Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSIDEN TAMAN DAN ANGIN INDOOR
Pintu kayu jati setebal lima belas sentimeter itu menutup dengan suara klik yang memuaskan di belakang punggung Vania. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam yang sedikit lebih segar dibandingkan udara pengap di ruang makan yang penuh dengan racun pasif-agresif.
"Menjadi tembok itu susah," gumam Vania pada dirinya sendiri sambil melangkah cepat melewati koridor berkarpet tebal. "Terutama kalau ada yang terus-menerus menggesekkan kaki di bawah meja!"
Ia menatap lurus ke depan, menatap titik kosong di udara di mana "kamera" imajinernya biasanya melayang.
"Kalian lihat kan tadi?" Vania menunjuk ke arah lensa transparan itu dengan nada frustrasi. "Gue ngomongin BMI, defisit kalori, dan Basal Metabolic Rate. Itu murni ilmu gizi! Tapi tatapan pria itu... tatapan Kevin... kayak gue baru aja ngakuin cinta mati sama dia di depan umum. Pria ini narsisnya udah tingkat dewa. Dia pikir gue membela dia apa? Gue cuma nggak suka kalau ada yang salah ngomongin fakta medis!"
Vania menghela napas, memutuskan untuk berhenti mengeluh pada penonton imajinernya. Ia butuh ketenangan. Ia butuh ruang terbuka. Ia butuh tempat di mana tidak ada yang akan menatapnya seperti dia adalah spesies alien yang baru saja mendarat.
Taman belakang mansion keluarga besar itu luasnya tidak masuk akal. Ada air mancur marmer di tengah yang dikelilingi oleh semak-semak yang dipangkas dengan presisi geometris, serta pohon-pohon tua yang rindang. Di kehidupan normal, taman seluas ini pasti butuh satu regu tukang kebun. Di sini, taman itu terlihat sempurna, seolah-olah rumputnya tumbuh sendiri dengan rapi karena takut dimarahi oleh Pak Darmawan.
Vania menemukan sebuah bangku batu di sudut taman, jauh dari cahaya lampu utama yang menyilaukan. Ia duduk, merapikan gaun malamnya, dan bersiap untuk menikmati lima menit keheningan.
Hiiiyaah!
Sebuah teriakan kecil, dramatis, dan sangat tidak wajar memecah keheningan malam.
Vania menoleh. Jarak sekitar sepuluh meter darinya, seorang wanita sedang berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna baby pink dengan kerah berenda putih, rambut panjangnya terurai lembut, dan wajahnya... ya, wajahnya sangat familiar. Itu Larasati. Female Lead utama dari sinetron ini.
Vania menyipitkan mata, mengamati pergerakan Larasati.
Larasati melangkah. Kaki kanannya menapak. Lalu, secara tiba-tiba, seolah-olah ada akar pohon raksasa yang muncul dari dalam tanah hanya untuk menjerat kakinya, Larasati tersandung.
Ini tropes, batin Vania datar. Akar pohon itu bahkan tidak terlihat. Rumput di sini dipotong setiap hari. Tidak mungkin ada akar. Ini murni efek gravitasi selektif yang hanya menimpa heroine sinetron.
Vania menyaksikan Larasati jatuh dalam gerakan yang terasa seperti slow motion. Gaun baby pink itu berkibar, rambutnya menyebar indah, dan ekspresi panik yang manis terukir di wajahnya sebelum tubuh wanita itu mendarat di atas rumput yang empuk.
"Ya ampun..." Larasati bergumam, memegang lututnya dengan wajah meringis.
Vania tidak berlari mendekat sambil berteriak histeris. Dia tidak akan melakukan itu. Dengan langkah tenang dan terukur, Vania berjalan mendekati Larasati, berlutut di sampingnya, dan memeriksa kondisi sang heroine.
"Jangan bergerak," perintah Vania datar.
Larasati mendongak, matanya berkaca-kaca. "K-Kak Vania? Maaf, aku tidak sengaja... aku hanya ingin mencari udara segar dan..."
"Diam. Aku sedang memeriksa luka," potong Vania. Ia menyingkap sedikit ujung gaun Larasati. Di lutut yang mulus itu, terdapat lecet merah kecil. Hanya lecet epidermis. Tidak ada pendarahan hebat, tidak ada tulang yang patah.
