Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguji Roh dan Ujian Berdarah
Matahari perlahan tenggelam di balik ufuk barat ketika empat sosok melangkah keluar dari lebatnya rimba Pegunungan Kabut Hitam.
Han Qingshan berjalan paling depan dengan kedua tangan ditautkan di belakang jubah. Zhao Feng dan Lin Hao mengikutinya beberapa langkah di belakang. Sementara itu, Lu Mingseng berjalan paling akhir—langkahnya tertatih-tatih, pakaian lusuhnya dipenuhi debu dan noda darah kering.
Tidak ada yang memulainya dengan percakapan.
Bagi dua murid dalam Sekte Pedang Awan itu, Mingseng hanyalah gelandangan beruntung yang kebetulan dipungut sang Tetua di reruntuhan. Mereka bingung mengapa Tetua Han bersedia membawa sampah semacam ini ke sekte.
Namun, Mingseng justru bersyukur. Selama tidak ada yang mengetahui rahasia warisan di tubuhnya, dianggap tak ada adalah perlindungan terbaik.
"Senior Han..." Mingseng memberanikan diri memecah keheningan.
Han Qingshan menoleh tipis. "Ada apa?"
"Apakah orang seperti saya... benar-benar diizinkan mengikuti ujian penerimaan murid?"
Zhao Feng langsung tertawa mengejek dari depan. "Kau? Ingin jadi murid sekte kami?"
Ia berbalik, menatap Mingseng dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cemoohan penuh. "Bocah, ribuan jenius dari keluarga kaya bertarung tiap tahun demi masuk ke sini. Lihat dirimu! Tubuh ringkih, baju compang-camping, dan tidak punya energi Qi sedikit pun. Kau pikir sekte kami tempat penampungan pengemis?"
Mingseng tidak membalas. Hinaan seperti itu sudah menjadi konsumsinya sehari-hari. Ia menunduk bukan karena merasa kalah, melainkan karena ia tahu belum waktunya untuk memamerkan taring.
"Cukup, Zhao Feng!" tegur Han Qingshan dingin. "Siapa yang berhak ikut adalah urusanku."
"Maafkan saya, Penatua," sahut Zhao Feng patuh, meski melirik sinis ke arah Mingseng.
Gerbang Utama Sekte Pedang Awan.
Menjelang sore, mereka tiba di kaki Gunung Pedang Awan. Mingseng mendongak, matanya menatap takjub pada pemandangan di hadapannya.
Tangga batu raksasa meliuk-liuk menembus lautan awan, menghubungkan puncak-puncak gunung yang menjulang gagah. Di angkasa, burung-burung spiritual terbang melintas, sementara kilatan cahaya pedang para kultivator melesat membelah langit.
Inilah dunia kultivasi sejati—dunia yang sangat berbeda dengan Kota Qinghe.
Di depan gerbang utama, ratusan pemuda berpakaian indah tampak mengantre antusias. Namun, saat Mingseng melangkah masuk di belakang Han Qingshan, seorang murid penjaga gerbang mendadak membentangkan tombaknya.
"Berhenti! Pengemis dari mana ini?"
Seketika, gelak tawa meledak di antara kerumunan calon murid.
"Lihat itu! Ada pengemis mau ikut ujian seleksi!"
"Haha! Paling juga mau minta sisa makanan di dapur sekte!"
Mingseng mengepalkan tangannya di balik lengan baju. Dadanya bergemuruh panas. Ia tidak peduli dicaci, tapi pandangan orang-orang yang menganggap yang miskin tak berhak atas kesempatan membuat darahnya bergejolak.
"Biarkan dia masuk," perintah Han Qingshan singkat dari depan.
Penjaga gerbang itu seketika menunduk dalam. "Baik, Penatua!"
Lapangan Pedang Awan — Tempat Ujian.
Ratusan peserta berkumpul di lapangan batu yang luas. Di tengah lapangan, berdiri sebuah pilar pualam setinggi dua orang dewasa dengan kristal bening di puncaknya—Batu Penguji Roh.
Seorang penguji berjubah abu-abu berseru nyaring, "Ujian pertama terdiri dari dua tahap! Pertama, kalian harus melewati Jalur Tekanan Spiritual! Kedua, menyentuh Batu Penguji Roh untuk mengukur potensi bakat kalian!"
Satu per satu peserta mulai mencoba Jalur Tekanan. Banyak yang tumbang memuntahkan darah di tengah jalan karena tak sanggup menahan himpitan energi formasi.
"Berikutnya... Lu Mingseng!" panggil penguji.
