Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 13
Tiga ribu anak tangga batu yang terpahat melintasi tebing terjal Pegunungan Canglan bukanlah sekadar jalan setapak biasa. Setiap pijakan batu purba yang ditutupi lumut tipis itu dilapisi oleh susunan formasi penekan energi, secara perlahan membebankan bobot tak kasat mata pada setiap langkah para pendakinya. Hawa dingin pegunungan yang berhembus kencang membawa aroma getah pinus dan kabut tipis, mengibarkan jubah para calon murid baru yang berjalan merambat ke puncak.
Di barisan tengah, Ruan Xi'er mulai menyeka bintik-bintik keringat tipis di pelipisnya. Walaupun fisik musangnya terbiasa dengan medan hutan, tekanan formasi di tangga ini membuat betis kecilnya terasa agak pegal. Namun, matanya tetap memancarkan binar rasa ingin tahu yang tak padam. Di samping kirinya, Gongsun Zhi melangkah dengan irama yang teramat konstan. Setiap ketukan ujung kain pembungkus tombak hitamnya di anak tangga menimbulkan suara gesekan berat yang mantap. Sementara itu, Shen Jue berjalan di sisi terluar tebing. Napasnya mengalir begitu halus dan teratur, seolah beban formasi gunung sama sekali tidak sanggup mengganggu ketenangan jiwanya.
"Sebentar lagi kita sampai," gumam Shen Jue pelan sambil mendongak menatap lintasan tangga yang mulai melandai di atas sana.
"Ugh, akhirnya!" desah Xi'er gembira sambil memutar pergelangan kakinya pelan. "Tangga ini benar-benar menyiksa!"
"Ini tes tersembunyi," pungkasi Gongsun Zhi dengan suara beratnya yang datar. "Mereka yang bernapas tidak teratur sudah tertinggal jauh di bawah."
Saat kabut tipis pegunungan tersibak oleh dorongan angin sore, puncak tangga akhirnya menyambut langkah mereka. Di hadapan ratusan calon murid yang berdiri terengah-engah, menjulang sebuah gerbang pualam raksasa setinggi tiga puluh meter yang menyangga plang batu bertuliskan ukiran emas menyala: Akademi Canglan.
Pilar-pilar pualam berwarna putih keperakan itu memancarkan pendar cahaya biru lembut. Di permukaannya yang mulus, ribuan garis aksara kuno berkedip halus secara berkala, mengendalikan pasang surut aliran energi spiritual yang menyelimuti seluruh kawasan pegunungan.
Shen Jue menghentikan langkahnya sejenak, menatap ukiran aksara kuno di pilar gerbang dengan pendar mata yang mendalam. Sebagai mantan master tempa dari kehidupan lalunya, ia langsung mengenali struktur rumit di balik gerbang tersebut.
"Formasi Pemisah Jiwa," batin Shen Jue sambil mengamati riak energi di udara. "Gerbang ini tidak dibuat hanya untuk estetika. Setiap orang yang melintasinya akan tersaring oleh energi formasi, mengukur ketebalan energi spiritual sekaligus memetakan niat jahat yang tersembunyi di dalam jiwa mereka."
Di balik gerbang raksasa tersebut, lanskap Akademi Canglan membentang bagai lanskap megah kota melayang yang membelah awan. Paviliun-paviliun beratap genteng hitam berdiri megah di atas tebing-tebing terpisah yang dihubungkan oleh jembatan batu gantung berukir. Di kejauhan, air terjun jernih meluncur deras dari puncak gunung es, membiaskan pelangi abadi di atas lapangan latihan utama tempat puluhan murid senior sedang berlatih tanding. Bau wewangian kayu cendana dan aroma energi murni menguar tebal di udara, membuat setiap orang yang menghirupnya merasa kesadarannya menjadi lebih segar.
"Luar biasa..." gumam Xi'er takjub dengan mata membulat lebar. "Tempat ini sepuluh kali lebih besar dan lebih indah dari seluruh Desa Ping-an!"
"Kepadatan energi spiritual di sini sangat luar biasa," tambah Gongsun Zhi sambil menghembuskan napas panjang. "Bernapas di sini saja terasa seperti mengalirkan jamu pemulih ke dalam pembuluh darah."
"Jangan terlalu terpesona oleh tampilannya," bisik Shen Jue pelan menutupi suara riuh anak-anak lain di sekitar mereka. "Kemegahan ini dibangun di atas tumpukan tulang dan persaingan yang dingin. Semakin tebal energi spiritual di suatu tempat, semakin jahat pula cara orang-orang di dalamnya berebut tempat."
Xi'er menoleh menatap Shen Jue, menelan ludah kasar saat menyadari keseriusan dalam nada bicara sahabatnya itu.
Ratusan murid baru kini berkumpul di pelataran batu seluas lima hektar di balik gerbang utama. Kelompok murid dari kota-kota besar seperti Lu Fan dan kawan-kawannya segera mengambil posisi paling depan di dekat tangga panggung. Mereka berdiri dengan dada terangkat busung, membanggakan jubah sutra mahal dan batu giok berukir klan mereka.
