Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Kebangkitan Sang Pemburu
Hari kedua puluh empat di hutan.
Raungan monster beast mengguncang pepohonan.
Seekor beruang raksasa dengan cakar panjang menerjang Wang Dahu. Tubuhnya sebesar gerobak, sementara kedua matanya memancarkan keganasan yang membuat binatang lain memilih melarikan diri.
Dahulu, menghadapi monster seperti ini saja mungkin sudah membuat Wang Dahu kehilangan keberanian.
Namun, pemuda yang berdiri di hadapannya sekarang bukan lagi orang yang sama.
Tubuhnya memang belum sebanding dengan monster beast itu, tetapi matanya tenang. Ia memperhatikan posisi kaki lawan, arah bahu, bahkan perubahan gerakan sebelum serangan dilancarkan.
Saat cakar beruang menyapu, Wang Dahu memiringkan tubuhnya.
Wusss!
Cakar tajam melintas hanya sejengkal dari wajahnya.
Ia tidak membalas secara terburu-buru. Sebaliknya, ia mundur dua langkah, memancing beruang itu mengejarnya menuju kawasan berbatu yang dipenuhi akar pohon besar.
“Manusia licik!” gerutu suara iblis di dalam kesadarannya. “Kau bahkan memperlakukan beruang seperti orang yang bisa diajak berunding.”
Wang Dahu menyeringai. “Kalau kau punya cara lebih baik, silakan keluar dan bertarung menggantikanku.”
“Jika aku bisa keluar, kaulah orang pertama yang akan kucabik!”
“Sayangnya, kau hanya bisa menggonggong.”
Iblis itu langsung terdiam.
Wang Dahu tidak membuang kesempatan tersebut.
Beruang raksasa kembali menerjang. Kali ini, ia sengaja menunggu sampai lawannya mendekat sebelum melompat ke samping.
Kaki depan beruang menginjak akar pohon yang melintang di antara bebatuan.
Tubuh besarnya kehilangan keseimbangan sesaat.
Itulah kesempatan yang ditunggu Wang Dahu!
Ia menghantamkan batu besar ke bagian kepala beruang, tepat di dekat telinganya.
Buk!
Beruang itu meraung kesakitan, tetapi tidak tumbang. Ekornya menyapu dengan keras, membuat Wang Dahu terpental dan menghantam batu.
Rasa sakit menjalar ke seluruh punggungnya. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
“Brengsek!”
Wang Dahu segera berguling ketika cakar beruang menghantam tempatnya terjatuh. Batu-batu kecil beterbangan.
Ia menyadari bahwa serangan biasa tidak akan cukup untuk menjatuhkan monster tersebut. Tubuh beruang itu terlalu kuat, sementara kekuatan spiritualnya masih sangat terbatas.
Jika terus bertarung secara langsung, ia akan kehabisan tenaga lebih dahulu.
Wang Dahu mengamati sekeliling.
Di sebelah kanan terdapat celah sempit di antara dua batu besar. Di sebelah kiri, tanah menurun menuju jurang dangkal yang dipenuhi bebatuan tajam.
Sebuah rencana terbentuk dalam pikirannya.
Ia sengaja mengambil ranting tebal, lalu memukul batu sambil berteriak. “Hei, binatang bodoh! Kemarilah!”
Beruang itu meraung dan menyerbu dengan kemarahan yang semakin besar.
Wang Dahu berlari menuju celah berbatu. Tubuh beruang terlalu besar untuk melewatinya dengan leluasa. Saat menerobos masuk, bahunya menghantam dinding batu dan membuat gerakannya melambat.
Wang Dahu memanfaatkan kesempatan itu untuk memanjat batu di sampingnya. Kemudian, ia mendorong sebuah batu besar yang sejak tadi bertumpu di lereng.
Batu itu berguling turun.
BRAK!
Batu besar menghantam sisi tubuh beruang, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lereng berbatu.
Wang Dahu melompat turun tanpa ragu. Dengan sisa tenaganya, ia mengayunkan ranting tebal ke bagian kepala beruang yang sudah terluka, lalu menusukkan ujung ranting yang patah ke bagian tubuhnya yang tidak terlindungi bulu tebal.
