"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Jarum di Sutra
Ujung jari Dyah Ayu menyentuh lapisan dalam kemben beludru, dan sesuatu di sana tidak membiarkannya pergi.
Bukan lengket. Hanya sedikit tertahan, seperti menyentuh daun talas yang baru dipetik. Ia menarik jarinya. Serat beludru itu ikut terangkat sejenak sebelum jatuh kembali.
Nyai Endang sedang menuang bedak ke dalam cawan kecil di depan cermin. Pembantu pertamanya mengaduk pewarna alis dari jelaga dan minyak kemiri. Pembantu kedua, gadis kurus dengan kemben cokelat polos, berdiri di samping rak busana dengan tangan terlipat rapi di depan perut.
Tidak ada yang memperhatikan Dyah Ayu.
Ia berdiri di depan rak dengan kain basah yang melilit tubuhnya sampai ke dada, rambutnya masih meneteskan air tirta ke lantai. Ia mengangkat kemben beludru itu ke arah cahaya pelita. Memiringkannya. Membaliknya.
Di lapisan dalam, di bagian yang akan menempel di dada dan punggung, ada sesuatu yang tidak terlihat dari depan. Kilap tipis. Sangat samar, seperti bekas lendir siput yang mulai mengering di atas batu. Hanya terlihat ketika cahaya jatuh dari samping.
Ia meletakkan kemben itu. Lalu ia menatap ujung jari telunjuknya.
***
Kulitnya masih basah oleh air tirta. Dan di ujung jari yang tadi menyentuh beludru, ada rasa yang mulai merayap.
Bukan sakit. Belum. Seperti semut-semut kecil yang berjalan di bawah kulit. Ia menggosok jari itu dengan ibu jarinya, dan rasanya bertambah. Panas tipis, menyengat, seperti tersentuh daun jelatang.
Ia sudah merasakan ini sebelumnya. Bertahun-tahun lalu, di tepi rawa di belakang Watugaluh, saat ia berumur sembilan tahun dan memanjat pohon yang tidak seharusnya dipanjat. Tiga hari kemudian, kulit lengannya melepuh dan mengelupas. Ibunya merawatnya sambil memarahinya. Ibunya menyebut nama pohon itu sebanyak tiga kali, agar ia tidak lupa.
Rengas. Getahnya tidur di kulit yang kering. Bangun di kulit yang basah.
Ia memikirkan pendapa di tengah alun-alun. Empat tungku dupa sebesar gentong di setiap sudut. Sembilan sembah, masing-masing dengan gerakan yang lambat dan menuntut, di bawah panas bara dan ribuan pasang mata. Keringat akan mulai mengalir di sembah ketiga. Di sembah kelima, getah itu akan bangun di sepanjang dada, punggung, dan pinggulnya.
Dan di sembah ketujuh, ketika tubuhnya harus berputar perlahan dengan sampur terentang di kedua tangan, ia akan menggaruk kulitnya sendiri di depan Raja, para menteri, dan utusan Medang Utara. Sampurnya akan jatuh.
Ia tidak bangun dari cambuk keempat puluh.
***
Dyah Ayu tidak meletakkan kemben itu kembali ke rak. Ia meraih kain dodot hijau tua, membuka lipatan dalamnya. Kilap yang sama. Di bagian yang akan melilit pinggang dan pinggul.
Lalu ia menoleh ke arah rak. Ke pembantu kedua yang berdiri di sana.
Gadis itu tidak bergerak. Tangannya masih terlipat di depan perut. Tetapi matanya tertuju ke kemben di tangan Dyah Ayu, dan untuk sesaat, bulu matanya berkedip terlalu cepat.
"Siapa namamu?"
"Wening, Gusti."
Dyah Ayu melangkah ke arahnya. Dua langkah. Gadis itu mundur satu langkah, punggungnya membentur dinding.
Dyah Ayu meraih pergelangan tangan kanannya. Tidak keras. Tangan gadis itu kering dan sejuk. Ia membaliknya, mengendus telapak tangannya. Tidak ada bau apa pun.
Lalu tangannya yang lain bergerak ke setagen di pinggang gadis itu. Jari-jarinya menemukan sesuatu yang keras dan bulat di balik lilitan kain.
Wening tersentak. Terlambat.
Dyah Ayu menarik keluar bumbung bambu kecil itu. Sumbat sabut kelapanya masih basah di ujungnya. Ketika ia mencabutnya sedikit, sehelai bulu ayam mencuat dari dalam, ujungnya kaku dan berkilat.
