NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyala di Tengah Hujan

"Aku tak peduli dengan pendidikan dan cita-citamu, itu bukan urusanku! Security, bawa anak pembawa sial ini keluar!" ucap Helena dingin, memberikan instruksi tegas melalui gagang telepon rumah yang dipasangnya kembali dengan hentakan kasar.

​Dua orang petugas keamanan bertubuh tegap segera melangkah masuk ke ruang tamu. Tanpa rasa iba, mereka memegang kedua lengan Kirana dan memaksanya berdiri, menuntunnya keluar dari kemewahan yang terasa membekukan itu.

​Kirana tidak memberontak. Ia membiarkan tubuhnya diseret pelan melewati lorong marmer hingga melintasi pintu gerbang besi yang tinggi. Suara gemerincing kunci yang mengunci gerbang rapat-rapat bergema di kegelapan malam, menyisakan Kirana yang berdiri sendirian di bawah derasnya hujan yang kini mulai turun mencurah.

​Tetesan air hujan membasahi wajah dan pakaian lusuhnya, menyamarkan air mata yang akhirnya pecah menetes di pipinya. Rasa sakit di dadanya bukan karena perlakuan kasar para penjaga, melainkan kenyataan pahit bahwa pintunya untuk meminta kepedulian keluarga telah tertutup sepenuhnya.

​Namun, di tengah basah dan dinginnya malam itu, Kirana mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia menyapu air mata di wajahnya dengan punggung tangan. Perlakuan tajam dari sang nenek dan sebutan "anak pembawa sial" tidak akan memadamkan binar impiannya. Jika pintu rumah megah itu tertutup baginya, ia akan menempa pintunya sendiri lewat kecerdasan, keteguhan, dan usaha kerasnya tanpa bergantung pada siapa pun lagi.

​Hujan deras mengguyur bumi tanpa ampun, menyelimuti malam dengan kegelapan yang kian pekat. Air dingin merembes cepat menembus pakaian lusuh Kirana, membuat tubuhnya yang mungil gemetar hebat. Di depan gerbang besi yang baru saja terkunci rapat itu, ia berdiri mematung. Dinding-dinding tinggi rumah megah milik keluarga almarhum ayahnya seolah tertawa sinis, mempertegas jarak lebar antara dirinya dan garis keturunan yang menolaknya.

​Kirana mengusap wajahnya yang basah oleh campuran air hujan dan rasa getir. Kata-kata Nenek Helena masih bergema keras di telinganya, menyengat setiap sudut hatinya. Anak pembawa sial. Label yang telah melekat sejak ia berumur lima tahun itu kembali dilemparkan dengan penuh kebencian. Namun, di balik rasa sakit yang menjalar, ada sesuatu yang membakar di dalam dadanya. Bukan dendam, melainkan tekad bulat yang mengkristal bersama dinginnya malam.

​Ia berbalik, melangkah meninggalkan pelataran rumah mewah itu tanpa sekali pun menoleh lagi. Setiap pijakan kakinya di atas genangan air seolah menegaskan keputusannya: ini adalah kali terakhir ia memohon belas kasihan pada orang lain. Jika dunia menganggapnya sebagai pembawa petaka, maka ia akan membuktikan bahwa ia mampu menjadi penentu takdirnya sendiri.

​Perjalanan kembali menuju panti asuhan "Lentera Kasih" terasa jauh lebih panjang. Jalanan kota yang sepi hanya dihiasi bayang-bayang lampu jalanan yang pudar. Langkah Kirana gemetar, tapi tatapannya terkunci lurus ke depan. Tas ransel lusuhnya melindunginya dari kehampaan, menyimpan lembaran-lembaran sertifikat dan surat penerimaan universitas yang menjadi satu-satunya harta berharganya.

​Satu jam kemudian, Kirana tiba di depan bangunan sederhana beratap genteng tua yang menjadi rumahnya selama lima belas tahun terakhir. Cahaya lampu teras yang temaram menyambutnya hangat. Sebelum sempat ia mengetuk pintu, kayu tua itu sudah terdorong terbuka. Ibu Ratna, pengasuh panti asuhan yang membesarkannya dengan penuh kasih, berdiri di sana dengan raut wajah cemas.

​"Kirana! Astaga, Nak, kamu dari mana saja dalam keadaan hujan begini?" seru Ibu Ratna, langsung merangkul tubuh Kirana yang basah kuyup dan membawanya masuk.

​Ibu Ratna dengan cepat mengambilkan handuk kering dan secangkir teh hangat. Wanita paruh baya itu menatap Kirana dengan mata lembut yang penuh perhatian. Tanpa Kirana perlu bersuara, Ibu Ratna sudah bisa menebak ke mana anak cerdas itu pergi malam ini dan bagaimana hasilnya.

​"Nenekmu menolak lagi, ya?" tanya Ibu Ratna pelan, menyodorkan cangkir teh yang berasap tipis.

​Kirana memegang cangkir itu dengan kedua tangannya yang masih dingin, menghirup aroma melati yang menenangkan. Ia mengangguk perlahan, lalu tersenyum—sebuah senyuman tipis namun memancarkan keteguhan yang luar biasa.

​"Iya, Ibu. Nenek tidak mau membantu," jawab Kirana jujur, suaranya tenang tanpa nada ratapan. "Tapi Kirana tidak apa-apa, Bu. Kirana sudah tidak sedih lagi."

​Ibu Ratna mendesah pelan, menahan iba melihat ketegaran anak asuhnya itu. "Maafkan Ibu, Kirana. Panti kita sedang kesulitan keuangan. Tabungan panti hanya cukup untuk biaya sekolah adik-adikmu dan kebutuhan harian. Ibu tidak tahu bagaimana cara membantu biaya kuliahmu di universitas negeri itu..."

​"Jangan minta maaf, Ibu," potong Kirana cepat, menatap mata Ibu Ratna dengan penuh rasa terima kasih. "Panti ini sudah memberikan Kirana rumah, kasih sayang, dan kesempatan untuk belajar sampai sejauh ini. Itu sudah lebih dari cukup. Soal biaya kuliah, Kirana pasti menemukan jalannya sendiri."

​Kirana meletakkan cangkirnya, lalu membuka tas ranselnya yang beruntung bagian dalamnya tidak terlalu basah. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas pendaftaran dan brosur program beasiswa serta kerja paruh waktu yang sempat ia kumpulkan dari internet perpustakaan kota.

​"Besok pagi, Kirana akan mendatangi kampus untuk menanyakan program beasiswa bidikmisi dan bantuan biaya pendidikan dari pemerintah. Kirana juga akan mencari pekerjaan paruh waktu—jadi pengajar privat, staf perpustakaan, atau apa saja. Kirana punya otak dan dua tangan yang sehat, Bu. Kirana pasti bisa berkuliah," tegas Kirana dengan sorot mata berkilat.

​Ibu Ratna menatap gadis di hadapannya dengan rasa bangga yang membuncah. Di balik kesederhanaan dan kepahitannya hidup sebagai anak yatim piatu, Kirana memiliki jiwa yang tak pernah menyerah.

​Malam itu, di kamar kecilnya yang beratap seng, Kirana mendengarkan derai hujan yang lambat laun mereda. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis, memandang ke arah langit-langit. Pintu kemewahan keluarga ayahnya mungkin telah tertutup rapat, namun pintu masa depannya baru saja terbuka lebar lewat keberaniannya sendiri. Kirana memejamkan mata, siap menyambut esok hari dengan perjuangan yang baru.

1
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!