Beruang itu mengamuk selama beberapa saat. Namun, setelah kehilangan keseimbangan dan menerima serangan bertubi-tubi, gerakannya akhirnya melambat.
Raungannya berubah menjadi geraman lemah, lalu tubuh raksasanya terkulai.
Hutan kembali sunyi.
Wang Dahu berdiri terengah-engah. Kedua tangannya gemetar, pakaiannya robek, dan beberapa luka mengeluarkan darah. Ia hampir tidak sanggup mengangkat lengannya.
Namun, setelah memastikan beruang itu benar-benar tidak bergerak, ia menjatuhkan diri ke tanah.
“Hahaha...” Tawanya terdengar lemah. “Aku menang.”
Di dalam kesadarannya, iblis mendengus. “Jangan terlalu bangga. Kau menang karena menggunakan otakmu. Kalau mengandalkan kekuatan, kau sudah menjadi makanan beruang.”
“Itu tetap kemenangan.”
“Setidaknya, kau tidak lagi bertarung seperti babi yang dilemparkan ke kandang serigala.”
Wang Dahu mengangkat ibu jarinya. “Terima kasih atas pujiannya.”
“Itu bukan pujian!”
Namun, kali ini Wang Dahu benar-benar tidak peduli.
Ia telah memahami sesuatu selama dua puluh empat hari terakhir. Kekuatan bukan sekadar seberapa keras seseorang bisa memukul. Kekuatan juga berarti mengetahui kapan harus menyerang, kapan harus mundur, dan bagaimana mengubah kelemahan menjadi keuntungan.
Dahulu, ia selalu merasa dunia tidak memberinya kesempatan. Sekarang, ia mulai menciptakan kesempatannya sendiri.
Malam itu, Wang Dahu berlindung di sebuah gua kecil.
Setelah membersihkan lukanya dan memakan sedikit daging hasil buruannya, ia duduk bersila.
Sudah waktunya menguji hasil latihannya.
Selama berminggu-minggu, ia telah melatih tubuh, mengatur pernapasan, mempelajari gerakan bertarung, dan berkali-kali memaksakan dirinya melewati batas kemampuan. Meridian pertamanya telah terbuka sejak beberapa waktu lalu, tetapi ia belum benar-benar memasuki ranah kultivasi pertama.
Wang Dahu memejamkan mata.
Ia mengatur napas perlahan, membiarkan energi spiritual dari lingkungan memasuki tubuhnya sedikit demi sedikit. Biasa saja, proses ini terasa seperti mencoba menampung air dengan wadah yang berlubang.
Namun, malam ini berbeda. Energi spiritual yang memasuki tubuhnya tidak langsung menghilang, melainkan bergerak melalui meridian yang terbuka, menyebar ke otot dan tulangnya.
Tiba-tiba, dadanya terasa panas. Wang Dahu mengernyit.
Rasa panas itu menyebar dengan cepat, seolah-olah ribuan jarum membakar tubuhnya dari dalam.
Krek!
Persendiannya mengeluarkan suara halus. Otot-ototnya menegang, tulangnya bergetar, dan keringat membahasi seluruh tubuhnya sementara energi spiritual yang berkumpul di dalam dirinya semakin padat.
“Jangan berhenti!” seru iblis itu. Untuk pertama kalinya, suaranya kehilangan nada mengejek. “Pertahankan pernapasanmu! Jangan biarkan energi itu menyebar tanpa kendali!”
Wang Dahu menggertakkan gigi. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia hampir kehilangan kesadaran. Namun, ia terus mengatur napas mengikuti metode yang telah dipelajarinya.
Sedikit demi sedikit, energi spiritual itu mulai menetap. Tubuhnya yang telah ditempa melalui latihan keras akhirnya mencapai batas baru.
BOOM!
Sebuah gelombang energi menyebar dari tubuh Wang Dahu, menggetarkan debu di lantai gua. Pada saat yang sama, penghalang tak kasatmata di dalam tubuhnya seolah runtuh.
Wang Dahu membuka mata.
Ia bisa merasakan perubahan yang jelas pada tubuhnya. Setiap tarikan napas terasa lebih kuat. Pendengarannya menjadi lebih tajam, sementara energi di dalam ototnya tidak lagi sekacau sebelumnya.
