NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Amukan Lin Dehai

Sementara Lin Wanru dan Nyonya Lin tengah berjuang menata lapak darurat di sudut Pasar Kecamatan Sungai Besi, suasana di ujung Desa Hutan Batu justru berubah menjadi medan perang kecil yang penuh amarah.

Matahari baru saja mencapai ketinggian sepuluh galah di atas ufuk timur, memancarkan terik hangat yang membakar tanah berdebu di depan gubuk reyot milik keluarga Lin.

Namun, kehangatan itu sama sekali tidak mendinginkan kepala seorang pria paruh baya bertubuh gempal yang berdiri dengan napas memburu di depan pintu gubuk tersebut.

Pria itu adalah Lin Dehai, sang paman kandung yang terkenal lintah darat, licik, dan tidak punya hati nurani. Di belakangnya, berdiri dua orang preman desa bertubuh tegap dan berwajah beringas yang dibawanya khusus untuk menjadi algojo penagih utang.

Lin Dehai mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk itu dengan hantaman keras menggunakan tongkat kayunya.

Brak! Brak! Brak!

"Hei! Buka pintunya, Nyonya Lin! Lin Wanru! Jangan pura-pura mati di dalam!" bentak Lin Dehai dengan suara melengking penuh kemarahan. "Hari ini adalah batas waktu terakhir! Jangan kira kalian bisa bersembunyi dari utang tiga tael perak!"

Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Suasana di sekitar gubuk itu terasa sunyi senyap, kecuali suara angin pagi yang mendesau melewati celah-celah dinding kayu yang berlubang.

Lin Dehai mengerutkan keningnya yang tebal. Ia mengintip lewat celah dinding yang renggang, lalu mendorong daun pintu yang tidak terkunci rapat.

Kerekekk...

Pintu itu bergeser terbuka dengan mudah. Lin Dehai melangkah masuk ke dalam ruangan sempit tersebut, diikuti oleh kedua preman bayarannya. Suasana di dalam gubuk terasa dingin dan kosong. Di atas meja kayu, hanya ada mangkuk tanah liat sisa sup semalam, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia.

Wajah Lin Dehai langsung mengeras dan berubah pucat pasi karena amarah yang mendadak melonjak ke ubun-ubun.

"Sialan...!" maki Lin Dehai geram. "Mereka kabur! Keluarga parasit itu benar-benar melarikan diri di tengah malam untuk menghindari utang!"

Bagi seorang lintah darat seperti Lin Dehai, gagasan bahwa orang yang berutang padanya melarikan diri adalah sebuah penghinaan besar dan kerugian finansial yang tidak bisa dimaafkan.

"Geledah tempat ini!" perintah Lin Dehai dengan suara menggelegar kepada kedua preman anak buahnya. "Hancurkan semuanya! Kalau ada barang berharga, ambil! Kalau tidak ada, ratakan gubuk sialan ini dengan tanah!"

Tanpa rasa belas kasihan, kedua preman bertubuh tegap itu langsung beraksi.

Brak! Prang!

Tempat tidur jerami dirobek-robek hingga jeraminya berhamburan ke lantai. Mangkuk-mangkuk tanah liat dipecahkan dengan sengaja. Meja kayu reot ditendang hingga patah berkeping-keping. Pakaian usang keluarga Lin yang tersimpan di dalam keranjang bambu dibuang ke luar jendela dan diinjak-injak di atas lumpur halaman.

Suara keributan hebat dan bunyi kayu yang patah itu langsung menarik perhatian para tetangga sekitar. Dalam waktu singkat, puluhan warga Desa Hutan Batu berkerumun di depan halaman gubuk, menonton pemandangan kehancuran tersebut sambil berbisik-bisik dan melontarkan berbagai komentar pedas.

"Wah, wah... lihat itu! Rupanya keluarga Lin benar-benar kabur di tengah malam!" seru Nyonya Liu, wanita tambun yang kemarin sempat dipermalukan Wanru, berdiri paling depan sambil bersedekap dada, dan tersenyum sinis penuh kepuasan.

"Sudah kuduga! Mereka itu keluarga pembohong dan pencuri! Berani berhutang, tapi tidak berani membayar!" sahut Paman Gou, si tukang kayu desa, menimpali dengan nada mencemooh.

"Kasihan sekali nasib Nyonya Lin, punya anak perempuan sulung yang keras kepala dan tidak tahu diri, tapi pada akhirnya malah memilih kabur menjadi buronan kemiskinan," tambah seorang warga lainnya di tengah kerumunan.

Cibiran, tawa sinis, dan kata-kata kotor menghujani halaman gubuk reyot itu. Tidak ada satupun warga yang menaruh rasa iba, di mata masyarakat feodal yang sempit itu, kejatuhan seseorang adalah tontonan gratis yang paling menghibur.

Di tengah kerumunan warga yang ricuh dan mencemooh, tampak seorang nenek renta bertongkat kayu, tetangga baik hati yang tadi pagi dititipi Lin Bao. Ia berjalan tergopoh-gopoh sambil menggandeng tangan bocah delapan tahun tersebut.

Lin Bao yang melihat rumahnya diobrak-abrik dan dihancurkan oleh paman serta orang-orang asing langsung menjerit ketakutan.

"Ibu! Kakak!" tangis Lin Bao histeris, hendak melepaskan pegangan sang nenek untuk berlari mendekati gubuk.

