NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENCERAHAN LANGKAH KERA ANGIN

Sisa-sisa badai es yang mengamuk perlahan melandai, menyisakan embusan angin malam yang membawa kepulan salju tipis melintasi Pos 4. Di dalam pos batu yang separuh dindingnya runtuh itu, api perapian kembali menyala terang berkat bantuan minyak spiritual yang disiramkan Shi Tou ke tumpukan kayu bakar.

Hawa hangat bertahap mengusir rasa beku yang melilit tulang-tulang mereka.

Shi Tou duduk selonjor di samping perapian, mengelap pelindung dadanya yang lecet dengan kain basah. Di sampingnya, Lu Chen sedang memeriksa bilah belati kembarnya, memastikan tidak ada takikan pada baja akibat menghantam zirah es para serigala.

Ah Xiu melangkah mendekati Lin Yuan yang berdiri di dekat celah dinding yang menganga. Gadis pemanah itu membawa botol kayu berisi minyak herbal hangat, lalu menyerahkannya tanpa banyak bicara.

"Telapak tanganmu tergores duri es tadi," Ucap Ah Xiu seraya menunjuk jemari Lin Yuan yang menyisakan luka tipis memar.

Lin Yuan menerima botol itu, menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih, Ah Xiu. Ini hanya goresan kecil."

"Goresan kecil yang bisa membuat jarimu kaku jika terkena uap racun es," Balas Ah Xiu pelan, matanya menatap wajah Lin Yuan dari dekat dengan pandangan yang tenang dan hangat. "Di perbatasan ini, kelalaian kecil pada tubuh sendiri adalah cara paling konyol untuk mati."

Lin Yuan mengoleskan minyak herbal itu ke telapak tangannya. Rasa panas yang lembut meresap ke dalam pori-pori kulitnya, meredakan ngilu pada sendi-sendi jarinya.

Ia memandangi permukaan tanah es di luar pos. Di sana, belasan bangkai Serigala Duri Es dan Beruang Zirah Es terkapar kaku, diselimuti oleh lapisan salju putih yang mulai menumpuk.

"Ada yang mengganggumu, Kapten?" Tanya Lu Chen yang menyadari tatapan dalam Lin Yuan ke luar pos.

Lin Yuan memutar badannya, bersandar pada pilar batu. "Cara bertarung kita di atas es tadi. Sangat tidak efisien."

Shi Tou mendongak kaget dari dekat perapian. "Tidak efisien? Kapten, kita baru saja membantai puluhan monster tanpa ada satu pun dari kita yang tewas!"

"Kita selamat karena ketahanan fisik murni dan keberuntungan," Jawab Lin Yuan membumi, suaranya terdengar sangat reflektif. "Setiap kali aku menjejakkan kaki untuk menyerang di atas tanah licin ini, aku harus menghantamkan tumitku sampai lapisan es hancur untuk mendapat pijakan. Itu membuang hampir tiga puluh persen energi *qi* di meridianku hanya untuk menjaga keseimbangan."

Lu Chen terdiam. Sebagai mantan bangsawan yang dibesarkan dalam lingkungan teknik pedang halus, ia memahami persis apa yang dimaksud oleh Lin Yuan.

"Pertarungan di tanah datar berbeda dengan di atas es," Kata Lu Chen seraya menyilangkan lengannya di dada. "Sifat es adalah menolak gesekan. Semakin keras kau menjejakkan kaki, semakin besar energi balik yang memantul ke sendi lututmu. Di Ibukota Emas, ilmu bela diri khusus medan es biasanya diajarkan untuk mengalir bersama licinnya permukaan, bukan melawannya."

"Mengalir bersama es..." Gumam Lin Yuan pelan.

Kata-kata Lu Chen bergaung di dalam benaknya.

Lin Yuan melangkah keluar dari Pos 4, melintasi tumpukan bangkai monster dan berdiri sendirian di atas dataran es yang sangat licin. Angin utara yang berembus kencang menyapu rambut hitamnya, membawa gelombang hawa dingin yang menusuk kulit.

Ah Xiu, Lu Chen, dan Shi Tou melangkah ke celah dinding yang runtuh, mengamati tindakan pemimpin mereka dengan rasa ingin tahu yang besar.

Lin Yuan memejamkan mata. Ia membiarkan angin dingin bertiup menghantam dadanya. Di dalam lautan jiwanya, Roh Kera Putih bermata emas membuka mata.

Lin Yuan teringat pada ingatan purba yang tersimpan di dalam kesadaran roh tersebut. Sekte Kera Putih kuno tidak pernah bertarung di atas panggung batu datar yang nyaman. Para leluhur sekte hidup di puncak-puncak gunung es tertinggi, melompati dahan-dahan berhantu yang tertutup salju, dan bergerak di antara tebing-tebing curam yang dilanda badai abadi.

Bagaimana seekor kera purba bergerak di atas tebing es yang licin?

Kera tidak menancapkan tumitnya seperti pasak besi. Kera memanfaatkan keringanan tubuh, menggeser pusat gravitasinya dalam fraksi detik, dan menjadikan dorongan angin sebagai sayap tambahan untuk meluncur di atas permukaan yang paling licin sekalipun.

Lin Yuan mengambil satu langkah ke depan.

SREK.

Kakinya tergelincir tipis di atas lapisan es. Alih-alih menghentakkan tumitnya untuk menahan diri—seperti yang biasa ia lakukan dalam pertarungan brutal—Lin Yuan melemaskan persendian lututnya. Ia membiarkan kakinya meluncur mengikuti arah licinnya es, sementara pinggulnya berputar halus untuk mengalihkan momentum gesekan menjadi dorongan melingkar.

