Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
Sudah hampir dua Minggu Dino tidak datang.
Hari pertama, Mela masih menganggap bias dan berpikir jika Dino benar-benar ada urusan. Bahkan, saat pria itu tidak menghubungi nya ia masih berpikir jika ia sedang sibuk dan, akan menghubunginya nanti.
Hari kedua, ketiga, ia mulai beberapa kali menoleh ke jalan kecil di ujung lahan. Setiap kali terdengar suara motor yang melewati jalan itu, ia refleks mengangkat kepala, berharap Di o datang. Namun, ia harus menelan kekecewaan karena selalu orang lain yang ia lihat.
Hari berganti hari, dan sekarang sudah hampir dua Minggu Dino pergi. Dan, ia berhenti menghitung karena menunggu diam-diam terasa lebih melelahkan daripada bekerja seharian.
Pagi itu, matahari baru naik saat Mela sudah berada di lahan.
Tangannya memetik daun yang menguning. Kakinya berpindah dari satu petak ke petak lain. Mulutnya memberi arahan seperti biasa.
Namun semuanya terasa, setengah hati.
"Yang sebelah sana jangan terlalu banyak air," ucapnya.
Tapi, beberapa detik kemudian, ia sendiri yang menuangkan air terlalu deras ke sisi lain.
"Eh, Mel!”" seru Asih cepat. "Itu kebanyakan!"
Mela tersentak. "Oh, iya." Ia buru-buru mematikan aliran air.
Darmi yang berdiri tidak jauh dari sana menyipitkan mata.
Sejak Dino tidak datang, ia sudah melihat banyak hal aneh pada Mela.
Wanita itu sering salah menghitung karung panen, beberapa kali menjatuhkan catatan dan, terkadang diam terlalu lama sambil menatap jalan.
Ini jelas bukan Mela yang biasa.
Saat waktu istirahat tiba, semua orang duduk di bawah pohon besar dekat gubuk kecil. Teh hangat dan singkong rebus dibagikan seperti biasa.
Mela ikut duduk. Namun, hanya memegang gelas tanpa meminumnya.
"Mel!" Panggil Darmi.
Mela menoleh saat Darmi menatapnya lurus.
"Kamu itu sebenarnya kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, mbak. Kenapa memangnya?"
Jawaban itu datang terlalu cepat, seolah tidak menyadari keanehan pada dirinya sendiri.
Yati mendengus. "Kalau nggak ada apa-apa, kenapa dari tadi kayak orang kehilangan kambing?"
Asih tertawa. Surti ikut menyikut bahu Yati. Namun, Mela hanya memaksa tersenyum tipis.
"Aku cuma capek," jawabnya.
"Bohong!" Darmi menyela tanpa ragu. "Kamu capek itu udah biasa. Tapi, kamu begini... " ia menunjuk wajah Mela, "kamu benar-benar keliatan aneh, Mel."
Mela terdiam. Tangannya menggenggam gelas lebih erat.
"Menurut ku, kamu kayak gini sejak Dino nggak datang. Kamu jadi beda, sering melamun, kerjaannya jadi asal," ujar Surti.
Mela langsung mengangkat kepala. "E-enggak, mbak. Siapa yang sering melamun?"
"Lho?" Asih terkekeh. "Langsung salah tingkah."
"Jangan-jangan... " Yati mendekat sambil menyeringai jahil, "kamu kangen sama Dino, ya?"
Mela membuka mulut. Namun, tidak ada satu kata pun yang keluar. Ia ingin menyangkal. Ingin tertawa dan mengatakan mereka berlebihan. Namun entah mengapa, lidahnya terasa berat.
Darmi memperhatikan sorot mata itu. Lalu, perlahan tersenyum.
"Gak perlu kamu sembunyikan lagi, Mel. Semua sudah jelas," ucap Darmi.
"Apanya yang jelas?" tanya Mela pelan.
"Kamu itu suka sama Dino."
Suasana seketika riuh. Asih menepuk paha sendiri. "Wahhh akhirnya!"
Surti ikut tertawa dan Yati bertepuk tangan kecil.
Mela menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memanas. "Jangan bercanda," gumamnya.
"Kalau bercanda, kamu pasti langsung marah dari tadi," sahut Darmi. "Tapi sekarang, kamu cuma diam."
Kalimat itu menohok tepat sasaran. Mela memandangi tanah di bawah kakinya. Dadanya berdebar aneh.
Apakah benar ia menyukai Dino?
Ia merasa rindu saat tidak bertemu Dino. Mencari-cari sosoknya saat tidak datang. Dan, merasa hampa saat tidak ada pria itu di sisinya.
Jika itu bukan perasaan suka, lalu apa?
"Tapi, aku takut," ucapnya akhirnya lirih.
Semua langsung diam.
Mela menelan ludah. "Aku pernah percaya sepenuh hati dan hasilnya... " Mela mendongak, menatap langit cerah di atas sana. "aku di khianati, tidak di anggap." Ia tidak menyebut nama Rahman namun, semua orang tahu arah ucapan Mela.
"Aku takut salah lagi, takut di sakiti."
Darmi bergeser mendekat. "Mel!" Nada suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya. "Tidak semua laki-laki sama."
Yati mengangguk setuju. "Kalau semua laki-laki sama kayak Bejo, dunia ini udah kiamat."
Semua tertawa kecil, termasuk Mela.
Lalu, Surti menimpali, "Aku rasa, Dino itu beda. Dari cara dia menatap kamu aja sudah kelihatan kalau Dino juga suka sama kamu."
Asih mengangkat alisnya, menggoda. "Dia lihat kamu kayak lihat sawah subur pas musim hujan."
"Mulutmu itu... " Darmi menahan tawa.
Namun, suasana hangat itu membuat bahu Mela yang tegang perlahan mengendur.
"Kami bukan nyuruh kamu langsung nikah besok." Darmi terkikik pelan. "Tapi, kami cuma mau bilang, jangan hukum orang baik karena kesalahan orang lama. Kamu berhak bahagia. Begitu juga dengan Dino. Kalau kalian saling suka, kenapa tidak di coba?"
Mela terdiam. Kalimat itu masuk jauh ke dalam hati. Ia kembali mendongak. Angin berembus pelan. Daun-daun bergesekan lembut.
Tatapannya lalu beralih pada jalan kecil menuju lahan. Jalan yang beberapa hari ini terasa sepi.
Dan, Mela menyadari sesuatu pada dirinya sendiri. Ia memang menunggu Dino datang. Tapi ternyata, menunggu seseorang bisa membuat hari terasa jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan.
yg duda aja pada nikah Ama gadis pede² aja tuh, Ngapain janda harus insecure /CoolGuy/
emng klo janda gak boleh gituuu klo sama Bujang?? /CoolGuy/
aq bnc ms ll... igt tu
dan kalau rahman cinta, dia tdk akan melupakan mela saat dia.membangun keluarga bahagia dengan camila.
ingat..pesona mela itu tdk bisa membuat rahman jatuh cinta pd mela. mungkin dia menjadikan mela istri dlu karna dino adalah saingannya dan rahman memiliki ambisi..menjadikan mela sebagai pertandingan..siapa yg menang mendapatkan mela..makanya dia dengan mudah berpaling pd camila karna dia sadar yg dia inginkan wanita seperti camila. dari fisik sampai perlakuannnya sedangkan mela? meski mela baik tapi tdk memungkin seorng pria jatuh cinta dan tdk berlaku pd rahman.