Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Masa Lalu
Pagi itu, Aira bersiap untuk bertemu Rendra di sebuah kafe yang tidak jauh dari Galeri Nusantara. Ia membawa catatan mengenai motif tenun, jumlah produksi, harga, dan jadwal pengerjaan yang telah dibicarakan bersama Paman dan Bibi.
Di meja makan, Devan memperhatikan dokumen yang sedang diperiksa istrinya.
“Hari ini kamu akan bertemu Rendra?”
Aira mengangguk. “Iya, Mas. Kami akan menyelesaikan pembahasan kerja sama.”
“Semua sudah kamu perhitungkan?”
“Sudah. Saya juga sudah memastikan jumlah produksi sesuai kemampuan sanggar.”
Devan mengangguk. “Pastikan ketentuan pembayaran dan jadwal pengiriman tercantum dengan jelas.”
“Baik, Mas.”
Setelah sarapan, Devan berangkat ke kantor Mahendra Group, sedangkan Aira pergi menemui Rendra.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Rendra sudah menunggu ketika Aira tiba.
“Selamat pagi, Aira. Silakan duduk.”
“Selamat pagi, Pak Rendra.”
Setelah bertukar salam, mereka langsung membahas dokumen kerja sama.
Rendra menjelaskan bahwa Galeri Nusantara tertarik pada beberapa motif tenun dari sanggar Aira, terutama Giri Senja dengan perpaduan warna nila dan tembaga.
“Kami ingin menjadikan motif ini salah satu produk unggulan dalam kerja sama tahap pertama,” jelasnya.
Aira mengangguk. “Saya senang mendengarnya, Pak. Namun, pengerjaan Giri Senja membutuhkan ketelitian. Karena itu, jumlah produksinya perlu disesuaikan dengan kemampuan para perajin.”
“Tentu. Kami ingin menjaga kualitas produk, bukan sekadar mengejar jumlah.”
Mereka kemudian membahas jumlah kain yang akan diproduksi, harga setiap produk, mekanisme pembayaran, dan jadwal pengiriman. Aira menyampaikan perhitungan yang telah disepakati bersama Paman dan Bibi, sementara Rendra menyesuaikan rencana pemesanan galeri.
Setelah memastikan semua ketentuan sesuai, mereka menyetujui dokumen kerja sama.
“Kalau begitu, kita mulai dengan jumlah yang tercantum dalam kesepakatan ini. Setelah tahap pertama selesai, kita bisa mengevaluasi hasilnya sebelum membahas pesanan berikutnya,” ujar Rendra.
“Saya setuju, Pak.”
Rendra mengulurkan tangan. Aira menyambutnya.
“Semoga kerja sama ini berjalan baik untuk kedua belah pihak,” kata Rendra.
“Amin. Saya juga berharap begitu.”
Pertemuan tersebut menandai dimulainya kerja sama resmi antara sanggar tenun keluarga Aira dan Galeri Nusantara.
Dalam perjalanan pulang, Aira menghubungi Paman dan Bibi melalui panggilan video.
“Paman, Bibi, kerja samanya sudah resmi. Semua ketentuan produksi, harga, dan jadwal pengiriman sudah disepakati.”
“Syukurlah, Ra,” jawab Bibi. “Nanti kami mulai mengatur pekerjaan para perajin sesuai jadwal.”
“Salinan dokumennya akan saya kirimkan, Bi. Tolong diperiksa sekali lagi supaya persiapan di sanggar berjalan sesuai kesepakatan.”
Paman mengangguk.
“Baik. Kami akan mengurus persiapannya. Kamu tenang saja.”
“Terima kasih, Paman, Bibi.”
Setelah panggilan berakhir, Aira mengirimkan salinan dokumen kepada mereka. Ia merasa lega karena akhirnya bisa membawa sanggar peninggalan kakeknya menjalin kerja sama yang berpotensi membuka peluang baru bagi para perajin.
...___🍀🍀🍀🍀____...
Sore harinya, Devan baru saja menyelesaikan rapat di kantor Mahendra Group ketika menerima pesan dari Aira.
Aira: Mas, kerja sama dengan Galeri Nusantara sudah resmi disepakati. Semua ketentuan produksi dan pengiriman juga sudah ditetapkan.
Devan membalas singkat.
Devan: Bagus. Semoga persiapannya berjalan lancar.
Setelah mengirim pesan, ia kembali memeriksa dokumen di meja kerjanya.
Tak lama kemudian, Arga mengetuk pintu dan masuk membawa tablet.
“Permisi, Tuan. Ada perwakilan investor dari Singapura yang mengajukan pertemuan untuk membahas peluang kerja sama dengan Mahendra Group.”
Devan mengangkat kepala.
“Siapa perwakilannya?”
“Clara Wijaya, Tuan.”
Gerakan tangan Devan terhenti.
“Clara Wijaya?” ulangnya.
“Benar, Tuan.”
