Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu makan malam
Kepulan asap rokok dari dua batang yang dihabiskan Julian berturut-turut kini telah menipis di udara kamar hotel. Sadar akan kecerobohannya yang sempat melampiaskan amarah tanpa memedulikan kondisi kesehatan sahabatnya, Julian bergerak cepat.
Ia masuk ke kamar mandi, berkumur-kumur hingga bersih, menenggak segelas susu putih hangat untuk menetralisir tenggorokannya, lalu mengemut semenit permen mint agar sisa aroma tembakau benar-benar hilang.
Setelah memastikan dirinya bersih dari bau rokok, Julian melangkah keluar menghampiri tempat tidur.
Elena duduk bersandar di kepala ranjang, menyambut kedatangan Julian dengan senyum sayu yang menyayat hati—pancaran sisa luka dan kepenatan yang masih membekas jelas di wajah cantiknya.
Julian menghela napas panjang, meredam seluruh sisa bara di dadanya. Ia duduk di tepi ranjang, lalu dengan sangat telaten mengelus rambut hitam lurus Elena.
"Maaf soal asap rokok tadi, El... aku lagi agak kalut," ujar Julian dengan suara rendah yang sarat penyesalan. Elena hanya mengangguk pelan, membiarkan jemari hangat Julian menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Mencoba mencairkan suasana dan mengalihkan topik yang berat, Julian meraih ponselnya dan membuka aplikasi room service hotel. "Kamu udah enakan, kan? Mau makan malam apa biar aku pesenin. Perutmu jangan dibiarkan kosong."
Elena menerima ponsel yang disodorkan Julian, melihat sekilas deretan menu yang tersedia. Tak butuh waktu lama bagi lidahnya yang masih sensitif untuk memilih.
"Aku mau salad sayur selada yang segar aja, sama... tenderloin steak yang matang," jawab Elena pelan.
"Oke, pilihan bagus," balas Julian. Ia segera mengetuk layar, memesan menu pilihan Elena ditambah beberapa porsi makanan berat untuk dirinya sendiri.
Begitu pesanan terkirim, Julian merentangkan kedua tangannya, lalu menarik tubuh mungil Elena yang berselimut ke dalam dekapannya.
Seketika, Elena sedikit memberontak, mencoba mendorong dada Julian pelan-pelan karena merasa bersalah dan canggung setelah pengakuannya tentang Nathaniel tadi. "Jules... jangan begini, kamu baru habis ngerokok..."
Namun, Julian sama sekali tidak bergeming. Ia semakin mempererat dekapannya, menyembunyikan wajah di ceruk leher Elena, lalu berbisik lembut tepat di samping telinganya.
"Diam sebentar, El... Semua baik-baik saja," bisik Julian penuh keyakinan, menyalurkan kehangatan yang membuat Elena akhirnya luluh dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pelindung sahabatnya itu.
Julian melepaskan dekapannya perlahan, lalu menangkup kedua pipi Elena dengan kedua tangannya. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata sahabatnya dengan tatapan yang menuntut kejujuran sekaligus menyuarakan frustrasi yang sudah di ujung tanduk.
"El... lihat aku," ucap Julian tegas, suaranya terdengar berat dan sarat emosi. "Aku jujur sama kamu. Aku benci saat dengar kamu bilang masih mengharapkan dia. Kenapa kamu harus menyiksa diri sendiri kayak gini?"
Elena mengerjap pelan, terkejut dengan nada bicara Julian yang begitu blak-blakan.
"Nggak adil, El. Buat apa kamu terus-terusan berkelahi dengan kenyataan setiap harinya, ngurung diri dalam luka yang dia buat?" Julian melanjutkan, nada suaranya kian meninggi, menyiratkan kebencian yang mendalam pada pria masa lalu itu.
"Sementara di luar sana... si bajingan itu justru enak-enakan hidup senang sama pacar barunya yang super jelek dan gemuk itu! Dia udah buang kamu, tapi kenapa kamu malah masih mikirin dia?"
