Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Makan Malam Keluarga Mahendra
"Alisha, jangan lupa makan malam keluarga hari ini."
Pesan dari Adrian muncul di layar ponsel Alisha ketika dia sedang memeriksa daftar pesanan di Sweet Morning Bakery.
Alisha membaca pesan itu, lalu melirik kalender kecil yang tergantung di dinding ruang karyawan.
Hari Minggu.
Dia hampir melupakan bahwa malam ini mereka akan mengunjungi rumah orang tua Adrian.
Alisha: Iya, aku ingat. Aku akan pulang tepat waktu.
Balasan Adrian datang beberapa menit kemudian.
Adrian: Baik. Saya akan pulang lebih awal.
Alisha meletakkan ponselnya di atas meja.
Dia tidak tahu apakah Adrian sengaja mengirim pesan untuk mengingatkannya atau hanya memastikan mereka tidak memiliki jadwal yang bertabrakan. Namun, setidaknya dia sudah mengetahui rencana malam ini.
"Alisha!"
Panggilan Mira membuatnya menoleh.
"Kenapa?"
"Kamu bisa bantu aku menyelesaikan pesanan ini? Pelanggannya mau mengambil sebelum sore."
"Bisa."
Alisha segera menghampiri meja kerja.
Sejak pagi, toko cukup ramai. Beberapa pelanggan memesan roti untuk acara keluarga, sementara pesanan kue ulang tahun juga lebih banyak daripada biasanya.
Alisha dan rekan-rekannya harus bekerja lebih cepat agar seluruh pesanan selesai tepat waktu.
Di tengah kesibukan itu, Mira memperhatikan Alisha yang beberapa kali melihat jam.
"Kamu ada acara?"
Alisha mengangguk.
"Malam ini aku harus pergi ke rumah orang tua Adrian."
Mira langsung meletakkan kotak kue yang sedang dipegangnya.
"Serius? Makan malam keluarga?"
"Iya."
"Wah, berarti kamu akan bertemu keluarga suamimu lagi."
Alisha tersenyum kecil.
"Memangnya kenapa?"
"Ya, biasanya acara seperti itu penting. Apalagi kamu baru menikah."
Rani yang sedang menempelkan label pada kotak kue ikut menyahut.
"Benar juga. Kamu harus berpakaian rapi nanti."
Alisha menunduk melihat seragam kerjanya.
"Aku tahu. Aku akan pulang dulu untuk berganti pakaian."
Mira mengangguk puas.
"Bagus. Jangan sampai kamu terlambat."
Alisha tertawa kecil.
"Iya, Bu Mira."
"Eh, jangan mengejek!"
Suasana kembali dipenuhi tawa singkat sebelum mereka melanjutkan pekerjaan.
Alisha merasa bersyukur memiliki teman-teman seperti Mira dan Rani. Setidaknya, di tempat kerja, dia bisa berbicara dengan lebih santai tanpa harus memikirkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Menjelang sore, seluruh pesanan akhirnya selesai.
Alisha membereskan meja, mengganti pakaian kerjanya, lalu berpamitan kepada kepala toko.
"Saya pulang dulu, Bu."
"Hati-hati di jalan, Alisha."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Dia kemudian meninggalkan Sweet Morning Bakery.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya mulai beralih pada makan malam nanti.
Dia sudah beberapa kali bertemu Ratna dan Hendrik, tetapi tetap merasa sedikit gugup setiap kali harus datang ke rumah mereka.
Bagaimanapun, mereka adalah orang tua Adrian.
Dan sekarang, dia telah menjadi menantu mereka.
---
Adrian tiba di rumah lebih awal daripada biasanya.
Setelah melepas jas dan meletakkan tas kerjanya, dia memeriksa beberapa pesan yang masuk sebelum berjalan menuju ruang tengah.
Daniel sudah memastikan tidak ada urusan perusahaan yang mengharuskannya kembali ke kantor malam ini.
Namun, Adrian tetap membawa satu berkas yang perlu diperiksa setelah acara keluarga selesai.
Dia tidak berniat menghabiskan seluruh malam untuk bekerja, tetapi ada laporan yang tidak bisa ditunda terlalu lama.
Ketika melihat jam dinding, Adrian menyadari Alisha mungkin sebentar lagi tiba.
Dia memanggil salah satu pekerja rumah.
"Kalau Alisha sudah pulang, beri tahu saya."
"Baik, Tuan."
Adrian kembali duduk dan membuka berkasnya.
Tidak lama kemudian, suara langkah terdengar dari arah pintu masuk.
"Saya sudah pulang."