Nama itu membawa kembali ingatan tentang perempuan yang dahulu hampir menjadi istrinya, sebelum pergi meninggalkan Jakarta tanpa memberikan penjelasan.
Devan mengalihkan pandangan ke meja kerja.
“Jadwalkan pertemuannya besok pagi. Siapkan semua dokumen yang diperlukan.”
“Baik, Tuan. Apakah ada hal khusus yang perlu saya persiapkan?”
“Pastikan pembahasan berjalan sesuai prosedur. Aku tidak ingin urusan pribadi mencampuri kepentingan perusahaan.”
Arga mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.
Devan kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Ia belum mengetahui alasan Clara kembali, tetapi ia tidak berniat membiarkan masa lalu memengaruhi urusan perusahaan.
...____🍀🍀🍀🍀___...
Di tempat lain, Siska baru saja menyelesaikan beberapa urusan ketika asistennya menelepon.
“Bu Siska, saya ingin mengabarkan bahwa Clara Wijaya sudah kembali ke Jakarta.”
Siska langsung mengangkat alis.
“Clara? Kau yakin?”
“Benar, Bu. Nona Clara kembali sebagai perwakilan investor dari Singapura yang akan menjalin kerja sama dengan Mahendra Group.”
Senyum tipis muncul di wajah Siska.
Clara pernah menjalin hubungan serius dengan Devan. Mereka bahkan hampir menikah sebelum perempuan itu meninggalkan Jakarta tanpa memberikan penjelasan kepada keluarga Mahendra.
Sejak dahulu, Siska menganggap Clara lebih cocok menjadi pendamping putranya. Karena itu, kabar kepulangannya membangkitkan harapan yang sempat ia tinggalkan.
“Cari tahu jadwalnya. Aku ingin bertemu dengannya,” perintah Siska.
“Baik, Bu. Akan saya atur.”
Setelah panggilan berakhir, Siska meletakkan ponselnya di atas meja.
Ia belum tahu apa yang membuat Clara kembali setelah sekian lama. Namun, ia ingin bertemu perempuan itu dan mengetahui bagaimana kehidupannya selama berada di Singapura.
Mungkin kepulangan Clara akan membawa perubahan dalam kehidupan Devan.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Keesokan paginya, Clara tiba di Mahendra Group sesuai jadwal. Mengenakan setelan krem, ia melangkah memasuki lobi eksekutif sambil membawa map berisi dokumen kerja sama.
Arga menyambutnya dan mengantar perempuan itu menuju ruang rapat.
“Tuan Devan sudah menunggu, Nona Clara.”
“Terima kasih.”
Di dalam ruangan, Devan duduk bersama beberapa direktur. Ketika Clara masuk, ia mengangkat pandangan dan memberikan anggukan singkat.
“Selamat pagi, Nona Clara.”
“Selamat pagi, Tuan Devan.”
Devan mempersilakannya duduk sebelum membuka dokumen yang telah disiapkan.
Rapat pun dimulai.
Clara memaparkan rencana investasi dari pihaknya, termasuk peluang distribusi untuk memperluas jangkauan produk Mahendra Group ke sejumlah wilayah Asia. Ia menjelaskan potensi pasar, mekanisme pendanaan, dan tahapan pelaksanaan yang diusulkan.
Devan menyimak dengan saksama.
“Untuk tahap awal, kami mengusulkan investasi dalam skala terbatas,” jelas Clara. “Jika hasil evaluasi memenuhi target yang disepakati, kerja sama dapat dikembangkan secara bertahap.”
Devan memeriksa lembar perhitungan di hadapannya.
“Bagaimana pihak Anda memastikan perluasan distribusi tersebut tidak menimbulkan risiko terlalu besar bagi perusahaan?”
Clara menjelaskan mekanisme evaluasi dan pengawasan yang telah disiapkan. Beberapa direktur kemudian mengajukan pertanyaan mengenai proyeksi keuntungan serta pelaksanaan kerja sama.
Setelah seluruh poin utama dibahas, Devan menutup dokumen.
“Proposal ini akan kami pelajari lebih lanjut. Jika semua perhitungan dan ketentuannya sesuai, kita bisa melanjutkan pembahasan ke tahap berikutnya.”
“Tentu. Aku menantikan kabar dari pihak Mahendra Group,” jawab Clara.
Pertemuan berakhir secara profesional. Tidak ada pembicaraan mengenai hubungan mereka di masa lalu.
Ketika Clara berdiri untuk berpamitan, pandangan mereka sempat bertemu. Tak ada yang mengatakan apa pun. Keduanya hanya menyadari bahwa setelah sekian lama, mereka kembali berada di ruangan yang sama.
Kali ini, Clara datang sebagai perwakilan investor, sedangkan Devan duduk sebagai pihak yang akan menentukan apakah proposalnya layak diterima.
Dan di luar urusan bisnis itu, masih ada masa lalu yang belum pernah benar-benar mereka selesaikan.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,