Mendengar kalimat terakhir Julian, seketika alis Elena sedikit bertaut. Di balik rasa sedih dan sisa-sisa air matanya, sebuah gelitik tawa kecil tanpa sadar lolos begitu saja dari bibir Elena. Ucapan Julian yang blak-blakan—bahkan sempat-sempatnya menghina fisik pacar baru Nathaniel dengan sebutan super jelek dan gemuk terdengar begitu kekanak-kanakan sekaligus lucu di tengah situasi yang sedemikian tegang.
Elena menepis pelan tangan Julian di pipinya, lalu tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala.
"Kamu ini ya..." cibir Elena pelan, suaranya sedikit mencair. "Bisa-bisanya sempat ngatukkin fisik orang lain di saat kita lagi serius begini."
Julian mendengus pelan, menarik napas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, ikut tersenyum tipis meski sisa kekesalannya belum sepenuhnya surut. "Biarin. Memang kenyataannya begitu, kan? Dia nggak sebanding sama sekali sama kamu, tapi malah kamu tangisi."
Suasana kamar hotel yang tadinya sempat diliputi ketegangan mendadak melunak, menyisakan keheningan yang lebih hangat di antara mereka berdua, menunggu pesanan makan malam mereka diantar ke kamar.
Melihat riak kegelisahan di wajah pria di sampingnya, Elena tak tega membiarkan Julian terus tenggelam dalam amarahnya sendiri. Mengabaikan sisa rasa mual yang menempel di tubuhnya, Elena mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik mulai mengacak-acak rambut hitam pekat Julian dengan gemas.
"Aduh, Tuan Julian Sterling yang paling tampan... Mukanya jangan ditekuk terus gitu, ah. Nanti gantengnya luntur, lho," goda Elena dengan kekehan renyah, berusaha mencairkan ketegangan yang menggantung di udara.
Julian yang rambutnya diacak-acak sempat tertegun sejenak. Namun, senyum tipisnya yang khas perlahan terbit. "Biarin. Memang dasarnya udah ganteng dari lahir, mau ditekuk kayak gimana juga tetap aja memikat."
"Ih, percaya dirinya makin menjadi-jadi ya setelah dipuji!" Elena tertawa pelan, lalu mencoba menepis tangan Julian yang berusaha membalas mengacak rambutnya.
Tawa dan canda ringan di antara dua sahabat itu mengalir makin hangat, memicu aksi saling dorong dan gelitik kecil di atas kasur hotel yang empuk. Namun, pergerakan yang mulanya hanya gurauan lepas itu mendadak lepas kendali. Dalam satu gerakan memutar yang tak terencana, Elena kehilangan keseimbangan, membuat Julian refleks bergerak untuk menahannya agar tak terantuk kepala ranjang.
Srett.
Detik berikutnya, suasana kamar berbalik seratus delapan puluh derajat.
Canda tawa itu terhenti seketika. Tubuh tinggi dan atletis Julian kini berada tepat di atas tubuh Elena, terkunci dalam jarak yang teramat dekat. Kedua telapak tangan Julian menumpu di sisi kanan dan kiri kepala Elena, sementara napas mereka yang terengah-engah mengembun dan saling beradu di udara.
Sensasi canggung yang teramat sengat mendadak menyergap kabin dada keduanya.
Elena mematung. Manik matanya membesar, menatap lurus ke dalam mata cokelat Julian yang berkilat tajam di atasnya. Rasa hangat yang membakar langsung menjalar cepat ke seluruh permukaan kulit wajahnya. Bintik-bintik merah merona menyebar hebat di kedua pipi Elena, mempertegas betapa wanita itu kini telah terbawa suasana dan diliputi rasa malu yang membuncah.
Julian yang menyadari keputusasaan dan rona merah di wajah Elena sebenarnya merasa detak jantungnya berdegup tak karuan. Namun, menyalurkan wataknya yang sedikit tengil, Julian justru berpura-pura tenang. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, memamerkan senyum tipis yang amat cool seolah posisi intim ini adalah hal yang paling biasa di dunia.
"Kenapa, El? Wajahmu merah banget... Kena efek asam lambung atau karena ada cowok ganteng yang lagi menindih kamu sekarang?" bisik Julian dengan nada suara rendah dan tengil, mempermainkan jarak di antara bibir mereka.
ayo tor lanjutin update nya