"Nyai Endang."
Perias itu berbalik dari cermin. Cawan bedak di tangannya miring, dan bubuk putih berhamburan ke lantai.
"Panggil penjaga di depan pintu," ucap Dyah Ayu, tanpa melepaskan pandangannya dari Wening. "Yang berzirah hitam. Bukan yang lain."
***
Prajurit Sayap Dalam itu masuk dalam tiga tarikan napas. Ia memandang bumbung bambu di tangan Dyah Ayu, lalu ke wajah Wening yang sudah memucat seperti bedak di lantai.
"Ikat tangannya ke belakang," ucap Dyah Ayu. "Jangan biarkan ia menyentuh apa pun. Jangan biarkan siapa pun menyentuh tangannya, atau mulutnya. Serahkan dia hanya kepada Lurah Lembu Peteng, dan katakan padanya ini perintah dari Srigading."
Ia menyerahkan bumbung bambu itu kepada prajurit tersebut, dibungkus dengan ujung kain basahnya.
"Dan ini. Jangan buka sumbatnya. Jangan sentuh dengan tangan telanjang."
Prajurit itu mengangguk. Ia menarik Wening keluar. Gadis itu tidak meronta. Ia hanya menoleh sekali ke belakang, ke arah busana tari di rak, dengan mata yang tampak lebih takut pada sesuatu yang lain daripada pada tali di pergelangannya.
Di luar, gong besar berbunyi untuk ketiga kalinya.
Gamelan berubah. Gending pembuka selesai. Irama yang menggantikannya lebih cepat, lebih tinggi. Gending panggilan. Gending yang hanya dimainkan sekali dalam setahun, untuk memanggil penari Sanghyang naik ke pendapa.
***
"Gusti." Suara Nyai Endang gemetar. "Gusti harus berangkat. Sekarang. Penari tidak boleh terlambat dari gending panggilan."
Ia meraih kain dodot dari tangan Dyah Ayu, membentangkannya dengan kedua tangan.
"Kita bisa membasuhnya dengan air kapur. Cepat, hanya bagian dalamnya. Gusti bisa memakai kain lain di bawahnya..."
"Tidak ada waktu untuk air kapur. Dan tidak ada kain di dunia yang bisa menahan getah rengas dari kulit yang berkeringat."
"Lalu bagaimana? Gedung pusaka sudah dikunci! Busana Sanghyang hanya ada satu! Kalau Gusti tidak memakai busana pusaka, itu sama dengan..."
Dyah Ayu merampas kain dodot dari tangan perias itu.
Lalu ia berjalan ke tungku dupa terbesar di sudut ruangan. Bara di dalamnya menyala jingga dan putih, panasnya menyengat wajah dari jarak dua langkah. Asap gaharu mengepul tebal di atasnya.
Ia menghentikan langkahnya di depan tungku. Satu tarikan napas.
Dari pinggiran kemben beludru, ia memotong sepotong kecil lapisan dalamnya dengan pisau rias yang tergeletak di meja. Sepotong selebar dua jari. Ia membungkusnya dengan daun pandan dari kendi bunga dan menyelipkannya ke lipatan kain basahnya.
Bukti. Untuk besok.
Lalu ia melemparkan kemben beludru dan kain dodot hijau tua itu ke dalam tungku.
Bara itu menyambarnya dengan rakus. Beludru menyala lebih dulu, mengerut, prada emasnya meleleh menjadi butiran-butiran yang berkilat. Kain dodot menyusul, apinya merayap dari tepi ke tengah, menelan motif alas-alasan yang sudah dijahit tangan selama satu musim penuh. Asap tebal yang berbau hangus dan pahit naik ke atap.
Nyai Endang menjerit. Pembantu pertamanya menjatuhkan cawan pewarna alis ke lantai.
"Busana pusaka! Gusti, itu busana pusaka Keputren! Sejak zaman Prabu ketiga!"
"Busana yang akan membunuh penarinya di depan leluhur bukan pusaka," jawab Dyah Ayu, tanpa menoleh dari api. "Itu senjata. Dan aku tidak mau ada orang lain yang terpaksa memakainya tahun depan."
***
Gending panggilan di alun-alun terdengar lebih keras. Pengendang mengulangi bagian pembuka, sekali, dua kali. Ia sedang mengulur waktu.
