NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Benih Aliansi dan Undangan Berdarah

Malam di ibu kota kekaisaran selalu diiringi oleh angin dingin yang menusuk tulang, namun atmosfer di dalam ruang kerja kediaman Duke Killian terasa jauh lebih membekukan. Ruangan itu luas, didominasi oleh perabotan kayu ek hitam yang kokoh dan dilapisi beludru merah tua—warna yang entah mengapa selalu mengingatkan orang pada genangan darah. Cahaya lilin yang berkedip-kedip di sudut ruangan melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di dinding, menciptakan kesan mistis sekaligus mengintimidasi.

Elena Lawrence duduk dengan punggung tegak di sebuah kursi berlengan di hadapan meja kerja sang Duke. Gaun malamnya yang berwarna hijau zamrud tampak kontras dengan kegelapan ruangan, memberikan kesan seolah ia adalah satu-satunya entitas hidup yang menolak tunduk pada kegelapan di sekelilingnya. Napasnya teratur, matanya yang sejernih air danau menatap lurus ke depan, tanpa ada sedikit pun kepanikan yang biasanya ditunjukkan oleh orang-orang yang berhadapan dengan "Tirani Berdarah."

Di seberang meja, Duke Killian von de Valerius sedang menyandarkan punggungnya yang tegap. Jari-jari tangannya yang panjang dan dipenuhi bekas luka tipis saling bertautan di atas meja. Jubah hitam dengan sulaman benang emas berbentuk serigala—lambang keluarganya—tersampir longgar di bahunya. Mata merah sang Duke, yang kerap digambarkan oleh para penyair sebagai batu rubi yang direndam dalam darah musuh, berkilat tajam di balik helai-helai rambut hitamnya yang sedikit berantakan.

"Empat puluh persen dari seluruh jalur perdagangan logistik di wilayah barat, serta rute rahasia melintasi Pegunungan Kalt," Killian memecah keheningan dengan suara baritonnya yang berat dan serak. Setiap kata yang diucapkannya terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi mereka yang lemah. "Dan kau mengklaim bisa menyerahkan itu semua kepadaku hanya dalam waktu tiga bulan, Nona Elena?"

Elena tersenyum tipis. Senyuman yang tidak mencapai matanya, namun penuh dengan keyakinan yang mutlak. "Saya tidak pernah melontarkan janji yang tidak bisa saya tepati, Yang Mulia Duke. Anda tahu betul bahwa wilayah barat saat ini dikuasai oleh Count Lawrence, ayah saya. Namun, yang tidak Anda ketahui—atau belum Anda ketahui—adalah fakta bahwa asisten kepercayaan ayah saya, Baron Vance, diam-diam telah melakukan penggelapan pajak dalam skala besar."

Killian menaikkan sebelah alisnya, ketertarikannya mulai terusik. "Baron Vance? Pria tua yang terkenal dengan kesetiaannya yang tampak seperti anjing pemburu itu?"

"Kesetiaan di dunia ini hanyalah masalah harga yang belum dibayar, Yang Mulia," sahut Elena dingin, kilasan ingatan dari kehidupan masa lalunya mendadak melintas di benaknya.

Di kehidupan pertamanya, Baron Vance adalah orang yang dimanfaatkan oleh Gavin untuk menguras habis pundi-pundi keluarga Lawrence dari dalam, sebelum akhirnya Gavin mengeksekusi pria tua itu untuk menghilangkan jejak. Kali ini, Elena tidak akan membiarkan Gavin menyentuh aset tersebut. Ia akan menggunakannya sebagai modal awal untuk membeli perlindungan dari monster terkuat di kekaisaran.

"Saya memiliki dokumen-dokumen transaksi palsu yang ditandatangani oleh Baron Vance," lanjut Elena, mengeluarkan sebuah gulungan perkamen kecil yang disembunyikannya di balik lipatan lengan gaunnya dan meletakkannya di atas meja kerja Killian. "Dengan dokumen ini, Anda bisa menjatuhkannya kapan saja. Begitu Vance tersingkir, posisi kepala logistik barat akan kosong. Saya telah mengatur agar sepupu jauh saya, yang sepenuhnya berada di bawah kendali saya, mengambil alih posisi tersebut. Dan saat itulah, rute perdagangan itu menjadi milik Anda."

Killian tidak langsung menyentuh perkamen itu. Ia justru memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan sambil terus mengamati setiap jengkal ekspresi di wajah Elena. Jarak mereka kini hanya terpisah oleh meja kayu yang lebar, namun Elena bisa merasakan aura haus darah yang menguar dari tubuh pria itu—sebuah tekanan magis yang sanggup membuat ksatria berpengalaman sekalipun berlutut ketakutan.

"Informasi yang sangat menarik," bisik Killian. "Namun, itu menimbulkan pertanyaan baru di kepalaku. Bagaimana seorang Nona Muda yang selama ini dikenal naif, penyayang, dan hampir tidak pernah keluar dari tembok mansion Lawrence, bisa mengetahui rahasia sekotor ini? Dari mana kau mendapatkan dokumen ini, Elena?"