Adrian mengangkat wajah.
Alisha berdiri di dekat pintu dengan tas di bahunya.
"Kamu sudah pulang," katanya.
Alisha mengangguk.
"Iya. Aku akan berganti pakaian dulu."
"Baik. Kita berangkat setelah kamu siap."
Alisha sempat terdiam.
"Kita berangkat bersama?"
Adrian menatapnya sejenak.
"Tentu. Kita akan pergi ke tempat yang sama."
"Oh, iya."
Alisha baru menyadari bahwa pertanyaannya terdengar sedikit aneh.
Dia segera berjalan menuju kamarnya, sementara Adrian kembali melihat berkas di tangannya.
Beberapa menit kemudian, Alisha keluar dengan pakaian sederhana yang rapi. Dia mengenakan blus berwarna lembut dan rok panjang, tanpa aksesori berlebihan.
Adrian berdiri ketika melihatnya.
"Sudah siap?"
"Sudah."
Adrian mengambil kunci mobil dari meja.
"Kalau begitu, kita berangkat."
Mereka berjalan keluar bersama.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, mereka meninggalkan rumah bukan untuk bekerja atau mengurus keperluan masing-masing, melainkan untuk menghadiri acara yang melibatkan keluarga mereka berdua.
Meskipun demikian, suasana di antara mereka tetap tenang.
Tidak ada percakapan panjang selama perjalanan menuju rumah keluarga Mahendra.
Alisha sesekali memandang keluar jendela, sedangkan Adrian berkonsentrasi menyetir.
Beberapa menit sebelum tiba, Adrian akhirnya berbicara.
"Kalau nanti ada yang menanyakan sesuatu dan kamu tidak nyaman menjawabnya, kamu tidak harus menjelaskan semuanya."
Alisha menoleh.
"Maksudmu?"
"Jawab seperlunya. Kamu tidak perlu merasa wajib menceritakan semua urusan pribadi kita."
Alisha mengangguk perlahan.
"Baik. Terima kasih."
Adrian kembali memusatkan perhatian pada jalan.
Dia tidak menjelaskan lebih jauh.
Bagi Adrian, itu hanya cara sederhana untuk memastikan Alisha tidak merasa tertekan oleh pertanyaan keluarga.
---
Rumah keluarga Mahendra terlihat terang ketika mobil Adrian memasuki halaman.
Ratna sudah menunggu di dekat pintu bersama Hendrik.
Begitu Adrian dan Alisha turun dari mobil, Ratna langsung menghampiri mereka.
"Akhirnya kalian datang!"
Ratna tersenyum lebar.
"Selamat malam, Ma," sapa Adrian.
"Selamat malam, Tante," ujar Alisha sopan.
Ratna menoleh kepada Alisha.
"Kenapa masih memanggil Tante? Di rumah ini, kamu boleh merasa seperti keluarga sendiri."
Alisha tersenyum canggung.
"Iya, Tante."
Ratna menggeleng kecil, tetapi tidak memaksanya.
"Sudahlah, nanti juga terbiasa. Ayo masuk. Makanannya hampir siap."
Hendrik menepuk bahu Adrian.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Baik, Pa."
"Masih sibuk?"
"Seperti biasa."
Hendrik menghela napas sambil tersenyum tipis.
"Jawabanmu selalu begitu."
Adrian tidak membantah.
Dia menyerahkan kunci mobil kepada petugas rumah, lalu mengikuti orang tuanya masuk.
Alisha berjalan di samping Ratna.
Sepanjang lorong menuju ruang makan, Ratna beberapa kali menanyakan kabar ibunya.
"Bagaimana keadaan Ibu Ratih sekarang?"
"Kondisinya sudah lebih stabil, Tante. Masih harus menjalani pemeriksaan, tetapi kata dokter perkembangannya cukup baik."
Ratna mengangguk lega.
"Syukurlah. Kalau kamu perlu pergi ke rumah sakit, jangan sungkan memberi tahu kami. Kalau ada sesuatu yang bisa kami bantu, katakan saja."
Alisha terdiam sesaat.
Dia tidak menyangka Ratna akan menawarkan bantuan dengan begitu mudah.
"Terima kasih, Tante. Saya sangat menghargainya."
Ratna menepuk lembut tangan Alisha.
"Kamu tidak perlu sungkan."
Di belakang mereka, Adrian mendengar percakapan itu tanpa menyela.
Dia tahu kondisi ibu Alisha merupakan hal penting bagi istrinya. Namun, selama ini dia tidak banyak bertanya karena Alisha juga tidak pernah meminta bantuannya.