Dyah Ayu berbalik. Matanya menyapu kamar rias yang penuh asap.
Rak busana yang kosong. Peti-peti bedak dan pewarna. Kain-kain perca untuk menyeka. Cermin perunggu. Ikat pinggang perak yang tergeletak di atas meja, ia memeriksanya dengan cepat, mengendus logamnya, menggosoknya dengan ujung kain. Bersih. Ia mengambilnya.
Lalu matanya berhenti di jendela.
Tirai yang menutupi jendela itu terbuat dari sutra tebal, ditenun rapat, tergantung dari batang bambu di atas kusen. Dua lembar, masing-masing selebar rentangan kedua tangan dan sepanjang tubuhnya. Warnanya merah tua yang pekat, seperti kesumba yang dicelup tiga kali. Di bawah cahaya pelita, seratnya berkilau gelap seperti kulit buah manggis.
Ia berjalan ke jendela dan menariknya.
Batang bambu itu berderak. Tirai pertama terlepas dari kaitnya dan jatuh ke dalam pelukannya. Berat, lembut, berbau debu dan kayu jati.
Dengan pisau rias, ia merobek satu ujungnya. Bunyi sutra yang terbelah terdengar seperti tarikan napas panjang. Ia melepaskan kain basah yang melilit tubuhnya, membiarkannya jatuh ke lantai, dan melilitkan sutra merah tua itu di tubuhnya.
Satu lilitan dari bawah ketiak, rapat di dada, sebagai kemben. Ujungnya ia selipkan di bawah lengan, dikunci dengan tusuk konde perak dari sanggulnya sendiri. Tirai kedua ia lilitkan dari pinggang ke mata kaki, dengan lipatan wiru di depan yang ia bentuk dengan jari-jarinya secepat mungkin. Ikat pinggang perak mengunci semuanya di pinggang.
Lalu ia membuka bungkusan kecil yang ia bawa ke bilik penyucian. Sampur cadangan, kuning gading, dijahit Mbok Darmi dari sutra kiriman Raja. Ia menyampirkannya di bahu, membiarkan ujung-ujungnya jatuh di kedua sisi tubuhnya.
Batu Tirta Rudira tergantung di lehernya, di atas sutra merah tua. Warna keduanya hampir sama.
***
Nyai Endang menatapnya dengan mulut terbuka. Lalu, perlahan, perias itu memungut cawan pewarna alis dari lantai. Isinya tinggal separuh.
Ia tidak bertanya. Ia hanya mencelupkan kuas kecil ke dalam cawan, menarik dagu Dyah Ayu ke arah cahaya, dan menggambar dua garis cepat di atas kelopak matanya. Satu di kiri, satu di kanan. Tegas. Panjang ke arah pelipis. Lalu setitik merah di tengah dahi dengan ujung jarinya yang gemetar.
"Tidak ada paes," bisiknya. "Tidak ada waktu."
"Ini cukup."
Nyai Sumirah berdiri di ambang pintu. Dyah Ayu tidak tahu kapan perempuan tua itu datang. Mata keruhnya menatap sutra merah tua di tubuh Dyah Ayu, lalu ke tungku dupa yang masih menyala, lalu kembali ke sutra itu.
"Gusti tahu warna apa yang Gusti kenakan," ucapnya. Bukan pertanyaan.
"Merah sumba."
"Warna yang hanya boleh dikenakan Permaisuri di hadapan leluhur pada malam Purnama." Suara tua itu tidak bergetar. "Sejak zaman Prabu pertama, tidak ada perempuan lain yang berani."
Dyah Ayu merapikan ujung sampur di bahunya.
"Kalau leluhur Kagendra tidak setuju," ucapnya, "biar mereka sendiri yang mengatakannya. Di depan semua orang."
Ia melangkah melewati Nyai Sumirah. Melewati ambang pintu. Ke selasar beratap ijuk yang menghubungkan kamar rias dengan pendapa.
Udara malam menyentuh bahunya yang telanjang. Purnama menggantung bulat di atas alun-alun, putih dan besar, menerangi ribuan wajah yang menunggu di sekeliling pendapa. Empat tungku dupa menyala di keempat sudutnya. Gamelan berhenti mengulur. Pengendang mengangkat tangannya.
Dan di panggung tamu, di samping dampar kencana yang didirikan di tepi alun-alun, utusan Medang Utara berhenti tersenyum.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..