Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Menghancurkan ( Ayah yang Seharusnya Telah Mati )
Dominic berdiri mematung di lorong lantai dua. Tatapannya tertuju pada Alessandro yang baru saja menyampaikan kabar mengejutkan itu.
Ayahnya mungkin masih hidup.
Adrian Lorenzo Imanuel, pria yang selama ini ia yakini telah meninggal dua puluh tahun lalu, ternyata mungkin masih bernapas di suatu tempat.
“Where did you get that information?” tanya Dominic dingin.
Alessandro menyerahkan sebuah map berwarna cokelat.
“Kami menemukannya di basis data terenkripsi,yang terhubung dengan Rafael De Luca. Ada catatan perawatan medis ayah anda dari tiga bulan lalu.”
Dominic membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan dokumen rumah sakit, foto seorang pria tua, dan beberapa catatan transaksi.
Ia memperhatikan foto itu dengan saksama.
Wajah pria tersebut memang sudah menua, rambutnya memutih, tetapi Dominic mengenali bentuk matanya.
Itu ayahnya.
“Dimana dia?”
“Kami masih melalukan penyelidikan.”
Dominic menutup map dengan keras.
“Find him. Aku ingin lokasi tepatnya.”
“Yes, boss.”
Alessandro hendak pergi, tetapi Dominic menahannya.
“One more thing. Jangan ada yang memberi tahu isabella tentang ini sampai aku tahu apa yang benar-benar terjadi.”
Namun ternyata, seseorang sudah mendengar semuanya.
Isabella berdiri beberapa langkah dari mereka dengan wajah pucat.
“Too late.”
Dominic langsung menoleh.
“Isabella.”
Ia berjalan mendekat.
“Ayahmu masih hidup?”
Dominic menghela napas.
“We don't know for sure.”
“Tapi kau baru saja melihat buktinya.”
“It's complicated.”
Isabella tertawa hambar.
“Of course. Sesuatu dalam hidupmu itu rumit.”
Dominic menatapnya.
“I'm trying to protect you.”
“Stop using that excuse! Aku bukan anak kecil yang harus dijauhkan dari kenyataan.”
Dominic tidak membantah.
Isabella melanjutkan dengan suara bergetar.
“Jika Adrian benar-benar ayah kandungku, aku berhak tahu apa yang terjadi padanya. Dan jika dia masih hidup, aku ingin bertemu dengannya.”
Dominic mengangguk perlahan.
“Then I'll find him.”
“Promise?”
“I promise.”
Pagi harinya, Isabella turun ke ruang makan dengan mata sedikit sembap. Ia hampir tidak tidur sepanjang malam.
Dominic sudah duduk di sana, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku. Di hadapannya terdapat secangkir kopi dan beberapa dokumen.
Ketika melihat Isabella, ia langsung berdiri.
“Good morning.”
“Morning.”
“Did you sleep?”
“A little.”
Dominic menarik kursi untuknya.
“Sit. You need breakfast.”
Isabella duduk dengan enggan.
“You're acting like my bodyguard.”
Dominic duduk di seberangnya.
“That's because I am.”
“Lucky me.”
Dominic mengangkat sebelah alis.
“Still sarcastic, even after everything?”
“It's my survival skill.”
Senyum kecil muncul di wajah Dominic.
Untuk sesaat, suasana terasa normal. Namun Isabella tahu mereka tidak mungkin kembali seperti sebelumnya.
Ia menatap Dominic.
“Can I ask you something?”
“Anything.”
“Why did you never tell me about your father?”
Dominic meletakkan cangkirnya.
“Because I thought he was dead.”
“Bagaimana dia bisa meninggal?”
Dominic menatap ke arah jendela.
“Twenty years ago, there was an explosion at one of our properties. My father was reported missing. The authorities declared him dead after several months.”
“Dan kau percaya?”
“I had no reason not to.”
Isabella mengangguk pelan.