Elena merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun ia berhasil mempertahankan topeng ketenangannya. Ia tidak mungkin mengatakan, 'Aku mengetahuinya karena aku telah hidup di masa depan, di mana suamiku mengkhianatiku dan membakar seluruh keluargaku.' Itu hanya akan membuatnya terdengar seperti wanita gila yang harus dijebloskan ke rumah sakit jiwa.

"Setiap orang memiliki metode rahasianya masing-masing untuk bertahan hidup, Yang Mulia," jawab Elena dengan nada suara yang sengaja dibuat misterius. "Katakan saja bahwa mata saya akhirnya terbuka setelah menyadari bahwa dunia ini dipenuhi oleh serigala berbulu domba. Dan untuk menghadapi serigala-serigala itu, saya membutuhkan seekor monster yang jauh lebih mengerikan."

Killian terdiam sejenak sebelum akhirnya tawa rendah dan renyah lolos dari bibirnya. Itu bukan tawa penuh kehangatan, melainkan tawa kepuasan seorang predator yang menemukan mainan baru yang menarik.

"Monster, katamu? Pilihan kata yang sangat berani," Killian mengulurkan tangannya yang besar dan mengambil gulungan perkamen dari meja. Ia membukanya dengan satu tangan, memindai isinya dengan cepat. Mata merahnya berkilat puas saat menyadari keaslian stempel sihir yang tertera di sana. "Kau benar-benar membawa sesuatu yang berharga ke mejaku. Aliansi ini... aku menerimanya."

Elena mengembuskan napas lega yang tertahan di tenggorokannya. Setengah dari langkah pertamanya telah berhasil. Dengan dukungan Grand Duke Killian, Gavin tidak akan bisa menyentuhnya secara hukum maupun fisik dengan mudah.

"Namun," Killian memotong rasa lega Elena dengan nada suara yang kembali mendingin. Pria itu menyandarkan tubuhnya kembali, melempar perkamen itu ke laci mejanya. "Aliansi ini membutuhkan fondasi yang lebih kuat daripada sekadar kertas dan janji masa depan. Aku butuh kepastian bahwa kesetiaanmu—atau setidaknya kerja samamu—tidak akan goyah di tengah jalan."

"Apa yang Anda inginkan, Yang Mulia? Saya siap menandatangani sumpah darah jika itu yang Anda butuhkan," tegas Elena tanpa ragu. Bagi wanita yang sudah pernah merasakan kulitnya melepuh terbakar di dalam sel bawah tanah, setetes darah untuk sumpah sihir tidak ada artinya.

"Tidak, sumpah darah terlalu klise dan membosankan," Killian menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Dua hari lagi, Kaisar akan mengadakan perjamuan musim gugur di Istana Kekaisaran. Semua bangsawan tinggi akan hadir, termasuk ayahmu, adik tirimu yang cantik... dan tentu saja, tunangan tercintamu, Gavin."

Mendengar nama Gavin, rahang Elena mengencang secara tidak sadar. Kepalan tangannya di atas pangkuan meremas kain gaunnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kebencian yang mendalam, yang selama ini ia tekan di dasar sukmanya, nyaris meluap ke permukaan. Killian menyadari perubahan mikro pada ekspresi Elena, dan seringai di wajah sang Duke semakin melebar. Pria itu menyukai kebencian yang murni. Kebencian adalah bahan bakar terbaik untuk sebuah kehancuran.

"Aku ingin kau datang ke perjamuan itu sebagai pasanganku," ujar Killian, menjatuhkan bom yang sesungguhnya.

Elena tertegun. "Sebagai... pasangan Anda?"

"Ya. Kau tahu apa artinya itu bagi publik, bukan?" Killian mengetukkan jarinya ke meja dengan ritme yang lambat. "Selama ini, rumor yang beredar adalah kau akan segera bertunangan secara resmi dengan Gavin setelah ia kembali dari perbatasan barat. Jika kau berjalan masuk ke aula utama istana dengan menggandeng lenganku, itu akan menjadi tamparan keras bagi reputasinya. Dan yang lebih penting, itu akan mengumumkan kepada seluruh kekaisaran bahwa kau berada di bawah perlindunganku."

Elena berpikir cepat. Otaknya yang dingin mulai menganalisis keuntungan dan kerugian dari tawaran ini. Keuntungannya sudah jelas: Gavin akan langsung kehilangan muka di hadapan para bangsawan, dan posisinya sebagai calon menantu keluarga Lawrence akan goyah. Namun, kerugiannya juga tidak kalah besar. Menjadi pasangan Killian berarti menempatkan dirinya di episentrum badai politik. Ia akan menjadi target kebencian dari setiap wanita yang menginginkan posisi Duchess, serta target pembunuhan dari musuh-musuh politik Killian.