Adrian tidak mengatakan apa-apa, lalu mengikuti mereka menuju ruang makan.
---
Meja makan keluarga Mahendra telah dipenuhi berbagai hidangan.
Ada sup hangat, ikan panggang, sayuran, dan beberapa lauk lain yang disiapkan khusus untuk makan malam tersebut.
Ratna mempersilakan mereka duduk.
Alisha duduk di samping Adrian, sementara Ratna dan Hendrik berada di seberang mereka.
Awalnya, percakapan berlangsung ringan.
Hendrik bertanya tentang pekerjaan Adrian, sedangkan Ratna beberapa kali menanyakan kegiatan Alisha di toko roti.
"Kamu masih bekerja di Sweet Morning Bakery?" tanya Ratna.
"Iya, Tante."
"Kamu suka bekerja di sana?"
Alisha mengangguk.
"Suka. Saya sudah cukup lama bekerja di sana, jadi sudah terbiasa dengan pekerjaan dan teman-teman saya."
"Bagus kalau begitu. Kalau kamu memang ingin tetap bekerja, jalani saja."
Alisha tersenyum.
"Terima kasih, Tante."
Ratna melirik putranya.
"Adrian, kamu tidak keberatan Alisha tetap bekerja?"
Adrian menghentikan gerakan sendoknya.
"Kenapa harus keberatan?"
Ratna mengangkat alis.
"Mama hanya bertanya."
"Dia sudah punya pekerjaan sebelum menikah. Saya tidak melihat alasan untuk melarangnya."
Jawaban Adrian disampaikan dengan tenang, seolah hal itu merupakan sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan.
Alisha menunduk, kembali memperhatikan makanannya.
Dia sebenarnya sudah mengetahui sikap Adrian mengenai pekerjaannya. Namun, mendengarnya mengatakan hal itu di depan keluarganya tetap membuat Alisha merasa sedikit lega.
Setidaknya, dia tidak harus mengkhawatirkan kemungkinan kehilangan pekerjaan hanya karena statusnya sudah berubah.
Hendrik mengangguk.
"Itu keputusan yang baik. Setiap orang perlu memiliki kesibukan dan tanggung jawabnya sendiri."
Adrian tidak menanggapi lagi.
Dia kembali makan, sementara Ratna mengalihkan pembicaraan kepada hal lain.
"Alisha, kalau kamu ada waktu, sesekali datanglah ke sini meskipun Adrian sedang bekerja. Kamu bisa mengobrol dengan Mama."
Alisha tersenyum.
"Baik, Tante. Kalau jadwal kerja saya memungkinkan, saya akan datang."
"Bagus."
Makan malam berlangsung dengan suasana yang cukup nyaman.
Ratna dan Hendrik berusaha melibatkan Alisha dalam percakapan, sedangkan Adrian sesekali menjawab pertanyaan ayahnya mengenai perusahaan.
Mereka tidak terlihat seperti pasangan yang baru menikah dan sedang dimabuk cinta.
Adrian tetap berbicara seperlunya. Alisha pun tidak berusaha memaksakan percakapan ketika laki-laki itu sedang membicarakan pekerjaan.
Namun, tidak ada pertengkaran atau ketegangan di antara mereka.
Untuk malam itu, hal tersebut sudah cukup.
---
Setelah makan malam selesai, Ratna mengajak Alisha duduk di ruang tengah.
Hendrik masih berbicara dengan Adrian mengenai beberapa urusan perusahaan, sehingga kedua perempuan itu memiliki waktu untuk mengobrol sendiri.
Ratna menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.
"Bagaimana kehidupanmu di rumah Adrian?"
Alisha menerima cangkir yang diberikan kepadanya.
"Baik, Tante. Saya masih menyesuaikan diri."
Ratna mengangguk.
"Rumah itu memang cukup besar. Mungkin awalnya terasa sepi."
Alisha tersenyum tipis.
"Sedikit."
"Adrian sering bekerja sampai malam. Sejak kecil dia memang begitu. Kalau sudah memikirkan pekerjaan, dia bisa lupa waktu."
Ratna menghela napas pelan.
"Terkadang Mama sendiri kesulitan membuatnya berhenti bekerja."
Alisha mendengarkan tanpa menyela.
Dia mulai memahami bahwa kesibukan Adrian bukan sesuatu yang baru muncul setelah mereka menikah. Itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak lama.
"Mama tidak ingin kamu merasa diabaikan," lanjut Ratna. "Adrian memang tidak banyak bicara, tetapi kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kamu boleh menyampaikannya."
