Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUKUMAN CAMBUK ROH
Tiang kayu hukuman di tengah lapangan Benteng Tembok Besi berdiri kokoh, terbuat dari batang kayu cemara hitam yang telah menghitam oleh serapan darah kering selama bertahun-tahun. Hawa dingin utara bertiup kencang, membawa serpihan es yang menempel pada permukaan kayu yang kasar.
Lin Yuan melangkah tenang mendekati tiang tersebut. Ia tidak dibelenggu oleh rantai besi. Tanpa sedikit pun rasa ragu, ia memunggungi lapangan, berdiri tegap membiarkan tubuh bagian atasnya yang bertelanjang dada terpapar angin beku.
Di belakangnya, seorang prajurit algojo bertubuh tinggi besar melangkah maju. Di dalam genggamannya, terikat seutas cambuk sepanjang lima jangkah yang terbuat dari jalinan urat monster tingkat tinggi. Cambuk itu bukan cambuk kulit biasa—itu adalah *Cambuk Roh*, senjata hukuman militer yang dialiri oleh susunan formasi energi spiritual khusus untuk menghancurkan jaringan meridian dan meremukkan tulang bagian dalam targetnya.
Su Jing berdiri di atas mimbar kayu, menyilangkan tangannya di balik mantel bulu rubah mewahnya. Senyum tipis yang sarat kejam dan keangkuhan terukir di bibirnya.
"Cambuk dia sampai dia belajar bagaimana cara menghormati atasan!" Seru Su Jing dengan suara nyaring memotong hembusan angin.
Algojo itu mengangguk kaku. Ia mengencangkan pegangannya, mengalirkan energi *qi* ke sepanjang bilah cambuk. Seketika, jalinan urat monster pada cambuk itu menyala terang, memancarkan pendaran cahaya merah kebiruan yang mengeluarkan suara gemercik energi yang sangat tajam.
Ratusan prajurit veteran di lapangan menahan napas. Mereka tahu betapa mematikannya Cambuk Roh tersebut. Seseorang yang menerima sepuluh cambukan biasanya akan menderita kelumpuhan meridian selama berbulan-bulan, dan tiga puluh cambukan sudah cukup untuk mematahkan tulang belakang prajurit biasa hingga tewas.
Ah Xiu menggenggam jubah kusam Lin Yuan rapat-rapat di dadanya. Jemarinya yang terbalut kain tipis gemetar halus, sepasang matanya yang gelap tak berkedip menatap punggung Lin Yuan yang penuh bekas luka lama.
"Lin Yuan..." Bisik Ah Xiu pelan, hampir tak terdengar di antara deru angin.
Lu Chen merapatkan gerahamnya, sementara Shi Tou mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, keduanya bersiap jika terjadi hal terburuk.
"Cambukan pertama!" Seru prajurit pengawas.
WHACK!
Cambuk Roh meluncur membelah udara dingin, menghantam lurus di sepanjang punggung telanjang Lin Yuan!
Suara benturan keras menggema di seluruh lapangan, diselingi oleh percikan api spiritual berwarna merah kebiruan yang meledak dari titik kontak. Udara di sekitar tiang hukuman seketika bergetar hebat akibat tekanan energi cambuk.
Namun, tidak ada jeritan kesakitan.
Lin Yuan tidak melenguh, tidak membungkuk, dan tidak menggeser kakinya satu milimeter pun. Punggungnya tetap berdiri tegak bagaikan karang batu yang dihantam ombak malam.
"Apa?!" Gumam Su Jing seraya memicingkan matanya kaget dari atas mimbar.
Di dalam tubuh Lin Yuan, sesuatu yang sangat tidak biasa sedang terjadi.
Saat energi spiritual cambuk yang amat liar dan destruktif itu menerobos masuk menembus kulit punggungnya, energi itu diniatkan untuk merobek serat daging dan meremukkan meridian. Namun, begitu lonjakan energi itu menyentuh lapisan otot Lin Yuan—yang baru saja menembus *Level Pembentukan Otot*—jaringan serat fisiknya yang sekeras baja fleksibel menahan hantaman fisik murni tersebut dengan sangat sempurna.
Lebih dari itu, lonjakan energi spiritual asing yang masuk ke punggungnya mendadak memicu reaksi hebat di dalam lautan jiwa Lin Yuan!
Di tengah lautan kesadarannya, Roh Kera Putih raksasa mendadak membukakan matanya yang berwarna emas murni. Roh purba itu menghembuskan napas hangat, dan pusaran *qi* perak di meridian Lin Yuan berputar liar bagaikan lubang hitam kecil.
ZRRRRRRT!
Seketika itu juga, aliran energi cambuk yang seharusnya merusak internal tubuh Lin Yuan justru diserap secara paksa oleh pusaran Kera Putih! Energi liar itu disaring, dihancurkan, dan diubah menjadi *nutrisi energi murni* yang langsung disiramkan kembali ke sepanjang meridian dan jaringan otot punggung Lin Yuan!
Lin Yuan merasakan sensasi panas yang amat menyegarkan merambat di sepanjang tulang belakangnya, memperkuat kerapatan serat ototnya yang baru bertransmutasi.
"Cambukan kedua!"
WHACK!
Pendaran api spiritual kembali meledak di punggung Lin Yuan. Namun sekali lagi, Lin Yuan berdiri kaku tanpa goncangan. Kulit punggungnya yang terpapar cambuk tidak bercucuran darah; sebaliknya, pendaran aura perak tipis berkilat halus di balik kulitnya, menyerap seluruh lecutan energi cambuk bagaikan tanah kering yang menyerap air hujan.
"Cambukan ketiga! Empat! Lima!"
WHACK! WHACK! WHACK!
