Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33 Ratu mafia istri dokter dingin
Suasana di tengah ballroom mendadak terasa makin intens saat alunan musik dansa romantis memenuhi udara.
Putri Adisti, yang baru saja menghampiri dan merangkul lengan Mike dengan senyuman manja, mendadak membeku di tempatnya.
Matanya membelalak lebar, menatap tak percaya ke arah Mike dan Sindi yang berdiri sangat dekat.
"Mike... Kamu di sini? Ayo kita ke lantai dansa..." panggil Putri dengan nada manja yang sengaja dilembutkan, berharap Mike akan mengabaikan Sindi seperti biasa.
Namun, di luar dugaan siapa pun—terutama Putri—Mike sama sekali tidak menggubris kehadiran wanita itu.
Pria tersebut seolah tuli terhadap suara Putri. Tanpa ragu sedikit pun, tangan Mike yang tadi mencekal pergelangan tangan Sindi langsung bergeser, meraih pinggang ramping istrinya, lalu menarik Sindi masuk ke tengah kerumunan orang yang sedang berdansa di lantai utama.
Sindi sempat terkejut kecil saat tubuhnya ditarik secara tiba-tiba oleh suaminya. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sepersekian detik sebelum bibir merahnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang penuh kemenangan.
Ia melirik sekilas ke arah Putri yang kini berdiri mematung di pinggir lapangan dansa dengan wajah pucat pasi dan tangan terkepal kuat menahan amarah serta rasa malu yang teramat sangat.
Saat tubuh mereka bergerak mengikuti irama musik, Sindi mendekatkan wajahnya ke telinga Mike. Ia berbisik dengan nada suara mengejek yang sengaja dibuat lembut namun menusuk.
"Mas... kok nggak dansa sama Putri?" bisik Sindi tepat di telinga suaminya, embusan napasnya menggelitik kulit leher Mike.
"Kasian tahu... Mas abaikan begitu saja di depan banyak orang. Nanti kekasih kesayanganmu itu nangis histeris lho."
Mendengar sindiran telak itu, rahang Mike mengeras. Pria itu tidak memberikan balasan sepatah kata pun untuk membela diri.
Alih-alih melonggarkan pelukannya, Mike justru semakin mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Sindi, menarik tubuh wanita itu lebih rapat menempel padanya seolah tidak ingin membiarkan siapa pun di ruangan itu menatap istrinya terlalu lama.
"Diamlah, Sindi," desis Mike berat dengan suara tertahan, menatap tajam manik mata istrinya dari jarak yang sangat dekat. "Fokus saja berdansa."
Sindi mendengus pelan, menikmati ekspresi salah tingkah bercampur gengsi yang dipamerkan oleh suaminya. Permainan kecil ini mulai berjalan persis seperti apa yang ia inginkan.
Namun, momen dansa intim itu tidak berlangsung lama.
Saat musik bergeser ke nada yang lebih dinamis dan pasangan-pasangan di lantai dansa mulai berputar dalam formasi gerakan, tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram bahu Sindi dari arah samping dan menarik tubuhnya keluar dari pelukan Mike.
"Maaf, Dokter Mike. Sepertinya giliran saya untuk berdansa dengan Nona Sindi," ucap seorang pria berpostur tegap dengan senyuman lebar.
Pria itu adalah Darwin, pengusaha batubara terkenal yang sejak tadi terus-menerus mencoba mendekati Sindi.
Melihat Sindi disentuh dan ditarik secara paksa oleh pria lain di depan matanya sendiri, darah Mike mendadak mendidih sampai ke ubun-ubun.
Rasa cemburu yang sejak tadi ia tahan kini meledak menjadi amarah yang luar biasa.
Tanpa berpikir panjang, Mike melangkah cepat, menyambar pergelangan tangan Sindi dari genggaman Darwin, lalu menarik wanita itu kembali ke dalam pelukannya dengan gerakan yang cukup kasar dan penuh penguasaan.
"Maaf, Tuan Darwin! Istri saya tidak berdansa dengan orang lain malam ini!" sergah Mike dengan nada suara meninggi, menatap tajam penuh permusuhan pada sang pengusaha batubara.
Darwin terperanjat kaget melihat reaksi agresif dari Dokter Mike yang terkenal tenang itu. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara sambil tersenyum kikuk.
"Ah... Baiklah, baiklah. Tenang saja, Dokter. Jangan emosi begitu," ucap Darwin sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi menjauh.
Sindi menatap Mike dengan sebelah alis terangkat tinggi. Ia tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu merdu namun menyindir harga diri Mike.
"Wah... Hebat sekali pelindungku malam ini," puji Sindi sinis.
"Kamu kenapa, Mas? Marah-marah begitu, seperti anak kecil yang mainan kesayangannya mau direbut orang lain."
"Diam, Sindi," ulang Mike dengan napas memburu, enggan mengakui rasa cemburunya yang makin tak terkendali.
Sementara itu, di tepi lantai dansa, Putri Adisti menyaksikan seluruh drama tersebut dengan dada yang sesak dan napas memburu.
