NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARK CHOCOLATE

Dark chocolate, Cokelat hitam memiliki rasa pahit yang khas, tetapi tetap menyimpan kelezatan didalamnya. Sama seperti cinta, tidak semua yang indah terasa manis dan tidak semua kepahitan berarti tidak ada kebahagiaan. Dark chocolate bisa diartikan sebagai cinta yang manis sekaligus menyakitkan, dengan dua orang yang menyimpan luka dan perasaan yang tidak mudah diungkapkan. Di balik pahitnya rasa, ada manis yang tak semua orang mampu temukan. Begitu pula cinta, terkadang ia menyakitkan sebelum akhirnya mengajarkan arti kehilangan. Cinta yang tulus kadang harus melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar sanggup melakukan itu.

Ada pernikahan yang dimulai dengan cinta. Ada pula yang dimulai dengan kesepakatan, lalu perlahan berubah menjadi perasaan yang hanya tumbuh di satu hati.

Elma Laurent tidak pernah membayangkan dirinya akan menikah dengan pria yang bahkan tidak berusaha mengenalnya. Karena permintaan orang tua, ia terpaksa menjalani pernikahan atas nama pengabdian seorang anak demi kehormatan keluarga. Suaminya adalah Maxime Sinclair. Putra sulung keluarga Sinclair, pewaris kerajaan bisnis yang dikenal dingin, berwibawa, dan tidak pernah membiarkan siapa pun membaca isi pikirannya. Pernikahan mereka bukanlah hasil dari kisah cinta. Kedua keluarga telah menyepakatinya demi kepentingan bisnis dan mempertahankan hubungan antarkeluarga.

Elma menolak pada awalnya. Ia ingin menikah dengan seseorang yang ia cintai dan juga mencintainya, bukan seseorang yang sekadar menerima dirinya karena keputusan orang tua. Namun, keadaan membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. Maxime pun tidak menunjukkan keberatan maupun kebahagiaan atas keputusan tersebut.

Ketika suatu hari sebelum pernikahan itu terjadi, mereka akhirnya duduk berhadapan untuk membicarakan pernikahan itu. Saat itu Maxime hanya berkata dengan nada datar tanpa ekspresi "Aku tidak akan memaksamu menjadi istri yang sempurna. Jalani hidupmu seperti biasa. Aku juga akan melakukan hal yang sama."

Elma menatap pria itu dengan perasaan campur aduk. "Lalu, untuk apa kita menikah jika kita akan hidup seperti dua orang asing?"

Maxime menatapnya sejenak "Karena tidak semua pernikahan membutuhkan cinta, Elma". Kalimat itu menjadi awal dari pernikahan mereka yang dingin.

Setelah menikah, Elma pindah ke kediaman keluarga Sinclair. Namun satu bulan kemudian, Maxime membawanya pindah kerumah yang telah ia siapkan untuk istrinya tersebut. Rumah itu begitu besar, terlihat indah, dan sangat mewah. Namun, bagi Elma, rumah tersebut terasa seperti tempat asing yang tidak memiliki kehangatan. Keduanya hanya tinggal bersama namun tidak hidup bersama.

Maxime memperlakukan Elma dengan sopan, tetapi menjaga jarak. Ia tidak pernah bersikap kasar tanpa alasan dan selalu menghormati Elma sebagai istrinya. Ia memenuhi semua kebutuhan rumah tangga termasuk kebutuhan istrinya. Maxime selalu memastikan Elma memiliki segala sesuatu yang diperlukan meski ia tahu istrinya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Dan yang lebih penting pria itu setia, ia tetap menjaga reputasi mereka sebagai pasangan suami istri di hadapan keluarga meskipun tanpa cinta di antara keduanya.

Namun, di antara mereka tidak ada percakapan hangat sebelum tidur, tidak ada pertanyaan sederhana tentang bagaimana hari Elma berlalu, dan tidak ada perhatian yang membuat Elma merasa dicintai. Mereka tidur di kamar yang sama hanya ketika keadaan menuntut mereka tampil sebagai pasangan di hadapan keluarga. Dalam kehidupan pribadi, Maxime lebih sering menghabiskan waktunya di ruang kerja atau kamar terpisah. Namun meskipun begitu ia tetap memberikan nafkah batin bagi istrinya tersebut.

Bagi Maxime, Elma adalah istrinya berdasarkan ikatan pernikahan. Jadi sudah sewajarnya jika mereka menghabiskan malam dengan bercin ta dengan penuh gairah. Bagi Elma, Maxime adalah pria asing yang kini menjadi bagian terbesar dalam hidupnya. Sehingga ia pun tidak menolak ketika sang suami ingin menyentuh tubuhnya karena dia berhak melakukan itu.

Waktu perlahan mengubah cara Elma memandang suaminya. Ia mulai melihat sisi Maxime yang tidak diketahui banyak orang.

Maxime selalu mengingat hal-hal kecil yang pernah disebutkan orang lain. Ia tidak suka keramaian setelah hari yang melelahkan. Ia jarang tersenyum, tetapi selalu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Suatu malam, Elma jatuh sakit setelah menghadiri acara keluarga.

