NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:543.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Langkah kaki Reyhan terdengar pelan menapaki anak tangga menuju lantai dua Ndalem Utama. Suasana koridor atas terasa lengang, membiarkan derit halus kayu parket menyertai setiap pijakannya. Seusai mengisi kelas untuk para santri putra di aula selatan, energinya terasa terkuras habis. Namun bukannya melangkah menuju kamar pribadinya yang kini sunyi, tubuhnya seolah bergerak secara otomatis mengarahkan langkah ke pintu bercat putih di sudut lorong.

Kamar itu. Ruang yang selama satu tahun terakhir menjadi saksi bisu keheningan di antara dua manusia yang terikat status suami istri.

Dengan ketukan pelan yang tak terbalas, Reyhan memutar gagang pintu. Hawa sejuk dan aroma lavender lembut langsung menyergap indranya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan wewangian itu memenuhi rongga dadanya. Memang, atas permintaannya yang setengah memohon kepada Bu Nyai Khadijah beberapa minggu lalu, kamar ini tetap dirawat seperti biasa. Tidak ada satu pun barang yang boleh dipindahkan, tak ada santri piket yang diizinkan mengubah tata letaknya, dan diffuser aroma lavender favorit Naya selalu dipastikan menyala saban pagi dan petang.

Reyhan berjalan mendekat ke arah meja kayu tebal yang bersisian langsung dengan jendela kaca besar. Dari sudut ini, pemandangan pelataran tengah pesantren membentang hijau. Ia menarik kursi kayu berukir halus, lalu mendaratkan tubuhnya di sana. Di atas meja, sebuah kitab klasik tentang muamalah tergeletak rapi, berdampingan dengan buku catatan bergaris yang dulu sering digunakan Naya untuk menulis rangkuman materi kuliahnya.

Ia membuka sampul kitab tersebut, mencoba memusatkan pikiran pada baris-baris kaligrafi Arab gundul di hadapannya. Namun, fokus itu menguap begitu cepat. Setiap kali matanya menatap kekosongan di sudut meja, bayangan Naya mendadak hadir dengan begitu nyata.

Ia teringat bagaimana wanita itu biasa duduk di kursi ini pada sore hari seperti sekarang. Naya akan memiringkan kepalanya sedikit saat membaca tulisan ilmiah yang rumit, jemari lentiknya sesekali menyelipkan helai jilbab ke belakang bahu, dan bibir tipisnya akan mengukir senyum tipis setiap kali Reyhan meletakkan segelas teh hangat di dekat jemarinya.

Waktu itu, Reyhan menganggap ketenangan Naya sebagai hal yang biasa—sesuatu yang akan selalu ada tanpa perlu ia perjuangkan. Ia terlalu sibuk memelihara ego, merasa dijebak oleh perjodohan masa kecil yang membatasi kebebasannya sebagai putra tunggal Kyai besar. Ia mengira, dinginnya sikap yang ia tunjukkan adalah cara terbaik untuk membentengi diri.

Namun kini, saat sosok itu benar-benar mengemas seluruh pakaiannya, menyerahkan lembar gugatan cerai, dan terbang ribuan kilometer menyeberangi lautan menuju Dubai, ruang ini mendadak terasa begitu luas dan mengerikan.

Reyhan menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kamar yang sunyi. "Naya..." bisiknya lirih. Suaranya menghantam keheningan, mengalun tanpa pantulan.

Rasa penyesalan itu datang bukan lagi sebagai desakan emosi sesaat, melainkan sebagai rasa sakit yang menggerogoti secara konsisten. Ia baru menyadari betapa anggunnya keberadaan Naya. Wanita itu tak pernah menuntut, tak pernah menaikkan nada bicara saat diabaikan, dan selalu mencoba memahaminya lewat kacamata psikologi yang ia pelajari. Naya adalah permata murni yang ia biarkan tergeletak di sudut gelap, sementara ia sibuk mengejar ilusi kenyamanan dari pengakuan Rani—santriwati yang membual tentang kepasrahan demi mendapatkan perlindungan status.

**

Angin lembut musim gugur berembus tipis, membawa kesegaran yang meredakan gerah sisa musim panas. Di sepanjang koridor terbuka, dedaunan hijau dari pepohonan rindang bergoyang pelan, membiaskan pendar cahaya matahari ke atas jalan setapak.

Di sudut taman itu, Naya melangkah santai. Pelukan tangannya erat menyangga dua jilid buku tebal psikologi klinis. Penampilannya anggun dengan tunik bernuansa pastel dipadu dengan pasmina krem yang menjuntai rapi. Tak ada lagi raut sayu atau beban berat yang dulu mengimpit dadanya sewaktu masih berada di kompleks Pesantren Al-Anwar.

Ia mendongakkan kepala sejenak, membiarkan terpaan angin menerpa wajahnya. Senyum tipis terukir manis di bibirnya tanpa sadar.