Ia telah berhasil menembus batas pertama: Ranah Penempaan Tubuh tingkat pertama!
Wang Dahu mengepalkan tangannya. Tanpa sadar, ia melayangkan pukulan ke udara.
Wusss!
Angin berdesir mengikuti gerakan tinjunya. Belum ada kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu besar dengan sekali pukul, tetapi dibandingkan dirinya beberapa minggu lalu, perbedaannya sudah sangat nyata.
“Aku berhasil...” Wang Dahu menatap kedua tangannya dengan mata berbinar.
Ia akhirnya menjadi seorang kultivator. Bukan lagi pemuda yang hanya bisa menatap orang lain dengan iri, dan bukan lagi orang yang sepenuhnya tidak berdaya ketika menghadapi penghinaan.
Iblis di dalam dirinya justru terdiam cukup lama sebelum terdengar suara rendah, “Aneh.”
Wang Dahu mengangkat alis. “Apa lagi?”
“Perubahan tubuhmu terlalu cepat. Latihanmu memang keras, tetapi biasanya seseorang membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencapai kondisi seperti ini.”
“Jadi, kau mengakui aku berbakat?”
“Aku mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak masuk akal pada tubuhmu. Jangan mengarang kesimpulan sendiri.”
Wang Dahu terkekeh.
Namun, iblis itu tidak ikut tertawa. Di dalam ruang kesadaran, sebuah rune pada gerbang hitam kuno kembali memancarkan cahaya samar sebelum menghilang dalam kejap.
Iblis menatap rune itu dengan sorot mata serius. Ia telah hidup selama bertahun-tahun yang bahkan sulit dihitung, tetapi semakin lama ia terperangkap di dalam diri Wang Dahu, semakin ia merasa bahwa pemuda ini menyimpan sesuatu yang jauh melampaui pemahamannya.
“Siapa sebenarnya dirimu...?” gumamnya.
Wang Dahu tidak mendengar pertanyaan tersebut. Ia terlalu sibuk menikmati hasil yang telah diperjuangkannya.
Keesokan paginya, Wang Dahu menemukan genangan air jernih di antara bebatuan. Ia berjongkok dan menatap pantulan wajahnya.
Pemuda gemuk yang dahulu dikenal orang-orang Desa Cangmu hampir tidak terlihat lagi. Pipinya telah menyusut, garis rahangnya mulai terlihat jelas, bahunya lebih lebar, dan lengannya dipenuhi otot yang terbentuk dari latihan serta pertarungan. Tubuhnya jauh lebih ramping dan atletis.
Kulitnya masih memiliki beberapa bekas luka, rambutnya berantakan, dan pakaian yang dikenakannya sudah terlalu lusuh. Namun, matanya berbeda—tidak ada lagi tatapan seseorang yang selalu menganggap dirinya lebih rendah daripada orang lain.
Wang Dahu menyentuh wajahnya sendiri, kemudian tersenyum tipis.
Ia tidak berharap perubahan ini membuat orang-orang yang dahulu merendahkannya menyesal. Ia hanya ingin ketika ayahnya membutuhkan sesuatu, ia tidak perlu lagi menundukkan kepala karena tidak mampu memberikannya.
“Ayah, tunggu aku.”
Ia berdiri, mengemasi barang-barangnya, lalu meninggalkan hutan.
Sebelum kembali ke Desa Cangmu, masih ada satu tempat yang ingin dikunjunginya: Perbukitan Batu Merah.
Sebelumnya, ia mendengar para pencari tanaman obat membicarakan sebuah tumbuhan spiritual yang sedang dicari Balai Obat—tumbuhan tiga helai daun merah yang dapat digunakan sebagai bahan ramuan pemulihan.
Jika benar tumbuhan tersebut memiliki nilai tinggi, menjualnya bisa memberinya modal untuk membeli kebutuhan kultivasi. Ia tidak memiliki latar belakang keluarga besar ataupun guru yang bersedia memberinya sumber daya secara cuma-cuma; kalau ingin maju, ia harus mencari jalannya sendiri.
Menjelang sore, Wang Dahu tiba di kawasan Perbukitan Batu Merah.