Maxime memanggil dokter dan memastikan semua kebutuhan Elma tersedia. Ia bahkan menunda keberangkatannya ke sebuah pertemuan bisnis sampai kondisi Elma membaik.

Ketika Elma bertanya mengapa ia melakukan semua itu, Maxime hanya menjawab, "Kamu istriku. Sudah sewajarnya aku memastikan kamu baik-baik saja".

Bagi Maxime, itu hanyalah tanggung jawab.

Namun, bagi Elma, kalimat sederhana tersebut menetap lama dalam pikirannya. Ia mulai menunggu kepulangan Maxime setiap malam. Ia mulai memperhatikan suara langkah pria itu di lorong rumah. Ia mulai menghafal kebiasaan- kebiasaannya, bahkan hal-hal kecil yang tidak pernah disadari Maxime sendiri. Tanpa disadarinya, Elma telah jatuh cinta. Ia mencintai pria yang tidak pernah menjanjikan cinta kepadanya.

Setelah menyadari perasaannya, Elma mulai mencoba mendekat. Ia menyiapkan sarapan untuk Maxime. Ia sesekali menunggunya pulang untuk makan malam bersama. Ia mencoba mengajaknya berbicara tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan mereka. Dan anehnya Maxime menerima semua itu tanpa banyak komentar. Kadang-kadang ia mengucapkan terima kasih. Kadang-kadang ia bahkan tidak menyadari bahwa Elma telah menunggunya selama berjam-jam.

Ketika Elma bertanya apakah Maxime menyukai masakannya, pria itu menjawab singkat, "Lumayan".

Satu kata.

Ya, hanya satu kata yang membuat Elma tersenyum kecil sekaligus menyimpan kecewa. Ia tidak meminta Maxime langsung mencintainya. Ia hanya ingin mengetahui apakah keberadaannya memiliki arti bagi pria itu. Namun, Maxime tidak pernah memberikan jawaban yang bisa membuatnya merasa yakin.

Ada kalanya Maxime melakukan sesuatu yang membuat Elma kembali berharap. Ia pernah mengingatkan Elma untuk membawa mantel karena cuaca dingin. Ia pernah mengirimkan mobil untuk menjemputnya ketika hujan turun. Ia bahkan pernah menunggunya menyelesaikan acara bersama teman-temannya meskipun hari sudah larut. Hal-hal kecil itu membuat Elma bertanya-tanya. Mungkinkah Maxime sebenarnya memiliki perasaan yang sama, tetapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya?

Namun, setiap kali Elma mencoba membaca hatinya, Maxime kembali menjadi pria yang dingin dan sulit dijangkau. Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada kata rindu. Tidak ada kepastian. Elma akhirnya mulai menyadari bahwa perhatian tidak selalu berarti cinta. Dan kenyataan itu perlahan mengubah cara ia memandang pernikahannya.

Ketika Elma mulai memahami kehidupan Maxime, ia menemukan bahwa keluarga Sinclair menyimpan berbagai rahasia. Ayah Maxime memiliki harapan besar terhadap putra sulungnya. Setiap keputusan Maxime harus mempertimbangkan nama besar keluarga, termasuk pernikahannya dengan Elma. Sementara itu, Maxime tampak seperti seseorang yang telah lama terbiasa menekan keinginannya sendiri demi memenuhi tuntutan keluarganya.

Elma mulai memahami bahwa pria itu bukan sekadar dingin. Ada bagian dari hidupnya yang sengaja ia tutup rapat. Namun, memahami alasan di balik sikap Maxime tidak serta-merta menghilangkan kesedihan Elma. Ia bisa memahami mengapa Maxime sulit menunjukkan perasaan. Tetapi ia tetap membutuhkan cinta yang selama ini tidak pernah diterimanya.

Pada suatu malam, Elma akhirnya berbicara jujur kepada Maxime.

"Maxime, pernahkah kamu berpikir bahwa kita mungkin tidak seharusnya menikah?"

Maxime mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya. "Mengapa kamu bertanya seperti itu?"

Elma terdiam sesaat sebelum menjawab. "Karena aku mulai lelah menjadi satu-satunya orang yang mencoba membuat pernikahan ini terasa seperti sebuah hubungan."

Maxime tidak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki kalimat sederhana yang dapat mengakhiri percakapan mereka.

Elma berdiri dan meninggalkan ruangan. Sementara Maxime tetap duduk di tempatnya, menatap pintu yang perlahan tertutup. Ia belum menyadari bahwa Elma telah mencintainya begitu dalam. Ia juga belum memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di dekatnya mungkin suatu hari benar-benar berhenti menunggunya.

Dan ketika hari itu tiba, mungkin Maxime harus menghadapi satu pertanyaan yang selama ini tidak pernah ingin ia pikirkan:

Bagaimana jika ia baru menyadari arti Elma setelah perempuan itu tidak lagi berharap untuk dicintai olehnya?

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!