Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cengkeraman Sang Raja dan Alasan Paling Masuk Akal di Dunia
Rasa dingin dari malam bersalju di Valesia mendadak kalah telak oleh suhu panas yang mengalir dari cengkeraman tangan besar di rahang Ceisya. Kulit jemari pria itu terasa keras seperti baja, namun ada kehangatan dominan yang memancar, membawa aroma khas hutan pinus tua, salju segar, dan darah segar yang langsung mendominasi indra penciuman.
Ceisya mengerjap pelan. Di jarak yang begitu dekat, wajah Fenrir Volkov tampak seperti pahatan dewa kegelapan yang sempurna—garis rahang yang tegas, hidung mancung yang arogan, serta sepasang mata merah menyala yang kini menatapnya penuh selidik, tanpa ampun, dan menyimpan ancaman kematian mutlak.
Wah, aslinya jauh lebih ganteng daripada di deskripsi novel. Tapi sayang, hobi bangat main cengkeram muka orang. Dikira rahangku martabak kali ya, main remuk ajah, batin Ceisya menggerutu tajam, meskipun wajahnya dipaksa menampilkan ekspresi terkejut ketakutan yang sangat natural. Mana Auranya beh... Bikin orang biasa terkejut langsung pindah alam ke hotel neraka bintang lima.
Sebagai mantan hacker yang terbiasa menghadapi situasi hidup-mati, detak jantung Ceisya tidak berpacu karena takut, melainkan karena ia sedang menghitung probabilitas bertahan hidup dalam milidetik. Jika ia melawan dengan teknik silat sekarang, tenaga fisik werewolf Alpha tingkat tinggi seperti Fenrir terlalu besar untuk ditaklukkan secara frontal tanpa persiapan. Strategi terbaik adalah pura-pura lemah sambil melontarkan alasan paling masuk akal di dunia.
"Y-Yang Mulia..." Suara Ceisya dibuat bergetar hebat, terdengar menyedihkan dan penuh isak tertahan. "Ampuni saya... Saya bukan mata-mata..."
Fenrir tidak langsung percaya. Alis tebal pria itu bertaut semakin erat. Mata merahnya menyipit tajam, menatap ke bawah pada tiga mayat pembunuh bayaran yang terkapar di atas salju berdarah, lalu kembali menatap mata cokelat Ceisya yang tampak basah oleh air mata buatan.
"Bukan mata-mata?" suara Fenrir terdengar rendah, berat, dan menggelegar langsung di dalam dada Ceisya, mengirimkan getaran aneh yang membuat bulu kuduk merinding. "Gadis cupu dari asrama pelayan berjalan sendirian tengah malam di perbatasan terlaris, mengenakan jubah penyamaran, dan dalam waktu sepuluh detik berhasil meremukkan leher serta tengkorak tiga pembunuh elit bayaran istana tanpa suara?"
Fenrir mempererat cengkeramannya, mendekatkan wajah mereka hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Napas panas sang Alpha menerpa kulit pipi Ceisya. "Jelaskan padaku, makhluk manis... sejak kapan pelayan istana dilatih membunuh dengan teknik patah tulang setingkat militer bayaran?"
Skakmat. Otak Ceisya langsung berputar cepat seribu keliling bagaikan bang keliing. Kalau dia jawab jujur kalau dia berasal dari bumi dan hobi baca novel, dijamin dia bakal langsung dikurung di ruang bawah tanah sebagai penyihir gila.
Maka, jurus andalan para tokoh transmigrasi harus segera dikeluarkan. Akting korban teraniaya tingkat dewa. Jurus super lembut lebai gemulai.
"S-Saya diserang lebih dulu, Yang Mulia!" rintih Ceisya, sengaja membiarkan air matanya benar-benar menetes membasahi punggung tangan Fenrir yang mencengkeram rahangnya. "Saya hanya... saya hanya tidak mau mati! Mereka mau membunuh saya karena mengira saya adalah orang lain!"
Wih, acting ku bagus juga air mata buaya perpaduan ikan piranha mematuk pas dan mantap... Pasti dia kena aku kibulin.
Fenrir terdiam sejenak. Ia mengamati mata Ceisya, mencari secercah kebohongan atau bau ketakutan murni. Yang ia temukan memang ada ketakutan, tetapi di balik selaput air mata itu, ada binar pemberontakan yang sangat liar dan tidak lazim dimiliki oleh gadis pelayan mana pun di istana Valesia.
Bau tubuh gadis ini... sangat unik. Tidak ada bau keringat ketakutan yang biasa ia cium dari musuh-musuhnya. Yang ada hanyalah aroma manis yang samar, bercampur dengan adrenalin murni yang justru mulai memicu insting binatang buas di dalam diri Fenrir untuk merengkuh dan menguasai.
Menarik, batin Fenrir menyeringai tipis di dalam kepalanya. Selama ini, seluruh wanita di istana—termasuk Bianca yang arogan dan Belva yang selalu bersandiwara—selalu gemetar gemas atau mencoba merayunya dengan cara murahan. Tidak ada satu pun yang berani menatap langsung ke dalam mata merahnya dengan nyali sebesar ini sambil menangis dramatis.