Masa-masa kelam di Indonesia—dinginnya kamar pengantin yang hening, kebohongan berkedok spiritual, hingga pengkhianatan terselubung itu—telah ia lipat rapi dan ia simpan di ruang paling gelap dalam ingatannya.

Ia tidak lari karena kalah, melainkan melangkah pergi karena sadar akan harga dirinya. Dubai memberinya ruang untuk bernapas. Di sini, di tengah dinamika akademis yang menantang dan dikelilingi teman-teman baru yang saling menghargai, Naya menemukan kembali pijakan hidupnya.

"Sepertinya kamu sangat menikmati suasana di sini, ya?"

Sebuah suara berat beraksen ramah dan santun memecah keheningan di belakangnya.

Naya menghentikan langkah. Suara itu tidak asing di telinganya. Ia memutar tubuhnya perlahan, dan sepasang matanya menangkap sosok pria bertubuh tinggi tegap yang berdiri hanya beberapa meter darinya.

Zeyad berdiri elegan dalam balutan kemeja linen abu-abu gelap dengan lengan digulung rapi hingga siku. Struktur rahangnya yang tegas khas Timur Tengah tampak makin hangat berkat senyum tipis yang mengulas di bibirnya.

"Assalamu’alaikum, Mas Zeyad," sapa Naya tenang, mengangguk sopan tanpa kehilangan wibawanya.

"Wa'alaikumussalam, Naya," balas Zeyad. Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap Naya dengan ketulusan yang terjaga.

"Habis selesai kelas?"

"Iya, Mas. Baru saja keluar dari kuliah jam pertama," sahut Naya seraya merapikan letak buku di pelukannya. Dahi cantiknya sedikit terangkat. "Mas Zeyad sendiri... ada keperluan apa di kampus siang-siang begini?"

Zeyad tertawa kecil—suara tawa renyah yang rendah dan menyenangkan untuk didengar. "Saya baru saja dari gedung dekanat Fakultas Kedokteran. Kebetulan tadi ada diskusi sebentar dengan Profesor Vance terkait rencana pengembangan unit kesehatan jiwa di klinik kami. Cuma minta pandangan akademis dari beliau."

Naya mengangguk-angguk paham. "Oh, begitu. Bagus sekali kalau kliniknya mau memperluas layanan spesialisasi kejiwaan, Mas. Kebutuhan penanganan trauma mental di kota besar seperti ini memang makin tinggi."

"Itu sebabnya saya butuh masukan dari praktisi yang tepat," sambung Zeyad. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Naya dengan binar tertarik yang tertata. "Oya, kapan kira-kira kamu ada waktu luang untuk berkunjung ke klinik? Pintu klinik kami terbuka lebar kalau kamu mau sekadar melihat-lihat ekosistem pelayanannya."

"Insya Allah, Mas. Nanti kalau jadwal kuliah dan tugas praktikum sedang agak longgar, saya pasti sempatkan mampir," jawab Naya ramah.

Zeyad memegang dompet kulit di saku celananya sejenak, lalu mengeluarkan ponsel pintarnya. Dengan gestur yang sangat santun dan tidak terkesan mendesak, ia menatap Naya lurus.

"Kalau boleh... saya minta nomor ponselmu? Supaya nanti kalau kamu mau berkunjung, saya bisa pastikan jadwal saya kosong dan bisa menemani kamu berkeliling."

Naya sempat tertegun sepersekian detik. Namun, tidak ada alasan baginya untuk menolak. Zeyad mengajukan permintaan itu dengan sangat terukur, murni dalam bingkai profesionalisme dan kesopanan yang menghargai posisinya.

"Boleh, Mas," ucap Naya halus.

Zeyad mengulurkan ponselnya. Naya menerima perangkat itu, lalu jemari lentiknya menekan beberapa digit angka di layar sebelum menyerahkannya kembali.

"Ini, Mas. Sudah saya simpan."

Zeyad menerima ponsel itu kembali, melirik nama yang tertera di layar, lalu menatap Naya dengan binar penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Naya. Saya simpan nomornya ya."

"Sama-sama, Mas Zeyad. Kalau begitu, saya permisi dulu ke perpustakaan. Ada materi yang harus saya cari."

"Silakan, Naya. Selamat melanjutkan aktivitas."

Naya mengangguk pelan, lalu membalikkan badan dan kembali melangkah menyusuri jalan setapak taman. Derap langkahnya teratur, memancarkan ketenangan seorang wanita yang memegang penuh kendali atas hidupnya sendiri.

Di belakangnya, Zeyad berdiri bergeming. Pria itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, matanya terus mengawal pergerakan Naya hingga bayangan wanita itu menghilang di balik belokan gedung perpustakaan. Sebuah senyuman tipis—penuh kedalaman rasa yang sulit diartikan—tersungging di bibirnya. Ada kekaguman murni yang pelan-pelan berakar di dalam dada pria itu, sebuah rasa hormat pada keteguhan jiwa yang terpancar dari setiap gerak-gerik Naya.

