Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG DI BALIK FAJAR
Tuut... tuut... tuut...
Setiap kali nada sambung itu berdering di telingaku, rasanya bagaikan jarum jam yang berdetak menghitung sisa nyawaku. Jemariku yang menggenggam ponsel pintar milik Ammar gemetar makin hebat. Di depanku, Ammar masih terduduk kaku di tepi sofa, matanya yang cokelat terang memperhatikan gerak-gerikku dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara waspada dan sedikit keteduhan yang tak ingin ia akui.
"Halo? Siapa ini malam-malam... eh, subuh-subuh gini?"
Suara serak Bang Budi pria pemilik rumah sewaan tempat aku menampung Ibu dan Awan terdengar dari ujung telepon. Karena Ibu tidak punya ponsel sama sekali, Bang Budi adalah satu-satunya tumpuan harapanku untuk menyampaikan kabar.
"Bang Budi! Ini Aisyah, Bang!" seruku refleks dengan suara bergetar, menahan tangis yang hampir pecah di tenggorokan. "Bang, Ibu sama Awan masih ada di rumah sewaan kan, Bang?! Mereka nggak apa-apa kan, Bang?!"
Terjadi jeda beberapa detik di ujung telepon sebelum Bang Budi menghela napas panjang. "Ya Allah, Aisyah! Kamu ke mana aja, Sya?! Dari semalam ibumu nangis terus di teras kontrakan, nggak mau tidur! Ibumu nyariin kamu ke jalan depan gang, hampir ditabrak motor tadi malam kalau nggak ditahan sama tetangga!"
Deg!
Dadaku seperti dihantam batu besar. Air mata yang sejak tadi kubendung menetes deras membasahi pipiku. "I-Ibu... Ibu sekarang gimana, Bang?! Jantungnya nggak kumat kan?!"
"Alhamdulillah tadi sempat tak kasih air hangat sama obatnya, sekarang lagi ketiduran di dalam rumah sewaan sama si Awan. Kasihan adikmu sampai kecapekan nangis nyariin kakaknya," jelas Bang Budi. "Kamu di mana sih, Sya? Jangan bikin ibumu panik begini, kasihan fisiknya makin lemah."
"Aku... maafin Aisyah, Bang," bisikku seraya menyapu air mata dengan lengan kaos tanktop-ku. Aku melirik Ammar sejenak, mengingat pesannya tadi. "Kemarin malam Aisyah ketiduran di rumah teman SMA Aisyah karena kemalaman dan hujan deras. HP Aisyah mati total. Bang Budi, tolong titip salam buat Ibu ya? Pagi ini... pagi ini ada teman Aisyah yang mau jemput Ibu sama Awan pakai mobil."
"Jemput? Pindah ke mana?" tanya Bang Budi heran.
"Ke... rumah baru yang lebih layak, Bang. Soal sisa tunggakan sewaan bulan ini, nanti bakal dibayar lunas pagi ini juga. Tolong jagain Ibu sebentar ya, Bang?"
"Ya sudah, iya. Tak tungguin sampai kamu datang. Tapi cepetan ya, Sya."
"Makasih banyak, Bang Budi!"
Panggilan terputus. Pundakku seketika terkulai lelah. Rasa lega yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku, membuat kedua lututku terasa lemas hingga aku hampir merosot ke lantai. Ibu dan Awan selamat. Mereka baik-baik saja di rumah sewaan sederhana itu.
Sebuah tangan tegap menyambar pergelangan tanganku dari samping, menahan tubuhku agar tidak terjatuh.
"Hati-hati," ucap Ammar singkat.
Sentuhan jemarinya yang hangat pada kulit tanganku membuatku tersentak. Aku mendongak, menemukan mata cokelat Ammar berada sangat dekat dengan wajahku. Namun, menyadari bahwa ia baru saja menyentuh kulit lenganku yang polos tanpa busana penutup, Ammar dengan cepat menarik kembali tangannya bagai tersengat listrik.
Pria itu berdeham canggung, berdiri dari sofa lalu mengambil ponselnya dari genggamanku.
"Istirahatlah," kata Ammar seraya membalikkan badan, kembali memunggungiku. "Pukul tujuh pagi, pengawal Abah akan datang menjemput ibumu dan adikmu di rumah sewaanmu sesuai janji. Kamu bisa ikut di dalam mobil itu."
