“Su Yang, apa sebenarnya hubunganmu dengan Tetua Lan?”
“Dia hanya pelangganku.”
“Pelanggan?!” Tang Hu membelalak. “Lalu sepuluh wanita cantik yang datang mencarimu itu?”
“Pelanggan juga.”
Dahulu, Su Yang hanyalah murid pelataran luar yang diremehkan. Namun, setelah jiwa seorang kultivator legendaris terbangun dalam tubuhnya, segalanya berubah.
Dengan teknik kultivasi yang tak tertandingi dan pesona yang sulit ditolak, ia membuat para wanita di Sekte Bunga Mendalam mulai memperebutkan perhatiannya.
“Su Yang! Kalau kau membutuhkan sesuatu, datanglah kepadaku!”
“Aku juga! Jangan lupakan aku!”
Su Yang hanya tersenyum.
“Tenang saja. Akan ada cukup banyak kesempatan bagi kalian untuk mengenalku.”
Di tengah rayuan, kecemburuan, dan rahasia masa lalunya, Su Yang kembali menapaki jalan menuju keabadian. Namun kali ini, perjalanan kultivasinya mungkin akan jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.
🙏🙏🙏❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangi Suci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Sepuluh Kecantikan di Depan Pintu
Keesokan paginya, Tetua Lan kembali mendatangi tempat tinggal Su Yang.
Tang Hu yang membukakan pintu langsung menegang.
Lagi? Apa yang sebenarnya dilakukan Su Yang sampai seorang tetua terus mencarinya?
“Su Yang ada?” tanya Tetua Lan.
“Ada, Tetua. Aku akan memanggilnya.”
“Tidak perlu. Aku bisa—”
Pintu kamar di belakang Tang Hu terbuka.
“Ah, Tetua Lan.” Su Yang tersenyum. “Waktu berlalu cepat sekali. Apa sudah tiba jadwal perawatan berikutnya?”
Wajah Tetua Lan seketika memerah.
Semua kalimat yang disusunnya sepanjang perjalanan mendadak menghilang. Ia hanya bisa menatap pemuda itu, teringat pada perawatan kemarin dan sikap dingin Su Yang setelah mereka bertengkar.
“Kau meninggalkan ini.”
Su Yang menyerahkan kertas resep.
Tetua Lan menerimanya dengan gerakan kaku.
“Mengapa kau masih mau membantuku?” tanyanya pelan. “Setelah semua perkataan kasarku kemarin?”
“Karena aku sudah berjanji.”
“Sesederhana itu?”
“Aku tidak suka mengingkari perkataanku.”
Tetua Lan memandangnya cukup lama.
Kemudian ia menghela napas. “Kalau begitu, aku juga akan memenuhi janjiku.”
Ia berbalik dan pergi.
Tang Hu menatap punggungnya, lalu menoleh kepada Su Yang.
“Hubungan kalian sebenarnya apa?”
“Dia pelangganku.”
“Pelanggan...?”
Tang Hu merasa semakin banyak bertanya hanya akan membuat kepalanya sakit.
Pagi itu, Su Yang kembali membuka layanan pijat.
Namun, tulisan pada papan kainnya telah berubah.
PIJAT SURGAWI — SEPULUH MENIT, SEPULUH POIN PRESTASI.
Para murid langsung mengejeknya.
“Sepuluh poin untuk pijat?”
“Dia sudah keterlaluan!”
“Bahkan gratis pun aku tidak mau!”
Su Yang mengabaikan mereka.
Sejak awal, layanan gratis hanyalah cara memperkenalkan kemampuannya. Sekarang ia membutuhkan penghasilan untuk membeli Bunga Yang Murni.
Hampir sepanjang hari tidak ada pelanggan.
Namun, menjelang sore, sepuluh wanita berjubah merah-putih memasuki tempat latihan.
Kehadiran mereka segera menarik perhatian.