Namun, keriuhan dan decak kagum para murid baru mendadak terhenti ketika sekumpulan sosok berjubah putih bersulam benang keemasan melangkah turun dari paviliun utama. Mereka adalah para murid senior dan instruktur Akademi Canglan. Mereka berdiri di atas balkon batu yang melayang, menatap ke arah kerumunan murid baru di bawah dengan pandangan dingin, tak ubahnya seperti elang yang sedang mengawasi mangsa-mangsanya dari atas bukit.
Di tengah barisan balkon melayang tersebut, berdiri seorang pria tua berambut perak dengan jubah abu-abu bertabur lencana bintang. Pria itu adalah Tetua Song, salah satu pengawas disiplin dan penanggung jawab penerimaan murid baru. Tatapannya yang tajam bagai mata pisau menyapu seluruh pelataran tanpa terkecuali.
"Selamat datang di Akademi Canglan," seru Tetua Song. Suaranya tidak teriak, tetapi berkat dorongan energi spiritual yang amat pekat, setiap patah katanya menggema jernih dan berat di dalam benak semua orang, membuat dada beberapa murid berfisik lemah terasa bergetar sesak.
Seluruh pelataran seketika menjadi sunyi senyap. Tidak ada satu pun murid yang berani berbisik.
"Kalian yang berdiri di pelataran ini adalah anak-anak yang berhasil melewati tes awal di daerah masing-masing," lanjut Tetua Song tanpa sedikit pun senyuman di wajahnya yang keras. "Tapi ingat satu hal: berhasil melangkah melewati gerbang ini bukanlah sebuah pencapaian yang patut kalian banggakan secara berlebihan! Di tempat ini, asal-usul klan, harta kekayaan orang tua kalian, dan nama besar keluarga sama sekali tidak punya nilai!"
Lu Fan dan beberapa anak klan kaya dari Kota Wushan berwajah agak canggung mendengar teguran terbuka tersebut, walau mereka tetap mencoba memperlihatkan gaya angkuh.
"Dunia petarung di Benua Tianwu adalah dunia yang sangat kejam," tegas Tetua Song sambil menunjuk ke arah lapangan-lapangan latihan di bawah tebing. "Di akademi ini, semua sumber daya—mulai dari tempat tinggal yang nyaman, obat pemulihan meridian, hingga pustaka teknik bertarung tingkat tinggi—hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kekuatan dan kontribusi nyata. Yang kuat akan terus naik mendapatkan fasilitas terbaik, dan yang lemah akan menjadi pijakan batu bagi kemenangan orang lain!"
Atmosfer di pelataran mendadak berubah menjadi sangat berat dan menekan. Rasa kagum akan kemegahan akademi yang tadinya memenuhi dada para murid baru kini lenyap tersapu oleh kenyataan persaingan yang dingin dan mematikan.
Di sudut-sudut balkon atas, beberapa murid senior mulai bersiul kecil dan tertawa meremehkan.
"Lihat angkatan baru kali ini," celetuk seorang murid senior bertubuh tinggi dengan dua bilah pedang di punggungnya. "Banyak sekali bocah-bocah lusuh dari desa perbatasan. Membosankan sekali."
"Tenang saja," timpal senior di sebelahnya sambil tersenyum culas. "Sebentar lagi saat pembagian kamar dan ujian pertukaran tempat dimulai, kita bisa menyambut mereka dengan aturan akademi yang sesungguhnya."
Xi'er menggeser posisi berdirinya sedikit merapat ke samping Shen Jue. Tatapan-tatapan predator dari para senior di atas balkon membuat bulu kuduknya berdiri. "Shen Jue... tempat ini memang megah, tapi orang-orangnya kelihatan menakutkan sekali."
Shen Jue melirik Xi'er dari sudut matanya, menyunggingkan senyum tipis yang amat menenangkan. "Di mana pun tempat yang menjanjikan kekuatan besar, orang-orang di dalamnya pasti bertindak seperti binatang berburu. Tidak perlu risau, Xi'er. Selama kau tidak memperlihatkan keraguan di matamu, mereka tidak akan gampang menyentuhmu."
Gongsun Zhi menghentakkan pangkal tombak hitamnya ke lantai batu dengan pelan namun mantap. "Kalau ada yang mencoba bertindak curang, tombakku tidak akan segan menahan mereka."
Shen Jue menatap Gongsun Zhi, lalu terkekeh kecil secara halus. "Simpan tenagamu, Gongsun. Setelah ini kita masih harus melewati penentuan kamar. Dan melihat wajah para pengawas di atas sana, pembagian tempat tinggal hari ini pasti disengaja untuk memicu bentrokan pertama di antara kita."
Tetua Song di panggung melayang kembali mengangkat tangan kanannya, memotong gelombang ketegangan yang merayap di pelataran.
"Sekarang, ikuti instruktur barisan masing-masing menuju Kompleks Asrama Barat!" seru Tetua Song berwibawa. "Tunjukkan pada akademi ini apakah kalian pantas menjadi naga di atas tebing, atau kalian cuma cacing yang akan terinjak di dasar lembah!"
Rombongan ratusan murid baru mulai bergerak teratur mengikuti arahan para instruktur jubah biru. Shen Jue, Ruan Xi'er, dan Gongsun Zhi melangkah berdampingan dalam satu barisan ringkas. Di tengah kemegahan Akademi Canglan yang menyimpan ribuan intrik dan potensi bahaya, langkah awal tiga sahabat ini resmi dimulai.