"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Langkah kaki Reyhan terdengar pelan menapaki anak tangga menuju lantai dua Ndalem Utama. Suasana koridor atas terasa lengang, membiarkan derit halus kayu parket menyertai setiap pijakannya. Seusai mengisi kelas untuk para santri putra di aula selatan, energinya terasa terkuras habis. Namun bukannya melangkah menuju kamar pribadinya yang kini sunyi, tubuhnya seolah bergerak secara otomatis mengarahkan langkah ke pintu bercat putih di sudut lorong.
Kamar itu. Ruang yang selama satu tahun terakhir menjadi saksi bisu keheningan di antara dua manusia yang terikat status suami istri.
Dengan ketukan pelan yang tak terbalas, Reyhan memutar gagang pintu. Hawa sejuk dan aroma lavender lembut langsung menyergap indranya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan wewangian itu memenuhi rongga dadanya. Memang, atas permintaannya yang setengah memohon kepada Bu Nyai Khadijah beberapa minggu lalu, kamar ini tetap dirawat seperti biasa. Tidak ada satu pun barang yang boleh dipindahkan, tak ada santri piket yang diizinkan mengubah tata letaknya, dan diffuser aroma lavender favorit Naya selalu dipastikan menyala saban pagi dan petang.
Reyhan berjalan mendekat ke arah meja kayu tebal yang bersisian langsung dengan jendela kaca besar. Dari sudut ini, pemandangan pelataran tengah pesantren membentang hijau. Ia menarik kursi kayu berukir halus, lalu mendaratkan tubuhnya di sana. Di atas meja, sebuah kitab klasik tentang muamalah tergeletak rapi, berdampingan dengan buku catatan bergaris yang dulu sering digunakan Naya untuk menulis rangkuman materi kuliahnya.
Ia membuka sampul kitab tersebut, mencoba memusatkan pikiran pada baris-baris kaligrafi Arab gundul di hadapannya. Namun, fokus itu menguap begitu cepat. Setiap kali matanya menatap kekosongan di sudut meja, bayangan Naya mendadak hadir dengan begitu nyata.
Ia teringat bagaimana wanita itu biasa duduk di kursi ini pada sore hari seperti sekarang. Naya akan memiringkan kepalanya sedikit saat membaca tulisan ilmiah yang rumit, jemari lentiknya sesekali menyelipkan helai jilbab ke belakang bahu, dan bibir tipisnya akan mengukir senyum tipis setiap kali Reyhan meletakkan segelas teh hangat di dekat jemarinya.
Waktu itu, Reyhan menganggap ketenangan Naya sebagai hal yang biasa—sesuatu yang akan selalu ada tanpa perlu ia perjuangkan. Ia terlalu sibuk memelihara ego, merasa dijebak oleh perjodohan masa kecil yang membatasi kebebasannya sebagai putra tunggal Kyai besar. Ia mengira, dinginnya sikap yang ia tunjukkan adalah cara terbaik untuk membentengi diri.
Namun kini, saat sosok itu benar-benar mengemas seluruh pakaiannya, menyerahkan lembar gugatan cerai, dan terbang ribuan kilometer menyeberangi lautan menuju Dubai, ruang ini mendadak terasa begitu luas dan mengerikan.
Reyhan menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kamar yang sunyi. "Naya..." bisiknya lirih. Suaranya menghantam keheningan, mengalun tanpa pantulan.
Rasa penyesalan itu datang bukan lagi sebagai desakan emosi sesaat, melainkan sebagai rasa sakit yang menggerogoti secara konsisten. Ia baru menyadari betapa anggunnya keberadaan Naya. Wanita itu tak pernah menuntut, tak pernah menaikkan nada bicara saat diabaikan, dan selalu mencoba memahaminya lewat kacamata psikologi yang ia pelajari. Naya adalah permata murni yang ia biarkan tergeletak di sudut gelap, sementara ia sibuk mengejar ilusi kenyamanan dari pengakuan Rani—santriwati yang membual tentang kepasrahan demi mendapatkan perlindungan status.
**
Angin lembut musim gugur berembus tipis, membawa kesegaran yang meredakan gerah sisa musim panas. Di sepanjang koridor terbuka, dedaunan hijau dari pepohonan rindang bergoyang pelan, membiaskan pendar cahaya matahari ke atas jalan setapak.
Di sudut taman itu, Naya melangkah santai. Pelukan tangannya erat menyangga dua jilid buku tebal psikologi klinis. Penampilannya anggun dengan tunik bernuansa pastel dipadu dengan pasmina krem yang menjuntai rapi. Tak ada lagi raut sayu atau beban berat yang dulu mengimpit dadanya sewaktu masih berada di kompleks Pesantren Al-Anwar.
Ia mendongakkan kepala sejenak, membiarkan terpaan angin menerpa wajahnya. Senyum tipis terukir manis di bibirnya tanpa sadar.
Masa-masa kelam di Indonesia—dinginnya kamar pengantin yang hening, kebohongan berkedok spiritual, hingga pengkhianatan terselubung itu—telah ia lipat rapi dan ia simpan di ruang paling gelap dalam ingatannya.