"Siapa yang mengira kau adalah orang lain?" tanya Fenrir dingin, melonggarkan sedikit cengkeramannya di rahang Ceisya, namun tangan kekar itu berpindah turun, mencengkeram pinggang ramping Ceisya dengan erat dan menarik tubuh gadis itu menempel sempurna ke dada bidangnya.
Eh, buset! Ini malah meluk! Modus bangat jadi raja! batin Ceisya protes keras, sementara tubuhnya terpaksa merapat pada mantel bulu hitam Fenrir yang beraroma sangat maskulin.
"B-Belva... Nona Belva Vespera..." jawab Ceisya terbata-bata, memanfaatkan kesempatan untuk membuang muka ke arah lain agar tidak ketahuan sedang mencibir. "Mereka sebenarnya mengincar Nona Belva... Jubah ini... jubah ini dipinjamkan oleh Nona Belva kepada saya agar saya bisa membawakan barangnya, tapi... tapi para pembunuh itu salah mengenali saya..."
Nama Belva meluncur begitu saja dengan mulus. Di dalam alur novel, Belva memang sering menggunakan taktik kotor untuk mengorbankan orang lain, dan Ceisya sengaja melempar umpan ini lebih awal untuk memancing kecurigaan sang Alpha terhadap sang sahabat malaikat maut.
Mendengar nama Belva Vespera, kilatan jijik dan dingin melintas sesaat di mata merah Fenrir. Raja Serigala itu tahu betul siapa Belva—anak angkat yang selalu memasang wajah teraniaya di hadapannya setiap kali ada kesempatan. Namun, Fenrir tidak pernah peduli pada wanita mana pun. Bagi Fenrir, seluruh isi istana ini hanyalah bidak catur yang membosankan.
Kecuali... gadis di dalam pelukannya saat ini.
"Belva Vespera..." gumam Fenrir rendah tepat di telinga Ceisya, membuat wanita itu merinding bukan karena takut, tapi karena sensasi suara bariton itu terlalu intim. "Kau tahu, gadis manis... Melindungi seseorang dengan menyerahkan nyawamu adalah kebodohan terbesar."
"Saya memang bodoh, Yang Mulia! Makanya lepaskan saya, biarkan saya kembali ke asrama untuk meratapi kebodohan saya!" balas Ceisya cepat, mencoba mendorong dada bidang Fenrir dengan kedua tangannya.
Tapi tenaga seorang manusia—meskipun mantan jago silat—tentu saja tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan penuh seorang Alpha Werewolf. Tubuh Fenrir tidak bergeming sedikit pun, bagaikan tembok es abadi. Pria itu justru semakin mengeratkan rengkuhannya, menundukkan kepala hingga bibirnya berada tepat di dekat daun telinga Ceisya.
"Pulang?" bisik Fenrir dengan nada berbahaya yang sukses membuat jantung Ceisya melonjak ke tenggorokan. "Setelah kau mengotori wilayah perbaktianku dengan darah para pembunuh bayaran dan menunjukkan trik bela diri yang sangat menarik... kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja, Ceisya?"
Ceisya terkesiap. Dia tahu namaku?! Ah, iya, kan di jubah pelayan ada lencana namanya! Sialan, bodoh banget aku nggak ngecek atribut baju! Batin Ceisya merutuki diri sendiri.
Sebelum Ceisya sempat memikirkan alasan balasan untuk menyelamatkan diri, Fenrir mengangkat dagu Ceisya dengan satu jari telunjuknya, memaksa mata cokelat itu menatap lurus ke dalam lautan merah menyala milik sang Raja.
"Mulai malam ini," bisik Fenrir mutlak, tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun, "kau bukan lagi pelayan rendahan di asrama. Kau resmi berada di bawah pengawasanku."
Sebelum Ceisya sempat melayangkan protes atau memaki di dalam hati, Fenrir melambaikan tangan kanannya ke udara. Dalam hitungan detik, belasan pengawal istana berzirah perak muncul dari balik kegelapan hutan salju, berlutut hormat di hadapan sang Raja.
Fenrir mengangkat tubuh Ceisya dengan mudah dalam gendongan satu tangan ala bridal style, mengabaikan rontaan protes gadis itu, lalu berbalik melangkah menuju inti istana utama.
Woi raja Serigala... Kenapa jadi aku kamu gendong dan jadikan sasaran? bagaimana nih? Alurnya kok acak aduk?? Sialan.. tubuhnya kekar bangat aku pukul-pukul enggak bergeser tulangnya yang ada otaknya kali ya yang bergeser. batin Ceisya meronta...
Di lantai dua istana, dari balik tirai jendela kamar yang hangat, sepasang mata biru milik Belva Vespera terbelalak lebar penuh teror, menyaksikan bagaimana sang Raja Serigala yang selama ini ia incar justru menggendong si cupu Ceisya masuk ke dalam kamar pribadinya.
Contoh visual Ceisya.
Contoh visual Fenrir
Visual Fenrir
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