Aku menatap punggung tegapnya yang terbungkus kaos putih. Senyum sinis tipis kembali mengukir bibirku. "Makasih, Habib. Ternyata kamu masih punya sedikit hati nurani."
Ammar tidak membalas. Ia kembali merebahkan tubuh tingginya di atas sofa pendek yang sempit, memejamkan mata rapat-rapat tanpa mengucapkan sepatah kata pun hingga azan Subuh berkumandang dari masjid terdekat.
Pukul tujuh pagi tepat. Sunyi di rumah mewah Jakarta Selatan itu terpecah oleh suara deru mesin mobil yang berhenti di halaman depan.
Aku yang sudah berganti pakaian menggunakan pakaian paling sopan yang tersisa dari tas kusamku yaitu rok panjang kain hitam dan kaos lengan panjang abu-abu segera melangkah turun ke lantai satu. Ammar berjalan di sampingku, kini sudah rapi dengan baju koko putih, celana bahan gelap, dan peci hitam yang menutupi rambut rapinya.
Di depan pintu utama, berdiri dua orang pengawal berjas hitam utusan Abah. Di belakang mereka, sebuah mobil van hitam mewah berkaca gelap terparkir rapi.
"Selamat pagi, Habib Ammarullah, Mbak Aisyah," panggil salah satu pengawal dengan nada sangat hormat. "Kami diperintahkan Syekh Ali untuk menjemput keluarga Mbak Aisyah di rumah sewaan dan membawa mereka ke rumah ini. Syekh juga sudah menyiapkan tim dokter pribadi untuk memeriksa kondisi kesehatan ibu Mbak Aisyah."
Mataku membelalak pelan. Dokter pribadi? Abah benar-benar menepati semua ucapannya dengan sangat cepat dan elegan.
"Terima kasih," jawab Ammar datar. Pria itu mengalihkan pandangannya padaku. "Kamu ikut dengan mereka. Saya ada urusan di pesantren Abah pagi ini untuk menyelesaikan beberapa berkas."
Aku mengangguk pelan. "Oke."
Tanpa membuang waktu, aku melangkah masuk ke dalam van mewah tersebut. Perjalanan menuju rumah sewaan sederhana di pinggiran gang sempit—rumah milik Bang Budi yang kusewa dari hasil keringatku selama menjadi kupu-kupu malam—memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Selama di perjalanan, dadaku berdebar kencang. Berbagai macam kebohongan indah harus kurangkai agar Ibu tidak curiga dari mana datangnya mobil mewah, pengawal berjas, serta rumah megah yang akan mereka tempati.
Saat van berhenti di mulut gang depan rumah sewaan Bang Budi, pemandangan menyayat hati menyapa mataku.
Ibu duduk telentang di atas bale-bale kayu lusuh teras rumah sewaan, memangku Awan yang tertidur lelap. Wajah Ibu sangat pucat, matanya sembab dan merah karena menangis seharian. Ketika matanya menangkap sosokku turun dari mobil van, wanita tua itu langsung berusaha bangkit dengan gemetar.
"Aisyah!" panggil Ibu dengan suara parau.
"Ibu!" Aku berlari menghambur ke pelukannya, memeluk tubuh kurus kering itu dengan erat. Bau minyak kayu putih dan keringat khas Ibu menyeruak, membuat air mataku kembali menetes. "Ibu... maafin Aisyah, Bu. Maafin Aisyah bikin Ibu cemas..."
"Kamu dari mana aja, Nak? Ibu takut... Ibu takut kamu ditangkap orang jahat..." tangis Ibu pecah di pundakku.
Aku melepaskan pelukan, menatap wajah Ibu seraya mengusap air matanya. "Aisyah gak apa-apa, Bu. Aisyah aman. Lihat... Aisyah bawa kabar bahagia buat Ibu sama Awan."
Ibu menatap bingung ke arah mobil van mewah dan dua pria berjas hitam yang berdiri tegap di belakangku. Bang Budi yang melongok dari pintu samping rumahnya juga membelalak kaget.
"I-itu... mobil siapa, Sya?" tanya Ibu heran.
"Itu mobil fasilitas dari tempat kerja Aisyah yang baru, Bu," bohongku lancar tanpa berkedip. "Bos Aisyah orang yang sangat baik dan taat agama. Beliau tahu keadaan kita, dan beliau meminjamkan sebuah rumah tinggal yang aman buat kita! Istri beliau juga menyiagakan dokter buat ngobatin jantung Ibu sampai sembuh total!"
