Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Kepulangan Yang Memanas Dan Rencana Rahasia Sang Dark Lord
Pagi hari di ibu kota menyambut kedatangan pesawat jet pribadi dinasti Blackwood yang mendarat mulus di landasan pacu utama. Setelah menghabiskan waktu penuh romansa di kota Roma—mulai dari memenangkan sidang dewan tetua hingga menikmati malam berbalut gelato di depan Colosseum—kini Gabriel dan Aira harus kembali dihadapkan pada realitas dunia bisnis dan kekuasaan bawah tanah yang tidak pernah tidur.
Begitu mobil Limousine antipeluru memasuki gerbang utama gedung pencakar langit Blackwood Corp, Felix sudah berdiri tegak menyambut di lobi eksekutif dengan wajah yang menyiratkan campuran antara rasa lega dan sedikit kepanikan.
"Selamat datang kembali, Tuan, Nyonya," sapa Felix sigap sambil membukakan pintu mobil. Begitu Gabriel dan Aira turun, Felix langsung mengikuti langkah mereka memasuki lift privat menuju lantai lima puluh. "Ada beberapa laporan mendesak yang harus segera Anda ketahui, Tuan. Terutama mengenai pergerakan sisa-sisa aliansi faksi Eropa Timur."
Gabriel melangkah tegap sambil merangkul pinggang Aira erat-erat. Wajahnya yang tadinya santai dan penuh senyuman saat di Roma kini kembali berubah dingin dan tajam bak bilah pedang.
"Faksi Eropa Timur yang mana lagi?" desis Gabriel dingin. "Bukankah markas besar mereka di Odesa sudah kita ratakan bulan lalu?"
"Benar, Tuan. Tapi tampaknya ada komandan lapangan mereka yang melarikan diri ke wilayah Asia Tenggara dan mencoba membangun kembali jaringan bawah tanah bawah nama faksi Kromov," jelas Felix serius sambil menyerahkan tablet taktis. "Mereka bahkan mencoba menyusupkan mata-mata ke dalam jaringan logistik perusahaan kita di ibu kota."
Aira yang mendengarkan hal itu menghentikan langkahnya sejenak. Ia mengambil tablet dari tangan Felix, membaca sekilas data intelijen yang terpampang di layar. Alis cantiknya berkerut tipis.
"Mereka tidak menyerang secara frontal," analisis Aira tenang. "Mereka mencoba mengacaukan rantai pasok logistik domestik kita untuk menjatuhkan kredibilitas Blackwood Corp di mata investor publik."
Gabriel menoleh ke arah istrinya, sorot mata dinginnya seketika mencair, berubah menjadi hangat penuh kekaguman. "Wah... istriku pintar sekali. Baru melihat sekilas saja sudah tahu taktik busuk tikus-tikus got itu."
Felix yang berdiri di sebelah mereka terbatuk pelan, berusaha menetralkan rasa malunya melihat sang bos besar yang mendadak berubah menjadi bucin akut di tengah laporan genting keamanan nasional. "Tuhan... tolong kuatkan mental hamba menghadapi kebucokan Tuan Besar ini," batin Felix pasrah.
Aira melirik Gabriel dengan sebelah alis terangkat, lalu mencubit gemas pinggang suaminya. "Fokus, Gabriel. Ini urusan perusahaan, jangan malah merayu di depan sekretaris utamamu."
Gabriel meringis kecil, memegang pinggangnya pura-pura kesakitan, meski senyuman lebar tetap menghiasi bibirnya. "Iya, Permaisuriku tercinta. Ampun!"
Gabriel kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah Felix, dan auranya langsung berubah menjadi monster pembunuh dalam hitungan detik.
"Felix," perintah Gabriel dengan suara bariton yang menggelegar rendah. "Cari tahu di mana persembunyian komandan faksi Kromov itu malam ini juga. Jangan biarkan mereka bernapas lebih lama di negeri ini. Ratakan tempat persembunyian mereka sebelum jam makan malam."
"Baik, Tuan! Perintah dilaksanakan!" seru Felix tegas, langsung berbalik dan melangkah cepat untuk mengeksekusi rencana tersebut.
Pukul delapan malam.
Sebuah gudang distribusi logistik tua di kawasan pelabuhan utara ibu kota tampak gelap dan sunyi. Di dalam ruangan utama gudang yang dipenuhi kotak-kotak kargo, tampak lima orang pria berbadan kekar berpakaian serba hitam sedang merencanakan sesuatu di atas meja kayu usang yang diterangi lampu gantung remang-remang.
Mereka adalah sisa-sisa pasukan faksi Kromov yang dipimpin oleh seorang pria bertato laba-laba di lehernya—Igor Kromov.
"Dengar," bisik Igor tajam kepada anak buahnya dalam bahasa asing. "Kita harus hancurkan sistem server logistik Blackwood malam ini. Jika kita berhasil, harga saham perusahaan mereka akan terjun bebas, dan kita bisa mengambil alih jalur distribusi darat."
