NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Satoshi berdiri di balik jendela kaca ruang kerjanya. Tatapannya tidak beranjak dari dua sosok yang duduk berdampingan di taman kecil di samping gedung perusahaan.

Lili dan pria berambut pirang itu.

Dari kejauhan, Satoshi dapat melihat senyum yang terukir di wajah istrinya. Perempuan itu bahkan tertawa ketika pria di sampingnya mengatakan sesuatu. Sesekali, Lili menunduk sambil menutup mulutnya, seolah-olah berusaha menyembunyikan tawanya.

Pemandangan sederhana itu seharusnya tidak berarti apa-apa baginya.

Selama tiga tahun, Satoshi telah menghabiskan malam bersama berbagai perempuan tanpa sedikit pun memikirkan perasaan Lili. Ia tidak pernah merasa bersalah ketika meninggalkan istrinya sendirian, bahkan ketika perempuan itu menangis di hadapannya.

Lalu, mengapa sekarang ia merasa terganggu hanya karena melihat Lili tersenyum kepada pria lain?

Satoshi mengencangkan rahangnya.

“Siapa pria itu?” tanyanya kepada asistennya yang berdiri tidak jauh dari meja kerja.

Asisten tersebut mengikuti arah pandangannya.

“Sepertinya salah seorang pekerja di proyek pembangunan sebelah, Tuan.”

“Sepertinya?”

“Maaf, Tuan. Saya akan memeriksanya.”

“Tidak perlu.” Satoshi mengangkat satu tangan, menghentikannya. "pergilah."

Asistennya mengangguk dan segera meninggalkan ruangan.

Satoshi kembali menatap taman itu. Pria berambut pirang tersebut baru saja menghabiskan semua yang ada dikotak bekal itu.

Kotak bekal yang selama bertahun-tahun dibuat istrinya setiap pagi.

Sesuatu yang dahulu selalu ia abaikan, bahkan sengaja ia berikan kepada para pekerja bangunan karena tidak ingin menyentuhnya.

Kini, Lili justru duduk di hadapan pria lain, menyaksikan pria itu menikmati makanan yang dibuatnya.

Satoshi merasakan sesuatu yang panas menjalar di dadanya.

Ia tidak menyukai pemandangan tersebut.

Sama sekali tidak.

---

Baru saja menutup kotak bekal itu dan menaruhnya disamping tempat duduknya ia menyadari perubahan pada wajah Lili.

Perempuan itu mendadak terdiam. Senyum yang sejak tadi menghiasi bibirnya perlahan menghilang.

“Kau kenapa?” tanya Tyson.

Lili menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Tyson mengikuti arah pandangannya dan melihat seorang pria bertubuh tinggi mengenakan setelan hitam berjalan mendekati mereka.

Wajah pria itu tampan, tetapi sorot matanya begitu dingin. Langkahnya tegas, seolah-olah seluruh tempat yang dilewatinya merupakan miliknya.

Lili segera berdiri.

“Tuan.”

Satoshi berhenti tepat di hadapannya.

“Jadi, di sinilah kau menghabiskan waktumu?”

Lili menundukkan kepala.

“Saya sedang memberikan bekal makan siang kepada Tyson, Tuan.”

“Tyson?” Satoshi mengulang nama itu dengan nada mengejek. “Kau sudah cukup akrab dengannya sampai berani memanggil namanya begitu saja?" . "pantas saja bekal yang kau buat tidak lagi sampai kekantorku." gumamnya pelan hampir tidak terdengar.

Tyson mengernyitkan dahi.

Ia tidak memahami mengapa pria asing tersebut berbicara kepada Lili dengan nada seperti seorang majikan yang sedang memarahi pekerjanya.

“Maaf, Tuan. Apakah ada masalah?” tanyanya sopan.

Satoshi mengalihkan pandangan kepadanya.

“Kau siapa?”

“Saya Tyson. Saya bekerja di proyek pembangunan sebelah.”

“Pantas saja.”

Tyson mengerutkan kening.

“Apa maksud Anda?”

Satoshi tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan dalam senyumnya.

“Tidak ada. Aku hanya heran melihat seorang pekerja bangunan bisa begitu dekat dengan perempuan yang bukan siapa-siapa bagimu.”

Wajah Lili memucat.

“Tuan, Tyson tidak melakukan kesalahan apa pun. Saya yang datang menemuinya.”