“Itu murid-murid Aula Pengobatan!”
“Mengapa mereka datang bersama-sama?”
Wanita yang memimpin rombongan menghampiri Su Yang.
“Kau Su Yang?”
“Benar.”
“Guru kami menyarankan agar kami mencoba layananmu.”
Su Yang tersenyum. “Kalau begitu, kalian sudah mengetahui syaratnya?”
“Sepuluh menit setiap sesi, menceritakan pengalaman kepada sepuluh orang, dan baru boleh kembali sebulan kemudian.”
“Bagus. Ikuti aku.”
Para murid di sekitar mereka hanya mampu menatap ketika Su Yang membawa sepuluh wanita cantik meninggalkan tempat latihan.
Tang Hu hampir tersedak ketika melihat rombongan itu memasuki rumah.
“Su Yang! Siapa mereka?”
“Pelanggan.”
“Sepuluh orang sekaligus?!”
Su Yang tidak menjawab. Ia menyiapkan kamar, lalu memanggil pelanggan pertama.
Sementara menunggu, para wanita Aula Pengobatan mulai mengobrol dengan Tang Hu.
“Guru kami membuat taruhan,” kata salah seorang dari mereka. “Siapa pun yang bisa berjalan keluar setelah dipijat Su Yang tanpa kehilangan keseimbangan akan mendapat satu Pil Yin Mendalam.”
“Pil Yin Mendalam?!”
Tang Hu membelalak.
Pil itu bernilai tiga ribu Poin Prestasi di Paviliun Mutiara Putih.
“Siapa guru kalian?”
“Tetua Lan.”
Tang Hu terdiam.
Ia mulai merasa bahwa rumah ini akan menjadi tempat yang sangat merepotkan.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar terbuka.
Su Yang keluar seorang diri.
“Siapa berikutnya?”
“Di mana Kakak Seperguruan Xuan?”
“Dia masih beristirahat.”
Para wanita saling berpandangan.
Murid kedua, Yu Yan, masuk dengan ragu.
Di dalam kamar, ia menemukan Xuan Jinglin duduk di tepi ranjang dengan wajah merah dan napas belum sepenuhnya tenang.
“Kak Xuan, kau baik-baik saja?”
“Jangan khawatir. Aku hanya perlu istirahat sebentar.”
Xuan melirik Su Yang, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.
“Yu Yan, cobalah sendiri. Kau akan mengerti.”
Yu Yan berbaring dengan gugup.
Su Yang memulai pijatan pada titik-titik energi di punggungnya. Gerakannya lembut tetapi tepat, seolah ia mengetahui setiap bagian tubuh yang menyimpan ketegangan.
Yu Yan tersentak.
Rasa hangat menyebar melalui meridiannya, membuat tubuhnya perlahan kehilangan kekakuan. Ia berusaha menjaga ketenangan, tetapi sensasi itu jauh melampaui dugaannya.
Xuan, yang menyaksikan dari samping, akhirnya memahami mengapa wajahnya sendiri tadi begitu sulit dikendalikan.
Jadi seperti itulah aku terlihat....
Ia menutup wajah karena malu.
Ketika sesi Yu Yan selesai, keduanya membutuhkan waktu sebelum dapat berjalan keluar dengan tenang.
Wanita berikutnya, Shang, masuk dengan tekad kuat.
“Aku tidak percaya pijatan biasa bisa membuat kalian seperti ini.”
“Silakan buktikan sendiri,” jawab Su Yang.
Sepuluh menit kemudian, keyakinannya lenyap.
Satu demi satu murid Aula Pengobatan mencoba layanan Su Yang.
Mereka datang dengan sikap menantang, tetapi keluar dengan wajah memerah dan langkah yang belum sepenuhnya stabil. Kehangatan dari aliran energi yang diperbaiki Su Yang membuat tubuh mereka terasa jauh lebih ringan daripada sebelumnya.
