Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Di Bawah Naungan Gubuk Sawah
Pagi berganti dengan cepat di Desa Sukmawarna. Sinar matahari terasa hangat menyinari, membawa hawa segar yang membangkitkan semangat. Di halaman depan balai desa, suasana mendadak gempar. Beberapa wadah kerajinan anyaman bambu dan sampel beras organik milik kelompok tani yang telah disiapkan Nayla sejak kemarin tampak berantakan di atas lantai teras, sebagian bahkan terkena noda lumpur secara sengaja.
Nayla berdiri tertegun di depan pintu balai desa. Manik matanya menatap nanar ke arah tumpukan barang yang rusak tersebut. Bibir tipisnya bergetar menahan rasa sesak dan kecewa yang mendalam. Ia tahu betul siapa pelakunya—siapa lagi kalau bukan Ratih atau orang suruhannya yang masih sakit hati atas kejadian di rapat Karang Taruna semalam.
"Nayla? Ada apa ini?" suara langkah kaki yang lebar terdengar mendekat.
Arkan yang baru saja tiba bersama Bagas langsung menghentikan langkahnya. Pria kota itu memindai pemandangan di depannya dengan tatapan mata yang mendadak tajam dan dingin. Aura intimidasi khas calon pemimpin bisnis besar seketika menguar kuat dari perawakannya yang tegap.
"Sampel produk untuk pameran nanti... semuanya dirusak," bisik Nayla lirih, mencoba menahan air mata yang tertahan di sudut matanya. "Padahal sore ini kita harus tunjukkan ke perwakilan toko kelontong kabupaten."
Bagas yang melihat hal itu langsung mengepalkan tangannya gusar. "Ini pasti ulahnya Mba Ratih! Kemarin sore aku lihat dia muter-muter di sekitar sini!"
Nayla helas napas berat, hampir saja menyerah dan berkecil hati. Namun, sebelum rasa putus asa itu menguasai dirinya, sebuah tangan kekar dan hangat tiba-tiba mendarat di bahunya, memberikan remasan lembut yang menenangkan. Nayla mendongak, mendapati Arkan sedang menatapnya dengan pandangan mata yang sangat teduh namun penuh ketegasan.
"Jangan buang energimu untuk menangisi perbuatan orang licik," ucap Arkan dengan suara baritonnya yang berat dan mantap. "Dalam dunia bisnis, kekacauan seperti ini biasa terjadi. Yang membedakan orang sukses dan pecundang adalah bagaimana cara kita meresponsnya."
Arkan lalu berjongkok, tanpa ragu mengangkat salah satu anyaman bambu yang terkena lumpur, lalu membersihkannya menggunakan kain lap. "Barang yang kotor bisa dibersihkan. Yang rusak sedikit bisa kita kemas ulang dengan tampilan yang lebih modern. Bagas, ambilkan air bersih dan kain lap. Kita rapikan semuanya sekarang."
Melihat ketenangan dan aura kepemimpinan Arkan di bawah tekanan krisis, rasa panik di dalam dada Nayla perlahan sirna, berganti menjadi rasa kagum yang membuncah. Mereka bertiga bekerja cepat. Berkat ide Arkan yang menyarankan penataan ulang dengan sentuhan minimalis khas kota, produk kerajinan dan beras organik desa itu justru tampil jauh lebih mewah dan bernilai jual tinggi dibanding sebelumnya.
Jelang siang hari, setelah masalah sampel teratasi, Arkan dan Nayla memutuskan untuk berjalan menuju area persawahan di batas utara desa. Mereka perlu melakukan survei lapangan secara langsung untuk memastikan tata letak panggung dan lapak Bazar UMKM yang akan dibangun minggu depan.
Suasana sawah hijau yang terhampar luas dengan angin sepoi-sepoi menemani langkah kaki mereka di atas pematang. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Langit di atas Desa Sukmawarna yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi kelabu pekat dalam hitungan menit. Awan hitam tebal bergulung cepat, diiringi suara guruh yang menggelegar dari kejauhan.
"Arkan, kita harus kembali! Langitnya sudah gelap sekali!" seru Nayla setengah berteriak menyaingi deru angin yang mendadak berembus kencang.
Belum sempat Arkan membalas, tetesan air hujan berukuran besar langsung menyambar bumi dengan sangat deras. Hujannya turun begitu lebat disertai angin kencang, membuat jarak pandang mereka terbatas.
