Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Bayang-bayang Masa Lalu
Riu Han tersenyum puas. Dengan identitas yang ia miliki, kini ia bebas pergi ke mana pun di Negeri Empat Wilayah. Di sini, pengakuan resmi sungguh berharga. Dan ia memilikinya — dari organisasi yang dihormati di mana-mana.
Seorang alkemis selalu dijunjung tinggi. Setiap kekuatan, besar maupun kecil, membutuhkan mereka — bukan hanya obat penyembuhan, melainkan juga pil pendukung kultivasi. Klan mana pun memiliki alkemis pribadi, tetap saja bergantung pada Persekutuan Alkemis Empat Wilayah, yang menjadi pusat persediaan herbal kelas atas. Hubungan erat terjalin pula dengan Organisasi Pemburu Hadiah — alkemis butuh bahan langka yang dibawa pulang para pemburu, sementara para pemburu membutuhkan obat dan pil yang dibuat para alkemis. Keduanya saling menguatkan kedudukan masing-masing.
Namun di tempat lain, di Negeri Daratan Bawah, sesuatu yang besar sedang terjadi.
Seorang wanita paruh baya tampak duduk tenang. Tak ada satu pun yang mampu mengukur tingkat kekuatannya. Ia berpenampilan sekitar lima puluh tahun, namun matanya menyimpan kedalaman yang tak terbayangkan. Tuan Hao berdiri di hadapannya dengan penuh hormat.
"Jadi, anak itu berasal dari perkampungan yang kini menjadi kekuatan nomor satu di negeri ini?"
"Benar, Yang Mulia."
Wanita itu mengangguk pelan. "Baiklah, saya permisi." Ia pun pergi meninggalkan gedung perdagangan itu.
Tuan Hao menatap kepergiannya dengan wajah murung. Tuan muda Riu... maafkan saya. Saya tak mampu melindungi keberadaan tempat tinggalmu. Wanita ini bukan orang sembarangan. Semoga keluargamu selamat.
Ia tahu, sosok setingkat itu tak akan sudi menginjakkan kaki di alam bawah jika bukan karena sesuatu yang sangat penting.
Kurang dari satu jam, wanita itu sudah berdiri di atas langit tempat perkampungan Riu berada. Para ahli di kampung itu langsung menyadari kedatangannya. Riu Yin dan Riu Zheng melesat ke udara menyambutnya, diikuti delapan orang ahli ranah Dewa Kecil yang kebetulan ada di tempat. Namun begitu menatap wanita itu, lutut mereka terasa berat. Tak ada yang mampu mengukur kekuatannya — satu hal yang pasti, ia jauh di atas mereka.
"Mohon maaf, Nyonya," ucap Riu Zheng sambil memberi hormat dengan sopan. "Saya Riu Zheng, ketua perkampungan ini. Angin apa yang membawa Anda ke tempat kami?"
Wanita itu menatapnya tenang. "Saya datang dari alam di atas. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."
"Silakan, Nyonya. Jika mampu kami jawab, akan kami jelaskan."
"Baiklah... coba lihat ini. Apakah kalian mengenalnya?"
Ia menjentikkan jari. Sebuah bayangan cahaya muncul di udara — wajah seorang wanita cantik berusia sekitar tujuh belas tahun, memancarkan keanggunan yang menenangkan sekaligus agung. Semua orang terpaku memandangnya. Wajah Riu Zheng seketika pucat. Di sudut matanya, butiran air mata jatuh perlahan.
Wanita itu melihat perubahannya. Suaranya melembut. "Tuan... Anda mengenalnya?"
Riu Zheng menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Nyonya... bolehkah kita turun dan membicarakannya di dalam?"
"Baiklah."
Mereka turun ke tanah. Riu Zheng mengantar wanita itu ke kediaman utama. Tujuh orang ahli lainnya berjaga di luar.
"Silakan duduk, Nyonya."
Wanita itu duduk, lalu menatapnya. "Ceritakanlah apa yang kau ketahui."
Riu Zheng menarik napas dalam-dalam. "Wanita itu... adalah istri saya."
"Apa?!" Wanita itu terkejut hingga bangkit berdiri. Ia kembali duduk, menatap Riu Zheng dengan pandangan tak percaya.
"Biarlah saya ceritakan semuanya," lanjut Riu Zheng pelan.
"Dulu saya adalah putra pewaris Klan Riu. Di usia dua puluh tahunan, saya sering melakukan perjalanan. Dalam salah satu perjalanan itu, saya bertemu dengannya. Ia tinggal di sebuah perkampungan terpencil, orang biasa — tidak memiliki kekuatan kultivasi sama sekali. Kami jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu ia berusia delapan belas tahun. Saya membawanya pulang ke Klan Riu. Ayah saya sedang menutup diri berkultivasi, jadi kami mendapat restu dari ibu saya terlebih dahulu. Ketika ayah keluar, ia pun menerima kami, mungkin karena menyayangi putranya. Namun para tetua klan tidak menyukainya. Mereka menuntut saya menikah dengan wanita yang setara kedudukannya agar bisa menjadi pemimpin."
"Saya mencintainya sepenuh hati. Saya memilihnya, melepaskan hak waris saya. Ayah kecewa, namun ia diam saja. Ibu kemudian gugur dalam pertarungan, dan ayah pun berubah menjadi pendiam, lebih banyak bermeditasi daripada mengurus urusan klan."
Riu Zheng terdiam sejenak, menelan ludah.
"Beberapa bulan kemudian, musuh yang membunuh ibu datang menyerang. Dalam kekacauan itu..." Air mata kembali menetes. "...istriku melindungi putra kami dan tertusuk pedang. Anak kami juga terpukul di bagian tubuh yang vital. Saya membunuh penyerang itu, dan kami berhasil mengusir musuh. Namun luka yang diderita putraku merusak dantiannya. Sejak itu, ia tak mampu berkultivasi. Hal ini saya simpan sendiri, tak pernah memberitahunya."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan menceritakan kesedihan bertahun-tahun, kepergiannya dari klan, berdirinya perkampungan ini, hingga hari di mana putranya perlahan pulih dan menunjukkan hal-hal luar biasa yang tak seorang pun duga.
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