Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 4
Sementara Theodore sedang merencanakan kehancuran Keluarga Mahendra di balik pintu kamarnya yang sempit, sebuah kekacauan dengan skala yang jauh lebih masif sedang terjadi ribuan kilometer dari sana.
Di sebuah pulau pribadi yang tidak pernah tercatat di peta perairan internasional, terdapat markas komando utama Aegis Corporation. Dari luar, pulau ini hanya terlihat seperti tebing karang gersang. Namun ratusan meter di bawah tanahnya, tersembunyi sebuah pusat intelijen militer dan finansial yang teknologinya bahkan melampaui Pentagon.
Ruangan kendali utama itu dipenuhi oleh puluhan layar monitor raksasa yang menampilkan peta dunia, pergerakan bursa saham *real-time*, dan titik-titik merah yang menandakan posisi pasukan elit mereka di berbagai negara. Udara di ruangan itu terasa dingin dan tegang. Hanya terdengar suara ketikan keyboard yang super cepat dan dengungan pelan dari server superkomputer.
Di tengah-tengah kesibukan itu, Exel berdiri mematung menatap layar utama.
Pria berbadan tegap dengan bekas luka sayatan melintang di rahang kirinya itu adalah tangan kanan Theodore. Exel adalah komandan tertinggi Aegis saat ini, orang yang memegang kendali penuh atas pasukan bayaran dan aliran dana triliunan dolar selama bosnya menghilang. Tiga tahun telah berlalu sejak insiden ledakan mematikan di medan perang perbatasan yang menelan markas komando mereka. Semua petinggi dunia bawah mengira Sang Dewa Perang telah hancur menjadi abu.
Tapi Exel tidak pernah percaya omong kosong itu.
"Gimana hasilnya? Udah ada titik terang?" Exel bertanya dengan suara baritonnya yang berat, memecah keheningan di antara para teknisi.
"Masih nihil, Bang. Kita udah nge-bypass sistem keamanan lebih dari tiga ratus satelit komunikasi komersial dan militer dalam seminggu terakhir. Tapi jejak biometrik maupun sidik jari digital Tuan Theodore bener-bener bersih, nggak ketarik sama sekali," jawab Leo, ketua tim peretas Aegis, tangannya sibuk mengusap wajahnya yang kuyu karena kurang tidur.
Brak!
Exel menggebrak meja konsol baja di depannya hingga penyok. Beberapa teknisi langsung menunduk ketakutan.
"Gue nggak mau dengar kata nihil! Retas lebih dalam lagi! Tembus satelit cuaca, satelit navigasi kelautan, sampai satelit mata-mata rahasia milik pemerintah! Kalian pakai semua pintu belakang yang kita punya!" bentak Exel, matanya memerah menahan marah dan lelah. "Dewa Perang nggak mungkin mati cuma gara-gara ledakan murahan kayak gitu. Dia pasti sengaja sembunyi buat mancing tikus-tikus pengkhianat keluar. Dan tugas kita adalah nemuin dia sebelum musuh yang nemuin duluan!"
"Baik, Bang! Kita coba perluas radius pencarian ke jaringan *dark web* dan kamera lalu lintas di kota-kota terpencil pinggiran Asia," Leo kembali mengetik dengan kecepatan gila-gilaan, tak berani membantah lagi.
Exel memijat pangkal hidungnya. Beban mengurus Aegis sendirian mulai menggerogoti kewarasannya. Apalagi akhir-akhir ini banyak konsorsium mafia dan bankir kotor yang mulai berani menentang wilayah kekuasaan Aegis karena merasa singa yang menjaga wilayah itu sudah mati.
Tiba-tiba, lampu indikator merah di sudut ruangan menyala berkedip-kedip, diikuti suara alarm darurat bernada tinggi.
"Ada apa ini?!" Exel menoleh tajam ke arah layar utama yang tiba-tiba dipenuhi deretan kode peringatan berwarna merah.
"Bang... ada pergerakan aneh di server finansial pusat kita!" Seorang teknisi muda di sudut ruangan berteriak panik, matanya melotot menatap layar monitornya sendiri. "Seseorang baru aja menerobos *firewall* level tertinggi kita!"
Exel langsung berjalan setengah berlari menghampiri meja teknisi itu. "Ada yang berani nyerang server Aegis? Lacak IP-nya, bakar *motherboard* mereka dari sini!"
"Bukan... ini bukan serangan dari luar, Bang!" Teknisi itu mengetik beberapa kode untuk membuka rincian log aktivitas. Tangannya sampai gemetar. "Ini... ini perintah eksekusi dari dalam sistem kita sendiri. Seseorang baru aja ngegunain akses satelit kita buat ngebekuin total aset konsorsium bankir di Eropa Timur senilai empat koma dua miliar dolar!"
"Apa lo bilang?" Exel mengernyitkan dahi, merebut paksa *mouse* dari tangan teknisi itu dan membaca sendiri log di layar.
