Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melangkah Lebih Dekat
Sejak hari itu, kehadiran Sandi di hidup Laras semakin terasa nyata dan hangat. Dia tidak datang tiba tiba atau memaksa masuk, melainkan hadir perlahan namun pasti, seperti matahari pagi yang menyelinap masuk lewat celah jendela. Setiap pagi Sandi akan menunggu di gerbang kampus sambil membawa dua bungkus sarapan sederhana.
Dia tahu Laras sering terburu buru dan lupa makan pagi, jadi dia selalu menyempatkan diri mampir ke kedai roti sebelum berangkat. Tidak ada kata kata manis yang berlebihan, hanya pertanyaan sederhana apakah Laras sudah makan hari ini. Perhatian kecil yang justru terasa jauh lebih berarti daripada janji manis apa pun.
Saat Laras sibuk mengerjakan tugas akhir yang menumpuk hingga larut malam, Sandi selalu ada di ujung telepon. Dia tidak akan banyak bicara agar tidak mengganggu konsentrasi Laras, hanya memastikan gadis itu tidak kelelahan sendirian.
Kadang dia akan mengirim pesan singkat yang isinya sekadar ingatan untuk minum air putih dan beristirahat sebentar. Laras mulai menyadari bahwa Sandi hadir bukan untuk mengisi kekosongan, tapi untuk menemani dia berjalan bersama menuju masa depan.
Sandi tahu tentang Arka, Laras sudah menceritakan semuanya dengan jujur sejak awal pertemanan mereka. Sandi tidak pernah merasa tersaingi atau berusaha menghapus keberadaan Arka dari cerita hidup Laras.
Dia justru berkata bahwa seseorang yang mampu mencintai dengan tulus seperti Laras adalah orang yang berharga untuk dijaga, bukan untuk dimiliki sepenuhnya.
Suatu sore saat hujan turun deras dan Laras lupa membawa payung, dia terpaksa menunggu di teras gedung perkuliahan dengan harapan hujan akan segera reda. Jam menunjukkan pukul lima sore dan langit semakin gelap.
Tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan tempatnya berteduh. Jendela terbuka dan wajah Sandi muncul dari dalam. Laras terkejut, dia tidak memberitahu siapa pun bahwa dia masih di kampus. Sandi seakan membaca keraguannya lalu tersenyum tenang.
*Gue kebetulan lewat ke perpustakaan daerah dan lihat lu masih di sini dari jauh. Ayo gue antar pulang, hujannya tidak akan berhenti sebentar lagi, sepertinya sampai malam" ucap Sandi lembut.
Di dalam mobil mereka berbicara tentang hal hal sederhana. Sandi bercerita tentang hobinya memotret pemandangan dan impiannya untuk membuka galeri foto sederhana suatu hari nanti. Laras mendengarkan dengan antusias, karena untuk pertama kalinya sejak kepergian Arka, dia merasa dirinya bisa tertawa lepas tanpa rasa bersalah di hatinya.
Sesampainya di depan rumah Laras, Sandi tidak langsung pergi. Dia menatap ke arah halaman rumah yang sederhana itu sebentar sebelum menoleh kembali ke Laras.
"Lu boleh jalan pelan Laras. Lu boleh menoleh ke belakang sesering yang lu mau. Gue nggak akan pergi ke mana mana. Gue bakal nunggu sampai lu siap melangkah maju dengan sepenuh hati" ucap Sandi dengan tulus, lalu dia tersenyum dan mengangguk pamit sebelum Laras sempat menjawab apa apa.
Laras berdiri di teras sampai mobil Sandi menghilang di ujung jalan. Dia menyentuh dadanya yang berdebar bukan karena cemas, tapi karena merasa dihargai sepenuhnya apa adanya.
Sandi tidak menuntut tempat di hatinya, dia hanya menawarkan kehadirannya yang setia. Dan perlahan Laras mulai menyadari bahwa membuka hati untuk kebahagiaan baru bukan berarti mengkhianati masa lalu. Itu justru cara terbaik untuk menghargai hidup yang terus berjalan ke depan.