NovelToon NovelToon
The Character!! Kembali Menjadi Figuran

The Character!! Kembali Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menjadi NPC
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: dopamine girl's

Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.

Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:

Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Sore hari selalu menjadi waktu paling ramai di sekolah. Begitu bel pulang berbunyi, semua siswa langsung bergegas mengemasi buku dan keluar dari kelas masing-masing. Suara langkah kaki, obrolan pendek, dan tawa yang tercecer memenuhi lorong untuk beberapa menit.

Vian ikut berjalan di antara kerumunan itu. Tasnya disampirkan di satu bahu, sementara matanya menyapu halaman sekolah yang sudah mulai dipenuhi warna jingga. Angin sore bertiup pelan, membawa suara riuh para siswa yang saling pamit sebelum akhirnya berpencar menuju arah rumah masing-masing.

Di dekat gerbang, suasananya sedikit lebih padat—beberapa anak menunggu jemputan, beberapa lainnya langsung menyeberang jalan. Vian hanya mengikuti arus. Dan di antara kerumunan itu. Dari jauh ia bisa melihat interaksi kecil ashilla dan Revano.

Ashilla terlihat tersenyum manis memamerkan gigi putihnya dengan Revano yang juga tersenyum lembut menatap ashilla dengan teduh. Tangan besarnya mengusap lembut rambut ashilla yang tergerai. Merapihkan beberapa anak rambut yang terjuntai di antara wajahnya.

Vian menatap dalam diam , tangan nya sedikit terkepal . dengan perasaan sesak yang membuncah di dadanya.

“Aku tau apa yang harus aku perbaiki sekarang” pelan nya. Lenggang sejenak. “Seharusnya karakter ashilla tak perlu ada di kehidupan Alvian Dharmawangsa “ lanjut nya lagi.

Vian melanjutkan langkahnya. Membelah kerumunan dan mulai mendekati ke dua orang yang tak pernah lepas dari panca indera nya.

Revano yang menyadari keberadaan Vian tersenyum . Mendekati Vian dan mengusap lembut rambut Vian seperti biasa. Sebelum menggenggam sala satu tangan Vian .”adek dari mana aja? Kata kak ass adek pergi entah kemana. Tanpa bilang sesuatu ke kakak” ucap Revano. Hampir seperti mengintrogasi Vian dengan tatapan yang sedikit tajam. “ Adek tau kan , jika Ade mau kemana-mana itu harus bilang dulu. Takut terjadi sesuatu” lanjut nya lagi.

Seakan tuli, Vian menghiraukan semua pembicaraan nya dengan kakak nya. Matanya tak lepas dari objek yang saat ini ia lihat dengan tatapan datar, ashilla. Mereka saling tatap dengan tatapan dinginnya masing-masing. Tak ada senyuman yang selalu menjadi sampulnya. Tak ada sapaan kecil yang selalu ia sematkan. Hanya ada keheningan yang saling menusuk satu sama lain.

“Iya lain kali Vian akan bilang dulu pada kak as” ucapnya sedikit di tekan saat nama ashilla. Ashilla bergeming. Ia mengibaskan rambutnya seolah tak peduli dan mulai menaiki mobil tumpangan mereka.

“Oke jangan ulangi lagi ya”

Mereka memasuki mobil yang akan membawa mereka pulang, lalu kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan halaman.

Sesampainya di mansion, mobil berhenti di pekarangan dan mulai memarkirkan nya di garasi dengan hati-hati. Ashilla keluar terlebih dahulu diikuti Revano dan Vian terakhir . Mereka berjalan berdampingan – dengan Revano di tengah. Dengan masing-masing tangan menggenggam tangan ke 2 adiknya.

Saat di pertengahan jalan. Langkah Revano terhenti. Melepaskan genggaman tangannya dari ke 2 anak di setiap sisinya.” Ya Tuhan!”

“Kenapa bang”ucap Vian . Melihat raut wajah Revano yg tidak tenang “ tidak apa-apa, Abang cuman melupakan sesuatu. Adek duluan aja , ganti baju dan kalau mau makan bilang ke BI Maya” ucapnya sebelum memutar balik– pergi meninggalkan Vian.

Vian menatap punggung Revano sampai menghilang, sebelum mengalihkan atensi nya pada ashilla yang sudah pergi mendahului nya” kak tunggu dulu!! Ada yang mau saya tanyakan “ serunya . Berlari menghampiri ashilla. Ashilla terdiam namun matanya fokus ke arah hp miliknya– seolah tak peduli keberadaan Vian.

“ Kakak kenapa kakak berperilaku seperti itu ?”  Ashilla terdiam. Menyimpan hp miliknya – bersedekap dada memandang Vian dengan pandangan bingung.” Berperilaku seperti apa?” Tanya nya balik.

“ Aku tau kakak kan yang menyebar rumor jelek tentang aku trus Kaka kan yang meminta sekelas menjauhi ku” tegasnya. Ashilla tak bereaksi apapun “ kenapa kamu berpikir seperti itu?” Ucapnya lagi. Dia menggenggam ke dua pundak Vian seraya berkata “ kita memang tidak dekat ,tapi jangan kamu fitnah aku tanpa bukti apapun” ucapnya sebelum pergi meninggalkan Vian sendirian.

Vian menatap sala satu pundak nya – ada sedikit denyutan karena cengkraman ashilla yang kuat.

