Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Tap tap tap.
Langkah kaki Bima bergema ringan di lorong lantai satu Rumah Sakit Medika Utama pagi itu.
Suasana hari ini terasa sangat berbeda dari biasanya.
Setiap perawat dan dokter yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala dengan penuh hormat.
"Selamat pagi, Dokter Bima," sapa sekelompok perawat dengan wajah merona kagum.
Bima hanya mengangguk pelan dan membalas senyuman mereka dengan sangat sopan.
Berita tentang aksi heroiknya di Konferensi Medis Nasional kemarin ternyata sudah menyebar luas ke seluruh penjuru rumah sakit.
Cklek.
Bima membuka pintu ruang direktur setelah mendengar suara persilakan dari dalam.
Direktur Wira sudah berdiri menyambutnya dengan senyum paling lebar yang pernah dia tunjukkan selama ini.
"Selamat datang kembali, pahlawan kebanggaan rumah sakit kita."
Direktur Wira berjalan mendekat dan menjabat tangan Bima dengan sangat erat.
"Duduklah, Bima, ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan pagi ini."
Bima menarik kursi kulit di depan meja dan duduk dengan tenang.
"Apakah ini tentang protes dari dewan direksi rumah sakit, Direktur?" tanya Bima santai.
Direktur Wira tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ini justru tentang posisimu yang baru di rumah sakit ini, Bima."
"Dewan direksi sudah sepakat bulat untuk mengangkatmu menjadi Kepala Departemen Bedah Khusus."
"Kamu akan memiliki wewenang penuh atas ruang operasi elit dan bisa membentuk tim medismu sendiri."
Bima sedikit terkejut mendengar promosi jabatan yang melompat sangat jauh tersebut.
"Kepala Departemen?"
"Itu adalah posisi yang biasanya hanya diisi oleh dokter dengan pengalaman minimal dua puluh tahun, Direktur."
Direktur Wira menatap Bima dengan pandangan penuh keyakinan dan kebanggaan.
"Pengalaman dua puluh tahun tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan semalam."
"Kamu telah menyelamatkan reputasi dunia medis negara ini dari bencana biologis."
"Sejujurnya rumah sakit ini terlalu kecil untuk menampung bakat gilamu itu, Bima."
"Tapi setidaknya ini yang bisa kami berikan agar kamu tetap bersedia menjadi bagian dari keluarga kami."
Bima tersenyum tipis dan mengangguk pelan merespons tawaran tulus itu.
"Terima kasih atas kepercayaan besarnya, Direktur Wira."
"Saya akan menerima posisi ini dan melakukan yang terbaik untuk semua pasien yang datang kemari."
Kringgg.
Ponsel di saku Bima tiba-tiba berdering nyaring tepat ketika dia baru saja keluar dari ruang direktur.
Layar ponselnya menampilkan nama Kakek Darma yang memanggil.
"Halo, Kakek Darma," sapa Bima dengan santai.
"Bima, apakah kau sedang sibuk malam ini?" tanya suara pria tua itu dari seberang telepon.
"Aku ingin mengundangmu makan malam perayaan atas kesuksesanmu di Restoran Bintang Lima Sky View."
Bima mengangkat tangan kirinya dan melihat jam tangannya sejenak.
"Saya kebetulan kosong malam ini, Kakek Darma."
"Bagus sekali, aku sudah memesan meja VIP paling bagus atas namamu."
"Datanglah jam tujuh malam nanti, dan jangan sampai terlambat."
Tuut.
Panggilan itu ditutup secara sepihak sebelum Bima sempat menjawab lebih jauh lagi.
Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakek konglomerat yang penuh kejutan tersebut.
Wushhh.
Angin malam berhembus lembut di lantai teratas gedung pencakar langit kota.
Restoran Sky View menyajikan pemandangan kelap-kelip lampu kota yang sangat memukau dari atas awan.
Bima melangkah masuk mengenakan kemeja sutra hitam yang sangat pas di tubuh kekarnya.
Seorang pelayan berpakaian jas rapi segera menghampirinya di pintu masuk.
"Apakah Anda Tuan Bima Aditya?"
"Meja VIP Anda sudah siap, mari saya antar ke ruang privat di sudut sana."
Bima mengikuti pelayan itu berjalan melewati deretan meja tamu yang dipenuhi orang-orang kalangan elit.
Cklek.
Pintu ruangan privat itu terbuka, menampilkan meja makan bundar yang dihiasi lilin dan buket bunga mawar.
Namun Bima langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu karena sangat terkejut.
Tidak ada Kakek Darma di dalam sana.
Hanya ada Kiara yang sedang duduk manis menatap pemandangan jendela kaca raksasa.
Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang mengekspos leher angsanya dengan sangat elegan.
Rambut panjang bergelombangnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian punggungnya yang mulus.
"Nona Kiara?" tanya Bima dengan nada bingung.
Kiara menoleh dan tersenyum sangat manis melihat kedatangan pria yang ditunggunya.
"Selamat malam, Dokter Bima."
Bima berjalan masuk perlahan dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Kiara.
"Di mana Kakek Darma sekarang?"
"Bukannya beliau yang mengundang saya makan malam perayaan ini?"
Kiara tertawa kecil sambil menutupi bibirnya dengan gaya yang sangat anggun.
