NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Hirap (Hilang)

...بسم الله الرحمن الرحيم...

.... ...

.... ...

...Sandyakala "Aksa dan Amerta"...

...Karya: Ms_nyms...

***

Suara deru ombak menyapu bibir pantai nan indah, pasir putih yang lembab basah karna ombak kecil. Matahari berwarna oranye menyinari bibir pantai pasir putih nan lembut, di sore hari ini banyak wisatawan singgah hanya untuk menghabiskan weekend nya bersama keluarga dan orang terkasih.

Anak-anak yang berlarian di pinggir pantai, bermain layangan, bermain bola kaki atau sekedar bermain istana pasir bersama adik atau kakak. Para remaja yang berenang di sekitar tepi pantai, dengan senyum tawa riang mereka menghabiskan waktu di penghujung hari.

Suasana yang tampak teduh beberapa pohon kelapa berjejer rapih menambah keindahan tepi pantai nan eksotis, dibawahnya ada beberapa warga yang sedang berjualan menjajakan makanan/cemilan yang akan mereka tawarkan kepada para wisatawan lokal atau mancanegara.

Sussshhh.. (Suara angin pantai)

Seorang wanita dengan gamis hitam serta hijab yang terbalut rapih menutupi puncak mahkotanya berjalan dengan santai di tepi pantai. Sudut pantai yang cukup sunyi dari kerumunan, tempat yang tenang serta tempat tersembunyi bagi beberapa warga sekitar yang mengetahui tempat tersebut.

"KAKAK!! " suara anak kecil memanggil wanita bergamis hitam itu, berbalik badan melihat ke arah anak kecil yang memanggilnya.

Wanita itu tersenyum sembari menunggu anak kecil itu mendekat ke arahnya, ia berdiri menatap anak tersebut.

"Kakak, ayo bermain disana" menarik tangan wanita itu dengan tangan mungilnya, wanita itu hanya diam mengikuti langkah kecil anak tersebut. Bermain bersama teman-teman anak tersebut, berlari di pinggir pantai tanpa alas kaki.

Wajahnya penuh kebahagiaan, tidak terasa senja menutup hari telah hampir usai dan akan berubah menjadi malam dengan langit yang membiru yang dihiasi bintang malam. Ia terdiam sejenak menatap laut yang penuh cahaya senja, visus pun tak dapat berkata lagi tentang keindahan hari ini.

Sudah empat tahun berlalu, wanita yang dulu tidak berhijab dan mental yang berantakan sedang dalam masa memperbaiki diri berubah menjadi lebih baik. Wanita itu kini memakai hijab yang melindungi mahkotanya, pakaiannya juga lebih tertutup dan keadaan fisik serta jiwanya kini lebih baik. Ia meninggalkan semua yang berkaitan dengan dirinya dan memulai kembali dari nol, ia pergi bersembunyi dari hirup pikuk kota yang amat sibuk. Wanita itu adalah Mahika Avisa Zalana yang kini mempunyai rumah pribadi di pesisir pantai.

Rumah dengan desain minimalis dengan di dominasi warna putih dan abu-abu menjadi penanda bagi warga sekitar bahwa itu rumah dari seorang wanita bernama Mahika, rumah yang menghadap ke arah pantai dengan taman kecil di halaman depan rumah serta pagar putih yang tidak terlalu tinggi. Rumah yang menjadi markas tempat anak-anak bermain di halaman rumah nya, tempat dimana anak-anak hampir seharian menghabiskan waktunya. Bagi warga sekitar yang sudah mengenal Mahika sejak pertama kali datang dan mendengar cerita tentang Mahika, mereka akhirnya menganggap Mahika seperti anak mereka.

Mereka sangat menyayangi Mahika dan merawat Mahika hingga menjadi lebih baik, banyak wisatawan lokal terutama pria yang sempat terpana oleh kecantikan Mahika, namun para ayah angkat Mahika langsung memberikan peringatan untuk tidak mendekati putri mereka.

Para sesepuh dan para orang tua sangat senang pada Mahika yang membantu mereka mengajari anak-anak disekitar pesisir, membantu para orang tua dalam berjualan dan menjadi seorang yang berpengaruh dalam perkembangan wilayah yang terletak di pesisir pantai ini.

"Anak-anak..!! " panggil seorang ibu dari jauh. "Ayo waktu nya pulang.. "

"Iya!! " jawab mereka dari kejauhan.

Anak-anak mulai berlari menjauh dari bibir pantai, senja mulai menghilang dan berganti dengan dinginnya angin malam. Mahika hanya diam melihat anak-anak berlarian untuk membersihkan diri dirumah setelah bermain di tepi pantai, ia tersenyum sambil berjalan pelan untuk kembali ke rumahnya.

Seorang pria dari kejauhan memandangi wanita yang membuatnya tersenyum sejak tadi, melihat wanita itu bermain dengan anak-anak di bibir pantai serta bajunya yang basah karna air laut tidak melunturkan ceria wanita tersebut.

"Hari ini gamis hitam" gumamnya.