Mingseng melangkah maju. Suara kasak-kusuk kembali bergema.
"Usia tujuh belas tahun tapi belum punya tingkat Pengumpulan Qi? Kok bisa lolos seleksi awal?"
Mingseng mengabaikan cemoohan itu. Ia menjejakkan kaki pertamanya di atas Jalur Tekanan.
BUM!
Beban tak kasat mata seberat batu gunung mendadak menekan pundaknya! Lutut Mingseng berderak, tubuhnya tertekuk hampir menyentuh tanah.
"Dia bakal rubuh di langkah kelima!" celetuk Zhao Feng di tepi lapangan.
Namun, Mingseng menggertakkan giginya hingga berdarah.
Ia mengingat rasa sakit saat ibunya meninggal... Rasa sakit saat ayahnya menendangnya... Dan rasa sakit saat ia terpaksa berlutut di tanah berlumpur!
'Kalau tekanan sekecil ini saja membuatku menyerah... bagaimana aku bisa membalas mereka?!'
Satu langkah... Lima langkah... Dua puluh langkah...
Tubuhnya gemetar hebat, keringat bercampur darah menetes membasahi batu jalanan. Meridian pertamanya di dalam dada berdenyut menyiksa, menyalurkan sedikit kehangatan untuk menahan tekanan luar biasa tersebut.
'Jangan paksa dirimu, Mingseng!' suara Kaisar Keabadian bergema di benaknya. 'Tubuhmu belum cukup kuat!'
"Tidak... Aku TIDAK AKAN BERHENTI!" batin Mingseng menjerit.
Dengan tekad gila yang menolak tunduk, Mingseng menyeret kakinya menembus batas akhir Jalur Tekanan!
Brak!
Begitu melewati garis batas, Mingseng ambruk terkapar.
Seluruh lapangan seketika sunyi senyap. Penguji terbelalak tak percaya. Zhao Feng bungkam seribu bahasa.
Dengan tubuh gemetar dan dibantu seorang murid, Mingseng berdiri tertatih di hadapan Batu Penguji Roh.
"Letakkan tanganmu dan alirkan energimu," instruksi penguji.
Mingseng menempelkan telapak tangannya ke permukaan pilar yang dingin.
Satu detik... Tiga detik...
Kristal di puncak pilar tetap gelap. Tidak ada reaksi sama sekali.
Tawa mengejek kembali meledak dari penonton. "Haha! Sudah kuduga, cuma sampah nekat tanpa bakat!"
Penguji menggeleng kecewa. "Tidak ada reaksi."
Namun, Mingseng memejamkan matanya. Di dalam tubuhnya, ia memanggil sedikit kehangatan dari Meridian Pertama. Tanpa disadari, Tulang Jari Emas yang menyatu di dadanya bergetar halus.
WUSH!
Seketika, kristal di atas pilar berkedip terang!
Meski hanya berlangsung secepat kilat sebelum redup kembali, di dalam kristal bening itu sempat terpancar Sembilan Garis Keemasan yang sangat murni!
Di kejauhan, Han Qingshan tersentak hebat. Matanya membelalak lebar. 'Sembilan garis emas?!'
Bukan hanya Han Qingshan. Di atas panggung utama, seorang lelaki tua berjubah hitam yang tadinya terpejam mendadak membuka matanya. Aura penekanan yang luar biasa dahsyat menyebar dari tubuh pria tua itu, membuat udara seolah membeku.
Dialah Tetua Agung Sekte Pedang Awan.
Lelaki tua itu berdiri, tatapannya yang tajam bagai bilah pedang menancap lurus pada Lu Mingseng.
"Han Qingshan... bawa bocah itu ke Aula Tetua sekarang juga!" perintah sang Tetua Agung dengan suara berat yang menggetarkan seluruh lapangan.
Han Qingshan membungkuk dalam. "Baik, Tetua Agung!"
Mingseng yang masih memegangi tangannya merasa bingung saat Han Qingshan menghampiri dan mencengkeram bahunya erat-erat.
Di saat yang sama, suara Kaisar Keabadian terdengar amat panik dan serius di dalam jiwanya:
'Dengarkan aku, Mingseng! Tetua Agung sekte ini baru saja menyadari keanehan tubuhmu! Apa pun yang terjadi di Aula Tetua nanti... JANGAN BIARKAN MEREKA MEMERIKSA TULANG EMAS DI DALAM TUBUHMU!'
Mingseng menelan ludah, dadanya berdegup kencang. Ia baru saja melewati satu pintu, namun kini ia terseret masuk ke dalam sarang serigala yang jauh lebih berbahaya!
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