Ibu menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Matanya membelalak tak percaya. "G-Gusti Allah... Beneran, Nak? Ada orang sebaik itu?"
"Beneran, Bu. Sekarang Ibu sama Awan nggak perlu pusing mikirin biaya sewaan lagi. Kita pindah sekarang ya?"
Proses kepindahan itu berjalan begitu cepat. Setelah melunasi sisa uang sewaan pada Bang Budi, barang-barang kami yang hanya berupa dua tas kusam diangkut oleh pengawal ke dalam bagasi mobil. Bang Budi hanya bisa menatap terharu seraya memeluk Awan yang baru terbangun dari tidurnya.
Satu jam kemudian, van memasuki halaman rumah mewah di Jakarta Selatan.
Ketika kaki Ibu melangkah melintasi pintu kayu jati dan menginjak lantai marmer yang dingin, mata wanita tua itu berkaca-kaca. Awan langsung berlari kecil dengan riang, mengeksplorasi sofa empuk di ruang tamu dan karpet halus yang belum pernah ia sentuh seumur hidupnya.
"Aisyah... ini... ini rumahnya besar sekali, Nak..." bisik Ibu gemetar, memegangi dadanya yang terasa longgar. "Ibu serasa mimpi..."
"Ini bukan mimpi, Bu. Ini tempat tinggal kita sekarang," senyumku mekar alami—sebuah senyum tulus pertama yang kuukir setelah dua bulan hidup di neraka.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan lain tiba. Seorang dokter wanita paruh baya bersama dua perawat masuk membawa peralatan medis lengkap. Atas perintah Abah, mereka langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi jantung Ibu di salah satu kamar lantai bawah.
Sementara dokter memeriksa Ibu, aku berjalan menuju dapur bersih bernuansa modern. Aku mengambil segelas air putih untuk menetralkan tenggorokanku yang kering.
Namun, tepat saat aku meletakkan gelas di atas meja dapur, aroma parfum maskulin bernuansa kayu cendana yang familiar tercium di udara.
Aku menoleh. Habib Ammarullah sudah berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu baru saja kembali dari pesantren. Ia melepaskan pecinya, meletakkannya di atas meja, lalu menatapku dengan raut wajah yang sangat serius.
"Ibumu sudah diperiksa?" tanya Ammar pelan.
"Sudah. Dokter lagi periksa di kamar bawah," jawabku datar. Aku bersandar pada konter dapur, melipat tangan di dada. "Makasih. Ayahmu... maksudku Abah... benar-benar menepati janjinya."
Ammar melangkah masuk lebih dalam ke dapur, berdiri berjarak dua meter dariku. Pria itu menghembuskan napas panjang.
"Perbuatannya bukan sekadar janji, Aisyah. Abah melakukan ini semua karena kewajiban moral," tegas Ammar, suaranya kembali kaku. "Seluruh utang ayahmu sebesar 2,4 Miliar rupiah juga sudah dilunasi pagi ini ke pihak pemberi pinjaman. Sertifikat rumah kakekmu yang disita sudah berhasil ditebus dan sekarang dipegang oleh pengacara keluarga kami."
Mataku membelalak. 2,4 Miliar... lunas dalam hitungan jam?!
Kekuatan dan kekayaan keluarga ulama ini benar-benar di luar jangkauanku. Sebuah rasa berutang budi yang teramat sangat menyelusup tajam ke dalam dadaku, membuat rasa benci dan sinisku pada Ammar mendadak terasa hambar.
"Kenapa..." bisikku pelan, menatap mata cokelatnya. "Kenapa kalian rela mengeluarkan uang sebanyak itu cuma buat menutup skandal salah kamar? Kalian bisa saja mengusirku atau memberiku sedikit uang bungkam."
Ammar menatapku lurus tanpa berkedip. Ada kilatan kehormatan dan kebanggaan yang sangat kuat di matanya.
"Karena harga diri sebuah keturunan Nabi tidak bisa dinilai dengan uang, Aisyah," jawab Ammar dingin namun sarat akan penekanan. "Abah tidak ingin ada noda sedikit pun dalam dakwah kami. Dan kamu... sekarang adalah bagian dari rahasia itu."