***

1
irma hidayat
mantap rasa pahitnya yg terasa ya rayhan atas pilihan jalan yg kamu ambil dulu saat menghianati istrimu
yeni kusmiyati
ketemimu sama mantan
Rahma Inaya
nyata nya rey yg blm bisa move on dr naya sedngkan naya sdh jauh lbh lenggowo menerima perpishan dgn rey tnp beban dan perlahan ada yg jauh lbh baik yg bisa menggntikan posisi reyhan di hati naya yaitu zeyad
Rahma Inaya
gmn sih reyham ki dl malu punya istri terlalu sempurna katanya mau pnya istri yg bergantung padanya sdh di lepas naya malh menyseal sdh menyianyiakan naya .malh mengeluh dgn istri yg bergantung pada nya . sekrg naya terlepas dr nya bisa sukses dan menggapai cita2 nya yg sempat tertunda demi pengabdian dr seorang istri tp di blas dgn penghiantan
Ma Em
Reyhan merasa minder mungkin setelah bertemu dgn Naya wanita yg dulu Reyhan sia siakan sekarang makin bersinar , apalagi setelah Reyhan tau bahwa MB Aya aka menikah dgn Zeyad atau Emir pasti Reyhan makin bertambah penyesalan nya karena Rayhan sdh membuang permata yg sangat berharga demi memilih batu kerikil .
Ita Putri
dulu pas Naya masih jadi istrinya GK di gubris ,di cuekin sekarang Naya sdh pergi kamar bekas Naya aja jadi tempat suci yg tak boleh di nodai Rani
hadeeehh
falea sezi
muter doank gk sat set🤣
sunaryati jarum
Kejujuran merupakan landasan kuat dari sebuah hubungan yang serius.Sengguh romantis Zeyad.Tapi siapa mantan suaminya belum diketahui Zehad.i
evana gusani
baru mampir
dewi rofiqoh
Naya udah cerita masa lalunya, bahkan pertemuan nya dengan sang mantan. Jadi penasaran dengan masa lalu zeyad 🤔🤔
dyah EkaPratiwi
mas zeyad😍😍😍 sisain 1 kayak mas zeyad buat calon mantu
Luna
kamu sendiri juga GK mau jujur tentang masa lalu mu yad,,,, bau baunya nanti ada drama mantan nya zeyad datang ,,,diuji lagi deh hatinya Naya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
Sani Srimulyani
kayanya bentar lagi kondangan nih kita.....🤭
Sri Murtini
kapan zeyad mau cerita masa lalumu ke Naya shg saat lamaran tidak ada rahasia berdua👍👍👍
bibuk Hannan & Afnan
nyesel gak Gus nyesel pasti lah,
Mundri Astuti
kamu sendiri belum jujur zeyad
Agnezz
Yup fondasi yg kuat dalam pernikahan adalah keterbukaan dan kejujuran. Setelah Naya terbuka ttg masa lalunya kini giliranmu Zeyad. Jangan ada yg disembunyikan. Paling tidak kalian berawal dari titik yg sama. Yakni sama2 berusaha menjadikan pernikahan ini berhasil. Jangan seperti pernikahan Naya dan Rayhan dimasa lalu. Mereka menikah karena perjodohan, belum kenal satu sama lain. Ternyata mereka tiidak memulai dari titik yg sama. Hanya Naya saja yg berusaha. Rayhan tidak sepenuhnya menerima pernikahan perjodohan ini. Cenderung mengabaikan bahkan diam2 telah menikah siri dengan wanita lain.
Agnezz: dikira Naya gak akan berani minta cerai, karena selama ini menjadi istri yg diam dan menurut. Dulu Rayhan merasa diatas angin sebagai anak kyai yg berilmu tinggi dan tampan, mana ada wanita yg menolaknya, yg ada malah memujanya. Ternyata Naya ambil sikap tegas, tidak bisa dibujuk rayu oleh tangisan buaya. Good job Naya, kamu ambil langkah yg berani.
total 4 replies
Herman Lim
ne sih blom seberapa blom lagi u lihat tmn u jadi calon suami mantan istri mu u lebih bakal lebih nyesal lagi klo kamu tidak seujung kuku dari zeyad
Rini Maryani
lanjut ka yg bnyk up nya ya semangat
Agnezz
gimana sih kamu Rayhan, dulu Naya disia-siakan, dianggurin jadi istri, dianggap pajangan. Sekarang menyesal telah melepaskan, wanita cerdas yg karirnya cwmerlang. Tapi kalo Naya denganmu Rayhan, potensinya gak akan muncul. Dia cuma istri yg mengabdi suami. Sekarang ada seseorang yg mensupport kariernya yaitu calon suami. Naya bersama Rayhan bakal.tenggelam tetapi bersama Zeyad bakal cemerlang. Kamu bukan levelnya Rayhan, levelmu ya si Rani itu.
Agnezz: iya, kita tunggu saatnya tiba, Rayhan pasti kaget banget
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!