"Jangaaaaan, jangan bunuh aku! "
Ardian berlari kencang di tengah Desa ketika dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan mengejar dirinya malam ini, tidak ada yang mendengar suara jeritan pria itu sehingga sosok yang menyerang dia dengan leluasa memberikan serangan.
Kematian secara misterius datang di Desa ini karena mereka semua telah melakukan perbuatan yang sangat buruk di Malam Satu Suro, dendam yang sangat membara karena ketidakadilan yang telah dia terima sehingga membuat para pelaku harus menebus dengan derita yang begitu besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Mati tragis
Maimunah pulang ke rumah sembari membawa belanjaan yang begitu banyak karena dia akan menebak makanan selama seminggu full, Iwan baru saja mendapatkan gaji dan tadi pagi langsung diberikan kepada sang istri sehingga Maimunah langsung pergi ke pasar untuk membeli beberapa perlengkapan kebutuhan dalam rumah mereka berdua.
Hati wanita ini terasa bahagia karena dia baru saja membeli beberapa barang yang bisa ia pakai, sebagian malah ada dah terbaru sehingga sudah pasti Maimunah merasa begitu senang dan dia sangat bersyukur karena sekarang Iwan memiliki penghasilan yang lebih baik ketika bekerja bersama dengan Ardian, menjaga gudang minyak itu memang jauh lebih besar gaji yang Iwan dapat.
"Dari pasar, Mai?" Dewi menegur ketika sedang menyapu halaman di depan rumah.
"Iya, aku dari tadi manggil kamu sih ngajak ke pasar tapi malah tidak keluar dari rumah." Maimunah Berkata sambil mendekat.
"Eeeh lagi kering begini Jadi mana mungkin mau ke pasar untuk belanja." Dewi berkata dengan sedih karena panen dia gagal total.
"Besok pasti ada rezeki yang datang dari Allah, Jangan putus asa dan semoga hidup kita semakin membaik." Maimunah berkata untuk menghibur teman dia ini.
"Kadang kalau lagi sengsara begini terasa sangat sulit sekali untuk menjalani hidup, bahkan untuk makan nya Randy saja nanti siang aku tidak tahu." Dewi berkata dengan wajah sedih sekali.
"Ayo ke rumah aku dulu yuk, Aku punya banyak telur di belakang dan rasanya bosan makan telur bebek terus." Maimunah langsung mengajak karena kasihan melihat Dewi.
"Dapat Dari mana kamu telur bebek?" Dewi penasaran dan segera meletakkan aku yang dia pegang.
"Ayah, Iya banyak nasi dan aku mulai merasa bosan dengan telur bebek ini." jawab Maimunah sambil masuk ke dalam rumah.
Dewi mengikuti dari belakang dan dia memang akan menerima saja apa yang diberikan oleh Maimunah, selama ini mereka memang banyak membantu satu sama lain ketika sedang tidak memiliki uang, sebab dulu Maimunah juga memiliki hidup yang sengsara ketika Iwan belum bekerja di gudang bersama dengan Ardian.
"Nah, kau ambil saja mau berapa karena aku memang hanya makan telur itu sendirian." Maimunah berkata dengan lembut dan dia segera meletakkan barang belanjaan.
"Wah banyak sekali telur yang kau punya, aku ambil lima ya untuk makan Randy." Dewi segera mengambil telur itu dan memasukkan ke dalam kantong.
"Cukup? lalu kau nanti akan makan apa bila hanya untuk Randy saja!" Maimunah mengambil kantong itu Dan Dia segera mengambil tambahan telur kembali.
"Mai, Terima kasih banyak karena selama ini selalu saja membantu aku." Dewi berkata dengan hati yang sangat terharu.
Maimunah hanya tersenyum sesaat dan dia kembali mengambil beberapa sayuran lalu memberikan kepada Dewi, tahu sendiri bahwa tetangganya ini memang sangat sulit menjalani hidup Sehingga dia pernah juga tidak makan seharian hanya karena sudah tidak memiliki uang di tangan lagi.
"Bang Iwan kemana ya? kalau ada nampak dia keluar dari rumah kah hari ini." Maimunah mulai mencari keberadaan sang suami.
"Ndak ada." Dewi menggeleng karena dia memang tidak ada melihat Iwan.