WUSHHH!

Tubuh Lin Yuan meluncur miring sejauh tiga jangkah di atas es tanpa memutus ketenangannya sama sekali!

"Hah?" Shi Tou membelalakkan matanya, hampir menjatuhkan kain lap di tangannya. "Dia... dia tidak jatuh?"

Lin Yuan membuka matanya. Cahaya emas di pupilnya berkilat terang benderang!

Ia mulai memutar tubuhnya di atas dataran es. Setiap kali kakinya menyentuh permukaan es yang licin, ia tidak menahan gaya gesek tersebut, melainkan menyerapnya menggunakan pusaran *qi* perak di meridian kakinya. Ia menari di atas es—bukan tarian indah seorang bangsawan, melainkan gerak olah tubuh liar, cepat, dan tak tertebak bagaikan bayangan kera yang melompat di antara dahan es di tengah badai.

SREK! SREK! WUSHHH!

Gerakan Lin Yuan menjadi begitu ringan dan tidak bersuara. Jejak kakinya di atas salju tidak lagi berupa lubang-lubang dalam akibat hantaman tumit, melainkan usapan tipis yang nyaris tak bertekanan. Setiap kali angin badai bertiup kencang memotong jalurnya, Lin Yuan justru memanfaatkan hembusan angin itu untuk memantulkan tubuhnya ke arah berlawanan dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat.

Teknik olah tubuh kuno Sekte Kera Putih yang telah terhapus ratusan tahun: *Langkah Bayangan Kera*.

"Luar biasa..." Bisik Ah Xiu dengan suara bergetar halus oleh rasa takjub.

Gadis pemanah itu mengamati setiap lekuk gerakan Lin Yuan. Di matanya, Lin Yuan tidak lagi tampak seperti manusia yang sedang bertarung melawan alam, melainkan bagian dari badai es itu sendiri. Gerakannya begitu luwes, mematikan, dan menyatu sempurna dengan hembusan angin perbatasan.

Lu Chen mengepalkan tangannya di tepi dinding batu, matanya memancarkan rasa hormat yang mendalam. "Dia tidak cuma menirukan teknik... dia menciptakan pencerahan murni dari pemahaman fisiknya sendiri. Dalam jarak pandang nol badai es, teknik langkah ini akan membuatnya menjadi hantu yang tak tersentuh."

BOOM!

Lin Yuan menghentakkan ujung jarinya ke atas permukaan es di akhir gerakannya. Tubuhnya melesat melingkar di udara, berputar tiga ratus enam puluh derajat, lalu mendarat tanpa suara di atas permukaan es licin tanpa bergeser satu milimeter pun.

Uap panas mendesis tebal keluar dari sekujur tubuhnya, mencairkan kristal-kristal salju yang menempel di bahunya. Aliran *qi* perak di dalam meridian kakinya kini mengalir jauh lebih lancar, membentuk pilar-pilar energi baru yang sangat padat di sekitar otot pahanya.

Lin Yuan berdiri tegak, memutar badannya menatap ketiga rekannya. Senyum membumi dan segar terukir di wajahnya.

"Langkah Bayangan Kera," Ucap Lin Yuan dengan nada suara yang tenang dan rendah. "Dengan ini, medan es bukan lagi rintangan bagi kita."

Lu Chen melangkah keluar dari dalam pos, menyunggingkan senyum khasnya. "Kapten, kau selalu menemukan cara untuk membuat kami terkesima. Dengan teknik langkah seperti itu, tidak ada serigala atau pembunuh bayaran mana pun yang bisa mengunci pergerakanmu di perbatasan ini."

Shi Tou mencoba melangkah ke atas es dan menirukan dorongan meluncur Lin Yuan.

SREK... BRUK!

Pria bertato bertubuh besar itu langsung hilang keseimbangan dan jatuh terlentang di atas tumpukan salju, membuat suara dentuman keras yang konyol.

"Aduh! Pantatku!" Ringis Shi Tou sambil memegangi pinggulnya.

Lu Chen dan Ah Xiu tidak sanggup menahan tawa pelan mereka. Suara tawa renyah yang amat jarang terdengar itu memecah keheningan Pos 4, mengusir sisa-sisa ketegangan dan hawa mematikan usai pertempuran berdarah.

Lin Yuan melangkah mendekat, mengulurkan tangannya dan menarik Shi Tou bangkit dari tumpukan salju.

"Teknik ini butuh kelenturan otot dan koordinasi *qi* yang tepat, Shi Tou," Kata Lin Yuan seraya menepuk bahu pria bertato itu. "Besok pagi, aku akan mengajari kalian bertiga dasar-dasarnya. Kita semua harus bisa bergerak cepat di atas medan es ini."

Ah Xiu menatap Lin Yuan dengan sepasang mata gelapnya yang bersinar lembut di bawah cahaya rembulan yang mulai menerobos awan. "Kami akan belajar dengannya, Kapten."

Di tengah Pos 4 yang hancur, di bawah naungan badai salju utara yang perlahan meredup, pencerahan Lin Yuan tidak hanya membawa kemajuan besar bagi kultivasi fisiknya sendiri, tetapi juga memperkuat fondasi kebersamaan Unit 9 sebagai satu kesatuan yang tak terkalahkan.

1
Fery Oktavian
🔥
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!