Suara lecutan cambuk beruntun menggema tanpa jeda. Setiap kali bilah urat monster itu menghantam punggung Lin Yuan, ledakan percikan energi spiritual membumbung tinggi, namun Lin Yuan tetap berdiri tegak, membiarkan uap panas mendesis keluar dari pori-pori kulitnya.
Ratusan prajurit veteran di lapangan tengah terperangah dalam keheningan total. Wajah-wajah kasar mereka dipenuhi rasa kaget dan ketakjuban yang tak terlukiskan.
"Bocah itu... bagaimana mungkin dia tidak berdarah?!" Bisik seorang veteran dari Unit 7 dengan mata membelalak lebar. "I-itu Cambuk Roh! Energi cambuk itu seharusnya meremukkan meridiannya dalam tiga lecutan!"
"Dia bahkan tidak meringis sedikit pun!" Tumpuk veteran lain dengan suara gemetar oleh rasa hormat yang mendalam.
Lu Chen menatap punggung Lin Yuan dengan pandangan mematahi yang sangat tajam. Pemuda mantan bangsawan itu menyunggingkan senyum tipis usai menyadari apa yang sedang terjadi. "Luar biasa... tubuhnya yang baru menembus Pembentukan Otot sedang menjadikan energi cambuk itu sebagai batu tempa untuk memadatkan usahanya."
Ah Xiu menarik napas lega, emosi cemas di dadanya perlahan berganti menjadi kehangatan murni saat melihat Lin Yuan yang tetap berdiri tak tergoyahkan.
Di atas mimbar, wajah Su Jing berubah menjadi sangat pucat, berganti menjadi merah padam akibat rasa malu yang luar biasa. "Algojo bodoh! Kenapa kau menahan tenagamu?! Gunakan seluruh *qi* spiritualmu! Hancurkan dia!"
Algojo bertubuh besar itu menyapu keringat dingin di dahinya. Ia merasa sangat tertekan. Mengutuk dalam hati, algojo itu menggeram keras, mengalirkan seluruh cadangan *qi* di dalam dantiannya ke sepanjang Cambuk Roh hingga bilah cambuk itu menyala merah membara bagai besi tempa.
"Mati kau, Bocah!" Raung algojo seraya mengayunkan cambuknya dengan kekuatan penuh dari cambukan kelima belas hingga tiga puluh!
WHACK! WHACK! WHACK! BOOM!
Serangkaian hantaman brutal berturut-turut menghantam punggung Lin Yuan. Udara di sekitar tiang hukuman pecah oleh ledakan api spiritual. Asap hitam dan uap panas membumbung tinggi mengelilingi tubuh Lin Yuan, menyembunyikan posisinya dari pandangan kerumunan.
Namun, di dalam kepulan asap dan gejolak energi itu, Lin Yuan justru memejamkan matanya sambil menikmati aliran nutrisi energi yang luar biasa masif.
Setiap kali Cambuk Roh menghantamnya dengan tenaga penuh, Kera Putih di dalam jiwanya melahap energi tersebut tanpa sisa, mengalirkannya untuk menyempurnakan fondasi *Level Pembentukan Otot* Lin Yuan. Garis-garis meridian di sepanjang tulang belakangnya makin tebal, mengkristal rapat bagaikan jalinan rantai perak.
"Dua puluh delapan! Dua puluh sembilan! Tiga puluh!"
BOOM!
Cambukan terakhir menghantam dengan dentuman keras yang membuat algojo itu terdorong mundur dua langkah. Algojo itu terduduk terengah-engah di atas tanah es, napasnya memburu parah dan tangannya gemetar hebat karena kehabisan seluruh tenaga *qi* spiritualnya.
Kepulan asap dan uap panas di sekitar tiang hukuman perlahan-lahan tertiup oleh hembusan angin utara.
Keheningan yang amat membeku menguasai seluruh lapangan tengah Tembok Besi.
Di tengah-tengah lapangan, Lin Yuan tetap berdiri tegak di tempatnya semula. Punggungnya tidak hancur, tidak memar parah, dan tidak bercucuran darah. Kulit punggungnya hanya memancarkan rona merah hangat dengan garis-garis perak tipis yang perlahan masuk kembali ke dalam pori-pori kulitnya.
Lin Yuan membalikkan badannya perlahan.
Dengan gerakan yang sangat tenang, ia melangkah menjauhi tiang hukuman. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelemahan atau rasa sakit pada setiap pijakan kakinya. Matanya yang sekelam malam menyapu sekeliling lapangan, sebelum akhirnya tertahan lurus pada Su Jing yang berdiri mematung di atas mimbar.
Lin Yuan menerima jubah kusamnya dari tangan Ah Xiu. "Terima kasih, Ah Xiu."
Ah Xiu menatap Lin Yuan dari dekat, matanya memancarkan rasa hormat dan kehangatan murni yang tak tersembunyi lagi. "Kau benar-benar tidak apa-apa, Lin Yuan?"
"Aku belum pernah merasa sesegar ini," Jawab Lin Yuan dengan senyum membumi dan hangat.
Lin Yuan mengenakan jubahnya kembali, lalu melangkah dua jangkah ke depan, berdiri persis di hadapan mimbar utama di mana Su Jing berdiri dengan bibir gemetar kaku.
Lin Yuan menyilangkan tangannya di dada, menatap Su Jing dari bawah dengan ketenangan absolut seorang pemangsa.
"Tiga puluh cambukan roh telah selesai, Utusan Su," Ucap Lin Yuan, suaranya yang dalam dan membumi menggema jelas ke seluruh penjuru lapangan. "Sekarang, jika tidak ada titah lain... Unit Sembilan minta izin untuk kembali ke barak."