“Apakah ibuku terlibat dalam kejadian itu?”
Dominic terdiam.
“That's what I need to find out.”
Tiba-tiba ponsel Dominic bergetar. Sebuah pesan masuk dari Alessandro.
Ia membacanya, lalu berdiri.
“We found something.”
Isabella ikut berdiri.
“Apa?”
Dominic mengambil jasnya.
“Come with me.”
Mereka menuju ruang kerja. Di sana, Alessandro telah menyiapkan sebuah laptop dan beberapa foto.
“Boss, we traced the hospital records. Your father was admitted under a false identity.”
Dominic mendekati meja.
“Where?”
“A private medical facility outside Barcelona.”
Isabella menatap layar.
“Is he still there?”
Alessandro menggeleng.
“No. He was transferred two weeks ago.”
Dominic menyipitkan mata.
“Transferred where?”
Alessandro menampilkan sebuah dokumen lain.
“The destination is listed as a private estate owned by Rafael De Luca.”
Dominic langsung mengepalkan tangan.
“Rafael has my father?”
“That's what the records suggest.”
Isabella menatap Dominic.
“Then we have to save him.”
Dominic mengangguk.
“We will.”
Alessandro kemudian membuka sebuah rekaman suara yang ditemukan dalam arsip rumah sakit.
Suara seorang pria tua terdengar dari pengeras suara.
“Jika rekaman ini sampai kepada Dominic, berarti mereka akhirnya menemukan keberadaanku.”
Dominic membeku.
Suara itu.
Suara yang sudah dua puluh tahun tidak didengarnya.
“Son... if you're listening to this, there's something you need to know.”
Isabella memperhatikan Dominic. Wajah pria itu tampak kaku.
Rekaman berlanjut.
“Jangan percaya Rafael. Jangan percaya Richard. Dan yang paling penting, jangan biarkan Elena menceritakan semuanya kepadamu sebelum kau menemukan buku hitam itu.”
Alessandro menghentikan rekaman.
Dominic menatap layar dengan rahang mengeras.
“What black book?”
Alessandro menggeleng.
“We haven't found anything yet.”
Isabella mengerutkan kening.
“Buku hitam apa?”
Dominic menoleh kepadanya.
“I don't know.”
Namun Isabella merasa pria itu menyembunyikan sesuatu lagi.
Siang itu, Isabella sedang berada di taman belakang mansion. Ia duduk di bangku batu sambil membaca ulang surat ibunya.
Tiba-tiba seseorang datang dan duduk di sampingnya.
Richard.
“Can we talk?”
Isabella tidak langsung menjawab.
“Ayah sudah terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dariku.”
Richard mengangguk.
“I know.”
“Apakah Adrian benar-benar ayah kandungku?”
Richard menatap putrinya lama.
“According to your mother's confession, yes.”
Isabella menunduk.
“Lalu kenapa Ibu menikah dengan Ayah?”
Richard tersenyum pahit.
“Because I loved her. Dan ketika dia datang kepadaku dengan seorang bayi, Ayah memutuskan bahwa kau akan menjadi putri Ayah. Tidak peduli siapa ayah biologismu.”
Isabella mulai menangis.
“Did you ever regret it?”
“Never. Not even once.”
Richard menggenggam tangannya.
“Isabella, listen. A father isn't only the man whose blood runs through your veins. It's also the man who stays when everyone else leaves.”
Isabella menatapnya.
“Then why did you lie?”
Richard menunduk.
“Because I was afraid of losing you.”
Isabella menarik tangannya perlahan.
“You should have trusted me.”
Richard tidak membantah.
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk dalam keheningan.
Kemudian Richard mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku jasnya.
“Your mother gave this to me before she disappeared.”
Isabella mengambil kunci tersebut.
“What does it open?”
“A safe deposit box. She told me to give it to you when the time was right.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Because I was hoping you would never need it.”