Tapi, apa gunanya hidup kedua ini jika ia masih memilih jalan yang aman? Ia kembali ke masa lalu bukan untuk bersembunyi di balik bayang-bayang, melainkan untuk membakar istana emas yang telah dibangun Gavin di atas darah putranya.

"Baiklah," ucap Elena, matanya berkilat penuh tekad yang membara. "Saya akan menjadi pasangan Anda di perjamuan musim gugur."

"Bagus," Killian berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi besar seketika mendominasi seluruh ruangan, membuat langit-langit yang tinggi pun terasa rendah. Ia berjalan memutari meja dan berhenti tepat di samping kursi Elena. Pria itu membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Elena hingga Elena bisa mencium aroma kayu cendana dan samar-samar bau besi yang khas dari tubuh sang Duke. "Maka bersiaplah, Nona Lawrence. Perjamuan itu tidak akan menjadi pesta dansa yang romantis bagi kita. Itu akan menjadi panggung sandiwara, dan aku ingin melihat seberapa baik kau bisa memainkan peranmu sebagai wanita milik sang tirani."

Elena menolehkan kepalanya sedikit, membuat hidungnya nyaris bersentuhan dengan pipi Killian. Jarak yang begitu intim itu tidak membuatnya gentar. "Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Saya akan memastikan pertunjukan kita malam itu akan menjadi mimpi buruk yang tidak akan pernah dilupakan oleh musuh-musuh kita."

Killian menatap mata Elena yang sedalam lautan itu untuk waktu yang lama, mencari tanda-tanda kepalsuan atau ketakutan, namun ia tidak menemukan apa pun selain api balas dendam yang berkobar. Dengan gerakan perlahan, ia meraih tangan kanan Elena, mengangkatnya, dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di punggung tangannya. Sentuhan bibir Killian yang dingin mengirimkan sensasi aneh yang menggelitik di kulit Elena, namun ia menepis perasaan itu dengan segera.

"Aku menantikannya," bisik Killian sebelum melangkah mundur dan memberi isyarat kepada pelayan setianya yang menunggu di luar pintu untuk mengantar Elena keluar dari kediamannya.

Setelah kereta kuda mewah milik keluarga Lawrence membawanya kembali ke mansion, Elena langsung menuju ke kamarnya tanpa memedulikan tatapan penuh rasa ingin tahu dari para pelayan. Begitu pintu kamar tertutup dan dikunci dari dalam, ia menyandarkan tubuhnya ke pintu kayu yang kokoh, membiarkan tubuhnya merosot hingga ia terduduk di atas lantai marmer yang dingin.

Ia mengangkat tangan kanannya, menatap punggung tangannya yang baru saja dikecup oleh Killian. Kulitnya masih terasa dingin. Elena memejamkan matanya, mengembuskan napas panjang.

Langkah pertama telah selesai. Aliansi dengan iblis telah terbentuk. Namun, tantangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Perjamuan musim gugur dalam dua hari ke depan akan menjadi medan pertempuran pertamanya yang nyata dengan Gavin dan Misha—adik tirinya yang bermuka dua.

Di kehidupan sebelumnya, perjamuan musim gugur adalah momen di mana Gavin pertama kali menyatakan perasaannya pada Elena di depan publik, sebuah taktik manipulatif untuk mengunci komitmen dari keluarga Lawrence sebelum ia pergi berperang. Pada saat yang sama, di balik tirai balkon istana, Gavin sebenarnya telah menjalin hubungan gelap dengan Misha. Elena mengingat dengan jelas bagaimana ia dengan bodohnya merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia malam itu, sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang dicintainya sedang merencanakan kehancuran keluarganya bersama adik kandungnya sendiri.

"Kali ini, skenarionya akan berubah," gumam Elena pada kegelapan malam di kamarnya. Tatapannya beralih ke cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Bayangan dirinya di cermin tampak begitu berbeda dari Elena yang dulu. Tidak ada lagi binar mata yang polos dan penuh harap. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang telah merangkak keluar dari neraka.

Keesokan harinya, persiapan untuk perjamuan dimulai. Sebagai putri tertua dari Count Lawrence, Elena memiliki akses ke penjahit terbaik di ibu kota. Namun, alih-alih memilih gaun berwarna merah muda lembut atau putih bersih seperti yang biasa ia kenakan atas saran Misha, Elena secara khusus memesan sebuah gaun yang sama sekali berbeda.

"Nona Muda, apakah Anda yakin dengan pilihan warna ini?" tanya desainer pribadi keluarga Lawrence, seorang wanita paruh baya bernama Madam Clotilde, dengan nada ragu. Di hadapannya terbentang selembar kain sutra berat berwarna hitam legam dengan kilau keperakan seperti langit malam yang dipenuhi bintang. "Warna hitam biasanya diasosiasikan dengan masa berkabung di kalangan bangsawan tinggi. Menghadiri perjamuan musim gugur dengan warna ini mungkin akan dianggap tidak sopan oleh keluarga kekaisaran."

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!