Aku terkekeh tipis, menggelengkan kepala. "Rahasia yang merepotkan ya?"
Sebelum Ammar sempat membalas, suara bel pintu depan berbunyi nyaring. Dua kali.
Ting tong... ting tong...
Ammar berdeham, memalingkan wajahnya. "Biar saya yang buka."
Pria itu melangkah keluar dari dapur menuju pintu utama, dan aku mengikutinya dari belakang karena penasaran.
Ammar memutar gagang pintu dan membuka pintu kayu tebal itu.
Di balik pintu, berdiri seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh satu tahun. Gadis itu tampil sangat anggun dan memesona, mengenakan gamis berwarna pastel yang indah serta hijab lebar yang menutup dada secara sempurna. Paras wajahnya sangat cantik, bersih alami, dengan kulit kuning langsat dan mata bulat yang memancarkan kelembutan khas wanita terpelajar dari keluarga terpandang.
Di tangan gadis itu, tersimpan sebuah rantang makanan tiga susun berwarna perak.
Ketika pintu terbuka dan matanya menatap sosok Ammar, wajah gadis itu langsung berseri-seri. Sebuah senyuman manis dan sangat santun terukir di bibirnya.
"Assalamu'alaikum, Habib Ammar," sapa gadis itu dengan suara yang sangat lembut dan menyejukkan hati.
Seketika itu juga, aku melihat perubahan drastis pada raut wajah Ammar.
Aura dingin, kaku, dan penuh kemarahan yang biasanya Ammar tunjukkan padaku mendadak luntur tak berbekas. Matanya yang cokelat membelalak kaget, lalu bergerak cepat menundukkan pandangannya dengan penuh rasa hormat dan kesetangan. Ada rona canggung yang mendadak muncul di pipi pria gagah itu.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah... Syarifah Zahra?" panggil Ammar dengan nada suara yang begitu halus suara yang belum pernah kudengar keluar dari mulutnya sejak semalam.
Syarifah Zahra?
Aku berdiri mematung di lorong menuju ruang tamu, menatap interaksi mereka berdua dari kejauhan.
"Maaf kalau Zahra mengganggu," ucap gadis bernama Zahra itu seraya menundukkan kepala dengan sopan. "Abah Syekh Ali yang menyuruh Zahra ke sini. Kata Abah, Habib baru kembali dari Mesir dan belum ada yang memasakkan makanan di rumah baru ini. Jadi Ibu buatkan gulai domba kesukaan Habib."
"Subhanallah... repot-repot sekali, Zahra," balas Ammar dengan senyuman tipis yang sangat hangat—senyuman yang terasa begitu tulus. "Terima kasih banyak. Salam untuk Umi dan Kyai di rumah."
"Iya, Habib," senyum Zahra kian mekar.
Namun, tepat di detik berikutnya, pandangan mata Zahra melintas melewati bahu tegap Ammar dan menangkap keberadaanku yang sedang berdiri di lorong ruang tamu.
Zahra tersentak pelan. Senyuman manis di wajah anggunnya mendadak pudar, berganti dengan raut bingung. Matanya meneliti penampilanku dari atas ke bawah: kaos lengan panjang yang agak ketat, rambut panjang terurai tanpa penutup kepala, serta tatapan mataku yang dingin.
"Habib..." bisik Zahra ragu, matanya tetap tertuju padaku. "Wanita itu... siapa?"
Atmosfer di pintu depan mendadak membeku seketika.
Ammar tersentak kaku. Pria itu refleks menoleh ke belakang, menatapku dengan mata membelalak penuh kepanikan. Tubuh Ammar tegang luar biasa, dan rona wajahnya berubah pucat pasi dalam hitungan detik.
Aku berdiri bersedekap di tempatku, menatap Ammar dan gadis anggun di depannya. Di dalam otakku, potongan-potongan informasi dari malam pernikahan kami mendadak menyatu.
Gadis ini... Syarifah Zahra... putri Kyai yang dijodohkan dengan Ammar! Wanita pilihan keluarganya yang gagal dinikahi Ammar karena kehadiran diriku!
Sebuah senyuman sinis yang dingin kembali terukir di bibirku. Aku menunggu, ingin melihat bagaimana seorang Habib muda yang terhormat akan menjelaskan keberadaan 'istri rahasianya yang kotor' di hadapan wanita suci calon tunangannya.