Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Bulan-bulan penuh siksaan batin, kerja keras tanpa henti, dan hubungan rahasia yang intens di balik pintu-pintu terkunci akhirnya mencapai titik akhir.
Konsep bangunan futuristik dengan perpaduan cahaya pintar milik Layla serta perhitungan struktur kokoh dari Bimo dinyatakan lolos audit global. Masa proyek perancangan telah resmi selesai.
Hari yang dinantikan pun tiba, lapangan luas di kawasan elit Shanghai telah di sulap menjadi panggung megah berkarpet merah. Ratusan kamera wartawan internasional saling berdatangan memecah belah udara pagi yang dingin.
Hari ini adalah acara peletakan batu pertama sekaligus peresmian di mulainya pembangunan fisik mega proyek Zhang Group.
Di balik panggung yang megah, Layla duduk di kursi roda elektriknya dengan gaun formal yang anggun namun terlihat sopan. Di sebelah nya Bimo menggunakan setelan jas rapi, menatap ke arah panggung dengan bangga.
Karir internasional yang mereka impikan kini berada di depan mata. Namun, bagi Layla, hari ini juga menandakan hari ke enam puluh hari terakhir dari kontrak beracunnya dengan Teo.
“Kalian luar biasa, Tim Layla” ujar Mr.Zhang yang mendatangi mereka dengan senyum lebar, memberikan penghormatan tertinggi sebelum acara dimulai.
Tepat saat itu langkah kaki yang terdengar sangat Layla kenali terdengar mendekat, Teo berjalan mendekat dengan setelan jas tiga lapis yang di pesan khusus dari penjahit terbaik di paris. Wajahnya sangat tampan, dingin dan memancar kan aura kekuasaan yang mutlak sebagai pewaris dari keluarga konglomerat.
Berkali-kali Layla merasa seperti terpesona karena ketampanan nya yang begitu memikat, Berbeda dengan Bimo yang melihat kedatangan Teo dia langsung memalingkan wajahnya, menahan rasa muak yang sudah dia pendam selama berbulan-bulan saat berada di sini.
Teo selalu santai bahkan menatap remeh ke arah Bimo dan mengabaikan pria lumpuh itu, Teo langsung mendekat ke arah Layla, membungkuk sedikit untuk merapikan syal sutra di leher Layla di bawah sorotan beberapa kamera media yang sudah mulai mengambil gambar.
“Ini hari terakhir Layla”bisik Teo yang hanya bisa di dengar olehnya.
“Tersenyum lah dan tunjukkan pada dunia bahwa kau adalah arsitek utama dengan bangga”
Layla tidak menghiraukan Teo karena mulai banyak pasang mata yang mengarah kepada mereka.
Saat nama mereka di panggil oleh pembawa acara, tim naik ke atas panggung utama, di sana sebuah replika fondasi emas telah di siapkan untuk proses peletakan batu pertama.
Ayah Teo sang konglomerat pemilik Zhang Group berdiri di tengah sementara Teo berdiri di sebelah kanan ayahnya dan Layla di posisikan tepat di sebelah Teo.
Kilatan kamu kamera wartawan berkilap bak petir yang menghantam hening malam. Proyek ini berjalan dengan sukses besar walaupun banyak orang yang tidak tau apa yang telah terjadi di belakangnya.
Setelah acara seremonial selesai selesai dan para investor mulai bergerak menuju ruang perjamuan, Teo justru membawa Layla menjauh dari kerumunan, menuju ke area belakang panggung yang sepi di dekat mobil mewahnya.
Bimo menyadari ada sesuatu di antara Layla dan Teo, dengan kursi rodanya dia mencoba membelah keramaian namun langsung di hadang oleh dua orang berbadan besar yang sudah di perintahkan oleh Teo.
Teo berdiri di hadapan kursi roda Layla, Angin musim dingin Shanghai menerbangkan ujung rambutnya. Pria itu merogoh saku jas nya, mengeluarkan map kecil berisi lembar kontrak mereka yang telah di sepakati, lalu Teo merobek nya menjadi dua bagian di depan mata Layla.
“Dua bulan sudah selesai Layla, kau bebas dan aman” ucap Teo datar.
Layla menarik nafas lega yang teramat dalam, air mata kemenangan sekaligus kepedihan perlahan menetes di pipinya, dan untuk pertama kalinya Layla tersenyum kecil di depan Teo “ Terimakasih, karena telah melepaskan ku Teo” ujar Layla.
