NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:995
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Dibalik Layar

​Pagi hari di markas klan Argantara tidak membawa kehangatan matahari. Cahaya redup menembus tirai kaca tebal di ruang kerja pribadi Devan, memantulkan bayangan dingin pada jajaran layar monitor yang menampilkan grafik kode, sinyal enkripsi, dan peta jaringan lalu lintas digital kota.

​Aria duduk di kursi kulit tebal di depan meja kerja Devan. Tangan wanitanya tidak lagi terikat manset. Di hadapannya tergeletak sebuah laptop dengan spesifikasi khusus tanpa logo pabrikan—perangkat militer yang sengaja disiapkan Devan untuk menguji pengakuan Aria semalam.

​Devan berdiri di belakang meja, bersandar dengan cangkir kopi hitam panas di tangannya. Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan jemari Aria dari balik uap tipis yang membumbung. Di sudut ruangan, dua pengawal berbadan tegap berdiri siaga dengan tangan terlipat di depan tubuh.

​"Kamu punya waktu sepuluh menit untuk membuktikan bahwa omonganmu semalam bukan gertakan kosong demi menyelamatkan nyawamu," ujar Devan dingin, suaranya tenang tanpa sedikit pun tekanan berlebih, namun memuat batas tegas. "Sistem keamanan server internal klan Argantara dilapisi enkripsi bertingkat dengan alur peretas otomatis. Kalau kamu memicu alarm tiga kali, pengawal di belakangmu akan memastikan kamu menghabiskan sisa minggunya di sel bawah tanah."

​Aria menyunggingkan senyum tipis—senyum kaku yang penuh percaya diri. Ia membetulkan posisi duduknya, mengusap lehernya yang sedikit pegal, lalu menatap barisan kode yang menari di layar monitor.

​"Sepuluh menit?" gumam Aria, suaranya terdengar meremehkan. "Sistem enkripsi model RSA-4096 ganda dengan protokol pertahanan pasif seperti ini cuma butuh waktu empat menit untuk kubongkar. Kamu terlalu meninggikan tim IT-mu, Devan."

​Tanpa menunggu balasan Devan, jemari lentik Aria mulai menari di atas papan ketik. Suara ketukan tombol keyboard berirama cepat mengisi keheningan ruangan. TAK-TAK-TAK-TAK.

​Dalam hitungan detik, barisan kode hijau mulai melintas di layar hitam dengan kecepatan luar biasa. Aria tidak menggunakan peranti lunak peretas standar. Ia mengetikkan algoritma racikannya sendiri secara langsung, meretas celah kecil pada lalu lintas data sekunder yang sengaja diabaikan oleh para perancang sistem Argantara.

​Devan menurunkan cangkir kopinya perlahan. Iris matanya yang gelap memindai layar monitor di depan Aria. Sebagai pemimpin organisasi besar, Devan bukan orang awam dalam dunia teknologi; ia tahu betul betapa rumitnya struktur pertahanan siber yang dibangun oleh tim ahli berbiaya triliunan miliknya. Namun di tangan Aria, pertahanan rapat itu tampak seperti barisan kertas tipis yang siap robek.

​"Mulai menembus lapisan pertama..." bisik Aria pelan, matanya berfokus penuh pada pantulan layar. "Tim keamananmu memasang jebakan honeypot di port 8080. Cukup amatir."

​Jemari Aria bergerak makin lincah. Ia mengecoh sistem pertahanan otomatis dengan menyuntikkan perintah palsu, membuat server Argantara mengira serangan berasal dari dalam IP internal mereka sendiri.

​BEEP.

​Indikator di sudut kanan layar berubah dari warna merah menjadi kuning terang. Lapisan pertahanan utama jebol hanya dalam waktu sembilan puluh detik.

​Dua pengawal di sudut ruangan saling pandang dengan raut kaget yang tak bisa disembunyikan. Namun Devan tetap berdiri bergeming, meski sorot matanya kini makin tajam mendalami setiap pergerakan refleks jari wanita di depannya.

​"Lapisan kedua..." lanjut Aria. Dahinya sedikit berkerut saat menemukan barikade data yang lebih padat. "Ah, firewall dinamis berbasis alur logika tertutup. Ini agak menarik."

​Aria berhenti mengetik selama lima detik. Otaknya bekerja kilat menganalisis pola matematika penyusunan kata sandi dinamis tersebut. Bukannya mencoba membongkar kata sandi secara paksa yang akan memicu alarm, Aria justru memanipulasi frekuensi waktu server, memaksa sistem melakukan reboot mikro selama 0,2 detik—jeda waktu yang cukup bagi Aria untuk menyusupkan skrip perintah utamanya.

​CLICK.

​Lampu indikator di layar mendadak berubah hijau total.

​Seluruh struktur folder rahasia klan Argantara—mulai dari catatan logistik, jalur distribusi, hingga rekaman transaksi keuangan—terpampang terbuka di hadapan Aria tanpa ada satu pun sirine bahaya yang berbunyi.