"Tadi bilang mau menggali parit belakang tapi sekarang malah menghilang begitu saja." Maimunah segera menuju kamar mandi untuk cuci tangan.
"Tidur paling, Mai!" ujar Dewi dan mengambil sapu untuk membersihkan dapur teman nya ini.
Krieeeeeet.
"Aaaaaagg, Bang Iwan!" Mai menjerit keras ketika masuk kamar mandi.
Dewi yang Mendengar hal itu tentu saja ikut berlari karena dia ingin melihat apa yang telah terjadi di dalam kamar mandi itu, tapi dia juga kembali dikagetkan dengan penampakan yang sangat tidak biasa sehingga membuat dirinya tidak sanggup untuk bergerak sama sekali di depan pintu kamar mandi itu.
Mai sudah menjerit-jerit tidak karuan karena dia tidak sanggup melihat keadaan sang suami yang meninggal dalam keadaan membungkuk dan mulut tertancap pada bambu itu, darah masih terus menetes karena bercampur dengan air yang keluar sehingga lantai kamar mandi terasa begitu amis sekali.
"Siapa yang membunuh Bang Iwan dengan cara seperti ini?!" Mai menangis karena dia sangat ketakutan.
"M... Mai, aku juga tidak tahu apa yang telah terjadi." Dewi terlihat begitu gugup karena dia juga merasa takut.
"Bang Iwaaaaaan, Siapa yang sudah membunuh kamu!" Maimunah berjalan perlahan untuk mendekati mayat sang suami.
"Mai, Aku akan minta bantuan pada para warga lain agar segera datang ke sini." Dewi berlari keluar dari rumah untuk meminta bantuan para warga.
Bruuughhh.
"Ih apa lah manusia itu, jalan tidak pakai mata dan tergesa-gesa seperti itu." kuntilanak berambut hijau terlihat kesal karena kena tabrak.
"Hooo.... hohohooooo
"Lam, aku ngomong dari tadi tidak kau dengar dan terus saja menyanyi." Maharani kesel sendiri karena Nilam sama sekali tidak mendengarkan ucapan dia.
"Eh apa?" Nilam segera menoleh karena mendengar suara Maharani yang sudah tidak ramah itu.
"Ah tau lah!" sewot Ratu burung hantu dan berjalan pergi.
Nila mengangkat pundak karena dia memang tidak tahu kenapa mendadak saja Maharani merasa kesal jaga dirinya yang terus berjanji sejak tadi, tanpa sadar bila menoleh dan dia memperhatikan rumah milik Maimunah itu sehingga merasakan sendiri bahwa ada sesuatu yang berbeda di dalam rumah.
"Ada yang mati kah?" Nilam berdiri dengan pandangan lurus ke dalam rumah.
"Lam!" Maharani berteriak dari kejauhan karena mereka akan terus mencari apa yang ada di desa.
"Ah burung hantu ini selalu saja tidak sabaran begitu." Nilam segera berlalu karena tidak mau bila nanti kena marah lagi.
"Entah Apa yang kau lihat di dalam rumah itu." Maharani masih saja menggerutu.
"Aku merasa ada seseorang yang meninggal di dalam rumah tadi dan masih terasa sangat baru." ujar Nilam.
Maharani langsung menoleh ketika mendengar Nilam mengatakan bahwa ada orang yang meninggal di dalam rumah tersebut, ada rasa penasaran juga dan ingin melihat Kenapa seseorang itu bisa meninggal dunia di dalam rumah dan mereka segera berbalik untuk mengetahui lebih lanjut lagi.
"Tolongin Iwan, dia meninggal di dalam kamar mandi." Dewi pulang sembari membawa pak RT yang panik juga.
"Kok meninggal di dalam kamar mandi itu apa dia jatuh?" Pak RT kebingungan dan Masih sempat bertanya.
"Tidak, pokoknya Bapak harus lihat sendiri bagaimana keadaan mayat dia yang sangat mengerikan itu." Dewi tidak bisa menjelaskan karena sudah terlalu takut.
Maharani dan Nilam mendengarkan dengan seksama sehingga mereka semakin tertarik dan ingin melihat apa yang meninggal di dalam rumah itu, terlebih lagi melihat ekspresi Debi yang sangat ketakutan sehingga mereka yakin bahwa ada sesuatu yang mengerikan telah terjadi.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.
duo Kun Kun edan 👻