Ia tidak lari karena kalah, melainkan melangkah pergi karena sadar akan harga dirinya. Dubai memberinya ruang untuk bernapas. Di sini, di tengah dinamika akademis yang menantang dan dikelilingi teman-teman baru yang saling menghargai, Naya menemukan kembali pijakan hidupnya.
"Sepertinya kamu sangat menikmati suasana di sini, ya?"
Sebuah suara berat beraksen ramah dan santun memecah keheningan di belakangnya.
Naya menghentikan langkah. Suara itu tidak asing di telinganya. Ia memutar tubuhnya perlahan, dan sepasang matanya menangkap sosok pria bertubuh tinggi tegap yang berdiri hanya beberapa meter darinya.
Zeyad berdiri elegan dalam balutan kemeja linen abu-abu gelap dengan lengan digulung rapi hingga siku. Struktur rahangnya yang tegas khas Timur Tengah tampak makin hangat berkat senyum tipis yang mengulas di bibirnya.
"Assalamu’alaikum, Mas Zeyad," sapa Naya tenang, mengangguk sopan tanpa kehilangan wibawanya.
"Wa'alaikumussalam, Naya," balas Zeyad. Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap Naya dengan ketulusan yang terjaga.
"Habis selesai kelas?"
"Iya, Mas. Baru saja keluar dari kuliah jam pertama," sahut Naya seraya merapikan letak buku di pelukannya. Dahi cantiknya sedikit terangkat. "Mas Zeyad sendiri... ada keperluan apa di kampus siang-siang begini?"
Zeyad tertawa kecil—suara tawa renyah yang rendah dan menyenangkan untuk didengar. "Saya baru saja dari gedung dekanat Fakultas Kedokteran. Kebetulan tadi ada diskusi sebentar dengan Profesor Vance terkait rencana pengembangan unit kesehatan jiwa di klinik kami. Cuma minta pandangan akademis dari beliau."
Naya mengangguk-angguk paham. "Oh, begitu. Bagus sekali kalau kliniknya mau memperluas layanan spesialisasi kejiwaan, Mas. Kebutuhan penanganan trauma mental di kota besar seperti ini memang makin tinggi."
"Itu sebabnya saya butuh masukan dari praktisi yang tepat," sambung Zeyad. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Naya dengan binar tertarik yang tertata. "Oya, kapan kira-kira kamu ada waktu luang untuk berkunjung ke klinik? Pintu klinik kami terbuka lebar kalau kamu mau sekadar melihat-lihat ekosistem pelayanannya."
"Insya Allah, Mas. Nanti kalau jadwal kuliah dan tugas praktikum sedang agak longgar, saya pasti sempatkan mampir," jawab Naya ramah.
Zeyad memegang dompet kulit di saku celananya sejenak, lalu mengeluarkan ponsel pintarnya. Dengan gestur yang sangat santun dan tidak terkesan mendesak, ia menatap Naya lurus.
"Kalau boleh... saya minta nomor ponselmu? Supaya nanti kalau kamu mau berkunjung, saya bisa pastikan jadwal saya kosong dan bisa menemani kamu berkeliling."
Naya sempat tertegun sepersekian detik. Namun, tidak ada alasan baginya untuk menolak. Zeyad mengajukan permintaan itu dengan sangat terukur, murni dalam bingkai profesionalisme dan kesopanan yang menghargai posisinya.
"Boleh, Mas," ucap Naya halus.
Zeyad mengulurkan ponselnya. Naya menerima perangkat itu, lalu jemari lentiknya menekan beberapa digit angka di layar sebelum menyerahkannya kembali.
"Ini, Mas. Sudah saya simpan."
Zeyad menerima ponsel itu kembali, melirik nama yang tertera di layar, lalu menatap Naya dengan binar penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Naya. Saya simpan nomornya ya."
"Sama-sama, Mas Zeyad. Kalau begitu, saya permisi dulu ke perpustakaan. Ada materi yang harus saya cari."
"Silakan, Naya. Selamat melanjutkan aktivitas."
Naya mengangguk pelan, lalu membalikkan badan dan kembali melangkah menyusuri jalan setapak taman. Derap langkahnya teratur, memancarkan ketenangan seorang wanita yang memegang penuh kendali atas hidupnya sendiri.
Di belakangnya, Zeyad berdiri bergeming. Pria itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, matanya terus mengawal pergerakan Naya hingga bayangan wanita itu menghilang di balik belokan gedung perpustakaan. Sebuah senyuman tipis—penuh kedalaman rasa yang sulit diartikan—tersungging di bibirnya. Ada kekaguman murni yang pelan-pelan berakar di dalam dada pria itu, sebuah rasa hormat pada keteguhan jiwa yang terpancar dari setiap gerak-gerik Naya.
***
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄
tapi nusuk dari belakang
dengan penghianatan sama dengan nginjek"harga diri Bu nyai dan pa kiai