Ia merasa benar-benar tersisihkan, dipermalukan, dan tidak dianggap sama sekali di tengah pesta kaum elit tersebut.
Harga dirinya hancur berkeping-keping melihat pria yang dicintainya mati-matian justru meremukkan hatinya demi berdansa mesra dengan istri sahnya sendiri.
Begitu lagu dansa berakhir dan alunan musik kembali melambat, Sindi melepaskan diri dari pelukan Mike dengan anggun.
"Sudah cukup dramanya, Mas. Kakiku mulai lelah," ucap Sindi dingin, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Mike seorang diri di tengah aula untuk menuju ke arah meja lounge.
Sebelum Mike sempat mengejar langkah Sindi, sebuah tangan dengan kasar mencengkeram lengan jasnya.
Mike menoleh, mendapati Putri berdiri di sampingnya dengan mata merah berkaca-kaca, napasnya memburu menahan emosi yang meluap-luap.
"Mike! Ikut aku sekarang!" geram Putri dengan suara bergetar, menarik lengan Mike secara paksa menjauh dari kerumunan tamu menuju ke sebuah sudut ruangan yang agak sepi di balik pilar besar dekat pintu darurat.
Begitu tiba di sudut yang tersembunyi dari pandangan orang banyak, Putri langsung melepaskan cengkeramannya. Air mata kekesalannya akhirnya tumpah membasahi pipinya.
"Kamu ini kenapa sih, Mike?!" bentak Putri tertahan, meluapkan seluruh kekesalannya.
"Kenapa dari tadi kamu terus-terusan mengabaikan aku di depan umum?! Kenapa kamu malah milih meluk-meluk dan berdansa sama Sindi wanita sombong itu?!"
Mike berdiri kaku, menatap Putri dengan pandangan lelah. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari kekasihnya itu.
Pikirannya sendiri sedang kacau balau akibat gejolak perasaan aneh yang baru saja ia rasakan pada Sindi.
"Jawab aku, Mike!" tuntut Putri makin histeris, mencengkeram kerah jas Mike.
"Kamu janji mau lindungi aku! Kamu janji bakal bikin aku bahagia! Sekarang juga... aku minta sama kamu... ceraikan Sindi! Ceraikan wanita itu malam ini juga dan jadikan aku satu-satunya wanita di hidup kamu!"
Mendengar kata-kata tuntutan untuk menceraikan Sindi yang meluncur begitu saja dari mulut Putri, dada Mike mendadak terasa sesak.
Alih-alih merasakan kelegaan atau persetujuan seperti hari-hari sebelumnya, ucapan Putri malam ini justru memicu rasa tidak nyaman yang asing di dalam hatinya.
Bayangan wajah dingin, mandiri, dan penuh rahasia milik Sindi tiba-tiba berkelebat di benaknya.
Mike terdiam cukup lama, menatap Putri dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mike? Kok kamu diam saja?! Cepat jawab aku! Kamu mau ceraikan dia atau tidak?!" desak Putri mendesak dengan nada suara yang makin tinggi dan mulai kehilangan kesabaran.
Melihat Putri yang mulai histeris dan dikhawatirkan akan menarik perhatian para tamu penting di sekitar mereka, Mike akhirnya menghela napas panjang. Pria itu melepaskan tangan Putri dari jasnya dengan gerakan pelan namun tegas.
"Sudahlah, Put. Jangan bahas soal itu di sini," ucap Mike dengan nada suara datar dan dingin.
"Jadi kamu nggak mau ceraikan dia?!" pekik Putri tak percaya, matanya membelalak lebar.
"Bukannya begitu, tapi situasinya tidak semudah itu..." elak Mike, mulai merasa lelah dengan drama yang dibuat Putri.
"Sudah malam, dan kamu sepertinya kelelahan. Sebaiknya kamu pulang duluan sekarang."
Putri tertegun hebat. Jantungnya terasa berhenti berdetak mendengar usiran halus dari Mike.
"P-pulang? Kamu nyuruh aku pulang sendiri dari pesta ini, Mike?! Demi perempuan itu?!"
"Nanti supir pribadi rumah sakit yang antar kamu sampai ke kontrakan," jawab Mike datar tanpa keraguan sedikit pun, membalikkan badannya hendak meninggalkan sudut ruangan tersebut.
Mendengar keputusan dingin dari Mike, Putri mendengus sangat keras. Wajah cantiknya memerah padam menahan amarah, benci, dan kekecewaan yang teramat besar. Ia merasa dibuang begitu saja demi istri sah yang selama ini dibencinya.
Sementara itu, di sisi lain ballroom, Sindi berdiri seorang diri di dekat meja bar mini, menyesap champagne-nya sambil menatap ke arah sudut ruangan tempat Mike dan Putri sedang bersitegang.
Sindi tersenyum tipis Namun, di saat ketegangan antara Mike dan Putri di sudut ruangan mencapai puncaknya, tiba-tiba lampu utama di seluruh ballroom hotel mewah itu padam secara serentak.
KLIK!
Bersambung....
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,