Teo tidak berbalik pergi, lelaki bajingan itu justru maju satu langkah, berlutut di depan kursi roda Layla dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi intens, kelam dan penuh obsesi yang tidak mati.
“Beri aku satu ciuman terakhir Layla” ucap Teo, seringai di bibirnya seperti menyembunyikan sesuatu yang begitu besar membuat Layla menjadi waspada melihat nya.
“Lakukan dengan penuh gairah” pinta Teo lagi.
Jantung Layla berdebar seketika, apa maksud Teo sekarang, kedua tangannya yang di genggam hangat oleh Teo tiba-tiba mulai menjadi cengkeraman yang semakin erat.
Layla bingung harus apa, dia mencoba menutup matanya dan perlahan menggerakkan wajahnya mendekat ke arah Teo, mencium bibir lelaki itu. Lagian ini adalah yang terakhir kalinya.
“Apa yang sedang kau lakukan Layla” ucap Teo malas.
Layla spontan langsung membuka matanya, kedua matanya langsung menatap manik mata tajam itu dengan bibir yang masih sedikit bersentuhan.
“Aku ingin kau menciumku dengan penuh gairah” pinta Teo lagi.
“Aku tidak tau apa maksudmu Teo”
“Jangan berpura-pura Layla, kau cukup pintar untuk mengartikan apa yang aku ucapkan “
“Kemarilah”
Tanpa aba-aba Teo meraih tengkuk leher Layla membimbing nya lembut ke arah wajahnya dan meraup bibir Layla dengan lembut, sentuhan lembut jari Teo di leher Layla membuat nya semakin terpana, di lihatnya Layla memejamkan matanya dengan tenang, bahkan saat bibir dan lidah Teo berhenti untuk bermain main, Layla masih menggebu dan terus melumat bibir Teo.
Seutas kemenangan terbit di bibir Teo, namun saat Teo sedang menikmati ciuman ini, dari kejauhan matanya menangkap sosok ayahnya dan menyuruhnya untuk datang dengan mengisyaratkan menggunakan tangannya.
Layla yang menyadari sesuatu langsung menatap ke arah yang Teo tuju, begitu berbalik Layla langsung terperanjat dan memaling wajah nya saking terkejutnya.
“Kau kembalilah dulu” titah Teo untuk menyuruh nya kembali ke acara perjamuan sedangkan Teo menuturkan jejak ayahnya.
Layla merasa membeku , namun ada hal yang membuat dia merasa penasaran, tatapan ayahnya Teo tadi seperti tatapan yang penuh dengan tanda tanya di kepala Layla.
Apa jangan-jangan selama ini dia tau apa yang dilakukan anaknya?!.
Tidak.
Layla merasa penasaran, dengan kursi rodanya dia mengikuti dari belakang, bahkan Layla mendorong kursi rodanya dan mematikan mesin elektrik -nya agar tidak terdengar.
Dari balik pintu yang Layla yakin Teo dan ayahnya ada di sana, walaupun tidak terdengar jelas karena jarak yang sedikit jauh, Layla cukup bisa mendengar dengan baik pembicaraan mereka.
“Apa kau sudah selesai mempermainkan wanita malang itu!” Ucap ayahnya dengan nada tinggi dan tegas.
“Apa kau tidak malu dan merasa bersalah setelah kau menabraknya dan membuat nya cacat seperti itu! Lalu kau mempermainkan wanita itu padahal kau sudah bertunangan!”
Jlep.
Pandangan Layla mendadak gelap dan kabur, dia merasa runtuh seruntuh runtuhnya.
Dengan tubuh yang gemetar hebat dan linglung yang tidak bisa dia kontrol, Layla mencoba pergi namun kursi rodanya menabrak sudut dinding membuat Layla terjatuh karena rasa panik yang hebat.
“Siapa di sana!” Teriak beberapa pengawal penjaga yang mulai berlari pelan ke arah Layla yang tergeletak tak berdaya di lantai yang dingin.
Dengan kepanikan yang luar biasa , Layla menyeret tubuhnya dengan sekuat tenaga di tengah gemetar hebat yang melanda sekujur tubuhnya.
“Layla!” Teo datang dengan wajah cemas saat melihat Layla.
“Bereskan dan selesaikan masalahmu!” Ucap ayah Teo sembari pergi meninggalkan mereka berdua.
Di dalam gelap sepi dan heningnya malam itu, tangis Layla berubah menjadi suara yang memilukan, tangisnya menggema di lorong bangunan kosong.
Setelah malam itu berakhir, hubungan antara Teo dan Layla benar-benar berakhir.