“Diam.”

Satu kata itu membuat Lili terbungkam.

Tyson berdiri dari bangku. Ia tidak menyukai cara pria tersebut memperlakukan Lili, terlebih ketika perempuan itu terlihat begitu ketakutan hanya karena mendengar suaranya.

“Pak, jika Anda memiliki masalah dengannya, sebaiknya bicarakan baik-baik. Tidak perlu membentaknya.”

Satoshi menoleh perlahan.

“Apa katamu?”

“Saya hanya mengatakan bahwa Anda seharusnya berbicara dengan lebih sopan.”

Udara di antara mereka seketika terasa tegang.

Satoshi melangkah mendekati Tyson. Perbedaan kedudukan mereka terlihat jelas dari pakaian yang dikenakan, tetapi Tyson tidak mundur.

“Kau pikir kau mengenal perempuan ini?”

“Setidaknya, saya tahu cara menghormatinya.”

Kalimat itu membuat mata Satoshi menyipit.

Lili segera berdiri di antara keduanya.

“Tyson, sudahlah. Tolong jangan memperpanjang masalah ini.”

Tyson memandang Lili. Ia melihat ketakutan di wajah perempuan itu, tetapi juga sesuatu yang belum pernah dilihatnya sebelumnya: kelelahan.

“Lili, apakah pria ini mengganggumu?”

Satoshi tertawa pendek.

“Mengganggunya? Kau bahkan tidak tahu siapa perempuan yang sedang kau ajak bicara.”

Tyson menatapnya dengan bingung.

Satoshi kemudian mengarahkan pandangannya kepada Lili.

“Katakan kepadanya.”

Lili menggenggam ujung gaunnya.

Tidak ada yang perlu dikatakan. Tyson bukan bagian dari kehidupannya, dan ia tidak ingin menyeret pria itu ke dalam masalah rumah tangganya.

Namun, Satoshi tampaknya tidak berniat membiarkan persoalan tersebut berakhir begitu saja.

“Katakan siapa aku bagimu, Lili.”

Perempuan itu terdiam cukup lama.

Kemudian, dengan suara lirih, ia menjawab, “Beliau adalah Tuan Satoshi Katagiri.”

Tyson tertegun.

Nama itu bukan nama yang asing baginya. Ia pernah mendengar para pekerja membicarakan pemilik perusahaan besar yang mendanai proyek pembangunan tersebut.

Satoshi Katagiri.

Salah satu pengusaha terkaya di Amerika.

Tyson menatap pria di hadapannya, lalu kembali memandang Lili.

“Tunggu. Apakah maksudmu—”

“Dia istriku,” potong Satoshi.

Dunia seakan berhenti berputar bagi Tyson.

Ia memandang Lili dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan. Perempuan yang selama ini datang membawakannya makanan ternyata merupakan istri pria yang berdiri di hadapannya.

Namun, yang paling mengejutkannya bukanlah kekayaan atau kedudukan Satoshi.

Melainkan cara pria itu memperlakukan Lili.

“Kalau dia istri Anda,” ujar Tyson perlahan, “mengapa Anda berbicara kepadanya seperti itu?”

Satoshi mendekat satu langkah.

“Itu bukan urusanmu.”

“Benar. Namun, saya tidak bisa berpura-pura tidak melihat ketika seseorang diperlakukan dengan buruk.”

“Jaga ucapanmu.”

“Saya sudah menjaganya.”

Lili merasa jantungnya berdegup semakin cepat.

Ia tahu seperti apa Satoshi ketika amarahnya tersulut. Ia tidak ingin Tyson menjadi sasaran kebencian pria itu hanya karena berusaha membelanya.

“Tyson, kumohon,” katanya pelan. “Aku akan baik-baik saja.”

Tyson menatapnya, kemudian mengangguk meskipun jelas masih menyimpan kekhawatiran.

Satoshi memperhatikan pertukaran tatapan itu dengan perasaan yang semakin sulit dikendalikan.

Ia tidak menyukai bagaimana Lili berbicara kepada Tyson. Ia tidak menyukai perhatian yang diberikan pria itu kepada istrinya. Dan yang paling membuatnya marah, Lili tampak lebih nyaman berada di samping seorang pekerja bangunan daripada bersamanya.

“Mulai sekarang, jangan datang lagi ke sini,” ujar Satoshi kepada Lili.