"Kakek tiba-tiba harus menghadiri rapat direksi darurat di luar kota malam ini juga."
"Beliau menitipkan pesan permintaan maaf padamu karena tidak bisa ikut hadir."
Bima memicingkan matanya dan otaknya mulai menyadari sesuatu yang janggal.
"Rapat direksi darurat di malam perayaan yang dia buat sendiri?"
"Sepertinya Kakek Darma sengaja merencanakan semua ini untuk menjebak kita berdua di sini."
Rona merah alami langsung menjalar ke kedua pipi Kiara mendengar ucapan frontal Bima.
"Mungkin saja beliau memang sengaja melakukannya," ucap Kiara dengan suara pelan yang merdu.
"Tapi aku sama sekali tidak keberatan dengan rencana licik kakekku itu."
Bima terdiam sejenak menatap wajah cantik wanita di depannya tanpa berkedip.
Jantung Kiara yang kini sehat sempurna membuat aura kehidupan wanita itu memancar dengan sangat kuat.
Tok tok.
Pelayan datang membawakan hidangan pembuka dan menuangkan anggur tanpa alkohol ke dalam gelas mereka.
Ting.
Kiara mengangkat gelas kristalnya dan menatap lurus ke dalam mata Bima.
"Mari kita bersulang, Dokter Bima."
"Untuk nyawaku yang telah kau selamatkan, dan untuk masa depan kita yang baru."
Bima ikut mengangkat gelasnya dan mendentingkannya pelan dengan gelas milik Kiara.
"Untuk masa depan yang baru," balas Bima sambil tersenyum hangat.
Mereka berdua menghabiskan makan malam itu dengan percakapan yang sangat santai dan menyenangkan.
Tidak ada lagi pembicaraan soal penyakit mematikan, obat beracun, atau serangan sindikat mafia.
Mereka hanya membicarakan hobi, cita-cita masa kecil, dan kehidupan normal pada umumnya.
"Kau tahu, Bima," panggil Kiara setelah pelayan membersihkan piring utama dari meja mereka.
Kiara tidak lagi menggunakan panggilan formal dokter saat menyebut nama Bima.
"Sejak malam di mana kau menyembuhkanku, pandanganku terhadap dunia benar-benar berubah drastis."
"Aku menyadari bahwa kekayaan dan kekuasaan keluarga Pratama tidak ada artinya di hadapan gerbang kematian."
Bima menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan mengangguk pelan menyetujui.
"Kematian adalah satu-satunya hal yang paling adil dan pasti di dunia ini, Kiara."
Kiara menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap Bima dengan sorot mata yang sangat dalam.
"Oleh karena itu, aku tidak ingin membuang-buang waktu hidupku yang kedua ini untuk hal yang sia-sia."
Kiara mengulurkan tangan kanannya di atas meja dan menyentuh punggung tangan Bima dengan sangat lembut.
"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang telah memberikannya kembali padaku."
"Apakah kau mengerti maksud perasaanku, Bima?"
Jantung Bima berdegup sedikit lebih cepat merasakan sentuhan tangan yang hangat dan lembut itu.
Dia bukan pria yang bodoh untuk tidak memahami pernyataan cinta yang sangat jelas dari seorang wanita.
Bima membalikkan telapak tangannya dan menggenggam jari-jari lentik Kiara dengan erat.
"Aku mengerti, Kiara."
"Dan aku berjanji akan terus menggenggam tangan ini di setiap langkah kita ke depannya."
Senyum kebahagiaan yang sangat tulus dan melegakan merekah di bibir Kiara.
Malam itu menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang telah berhasil melewati badai kematian bersama-sama.
Satu jam kemudian, Bima dan Kiara berjalan berdampingan keluar dari pintu lobi restoran bintang lima tersebut.
Leo sudah berdiri menunggu di dekat pintu mobil mewah keluarga Pratama.
"Selamat malam, Nona Kiara, Dokter Bima," sapa Leo sambil membukakan pintu penumpang.
Bima mengangguk pada Leo dan hendak melangkah masuk ke dalam mobil.
Namun, langkah kaki Bima tiba-tiba terhenti secara mendadak di aspal jalan.
Sebuah rasa dingin yang sangat tidak wajar tiba-tiba merayap di tengkuknya hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
[Peringatan Sistem Darurat!]
[Mendeteksi gelombang patogen asing yang tidak dikenali dalam radius satu kilometer dari posisi inang.]
[Tingkat ancaman patogen: Skala Pandemi Global.]
[Sistem gagal mengidentifikasi struktur RNA dari patogen misterius tersebut.]
Mata Bima membelalak sangat lebar membaca rentetan peringatan berwarna merah darah di dalam pikirannya.
Ini adalah pertama kalinya Sistem Medis Super gagal mengenali sebuah penyakit sejak sistem itu aktif.
"Ada apa, Bima?" tanya Kiara yang menyadari tubuh Bima menegang kaku seperti patung.
Bima menoleh perlahan menatap langit malam kota yang terlihat sangat gelap tanpa bintang.
"Sesuatu yang sangat buruk baru saja lahir di kota ini, Kiara."
"Dan sepertinya, masa tenang kita harus berakhir jauh lebih cepat dari yang aku perkirakan."
Perjalanan sang dokter legendaris telah resmi ditutup dengan kemenangan yang sangat manis.