“ Den Vian” ucap Bu Inah yang datang menghampirinya. Vian menatap bi Inah yang terlihat sedikit bingung “ kalian lagi marahan ya? Kenapa, terjadi sesuatu di sekolah ya ?” Ucapnya.

Vian menengok kecil , menggeleng sebelum pergi meninggalkan BI Inah tanpa sepatah katapun. Dari jauh BI Inah memperhatikan punggung kecil Vian yang telah menjauh. Begitu rapuh dan menyimpan luka, dan dia mengetahui itu.

“Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu “ doa nya ia panjatkan untuk Vian .

Waktu berlalu hingga malam tiba…

Malam itu, suasana di dalam ruangan begitu hening. Hanya suara serangga dari luar jendela yang sesekali menembus kesunyian.

Di tengah keheningan itu, Vian terbangun. Karena Tenggorokannya terasa kering.

Dengan langkah pelan ia tetap berjalan.menyusuri setiap ruangan dengan ragu. Matanya menelisik sekeliling ruangan dengan setitik rasa takut dan ragu.

Saat berjalan menuju dapur langkahnya melambat . Lorong menuju ke sana lebih gelap dari biasanya. Membuat nya meneguk saliva nya kasar. Namun walaupun takut Vian tetap melanjutkan jalannya.

Di perjalanan menuju dapur ,ia melewati sebuah lorong yang terdapat jendela besar yang langsung mengarah pada taman kecil. Di sana suasana sunyi dengan pencahayaan yang remang-remang dari lampu yang tergantung di atas dinding.

Namun Vian bisa melihat seseorang di kejauhan—seorang gadis yang sedang duduk bersandar di bangku taman. Mulutnya beberapa kali mengeluarkan senandung kecil, lembut dan pelan, seperti melodi yang

pernah ia dengar sebelumnya.Rambutnya tergerai panjang berwarna blonde dengan dress panjang berwarna putih bersih. Vian tau siapa gadis itu . Dengan kesadaran penuh dia berbelok  berjalan ke arah gadis itu tanpa ragu.

“Kak ass?” Seru nya, ia berdiri di samping tak jauh dari ashilla. Memperhatikan gadis itu dalam diam.

Ashilla membuka matanya menyadari saat ada seseorang berseru ke arah nya. Dia melirik asal suara dengan tatapan lelah . Menatap ke arah Vian dengan lekat . Terkesan kosong.

“Kenapa kak as duduk di luar sendiri?” Ucap Vian basa-basi. Ashilla mendengkus. Sebelum tersenyum kecil lebih mirip ejekan dari pada ramah.

“Kenapa kalau di luar? Masalah, ya, buat lo?”

Nada sinis itu menusuk. Sorot matanya berubah tajam, tak ramah.

“Jadi… ini wujud asli Kakak,” ucap Vian lirih.

Ashilla terdiam sejenak, lalu tertawa keras, tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Wujud asli? Wujud asli siapa maksud lo?”

Ia berdiri, berjalan mendekat sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

“Wujud apa yang lo maksud, hah?”

Vian menahan diri. Tangannya mengepal. “Kak… aku tau Kakak dalang di balik apa yang aku alami di sekolah. Kenapa Kakak ngelakuin itu?”

Ashilla berjalan mengelilinginya pelan. “Entahlah. Aku nggak ngerti apa yang kamu omongin.”

Ia kembali berdiri di depan Vian. Aura mengintimidasinya begitu kuat.

“Kalau kamu penasaran… pikirin sendiri. Kalau memang mampu.”

“Aku nggak ngerti kenapa Kakak jahat ke aku. Aku nggak pernah usik Kaka.”

Ashilla tersenyum. Senyum dingin. Ia mengelus rambut Vian pelan.

“Kamu yang gak mengerti Vian bukan aku”

“Dan kenapa aku seperti ini , itu juga karena mu. Keberadaan mu di sini adakah kesalahan “

Vian menepis tangan Ashilla dengan kasar. Sorot matanya berubah tajam, menahan emosi yang naik ke tenggorokan.

“Kenapa?” Ashilla mengangkat dagu sedikit, senyumnya sinis. “Kamu mau menyangkal? Itu kenyataannya, Vian.”

“Jangan berbicara buruk seperti itu pada Vian !” ucap Vian dengan tangan terkepal menahan amarah. “ Itu kenyataan Vian , aku hanya menyadarkan mu agar lebih sadar diri”

“Diam!!, seharusnya kamu yang tak ada . Keberadaan mu itu yang kesalahan bukan Vian. Dia gak tau apa-apa” ucapnya tanpa sadar sedikit teriak

“Kenapa nada bicaramu seolah kamu orang yang berbeda?” Vian terdiam . Meneguk saliva dengan tatapan yang masih tajam .

“Udah ya… aku mau tidur,” ucapnya sebelum berbalik pergi.

Vian menunduk sebentar, lalu berbisik, cukup pelan untuk dianggap rahasia, tapi cukup keras untuk membuat Ashilla mendengarnya.

“Padahal waktu pertama kali ketemu… aku merasa ada sesuatu yang familiar dari Kaka. Aku kira… kita bisa jadi saudara yang akur.”

Langkah Ashilla terhenti sepersekian detik.

“Familiar… aku?” gumamnya lirih, hampir seperti takut pada jawabannya sendiri.

Tapi ia tetap melangkah pergi.

Dan taman belakang kembali sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!