Lili mengangkat wajah.

“Maaf, Tuan. Namun, saya tidak mengerti mengapa saya tidak boleh datang.”

“Karena aku melarangmu.”

“Tyson tidak melakukan kesalahan apa pun.”

“Aku tidak bertanya tentang pendapatmu.”

Lili menarik napas panjang. Selama tiga tahun, ia selalu menuruti segala perintah Satoshi. Ia menerima hinaan, menelan kesedihan, dan terus berusaha menjadi istri yang baik meskipun tidak pernah diperlakukan sebagai seorang istri.

Namun, hari ini berbeda.

“Saya mengerti, Tuan. Namun, saya tidak ingin berhenti melakukan sesuatu yang baik hanya karena Tuan tidak menyukainya.”

Satoshi terdiam.

Ia tidak menyangka Lili akan menjawab seperti itu.

Perempuan yang biasanya selalu menunduk kini berdiri dengan tatapan yang tenang. Tidak ada keberanian yang berlebihan, tidak pula sikap menantang. Hanya sebuah ketegasan sederhana yang terasa asing baginya.

“Lili,” ucapnya dengan suara rendah, “ikut aku pulang.”

Lili menatapnya.

“Maaf, Tuan. Saya masih memiliki urusan.”

“Aku tidak sedang meminta.”

Lili mengambil tasnya dibangku taman, lalu membungkuk singkat kepada Tyson.

“Terima kasih untuk hari ini. Aku harus pergi.”

Tyson mengangguk. “Hati-hati, Lili.”

Satoshi mendengar ucapan itu, dan rahangnya kembali mengeras.

Lili berjalan melewatinya tanpa menoleh.

Untuk sesaat, Satoshi hanya berdiri mematung. Ia terbiasa melihat istrinya mengejarnya, memohon agar diberi kesempatan, atau menangis ketika ditinggalkan.

Namun, hari ini Lili justru pergi lebih dahulu.

Dan ia tidak tahu mengapa hal itu terasa seperti sebuah kekalahan.

Satoshi berjalan cepat mengejar Lily, mencengkram tangannya cukup kuat lalu menariknya menuju tempat mobil diparkirkan

"Tuan sakit, lepaskan."

"Diam , masuk." Satoshi membuka pintu mobil dengan kasar lalu mendorong Lily agar segera duduk.

Satoshi duduk dikemudi, menstater gas mobil lalu menginjak pedal gas keluar area parkiran kantor. sementara perempuan itu memandang keluar jendela. Tidak ada percakapan di antara mereka sampai akhirnya Satoshi membuka suara.

“Sejak kapan kau mengenal pria itu?”

“Sudah cukup lama, Tuan.”

“Seberapa lama?”

Lili menoleh sebentar.

“Beberapa bulan.”

“Dan kau memberinya makanan setiap hari?”

“Ya.”

Satoshi tertawa dingin.

“Menarik. Selama tiga tahun kau menjadi istriku, tetapi kau tidak pernah berhenti berharap aku akan memakan masakanmu. Sekarang, kau memberikannya kepada pria lain.”

Lili kembali memandang jendela.

“Karena dia menghargainya.”

Jawaban itu membuat Satoshi membeku.

Ia ingin membantah, tetapi tidak menemukan kata-kata yang tepat.

Lili tidak sedang meninggikan suara. Ia bahkan tidak menuduhnya secara langsung.

Namun, kalimat sederhana itu terasa lebih menyakitkan daripada pertengkaran mana pun yang pernah mereka alami.

Mobil terus melaju menuju rumah mereka.

Satoshi menatap perempuan di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Lili sangat cantik dengan kulit putih dan bibir merah muda seperti plum dan rambut terurai panjang, terpesona sesaat sebelum fokusnya kembali pada jalanan.

Dan ketika mobil berhenti di depan kediaman Katagiri, sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya.

Jika Lili mampu tersenyum kepada pria lain, apakah suatu hari nanti ia juga akan mampu meninggalkan dirinya tanpa menoleh kembali?

Satoshi mengepalkan tangan.

Ia belum menandatangani surat perceraian itu.

Namun, kini ia mulai takut pada satu kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.

Bahwa ketika akhirnya ia ingin menjadikan Lili sebagai miliknya, perempuan itu mungkin sudah tidak ingin menjadi miliknya lagi.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!