Brak!
Suara hancurnya pintu besi gudang mendadak menggema sangat keras, memecah kesunyian malam hingga membuat seluruh orang di dalam ruangan terperanjat kaget.
"Siapa di sana?!" bentak Igor panik, langsung mencabut pistol dari balik jaketnya.
Dari balik kepulan debu akibat hancurnya pintu, sesosok bayangan tinggi besar melangkah masuk dengan santai. Mantel hitam panjangnya berkibar pelan, dan pendar mata cokelat gelapnya memancarkan aura kematian yang begitu pekat.
Gabriel Blackwood berdiri seorang diri di ambang pintu.
Igor melotot tak percaya. "G-Gabriel Blackwood?! Bagaimana kamu bisa tahu tempat persembunyian kami?!"
Gabriel mendengus dingin, melangkah maju perlahan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. "Tempat bau sampah seperti ini tidak mungkin lolos dari radar penciumanku. Terutama setelah kalian lancang berani mengganggu ketenangan perusahaan istriku."
"Habisi dia! Bunuh ketua mafia itu sekarang juga!" teriak Igor histeris.
Puluhan anak buah faksi Kromov segera mengangkat senjata mereka, memberondong Gabriel dengan tembakan peluru tajam.
Namun, gerakan Gabriel seperti kilat. Dengan refleks tingkat tinggi yang mustahil ditandingi manusia biasa, ia melompat menghindari terjangan peluru, menendang keras meja kayu hingga menghantam tiga orang sekaligus, dan dalam waktu kurang dari dua menit, seluruh anak buah Igor sudah terkapar tak berdaya di lantai semen yang dingin.
Igor Kromov melangkah mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak dinding tumpukan peti kemas. Wajahnya pucat pasi, pistol di tangannya bergetar hebat.
Gabriel berjalan mendekat tanpa tergesa-gesa. Suara ketukan sepatu bot militernya terdengar bagaikan vonis mati.
"Kamu... kamu monster..." rintih Igor ketakutan saat Gabriel mencengkeram kerah jaketnya dan mengangkat tubuhnya dengan satu tangan.
Gabriel menatap tajam pria itu, lalu merogoh saku mantelnya. Bukannya mengeluarkan pisau atau senjata api, ia justru menarik keluar sebuah benda berbentuk botol semprotan cairan pembersih kaca mobil berwarna merah muda terang!
Igor mengerjap bingung, matanya melotot ngeri melihat benda absurd tersebut. "A-Apa itu?! Mau apa kamu?!"
"Ini adalah hukuman spesial karena kamu sudah berani membuat istriku harus membaca laporan lembur," geram Gabriel dingin.
Tanpa ampun, Gabriel menyemprotkan cairan sabun pembersih bertekanan itu langsung ke mata dan wajah Igor berulang-ulang. Igor menjerit histeris tersedak, matanya perih luar biasa, merasa tersiksa secara mental maupun fisik oleh hukuman konyol yang jauh lebih mengerikan daripada disiksa di ruang interogasi gelap.
Felix yang baru saja masuk bersama pasukan elite di belakang langsung menutup matanya sejenak, menghela napas panjang. Bos besar mereka benar-benar tidak pernah kehabisan cara ajaib untuk menyiksa musuh.
Setengah jam kemudian, operasi pembersihan selesai. Gabriel melangkah keluar gudang, merapikan mantelnya, lalu masuk ke dalam mobil Limousine yang sudah menunggunya.
Begitu pintu tertutup, sifat garang dan dingin sang ketua mafia seketika menguap tak bersisa. Gabriel langsung merosot di kursi, menyandarkan kepalanya di bahu Aira yang sedang menunggu di dalam mobil, lalu merengek manja.
"Sayang... misinya sudah beres. Tikus-tikus gotnya sudah aku kasih pelajaran pakai semprotan pembersih kaca," adu Gabriel manja, melingkarkan tangannya di pinggang Aira. "Sekarang aku butuh hadiah pelukan yang erat dari kamu."
Aira tersenyum gemas, mengusap helaian rambut hitam suaminya dengan penuh kasih sayang. "Iya, pahlawanku yang konyol. Kerjamu memang selalu luar biasa."
Di bawah temaram lampu kota, Gabriel memeluk istrinya erat-erat, merasa bahwa kemenangan terbesar dalam hidupnya bukanlah menaklukkan dunia bawah tanah, melainkan memiliki Aira di sisinya selamanya.
📌 Pojok Penulis (Rey Nanda):
Aduh, ampun deh sama Gabriel! Musuh kelas kakap dihajar habis-habisan, tapi eksekusi akhirnya malah disemprot pakai cairan pembersih kaca mobil warna pink! Sisi bucin sekaligus konyolnya bener-bener gak ada tandingannya! 😭💦