Hamparan bebatuan kemerahan membentang sejauh mata memandang. Beberapa tebing menjulang tinggi, sementara semak-semak kering tumbuh di antara celah batu. Udara di tempat itu terasa lebih panas daripada hutan tempatnya berlatih.
Wang Dahu tidak langsung mencari tumbuhan tersebut. Ia terlebih dahulu mengamati jejak-jejak di tanah, memeriksa sumber air, dan mencari jalur yang dapat digunakan untuk melarikan diri jika terjadi sesuatu—kebiasaan yang telah menyelamatkan nyawanya berkali-kali.
Menjelang matahari terbenam, ia menemukan sebuah lembah sempit di antara dua tebing. Di tengah lembah itu tumbuh beberapa tanaman liar, tetapi salah satunya langsung menarik perhatiannya: tumbuhan setinggi lutut dengan tiga helai daun berwarna merah pekat yang urat-urat halusnya memancarkan cahaya samar.
Rumput Tiga Daun Merah.
Ia telah menemukan targetnya.
Namun, alih-alih langsung berlari menghampiri, Wang Dahu justru berhenti. Ada sesuatu yang tidak beres: bebatuan di sekitar tumbuhan itu menunjukkan bekas cakaran besar, dan tidak ada suara serangga maupun burung di lembah itu.
Wang Dahu menyipitkan mata. “Sepertinya tumbuhan ini bukan tanpa penjaga.”
“Bagus. Akhirnya kau mulai menggunakan kepalamu sebelum menggunakan kakimu,” sahut iblis.
“Aku sedang mempertimbangkan untuk membiarkanmu keluar lebih dahulu.”
“Kalau kau bisa melakukannya, aku akan mematahkan lehermu sendiri.”
“Sayang sekali. Kau hanya bisa bermimpi.”
Wang Dahu perlahan mundur ke balik batu besar. Ia mengamati posisi tumbuhan, jalur masuk lembah, serta beberapa celah sempit yang bisa digunakan untuk berlindung. Jika penjaganya terlalu kuat, ia akan pergi; tidak ada gunanya mempertaruhkan nyawa hanya demi satu tumbuhan obat.
Namun, tepat ketika ia hendak mengubah posisinya, terdengar suara gesekan dari balik bebatuan.
Krrr...
Wang Dahu langsung menghentikan gerakannya.
Sepasang mata kuning terbuka di dalam kegelapan. Tatapan itu terkunci padanya.
Sesaat kemudian, dua cakar besar muncul dari balik batu. Suara napas berat menggema di lembah, disusul langkah kaki yang membuat tanah bergetar.
Seekor monster beast perlahan keluar dari persembunyiannya. Tubuhnya ditutupi bulu kasar berwarna cokelat gelap, punggungnya dipenuhi tonjolan keras, dan kedua cakarnya begitu panjang hingga ujungnya menggores permukaan batu.
Monster itu lebih besar daripada serigala yang pernah dibunuh Wang Dahu, dan auranya terasa lebih menekan daripada beruang yang baru saja ia kalahkan.
Iblis di dalam kesadarannya segera memperingatkan dengan suara serius, “Wang Dahu, jangan gegabah. Monster beast ini jauh lebih berbahaya daripada yang pernah kau hadapi.”
Wang Dahu menelan ludah. Ia baru saja mencapai Ranah Penempaan Tubuh tingkat pertama; melawan makhluk seperti ini secara langsung jelas bukan pilihan bijak.
Namun, matanya tetap memperhatikan gerakan monster tersebut. Monster itu berdiri tepat di antara dirinya dan Rumput Tiga Daun Merah, seolah menandakan bahwa siapa pun yang berani mendekati tumbuhan itu harus melewati tubuhnya terlebih dahulu.
Wang Dahu menarik napas perlahan, lalu menggeser tangan ke arah pisau pendek di pinggangnya. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Baiklah, binatang besar.” Ia melirik bebatuan di sekeliling lembah. “Kalau kau ingin menjaga tumbuhan itu, mari kita lihat apakah kau juga bisa menjaga kepalamu sendiri.”
Monster bermata kuning itu menggeram. Detik berikutnya, tubuh besarnya merendah, siap menerkam.