Alisha mengangguk.
"Baik, Tante."
Ratna memperhatikan wajahnya.
"Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu merasa kesulitan tinggal bersama Adrian?"
Alisha memikirkan jawabannya.
Dia tidak ingin mengatakan bahwa semuanya sempurna, tetapi juga tidak ingin membuat Ratna merasa khawatir.
"Belum terlalu sulit, Tante. Kami hanya masih terbiasa dengan rutinitas masing-masing."
Ratna tersenyum kecil.
"Itu wajar. Kalian baru menikah. Kalian tidak harus langsung memahami semua kebiasaan satu sama lain."
Alisha menatap cangkir tehnya.
Ada sesuatu dalam perkataan Ratna yang membuatnya merasa lebih tenang.
Dia tidak dituntut untuk menjadi istri yang langsung memahami segala hal tentang suaminya.
Dia juga tidak harus berpura-pura bahwa mereka sudah memiliki hubungan yang dekat.
"Terima kasih sudah mengerti, Tante."
Ratna mengusap tangan Alisha sebentar.
"Jangan terlalu memikirkan semuanya sendirian, ya."
Alisha mengangguk.
"Iya."
Mereka kemudian membicarakan hal-hal ringan, mulai dari makanan kesukaan hingga kegiatan Alisha saat tidak bekerja.
Untuk pertama kalinya malam itu, Alisha tertawa lepas ketika Ratna menceritakan kebiasaan Adrian semasa kecil.
"Dulu, Adrian pernah membawa buku pelajaran ke meja makan," cerita Ratna.
Alisha menoleh dengan penuh perhatian.
"Benarkah?"
"Iya. Bahkan ketika semua orang sudah selesai makan, dia masih sibuk membaca."
Hendrik yang baru bergabung dengan mereka ikut tertawa.
"Itu belum seberapa. Pernah juga dia menolak ikut berlibur karena ingin menyelesaikan tugas sekolah."
Alisha tidak bisa menahan senyumnya.
Sulit membayangkan Adrian kecil yang bahkan tidak mau meninggalkan buku pelajarannya.
"Sepertinya dia memang sudah suka bekerja sejak dulu," ujar Alisha.
"Benar," jawab Ratna. "Itulah sebabnya Mama selalu mengingatkannya agar tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk pekerjaan."
Alisha mengangguk pelan.
Tanpa sadar, dia mulai mengenal sisi lain Adrian melalui cerita keluarganya.
Bukan sisi romantis yang sering dibayangkan orang tentang seorang suami, melainkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang membentuk dirinya menjadi laki-laki seperti sekarang.
---
Sementara itu, Adrian duduk bersama Hendrik di teras belakang.
Ayahnya menyerahkan segelas air mineral kepadanya.
"Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?"
"Masih berjalan sesuai rencana."
"Bagus. Tapi jangan terlalu memaksakan diri."
Adrian membuka tutup botolnya.
"Saya masih bisa mengatasinya."
Hendrik memandang putranya beberapa saat.
"Kamu selalu mengatakan itu."
Adrian tidak menjawab.
Hendrik kemudian mengalihkan pandangannya ke arah ruang tengah, tempat Ratna dan Alisha sedang mengobrol.
"Alisha kelihatannya anak yang baik."
Adrian mengikuti arah pandangan ayahnya sebentar.
"Iya."
"Kamu sudah mengenalnya lebih jauh?"
"Belum banyak."
Hendrik mengangguk perlahan.
"Kalau begitu, beri kalian waktu. Pernikahan bukan hanya soal tinggal di rumah yang sama."
Adrian terdiam.
Dia mengetahui bahwa ayahnya sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar nasihat biasa.
Namun, Adrian tidak ingin memberikan janji yang belum tentu bisa dia penuhi.
"Saya akan berusaha menjalankan tanggung jawab saya, Pa."
Hendrik menatapnya.
"Itu bagus. Tapi ingat, tanggung jawab bukan hanya soal menyediakan rumah atau memastikan kebutuhan terpenuhi. Mendengarkan juga bagian dari tanggung jawab."
Adrian menunduk sebentar, lalu mengangguk.
"Saya mengerti."
Hendrik tidak melanjutkan pembicaraan.
Dia tahu putranya bukan orang yang mudah berubah hanya karena sebuah nasihat. Adrian membutuhkan waktu untuk memikirkan sesuatu sebelum memutuskan bagaimana harus bertindak.
Mereka kemudian kembali berbicara tentang perusahaan.
Bagi Adrian, pembicaraan itu jauh lebih mudah dipahami daripada urusan perasaan.