"Awas, Nayla!" Arkan dengan refleks menggenggam erat jemari tangan Nayla, ditariknya tubuh mungil gadis itu agar mendekat dalam lindungannya. Tanpa pikir panjang, Arkan membawa Nayla berlari menuju satu-satunya tempat berteduh terdekat: sebuah gubuk tani kecil terbuat dari bambu dan atap jerami yang berdiri di tengah-tengah hamparan sawah.
Mereka melompat naik ke atas lantai kayu gubuk saat hujan angin mencapai puncaknya. Udara mendadak berubah menjadi sangat dingin. Pakaian yang dikenakan Nayla agak basah kuyup di bagian lengan dan bahu, membuat tubuh gadis itu gemetaran halus.
Melihat hal itu, Arkan segera melepas kemeja luar berlengan panjang yang ia kenakan—saat ini dirinya hanya memakai kaus singlet hitam yang memperlihatkan lekuk otot dada dan lengannya yang kekar. Dengan gerakan pelan, Arkan menyampirkan kemeja hangatnya itu ke punggung Nayla.
"Arkan, nanti kamu kedinginan..." protes Nayla pelan dengan bibir yang sedikit pucat.
"Tubuh saya jauh lebih tahan dingin dibanding kamu, Gadis Desa," potong Arkan datar namun penuh perhatian, lalu duduk bersila tepat di samping Nayla. Jarak mereka yang begitu dekat di dalam gubuk sempit itu membuat aroma maskulin Arkan dan harum alami tubuh Nayla bercampur manis di antara deru hujan di luar.
Suasana hening sejenak, hanya diisi oleh suara derasnya hujan yang menghantam atap jerami gubuk. Nayla meremas ujung kemeja Arkan yang menyelimuti tubuhnya, merasa tersentuh dengan perlakuan hangat pria yang dulunya sangat ia benci tersebut.
"Terima kasih ya, Arkan... untuk yang tadi pagi di balai desa, dan yang sekarang," bisik Nayla tulus, menatap wajah tampan Arkan dari samping. "Aku tidak menyangka... ternyata Tuan Muda Jakarta yang angkuh bisa se-pengertian dan sehebat ini mengatasi masalah."
Arkan terkekeh tipis—sebuah tawa kecil yang sangat renyah dan jarang sekali terdengar dari mulutnya. Pandangan matanya menerawang menatap tirai hujan di depan mereka.
"Dulu di Jakarta, saya selalu dituntut untuk sempurna oleh Papa," ucap Arkan perlahan, untuk pertama kalinya membuka pintu masa lalunya kepada Nayla. Suaranya terdengar lebih dalam dan emosional. "Setiap kesalahan sekecil apa pun akan dianggap kegagalan besar. Papa tidak pernah memuji, cuma tahu menuntut. Itu yang bikin saya memberontak dan sengaja jadi anak nakal... sampai akhirnya saya dibuang ke desa ini."
Nayla tertegun. Sepasang mata bulatnya menatap Arkan dengan rasa empati yang mendalam. Ia kini mulai memahami mengapa di balik tembok keangkuhan Arkan, ada sosok pria yang sebenarnya kesepian dan hanya butuh diakui.
"Tapi ternyata Papa salah..." sambung Arkan, menolehkan kepalanya dan menatap lurus tepat ke dalam manik mata Nayla. "Dibuang ke desa ini justru hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Karena di sini... saya belajar arti kehidupan yang sebenarnya. Dan saya... bertemu dengan kamu."
Deg!
Jantung Nayla serasa berhenti berdetak seketika. Kalimat jujur dari Arkan yang meluncur begitu tenang itu sukses membuat dada Nayla bergemuruh hebat. Rona merah di pipi putih Nayla terpancar makin jelas, membakar wajah manisnya di tengah dinginnya angin sawah.
Arkan tidak memalingkan pandangannya. Jemari tangannya yang hangat perlahan terangkat, merapikan beberapa helai rambut basah Nayla yang menempel di dahi gadis itu dengan penuh kelembutan. Tatapan mata mereka terkunci dalam jeda yang begitu ajaib—sebuah detik di mana dinding perbedaan di antara mereka benar-benar runtuh, menyisakan dua insan manusia yang mulai menyadari betapa dalam rasa yang kini bertautan di dalam hati masing-masing.