Tidak luntur senyuman dari lisannya yang semakin membentuk bulan sabit, pria itu pergi setelah melihat Mahika. Berjalan menuju parkiran mobil, ia berjalan sambil melewati rumah seorang wanita yang di pandanginya sejak tadi yaitu Mahika.

Rumah yang terlihat berbeda dari rumah warga sekitar, rumah yang lebih modern dengan desain minimalis.

"Nak.. " sapa seorang pria paruh baya yang menepuk pundak pria itu.

Pria paruh baya yang menjadi kepala desa di tepi pantai tempat dimana Mahika sekarang tinggal, pak Sukardi adalah salah satu orang tua yang menjaga Mahika selama empat tahun kebelakang ini. Seluruh ibu dan bapak yang tinggal di tepi pantai saling membantu dalam menjaga dan mengurus keperluan Mahika selama tinggal di wilayah mereka.

"Ah' Assalamu'alaikum pak" ucap pria itu langsung mencium punggung tangan pria paruh baya tersebut.

"Sudah lama tidak berkunjung, baru pulang dinas atau gimana? sudah lihat Mahika tadi ? "

"Baru pulang dinas singgah sekalian karna ngelewatin.. Sudah lihat pak, alhamdulillah saya sangat bersyukur atas bantuan bapak dan masyarakat sekitar yang telah membantu Mahika"

"Tidak nak, kami yang seharusnya berterima kasih kepada kamu dan para anggota yang kamu perintah untuk membantu kami selama ini. Berkat kalian, warga sekitar tidak ada yang kelaparan atau susah untuk berobat ke rumah sakit. Sekarang para warga sangat bersyukur adanya kalian dan Mahika disini "

"Alhamdulillah pak, tapi sampai sekarang Mahika belum tau kan rahasia tentang saya? "

"Belum nak, ayo kerumah bapak saja. Nanti Mahika melihat kita di depan rumahnya"

"Baik Pak"

Berjalan meninggalkan rumah Mahika, pria itu tampak tersenyum bahagia mendengar cerita tentang Mahika dari kepala desa.

Mahika telah sampai di depan rumah, ia segera masuk dan membersihkan dirinya. Selesai membersihkan dirinya ia duduk di ruang televisi dan membuka musafnya untuk melakukan murojaah nya. Seperti inilah kegiatan Mahika selama 4 tahun belakangan, ia mencoba menenangkan dirinya dengan mendekatkan dirinya pada sang pencipta dan menjauhi orang-orang yang mungkin akan menyakitinya.

Ia menghafal setiap ayat-ayat Al-Qur'an, melantunkan ayat suci dengan indahnya. Para tetangga sekitar tidak pernah keberatan apa yang dilakukan Mahika, meskipun ia murojaah sampai 3-4 jam pun para tetangga tidak mempermasalahkan hal tersebut karna lantunan suara indah Mahika yang terdengar oleh telinga mereka.

Usai melaksanakan sholat isya, Mahika keluar dari dalam rumah. Ia duduk di teras rumahnya, memandang ke arah langit biru gelap yang dihiasi oleh bintang-bintang yang menyinari malam ini.

Mahika kembali mengingat kejadian empat tahun lalu dimana ia diusir dari rumah, disingkirkan dan di hancurkan oleh keluarganya sendiri yang pada saat itu ia masih dalam tahap pemulihan setelah kecelakaan itu. Ia pergi hanya membawa barang-barang nya dan bermodal tabungan selama ini. Ia bersyukur bahwa ia sudah membeli rumah dan merenovasi rumah tersebut secara diam-diam waktu dulu tanpa diketahui siapapun, rumah dimana tempat ia akan tinggal selamanya disana.

Warga sekitar juga tampak terkejut atas kedatangan Mahika pertama kali ke desa mereka, selama ini mereka tidak mengetahui wajah dari pemilik rumah bagus di desa mereka. Para warga datang berbondong-bondong menyapa Mahika, dari kepala desa lah para warga akhirnya tahu bahwa dibalik sumbangan setiap bulan yang mereka kira dari pemerintah ternyata dari seorang Mahika. Mahika sangat berjasa pada masyarakat yang tinggal di tepi pantai dan sejak saat itu warga sekitar mulai menjaga dan menyayangi Mahika layaknya keluarga mereka sendiri.

Mahika memandangi dermaga yang masih terlihat dari rumahnya, kerlap-kerlip lampu terlihat dari arah dermaga. Anak-anak yang baru saja selesai mengaji dari mushola juga sudah pulang dan berlarian melewati rumah Mahika sembari menyapa dirinya yang tengah duduk di teras.

Mahika memejamkan matanya menikmati angin pantai pada malam hari, selalu membuatnya tenang. Tempat ternyaman yang ia miliki selama ini, ia memutuskan komunikasi dengan semua orang kecuali Dea. Dea selalu berkunjung ke rumahnya dikala libur kerja atau sekedar ingin kabur sebentar, Dea juga selalu bilang ia ingin tinggal bersama Mahika yang sudah di anggap nya seperti kakaknya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!