Namun, perkataan ayahnya tetap tertinggal di pikirannya.
---
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Adrian dan Alisha berpamitan.
Ratna memeluk Alisha sebelum mereka meninggalkan rumah.
"Datanglah lagi kalau ada waktu."
"Iya, Tante."
"Dan jangan lupa menjaga kesehatanmu."
Alisha tersenyum.
"Baik."
Hendrik menyalami Adrian, lalu mengingatkannya agar tidak bekerja terlalu larut.
Adrian mengangguk.
Setelah mengucapkan selamat malam, keduanya berjalan menuju mobil.
Perjalanan pulang berlangsung tenang.
Alisha memandang lampu-lampu jalan dari balik jendela. Sesekali, dia teringat cerita Ratna tentang masa kecil Adrian dan nasihat Hendrik mengenai kehidupan rumah tangga.
Dia tidak menyangka makan malam itu akan membuatnya mengetahui begitu banyak hal tentang suaminya.
Di balik sikap dinginnya, Adrian rupanya memang sudah terbiasa hidup dengan pekerjaan sebagai pusat perhatian.
Alisha tidak tahu apakah kebiasaan itu akan berubah suatu hari nanti.
Namun, dia mulai memahami bahwa dirinya tidak bisa berharap Adrian menjadi orang yang berbeda hanya karena mereka sudah menikah.
"Orang tuamu baik," ujar Alisha tiba-tiba.
Adrian meliriknya sekilas.
"Maksudmu?"
"Tante Ratna dan Om Hendrik. Mereka menyambutku dengan baik."
"Mereka memang seperti itu."
Alisha tersenyum kecil.
"Aku senang mereka tidak membuatku merasa asing."
Adrian kembali memandang jalan.
"Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman saat berada di sana, kamu bisa mengatakannya."
Alisha menoleh.
"Baik."
Percakapan kembali berhenti.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka memasuki halaman rumah.
Adrian memarkir kendaraan, lalu keluar terlebih dahulu.
Alisha menyusul sambil membawa tasnya.
Mereka berjalan masuk bersama, tetapi menuju ruangan yang berbeda setelah tiba di dalam rumah.
Sebelum berbelok ke arah ruang kerjanya, Adrian sempat berkata, "Selamat beristirahat."
Alisha menoleh.
"Kamu juga."
Setelah itu, mereka berpisah.
---
Di kamar pribadinya, Alisha meletakkan tas di meja dan duduk di tepi tempat tidur.
Malam itu tidak mengubah hubungan mereka secara drastis.
Adrian masih menjadi laki-laki yang sibuk dengan pekerjaannya.
Alisha masih menjalani kehidupan yang berpusat pada toko roti dan ibunya.
Mereka masih tidur di kamar masing-masing, dan percakapan di antara mereka masih terbatas pada hal-hal yang diperlukan.
Namun, ada satu hal yang terasa berbeda.
Alisha kini mengenal keluarga Adrian sedikit lebih dekat.
Dia tahu Ratna adalah perempuan yang hangat dan perhatian. Dia juga tahu Hendrik ingin putranya belajar membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Dan melalui cerita mereka, Alisha mulai memahami mengapa Adrian tumbuh menjadi seseorang yang begitu serius.
Alisha berbaring, menarik selimut hingga ke dada, lalu memejamkan mata.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Adrian membuka laptop untuk memeriksa satu laporan terakhir.
Sebelum mulai membaca, dia teringat perkataan ayahnya.
Mendengarkan juga bagian dari tanggung jawab.
Adrian memandang layar selama beberapa detik.
Kemudian, dia mengalihkan perhatian kembali kepada pekerjaannya.
Dia belum tahu bagaimana menerapkan nasihat itu dalam kehidupan sehari-harinya. Baginya, memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik selalu berarti menyelesaikan masalah secepat mungkin.
Dia belum menyadari bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan solusi segera.
Terkadang, seseorang hanya ingin didengarkan.
Malam semakin larut.
Di rumah yang sama, Alisha telah tertidur di kamarnya, sedangkan Adrian masih menyelesaikan pekerjaannya sebelum akhirnya beristirahat di kamar pribadinya.
Makan malam keluarga itu telah berakhir tanpa masalah.
Namun, sebuah nasihat sederhana telah tertinggal di benak Adrian, sementara Alisha membawa pulang pemahaman baru tentang keluarga yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Hari-hari mereka masih berjalan tenang.
Setidaknya, untuk sementara waktu, belum ada yang mengganggu keseimbangan yang perlahan mulai terbentuk di antara mereka.