Nenek renta itu berusaha menahan Lin Bao dengan susah payah. "Jangan, Nak... jangan ke sana, berbahaya!" bisik sang nenek panik.

Namun, suara tangisan Lin Bao yang melengking terlanjur tertangkap oleh telinga tajam Lin Dehai. Pria gempal itu menghentikan aksi perusakannnya, lalu menoleh tajam ke arah sumber suara di pinggir kerumunan warga.

Mata Lin Dehai membelalak saat melihat sosok bocah kecil Lin Bao berdiri ketakutan di samping nenek tetangga.

"Bocah itu ada di sini? Berarti... ibunya dan kakaknya belum sepenuhnya kabur jauh, atau mereka sengaja meninggalkan anak ini?" pikir Lin Dehai dengan otak liciknya.

Dengan langkah kaki berat dan wajah beringas, Lin Dehai menerobos kerumunan warga, menghampiri Lin Bao, lalu menyambar kerah baju anak kecil itu dengan kasar tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun.

"Aduh!" Lin Bao menjerit kesakitan saat kerah bajunya ditarik hingga ia terangkat setengah jengkal dari tanah.

"Lepaskan anak ini, Tuan Dehai! Dia hanya anak kecil!" protes nenek renta itu gemetar ketakutan, dan mencoba memukul tangan Lin Dehai dengan tongkat kayunya, namun dengan mudah dihempaskan oleh sang preman bayaran.

Lin Dehai mendekatkan wajahnya yang berkerut seram ke hadapan Lin Bao yang menangis ketakutan hingga air matanya membasahi pipi comel anak itu.

"Katakan! Di mana ibumu dan kakak perempuan sialanmu itu pergi, hah?!" bentak Lin Dehai dengan suara menggelegar di depan muka Lin Bao. "Jangan berbohong, atau akan kupatahkan kaki kecilmu sekarang juga!"

Di bawah tekanan psikologis yang luar biasa, mental seorang anak berusia delapan tahun langsung runtuh total. Lin Bao menggigil hebat, sekujur tubuhnya gemetar ketakutan di dalam cengkeraman tangan besi sang paman.

"Ibu... Kakak... hiks..." Lin Bao terisak tersengal-sengal, air mata dan ingusnya bercampur aduk di wajahnya. "Kakak bilang... Kakak mau pergi ke pasar... membawa hasil jamur dan tanaman dari hutan... hiks... untuk membayar utang Paman..."

Mendengar kata-kata "pasar" keluar dari mulut bocah kecil itu, cengkeraman tangan Lin Dehai di kerah baju Lin Bao sedikit mengendur, digantikan oleh seringai licik yang mengerikan di bibirnya.

"Pasar? Pasar Kecamatan Sungai Besi?" desis Lin Dehai memastikan.

Lin Bao mengangguk cepat sambil menangis ketakutan. "Iya... mereka pergi ke pasar pagi-pagi sekali..."

Mendengar pengakuan tersebut, tawa kecil yang sinis meledak dari bibir Lin Dehai. Ia melepaskan cengkeramannya begitu saja, hingga membuat Lin Bao jatuh terduduk ke tanah.

Bocah itu langsung diselamatkan oleh sang nenek renta yang segera merangkul dan mendekapnya erat-erat untuk menenangkan isak tangisnya.

"Bagus... bagus sekali!" geram Lin Dehai sambil menepuk-nepuk tangannya sendiri. "Berani-beraninya gadis sialan itu berkeliaran di pasar mencari uang, sementara utangnya menumpuk di hadapanku!"

Lin Dehai menoleh ke arah dua preman bayarannya dengan sorot mata penuh dendam.

"Kalian dengar itu? Mereka ada di Pasar Sungai Besi!" bentak Lin Dehai kepada anak buahnya. "Ayo, kita ke sana sekarang juga! Seret gadis itu dan ibunya ke hadapanku, dan bawa bocah ini ikut bersama kita sebagai sandera agar mereka tidak bisa lari lagi!"

Sebelum sang nenek sempat berteriak protes, salah satu preman berbadan tegap menyambar lengan Lin Bao secara paksa dan mengangkat tubuh kecil anak itu ke dalam gendongan kasarnya.

"Lepaskan aku! Lepas! Ibu! Kakak!" jerit Lin Bao menangis histeris, meronta-ronta di udara saat dibawa pergi secara paksa oleh kelompok penagih utang yang kejam tersebut di hadapan puluhan warga desa yang hanya menonton tanpa satupun yang berani menolong.

Di bawah teriknya matahari pagi yang semakin menyengat, Lin Dehai bersama dua preman bayarannya dan Lin Bao yang menangis ketakutan di dalam sekapan berjalan meninggalkan reruntuhan gubuk menuju jalur utama yang terhubung langsung dengan Pasar Kecamatan Sungai Besi.

Kemarahan Lin Dehai telah mencapai puncaknya. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan bagaimana ia akan mempermalukan Lin Wanru di tengah keramaian pasar, merampas seluruh uang hasil penjualan mereka, dan menyeret gadis itu secara paksa kepada calo rumah bordil untuk melunasi seluruh sisa utangnya dengan bunga berlipat ganda.

Kasihan sekali keluarga mereka, apa yang akan terjadi selanjutnya ya?

Nantikan kelanjutannya di next episode...

Bersambung...

1
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
Osie
laki modelan dehai nih kudu dibasmi sampai g bernapas lagi..benar benar sampah yg kudu ditanam
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!