Memang benar. Ratusan rekening perusahaan cangkang milik musuh mereka di Eropa Timur baru saja dibekukan secara paksa. Akuisisi paksa perusahaan logistik musuh juga sedang berjalan otomatis. Itu adalah pergerakan finansial yang luar biasa agresif dan mematikan.
"Siapa komandan divisi yang ngasih perintah ini tanpa persetujuan gue?!" Exel menggeram marah.
"Nggak ada, Bang. Perintah ini... masuk lewat jalur protokol Omega." Leo yang sudah berpindah ke konsol utama menjawab dengan suara tercekat.
Udara di ruangan itu seakan tersedot habis. Semua teknisi yang tadinya sibuk mengetik langsung membeku di tempat duduk mereka. Protokol Omega. Itu bukan sekadar kata sandi biasa. Itu adalah enkripsi tingkat dewa yang hanya bisa diakses menggunakan cip mikro khusus yang tertanam di dalam satu benda di dunia ini: Cincin Naga Hitam.
Dan cincin itu tidak pernah lepas dari jari Theodore.
"Lo yakin itu protokol Omega?" Exel bertanya, suaranya tiba-tiba bergetar pelan. Matanya yang garang kini terpaku pada layar monitor.
"Validasi biometrik cincin terkonfirmasi seratus persen, Bang. Sistem nggak mungkin bisa dikelabui. Ini beneran dari beliau," Leo menelan ludah, menatap Exel dengan pandangan tak percaya.
Senyum lebar perlahan mengembang di wajah Exel, mengubah raut wajahnya yang tadi menakutkan menjadi penuh kelegaan dan kebanggaan yang meletup-letup. Bos besarnya masih hidup. Sang Raja telah kembali menyentuh papan caturnya. Transaksi yang membekukan aset konsorsium itu adalah perintah langsung yang dikirim Theodore pagi tadi saat ia berada di gudang belakang rumah Kakek Surya.
"Gue udah bilang apa sama kalian, hah?! Dia masih hidup!" Exel tertawa keras, suaranya menggema memantul di dinding baja ruangan itu. "Tikus-tikus Eropa Timur itu pasti lagi nangis darah sekarang karena ngebangunin raksasa yang lagi tidur."
"Bang, sinyal eksekusinya sempat ninggalin jejak pantulan atau *ghost signal* di satelit sebelum enkripsinya nutup sendiri. Sinyalnya sangat singkat, cuma dua detik," lapor Leo cepat.
"Lacak pantulan itu sekarang! Tembus satelit mata-mata global di koordinat terakhirnya. Gue nggak peduli kalau kalian harus ngebajak satelit militer negara mana pun, cari tahu dari mana tepatnya sinyal itu dikirim!" perintah Exel meledak-ledak, semangatnya kembali terbakar habis-habisan.
Puluhan teknisi kembali bekerja bagai kesetanan. Baris-baris kode mengalir deras di layar utama. Mereka mulai membobol sistem navigasi global, melacak rute data yang dikirim oleh cincin Theodore beberapa jam yang lalu, menyaringnya dari miliaran lalu lintas data internet dunia.
"Dapat!" Leo berteriak setelah lima belas menit yang menegangkan. Peta di layar utama dengan cepat melakukan pembesaran *(zoom in)* dari peta dunia, masuk ke benua Asia, turun ke sebuah negara kepulauan, dan akhirnya berhenti di sebuah titik merah yang berkedip di atas sebuah kota.
"Sinyal terakhir memantul dari menara seluler tersembunyi di kota ini," Leo menunjuk titik merah tersebut.
Exel menatap nama kota yang tertera di layar dengan mata menyipit tajam. Ia mengingat-ingat apakah Aegis punya bisnis di kota kecil yang tidak terlalu mencolok itu. Tidak ada. Bosnya benar-benar memilih tempat persembunyian yang sangat acak dan jauh dari radar musuh.
"Kirim tim pemantau siber ke jaringan komunikasi kota itu. Jangan sampai ada yang sadar kita lagi mengawasi mereka," Exel memberi instruksi dengan nada dingin dan penuh perhitungan. "Dan siapin armada ekspedisi elit. Kita akan mulai melacak pergerakan fisik di sana."
"Mau langsung berangkat, Bang?" tanya Leo.
"Belum. Bos pasti punya alasan kuat kenapa dia masih sembunyi dan milih pakai sandi rahasia alih-alih langsung hubungin saluran komunikasi utama kita. Kita bakal main bersih dulu. Retas semua kamera keamanan, CCTV jalanan, sampai kamera ATM di kota itu. Gue mau kalian nemuin wajah atau bayangannya sebelum kita gerak."
Exel menyeringai lebar, meremas jari-jarinya hingga terdengar bunyi tulang bergemeretak.
"Bertahanlah sebentar lagi, Bos. Siapa pun yang berani bikin lo sembunyi selama tiga tahun ini, gue janji bakal ngeratain mereka sama tanah."