Taruhan Tetua Lan kini terlihat mustahil dimenangkan.
Namun, anehnya, mereka tidak merasa terlalu kecewa.
“Lupakan pilnya,” bisik Xuan kepada rekan-rekannya. “Nikmati saja perawatannya.”
“Sebagus itu?”
“Lebih baik kau membuktikannya sendiri.”
Hanya satu wanita bernama Xiao yang akhirnya menolak.
“Aku sudah punya pasangan. Aku tidak nyaman menerima pijatan dari pria lain.”
Su Yang mengangguk.
“Aku tidak pernah memaksa pelanggan.”
Ia tidak membujuknya lagi.
Sikap itu justru membuat beberapa wanita lain memandangnya dengan kesan berbeda. Di tengah reputasinya yang buruk, Su Yang ternyata menghormati keputusan mereka.
Setelah seluruh sesi berakhir, Yu Yan menghampirinya.
“Su Yang, kalau suatu hari kau membutuhkan bantuan, datanglah kepadaku. Aku punya beberapa kenalan di Aula Pengobatan.”
“Namaku Xuan Jinglin,” sela Xuan. “Kau juga bisa mencariku.”
“Aku Jia Biyu!”
Para wanita mulai memperkenalkan diri dan menawarkan bantuan masing-masing.
Tang Hu hanya bisa berdiri terpaku.
Kemarin, hampir tidak ada wanita yang mau mendekati teman sekamarnya. Sekarang, murid-murid Aula Pengobatan justru berebut agar nama mereka diingat olehnya.
Sebelum pergi, Su Yang mengingatkan mereka tentang kesepakatan untuk menceritakan pengalaman kepada orang lain.
“Tentu saja!”
“Sepuluh orang? Aku akan memberi tahu semua temanku!”
Setelah rombongan itu menghilang, Tang Hu jatuh terduduk.
“Sejak kapan kau menjadi sepopuler ini?”
Su Yang tertawa kecil.
“Biasakan dirimu. Akan ada lebih banyak yang datang.”
Perkataan itu terbukti jauh lebih cepat daripada perkiraan Tang Hu.
Keesokan harinya, ketika Su Yang kembali ke tempat latihan, lebih dari tiga puluh wanita sudah menunggunya.
Mereka mendengar cerita dari murid-murid Aula Pengobatan.
Sebagian datang karena penasaran. Sebagian lain ingin membuktikan bahwa pujian terhadap Su Yang hanyalah omong kosong.
“Xuan bahkan berjanji memberiku dua ratus poin kalau layananmu mengecewakan,” kata salah seorang.
Su Yang tersenyum.
“Kalau ada satu saja di antara kalian yang tidak puas, aku akan mengakui kemampuanku tidak layak dipertahankan.”
Para wanita tertawa mendengar keyakinannya.
Namun, ketika mereka mulai mengikuti Su Yang menuju tempat tinggalnya, Tang Hu yang melihat dari jendela langsung pucat.
“Tiga puluh orang lagi?!”
Ia buru-buru memindahkan perabotan ke tepi ruangan dan menyiapkan kursi untuk para pelanggan.
Su Yang hampir tertawa ketika melihat perubahan itu.
Teman sekamarku ternyata cukup perhatian.
Ia berdiri di depan kamar, memandang para wanita yang sudah memenuhi ruang tamu.
“Baiklah. Siapa yang pertama?”
......................
Bersambung...
udah tahu wajahnya saja bisa membuat para lelaki iri hati malah dengan sengaja mengajak semua wanita di rumah makan untuk bergabung dengan dia🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semoga dalam beberapa hari dekat ini akan ada lebih banyak atensi dan juga apresiasi untuk semua karyamu👍👍👍
karena sebelum ini ada beberapa novel yang seperti dihapus karena mungkin terdapat adegan yang tergolong vulgar
Aku berharap ini akan terus berlanjut sampai ceritanya benar-benar tamat