Vania menghela napas pelan. Dia membuka tas Hermes-nya yang bertengger di samping bangku batu. Dengan gerakan efisien, tangannya merogoh ke dalam survival kit-nya. Keluarlah tisu antiseptik, kapas, dan sebuah plester berdesain Hello Kitty. Setidaknya, plester paling tidak norak yang bisa dia temukan di apotek tahun 90-an.
"Ini cuma lecet permukaan," ucap Vania sambil membersihkan luka itu dengan cepat. Larasati meringis kecil. "Tahan. Kalau kamu nangis, mascara-mu akan luntur dan membuatmu terlihat seperti panda yang baru saja dipecat."
Larasati terkejut, matanya membelalak. Dia jelas tidak terbiasa dengan pertolongan pertama yang sepragmatis dan setajam ini. Biasanya, orang-orang di sekitarnya akan langsung memanggil dokter pribadi, membawa tandu emas, atau setidaknya menangis bersamanya.
"K-Kak Vania... kamu baik sekali," bisik Larasati, suaranya bergetar tulus. "Aku pikir... aku pikir kamu membenciku."
"Aku tidak membencimu, Larasati. Aku hanya membenci drama yang tidak perlu," jawab Vania sambil menempelkan plester Hello Kitty di lutut sang heroine. "Sekarang, berdiri. Rumput ini lembap, dan gaunmu akan basah jika kau duduk di sini lebih dari dua menit."
Vania mengulurkan tangannya, menarik tangan Larasati untuk membantunya berdiri. Tangan Larasati yang kecil dan lembut tergenggam erat di tangan Vania. Larasati tersenyum lemah, menatap Vania dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam.
Tepat di detik itu, atmosfer di taman berubah.
Wusssshhh.
Angin kencang berhembus. Bukan angin malam yang sejuk, tapi angin yang disewa khusus, angin yang hanya bertiup di satu area spesifik. Daun-daun pohon di sekitar mereka bergoyang hebat, kelopak bunga beterbangan, dan rumput di sekitar bangku batu bergoyang seolah-olah ada badai tropis yang baru saja mendarat.
Vania merapatkan gaunnya, menatap ke arah semak-semak di depan mereka dengan tatapan datar.
Siapa yang menyalakan kipas angin raksasa? batinnya. Ini taman tertutup. Tidak ada angin kencang jam sembilan malam. Efek suara dan angin ini benar-benar tidak menghargai hukum termodinamika.
Dari balik semak-semak yang bergoyang dramatis itu, sebuah sosok muncul.
Kevin melangkah keluar. Jas hitamnya sempurna, tidak ada satu pun kerutan. Rambutnya yang ditata rapi ke belakang kini berkibar gagah tertiup angin indoor/outdoor yang tidak logis itu. Tatapannya gelap, intens, dan terkunci lurus pada Vania. Lebih tepatnya, terkunci pada tangan Vania yang masih memegang tangan Larasati.
Angin di sekitar mereka seolah berhenti sejenak, memberikan ruang bagi aura intimidasi pria itu untuk mengisi seluruh taman.
Vania langsung melepaskan tangan Larasati seperti baru saja menyentuh kompor panas.
"Kevin," sapa Vania, suaranya datar, berusaha mengabaikan fakta bahwa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat karena kehadiran pria itu. "Kau mengintip dari balik semak? Itu perilaku stalker, tahu."
Kevin tidak menjawab. Dia melangkah maju, sepatu kulitnya tidak membuat suara di atas rumput. Matanya yang tajam berpindah dari wajah Vania ke tangan Larasati, lalu kembali ke wajah Vania. Rahangnya mengeras, stubble di wajahnya membuat ekspresinya terlihat semakin keras dan berbahaya.
"Jadi," suara Kevin terdengar rendah, serak, dan penuh dengan nada posesif yang membuat bulu kuduk Vania meremang. "Kau memilih untuk berlutut dan memegang tangannya... daripada mendengarkan penjelasanku?"
Vania menatapnya, alisnya terangkat tinggi.
Penjelasan apa?! teriak Vania di dalam hatinya. Gue nggak minta penjelasan! Gue cuma lagi nambal lutut orang yang kesandung akar pohon imajiner!
Tapi di depan Kevin, Vania hanya bisa menelan ludah, menyadari bahwa pria ini sekali lagi telah memutarbalikkan realitas sesuai dengan delusi dark romance-nya sendiri
BERSAMBUNG...