​Aria menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Devan dengan tatapan penuh kemenangan.

​"Tiga menit empat belas detik," kata Aria santai sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. "Sistem keamananku di rumah jauh lebih rumit dari ini. Mau aku tunjukkan cara membobol rekening bank penampunganmu sekalian?"

​Devan melangkah mendekat. Ia menundukkan badannya, menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kursi tempat Aria duduk, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat dekat. Aura intimidasi Devan kembali merebak, namun kali ini bercampur dengan rasa kagum yang samar.

​Devan menatap layar monitor yang menampilkan data paling sensitif organisasinya, lalu mengalihkan pandangannya rapat-rapat ke iris mata Aria.

​"Kemampuan membobol sistem tanpa memicu sinyal sekunder..." gumam Devan berat, suaranya bergetar halus di dekat telinga Aria. "Di dunia bawah, hanya ada tiga orang yang tercatat mampu melakukan hal ini. Dan dua di antaranya sudah mati dua tahun lalu."

​"Berarti aku satu-satunya yang tersisa," balas Aria tanpa rasa gentar sedikit pun meski napas hangat Devan menepuk pipinya.

​"Kamu bukan sekadar pencuri amatir yang mengincar perhiasan," pungkasi Devan. Tatapan matanya berkilat tajam, seolah sedang menilai harga sebuah senjata paling mematikan yang baru saja ia temukan. "Kemampuan meretasmu berada di tingkat teratas. Kamu bisa melumpuhkan setengah jaringan bisnis musuhku hanya dari balik meja ini."

​"Aku tidak bekerja untukmu, Devan," tegaskan Aria dengan nada dingin, mencoba menegakkan kepalanya agar tidak terintimidasi oleh posisi mereka yang terlalu dekat. "Aku membuktikannya cuma buat menunjukkan kalau aku punya nilai tawar. Aku bukan tawanan yang bisa kamu kekang sesukamu."

​Devan terkekeh pelan—sebuah suara rendah dari dalam dadanya yang membuat jantung Aria berdesir aneh. Pria itu perlahan menegakkan tubuhnya kembali, merapikan lengan kemeja hitamnya yang tergulung sedikit.

​"Justru karena keahlianmu ini, Aria... aku tidak akan pernah melepaskanmu," ujar Devan dengan kepastian mutlak. "Seseorang dengan kemampuan sepertimu terlalu berbahaya jika dibiarkan berkeliaran bebas di luar sana, apalagi kalau sampai klan Vane atau musuhku yang lain menemukanmu lebih dulu."

​Aria mengepalkan jemarinya kuat-kuat. "Kamu memanfaatkanku."

​"Aku menawarkan aliansi," ralat Devan tajam. Ia berjalan menuju mejanya, menyambar sebuah dokumen tebal berlogo khusus dan melemparkannya ke hadapan Aria. "Target utama Argantara berikutnya bukan sekadar kalung berlian atau perhiasan lelang. Musuhku menyimpan Black Ledger—buku kas rahasia dan data pemerasan milik seluruh klan mafia—di dalam brankas pusat Kasino Royale Vane. Brankas itu dilindungi sistem keamanan siber militer tingkat tertinggi."

​Aria melirik dokumen di hadapannya dengan alis terangkat.

​"Bantu aku membobol sistem kasino itu, dapatkan Black Ledger, dan bantu aku menemukan pengkhianat di klanku," lanjut Devan, menatap Aria dengan pandangan yang mengunci. "Sebagai gantinya, aku akan menjamin keselamatanmu dari incaran klan Vane, memberimu identitas baru yang bersih, dan pembagian sepuluh persen dari seluruh aset yang berhasil dileburkan."

​Aria terdiam sejenak. Ia menganalisis tawaran itu dalam kepalanya. Terjebak di bawah pengawasan Devan adalah hal yang membagongkan, namun berhadapan dengan seluruh klan mafia di luar sana tanpa perlindungan adalah bunuh diri. Devan adalah pria berbahaya, tetapi pria ini memegang kendali dan selalu menepati kata-katanya.

​"Dua puluh persen," tawar Aria tegas, membalas tatapan tajam Devan. "Dan aku minta akses penuh ke perangkat keras yang kuperlukan tanpa ada mata-mata di balik punggungku."

​Devan menatap Aria selama beberapa detik yang menegangkan sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat intrik.

​"Lima belas persen. Dan pengawasan tetap berlaku," putus Devan tanpa bisa diganggu gugat. Pria itu mengulurkan tangan tegapnya ke arah Aria. "Selamat bergabung dalam permainan, Little Bird."

​Aria menatap tangan Devan yang terulur di hadapannya. Ia tahu, menjabat tangan pria ini berarti mengikatkan dirinya pada bahaya yang jauh lebih besar. Namun dengan senyum berani yang terukir di wajah cantiknya, Aria mengulurkan tangannya dan membalas genggaman Devan yang dingin dan kokoh.

​Kesepakatan dengan iblis dunia bawah resmi terjalin.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!