempat yang aman bagiku setelah suamiku meninggal dunia dan..."
Swari menghentikan perkataanya, ia tidak mau jika Baskara mengetahui masalahnya.
"Kenapa kamu menyelamatkanku? Harusnya kamu biarkan aku mati di sungai itu!"
Baskara terdiam saat mendengar perkataan dari Swari.
Ia meletakkan tabletnya dan mencondongkan tubuh ke depan, menatap Swari lekat-lekat.
Ada gejolak rasa bersalah yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik wajah datarnya.
"Mati adalah cara yang pengecut untuk melarikan diri dari dunia. Kamu ingin bertemu suamimu dengan membawa rasa malu?"
Swari sedikit tertegun sejenak mendengar perkataa pria asing ini terasa seperti tamparan.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Keluargaku, akan malu melihatku."
"Saat ini kita sedang menuju Kanada," lanjut Baskara tanpa memedulikan ratapan Swari.
"Di sana, kamu bukan lagi Swari yang malang. Kamu akan mendapatkan identitas baru, pengobatan, dan semua fasilitas yang kamu butuhkan untuk bangkit. Aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Jangan pernah bertanya mengapa aku melakukan ini. Cukup patuhi semua instruksiku sampai kamu cukup kuat untuk berdiri di atas kakimu sendiri."
Swari menganggukkan kepalanya dan ia ingin melupakan tragedi yang menimpanya.
"Selamat tinggal Mbak Ratri, Mas Navy." gumam Swari sambil menatap jendela.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor