NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 - Si Bejo

Menjelang hari arisan keluarga besar yang menegangkan, Tia dan Sam sepakat untuk mengadakan pertemuan rutin sepulang kerja. Tempat pertemuan favorit mereka tak jauh-jauh dari lingkungan Kebun Binatang Kota, kadang di warung kopi di pinggir kebun binatang, kadang di area taman yang rindang setelah jam operasional pengunjung tutup.

Tia menyadarkan diri bahwa mereka tak bisa tampil meyakinkan di depan Tante Lies yang bermata elang jika tidak saling mengenal latar belakang masing-masing. Di sinilah, di bawah rindangnya pohon beringin kebun binatang, tabir kehidupan mereka berdua perlahan terbuka.

"Aku ini anak tertua, Mbak Tia," cerita Sam suatu sore, masih dengan kemeja slim-fit beraroma woody-citrus yang dipaksakan Tia untuk ia pakai tiap kali mereka bertemu. Tangannya sibuk memutarkan botol minuman dingin. "Bapak tiri di kampung sakit-sakitan, asam uratnya sering kumat sampai tidak bisa jalan. Adikku yang paling kecil mau masuk SMA, butuh uang gedung. Adik nomor dua masih kursus. Kalau bukan aku yang kirim uang tiap bulan, dapur di kampung tidak bakal ngebul."

Tia mendengarkan sambil menopang dagu di meja kayu taman. Untuk pertama kalinya, ia menatap pawang buaya di hadapannya bukan sebagai 'suami kredit', melainkan sebagai seorang pria yang memikul beban berat di pundak atletisnya. Ada rasa simpati mendalam yang menyelusup di dada Tia.

"Kamu hebat ya, Sam. Jadi tulang punggung keluarga begitu..." komentar Tia pelan. "Kalau aku... jujur saja, aku makin tidak paham sama keluargaku sendiri."

Sam menaikkan sebelah alisnya, mengisyaratkan Tia untuk melanjutkan.

"Dari umurku 28 tahun sampai sekarang 35 tahun, topik bahasan di rumah selalu sama: Kapan nikah? Kapan punya anak? Nanti keburu menopause lho!" Tia menirukan suara melengking Tante Mirna dengan wajah kecut. "Mereka tidak pernah tanya aku cape atau tidak kerja di kantor. Mereka tidak peduli aku sudah naik jabatan jadi staf senior atau belum. Seolah-olah pencapaian hidup wanita itu cuma diukur dari ada tidaknya cincin di jari manis. Karena itulah aku panik setengah mati pas tahu Nia mau dilamar. Aku tidak sanggup lagi mendengarkan sindiran mereka yang rasanya seperti ditusuk jarum tiap menit."

Sam menatap Tia dengan tatapan hangat yang jujur, tatapan yang sanggup membuat jantung Tia mendadak berdesir aneh.

"Mbak Tia itu hebat kok," ujar Sam tulus. "Kerja keras, mandiri, bisa bayar kontrakan sendiri, bahkan sanggup menyewa suami bayaran pakai sistem cicilan tiga ratus ribu per bulan. Itu pencapaian finansial yang luar biasa menurutku."

Tia terkekeh geli. "Kamu ini memuji atau menyindir sih?"

"Dua-duanya," balas Sam terkekeh, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi dan lesung pipi tipis yang membuatnya terlihat seribu kali lebih tampan.

Tiba-tiba, Sam bangkit dari duduknya. Ia menepuk-nepuk celananya, lalu mengulurkan tangan pada Tia. "Ayo. Daripada Mbak pusing memikirkan Tante Lies, mending aku kenalkan sama penghuni paling setia di sini."

Tia mengerutkan dahi. "Siapa? Kepala kebun binatang?"

"Bukan. Si Bejo!" jawab Sam bersemangat.

Seketika itu juga wajah Tia pucat pasi. "Gak mau! Ogah! Aku trauma sama reptil bersisik!"