Isabella memperhatikan ukiran kecil pada kunci itu.
Sebuah huruf E dan L yang saling bertaut.
Elena Laurent.
“Where is the box?”
Richard menyebutkan sebuah bank tua di pusat Madrid.
Isabella menggenggam kunci itu erat-erat.
“Aku ingin pergi ke sana.”
Richard mengangguk.
“I'll take you.”
Malam harinya, Dominic menerima laporan bahwa sebuah kendaraan mencurigakan terlihat di sekitar mansion.
Ia segera memanggil Alessandro.
“Double the guards. Nobody gets near Isabella.”
“Understood.”
Namun sebelum Alessandro pergi, ponsel Dominic menerima sebuah pesan.
Nomor tak dikenal.
YOUR FATHER IS WAITING FOR YOU, SON.
Pesan kedua muncul.
BRING THE GIRL. COME ALONE.
Dominic menatap layar dengan mata menyipit.
Kemudian sebuah foto dikirimkan.
Foto Adrian sedang duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat.
Di belakangnya berdiri Rafael De Luca.
Rafael tersenyum ke arah kamera.
Dominic mengepalkan tangannya.
“Damn it.”
Alessandro mendekat.
“What happened, boss?”
Dominic memperlihatkan foto tersebut.
Alessandro langsung memahami situasinya.
“It's a trap.”
“I know.”
“Then we shouldn't go.”
Dominic menatap foto ayahnya sekali lagi.
“I won't leave him there.”
Saat itu Isabella muncul di ambang pintu.
“What's going on?”
Dominic segera mematikan layar ponselnya.
“Nothing.”
Isabella menyilangkan kedua tangannya.
“Really? Because your face says otherwise.”
Dominic menghela napas.
“Someone has my father.”
Isabella terkejut.
“Adrian?”
Dominic mengangguk.
“Rafael wants me to come alone. And he wants you to come with me.”
Isabella menatapnya tidak percaya.
“Why me?”
Dominic menatapnya tajam.
“Because you're the reason all of this started.”
Isabella terdiam.
Lalu ia mengangkat dagunya.
“Then I'm coming.”
“No.”
“Dominic—”
“I said no, Isabella.”
Isabella mendekat.
“Kalau Adrian adalah ayah kandungku, aku juga berhak menyelamatkannya.”
Dominic menggeleng.
“I won't risk your life.”
Isabella menatapnya dalam-dalam.
“Then don't let me go alone.”
Dominic terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu Rafael tidak sedang mengundang mereka untuk berdamai.
Pria itu sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih kejam.
Pukul sebelas malam, sebuah pesan baru masuk ke ponsel Dominic.
MIDNIGHT. THE OLD IMANUEL ESTATE.
Di bawahnya terdapat satu kalimat tambahan.
BRING YOUR SISTER, KING. IT'S TIME FOR HER TO MEET HER FATHER.
Dominic membaca pesan itu berkali-kali.
Sementara Isabella berdiri di belakangnya, matanya tertuju pada satu kata yang membuat dadanya sesak.
Sister.
Namun sebelum mereka sempat bersiap, ponsel Isabella tiba-tiba berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
“Hello?”
Suara perempuan terdengar dari seberang.
“Isabella, darling...”
Isabella langsung mengenali suara itu.
“Mom?”
Suara Elena terdengar terburu-buru.
“Listen to me. Don't go to the estate. Rafael is not the one holding your father.”
Isabella membeku.
“Then who is?”
Elena terisak.
Lalu ia mengucapkan sebuah nama yang membuat Isabella dan Dominic sama-sama kehilangan kata-kata.
“It's Richard, my love.”
Sambungan terputus.
Isabella perlahan menoleh kepada Dominic.
Dan untuk pertama kalinya, Dominic tidak memiliki jawaban atas semua rahasia yang baru saja terbuka.
jangan lupa mampir kakk..🤭