"Ayolah, Mbak Tia!" paksa Sam seraya menarik pergelangan tangan Tia tanpa kompromi. "Katanya Mbak mau pura-pura jadi calon istri spesialis konservasi reptil? Masa sama pasien utamaku saja takut? Si Bejo itu ramah kok. Dia cuma menggigit kalau lagi lapar... atau kalau ada yang mirip mantan istrinya."

"Mas Sam! Aku tidak bercanda ya! Lepasin!" jerit Tia, tetapi tubuhnya yang kecil dengan mudah terseret oleh dorongan tenaga pawang buaya profesional.

Beberapa menit kemudian, Tia mendapati dirinya berdiri di balik pagar pembatas area kolam buaya. Di dalam kubangan air keruh, seekor buaya muara berukuran raksasa, panjangnya hampir empat meter dengan kulit hitam kehijauan yang bergerigi kasar, sedang berjemur dengan mulut menganga lebar. Pemandangan itu sukses membuat bulu kuduk Tia berdiri tegap seketika.

"Mas Sam... kita balik saja yuk," bisik Tia dengan suara gemetaran, matanya melotot menatap gigi-gigi tajam Si Bejo yang siap mengunyah mobil sedan. "Aku rasanya mau pingsan..."

"Tenang, Mbak. Ada aku," ujar Sam santai.

Tanpa rasa takut sedikit pun, Sam melompati pagar pembatas. Pria itu berjalan santai menuju tepi kolam, persis di samping Si Bejo. Tia yang melihat hal itu langsung menjerit histeris sambil mencengkeram besi pagar kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

"MAS SAM! KELUAR GAK?! KAMU MAU MATI YA?! CICILAN SAYA BARU MASUK UANG MUKA! KALAU KAMU DIMAKAN BUAYA, DUA JUTA SETENGAH SAYA MELAYAP KEMANA?!" teriak Tia tanpa sadar mempermasalahkan uang sewaannya di depan umum.

Sam malah tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan Tia. Ia melambaikan tangannya santai. "Bejo ini sudah kayak adikku sendiri, Mbak! Lihat nih!"

Dengan gerakan yang membuat jantung Tia serasa melompat keluar dari tenggorokan, Sam berlutut tepat di samping kepala Si Bejo. Jemari Sam yang kekar bergerak perlahan, lalu dengan sangat berani menepuk-nepuk bagian bawah dagu buaya raksasa itu seperti sedang menimang seekor anak kucing persia.

Si Bejo yang tadinya kelihatan ganas mendadak memejamkan mata, menikmati usapan tangan Sam di dagunya.

Tia membatu di balik pagar. Matanya berkedip-kedip tak percaya. "Itu... itu buaya muara asli kan? Bukan buaya karet berbaterai?"

"Asli, Mbak Tia!" seru Sam dari dalam kandang, masih sibuk mengelus dagu reptil buas tersebut. "Lihat? Bejo saja nurut sama aku. Apalagi cuma menaklukkan Tante Lies dan Tante Mirna di acara arisan nanti! Mereka tidak ada apa-apanya dibanding Bejo!"

Tia mengelus dadanya yang berdegup kencang luar biasa. Keringat dingin mengucur di dahinya. "Mas Sam... tolong keluar sekarang dari situ! Aku mohon!"

Sam akhirnya tertawa puas, lalu melompati pagar pembatas kembali ke sisi Tia. Begitu kaki Sam menyentuh tanah, Tia yang masih gemetaran spontan memukul lengan atas Sam yang berotot dengan tas tangannya.

Puk! Puk!

"Kamu gila ya! Kamu sengaja mau bikin aku serangan jantung sebelum arisan?!" amuk Tia dengan wajah memerah antara takut dan marah.

"Aduh! Sakit, Mbak!" seru Sam sambil tertawa menangkis serangan tas mewah Tia. "Aku cuma mau membuktikan kalau Mbak Tia tidak usah takut menghadapi keluarga besar. Selama ada aku di samping Mbak, tak ada satu orang pun yang bisa mengintimidasi Mbak Tia. Kalau ada yang macam-macam, tak suruh Bejo datang ke rumah Tante Lies!"

Tia terhenti dari aksinya memukul Sam. Ia menatap wajah tampan Sam yang berjarak sangat dekat darinya. Di bawah sorot lampu taman kebun binatang yang mulai menyala remang-remang, senyuman Sam terlihat begitu percaya diri dan menenangkan.

Rasa takut akibat Si Bejo mendadak menguap, berganti dengan luapan perasaan aneh yang menghangatkan dada Tia. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dikejar-kejar stigma melajang, Tia merasa ada seseorang yang benar-benar siap pasang badan membentenginya dari kejamnya omongan orang.

"Kamu beneran janji ya, Sam?" bisik Tia pelan, menatap mata tajam pawang buaya itu. "Jangan biarkan mereka membuatku kelihatan menyedihkan nanti."

Sam menatap balik Tia, senyum jahil di wajahnya perlahan berganti menjadi tatapan mantap seorang pria sejati. Ia menyentuh lembut bahu Tia yang terbungkus blazer kantor.

"Tenang saja, Mbak Tia," ujar Sam halus namun penuh penekanan. "Nanti di sarang keluarga besarmu, pawang buaya ini siap menjalankan tugas. Kita buktikan kalau 'suami kredit' ini nilainya jauh lebih berkelas dibanding Branch Manager belagu itu!"

Tia tersenyum lega, mengangguk mantap. Meski harus merogoh dompet untuk cicilan sepuluh bulan ke depan, detik ini Tia yakin, menyewa Samsudin adalah keputusan paling tepat dan paling gila dalam hidupnya.

1
ˢ⍣⃟ₛ ERti ˢ⍣⃟ₛ.
tambahin up dong tor lagi seru lo torr
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu

udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
Ass Yfa
Sam...kalo belum mau jujur...bilang sja ke Tia...aku siap nafkahi mb tiSd. lahir batin🤭🤭
Ass Yfa
mereka itu miskom..belum ada kejujuran diantara mereka
Ardan
Sam kamu lelaki sejati, tambahin dong kalimat, "aku sudah ada rasa ama Mba Tia" 😍
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
Arin
Hayo..... mau cari alasan apa Mas Sam?? Sudah diterima kerja kantoran??? Tapi dalam hati bilang dengan gaji milyaran🤣🤣🤣🤣
Hary Nengsih
lom tau suami nya sultan
Arin
Cobalah saling terbuka, biarpun hanya suami-istri kontrak sementara.
Ida Khalifah: lanjut Thor 💪
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Khaira Almahendra
lanjoot thoor...mkn gregetan ni cerita nya😄,,,💪💪💪othor
Faidah Ida
lucu dan gemes thor,... 🤣🤣🤣

turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
Ass Yfa
Samsudi...gara2 grogi..mlh bikin dapur berantakan🤭
Ass Yfa
mb Tia suruh nglamar ditempat Sam
Ardan
sing sabar mbar, bojo mu si pawang buaya, udah jadi milyader loh, utang mu wis pasti dilunasin
Rommy Wasini Khumaidi
ini pasti mimpi,gk mungkin mereka secepat kilat melakukanya
❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ
itu akibatnya main nikah² an jadi serbasalah kalau ada adegan dewasa dikit udah tegang😁
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran
Ardan
makin lucu aja tingkah berdua🤣
Arin
Hayo lo..... Mba Tia. Sampai umur 35 baru ngelihat bentuk "ular ponton"?? 🤣🤣🤣 Apa lagi punya Mas Sam sang suami " kredit" Apa gak pengin di cicil dulu coba-coba kenalan dulu biar akrab🤭🤭🤭🤭
Hary Nengsih
ada2 ajs🤣🤣
Ass Yfa
😄😄😄😄ular piton...besar ya Tia...nggk pengin kamu🤭🤭
Rommy Wasini Khumaidi
sayang udah disewain kamar kalau dianggurin mas Sam,gas aja daripada nanggung,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!